DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
NAFKAH


__ADS_3

Ayana menatap lekat wajah suaminya itu. Tangannya terangkat mengelus wajah Arif dengan lembut.


Arif kemudian meraih tangan Aima yang menempel di pipinya dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Tatapan keduanya sama teduhnya.


"Mas.. Apa aku terlalu kekanak kanakan..? Apa sikapku membosankan bagimu..? Mas bosan denganku.." Pertanyaan Aima membuat Arif tersenyum seketika.


"Aku tahu aku terlalu ambekan.. Aku tidak suka di abaikan.." Lanjutnya lagi.


Arif akhirnya percaya, bahwa Aini benar tentang kakaknya itu. Meski seorang kakak bagi Aini, tapi Aima begitu manja melebihi dirinya.


Terbiasa jauh dari pengasuhan seorang ibu, membuat Aima mendambakan kasih sayang dan perhatian lebih dari pasangannya.


Hanya saja sikapnya yang sok kuat dan terlihat berwibawa itulah yang menutupi perasaan semua itu.


"Boleh aku memanggilmu sayang..?" Pertanyaan Arif membuat Aima tersipu.


"Mas kok gak jawab..?" Rengek Aima.


Arif menatap lekat wajah istrinya yang cantik. Aima yang di pandang demikian oleh Arif, merasakan jantungnya berdebar.


Selama berdekatan dengan Arif, Aima belum pernah merasakan debaran seperti yang dia rasakan saat ini.


"Gak sayang.." Arif menggeleng.


"Aku boleh panggil kamu sayang kan..?" Tanya Arif lagi.


"Kenapa..?" Bukan jawaban yang Arif dapatkan, tapi justru pertanyaan yang dia terima.


__ADS_1


Arif tersenyum. Dia begitu gemas dengan wanita yang berada di hadapannya yang kini telah sah menjadi istrinya.


"Ya karena aku sayang lah istriku.. Boleh aku memanggilmu sayang..? " Ucap Arif kemudian kembali mengulangi pertanyaannya.


" Kalau sayang, kenapa mas suka mengabaikan aku..? Kenapa aku di tinggal saat aku masih tidur..?" Aima masih penasaran dengan jawaban itu hingga lidanya begitu gatal untuk membahasnya.


"Gak gitu sayang. Aku gak mau ganggu tidur kamu aja. Aku juga gak mau kamu kecapean nanti kalau harus ikut ke ladang." Jelas Arif


"Mas bosan kan sama aku..? Sudah males ngadepin sikap aku.." Ungkitnya lagi.


"Sayang, dengar ya.. Tidak ada kata bosan untukmu.. Masa istri cantik gini membosankan sih..? Celetuk Arif sedikit becanda.


"Aku tidak pernah bosan menghadapi sikapmu.. Apa jadinya seorang imam jika bosan bahkan tidak peduli akan makmumnya.." Arif mengeratkan genggamannya di tangan Aima, menyalurkan semua bentuk perasaannya pada istrinya itu


"Kamu istriku.. Wajib bagiku memberikan kamu kenyamanan.. Wajib bagiku bersabar menghadapi dan mengarahkanmu jika salah.."


"Dan aku, aku ingin melakukan itu untukmu tanpa rasa bosan.." Ucap Arif penuh dengan kesungguhan.


Aima menatap kedua manik mata Arif dari balik kacamata silindernya itu dengan seksama. Terlihat disana ada ketulusan untuknya.


"Begitu sebaliknya. Ingatkan aku jika aku sudah keterlalua. Ingatkan aku jika aku salah dan bersikap. Jangan diam seperti ini lagi." Ucap Arif lembut.


"Aku gak akan bisa tau kalau kamu gak menegur dan ngasi tau.." Lanjutnya


Aima tersenyum kecil menganggapi.


"Aku gak tau apa keputusanku ini salah atau tidak.. Kamu yang seharusnya menjadi adik bagiku, kini justru menjadi suamiku.. Aku yang seharusnya menjadi seorang kakak, justru kamu yang menuntunku, mendidikku.." Gumam Aima dalam hati.


Arif melepas genggaman tangannya pada Aima dan meraih dompet yang berada di saku celananya.

__ADS_1


Arif mengeluarkan sebuah kartu Atm dan menyimpannya di tangan Aima. Aima mengerutkan keningnya menatap Atm yang kini berada dalam genggamannya.


"Ini memang tidak seberapa di bandingkan dengan apa yang kamu miliki.. Tapi seperti yang aku katakan tadi, wajib bagiku memberikan hakmu sebagai istri.." Ucap Arif tulus.


"Salah satu hak kamu sebagai istriku adalah ini, nafkah.." Aima merasa tersentuh melihat kesungguhan Arif kepadanya.


Aima tahu, benar kata suaminya bahwa uang yang ada di dalam atm itu tidak seberapa di banding uangnya.


Namun sebagai suami, ini cukup membuktikan bahwa Arif adalah seseorang yang bisa di pegang omongannya dan bertanggung jawab.


Memang selama ini Arif sering menabung untuk masa depannya. Tabungan yang Arif miliki kini sudah cukup untuk membeli sebuah kendaraan roda empat seperti impiannya selama ini.


Tapi kini dia sudah memiliki seorang istri, maka tak apa baginya impiannya tertunda demi nafkah.


"Apa harus..?" Tanya Aima menatap Arif. Arif teesenyum mengangguk


"Dan masih ada nafkah lain lagi, nafkah batin tapi aku yakin kamu tidak suka.." Sambung Arif membuat Aima mendelikan matanya.


Arif terkekeh melihat ekspresi Aima saat mendengar ucapnya.


"Jangan aneh aneh kamu mas.." Ucap Aima menutupi rasa malunya, membuat Arif tertawa lepas.



**BERSAMBUNG..


HAI, TERIMA KASIH YA BUAT TEMAN TEMAN YANG SUDAH MEMBACA HINGGA EPISODE INI.. 🙏🙏💞💞


TERIMA KASIH JUGA ATAS DUKUNGANNYA.. 😇🙏🙏💞💞**

__ADS_1


__ADS_2