
Sepanjang jalan, Arif terus berpikir keras tentang apa yang dia ketahui barusan.
Dengan raut wajah masam, perasaan yang berkecamuk, dengan pikiran menerka terka, Arif akhirnya memutuskan memutar balik mobilnya menuju arah berlawanan.
Dirinya memutuskan untuk menuntaskan rasa penasarannya. Dengan begitu dirinya bisa tahu dengan jelas apa rencana Andra merekrutnya.
Sepanjang jalan, ponselnya terus berdering. Tak hanya satu dua kali, namun Arif memilih mengabaikan ketika tahu siapa yang menghubunginya.
Karena tidak mau terlalu lama membuang waktu di luar jam kerja, Arif menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan lebih.
Tak butuh waktu lama, dia pun akhirnya sampai di depan rumah mertuanya yang terlihat mega.
Ketika membunyikan klakson dan menyembulkan kepala keluar pintu kaca mobil, satpam yang bertugas pun tanpa bertanya langsung bergegas membukakan gerbang karena tahu siapa yang berada dalam mobil tersebut.
" Selamat sore den.." Sapa satpam yang juga teman ngopi dan catur Arif di pos satpam.
" Sore pak Randu... " Sapa balik Arif dengan ramah.
Sesaat sebelum memutuskan ke rumah mertuanya, Arif menemui Aima di kantornya. Hanya saja istrinya itu tidak masuk hari ini.
Dan benar dugaannya. Istrinya ada di rumah ketika melihat mobil sang istri berada di garasi.
Arif menarik nafas dalam dan menghempaskannya dengan kasar sebelum turun dari balik kemudinya.
Hampir sebulan dirinya tidak pernah menginjakkan kaki di rumah itu. Sudah hampir sebulan itu pula dirinya tidak pernah bertemu dengan istrinya.
Keputusannya waktu itu benar benar dia jalani. Dan hari ini dia berada di rumah mega itu bukan untuk menemui mertuanya seperti apa yang dia ucapkan waktu itu.
Hari ini dia datang karena ada urusan lain yang harus dia tuntaskan sebagai jawaban dari dugaan yang ada di benaknya.
"Den Arif.." Sapa mbok Lala ketika membuka pintu untuk tamu yang terus memencet bel tamu sedari tadi.
" Masuk den. Lama mbok gak liat aden.." Basa basi mbok yang memang cukup akrab dengan semua penghuni rumah.
" Iya mbok makasih. Aima ada mbok..?" Ucap Arif langsung ke tujuannya.
" Ada den, di kamar.." Jawab mbok Lala sembari menutup pintu.
" Yasudah saya langsung ke atas ya mbok.." Ucap Arif tanpa menunggu jawaban.
Sesampainya di pintu kamar, Arif sempat ragu untuk mengetuk pintu. Dia bingung harus menyiapkan kalimat apa untuk sang istri yang sudah lama tak ia temui itu.
Arif memejamkan matanya begitu rapat untuk memantapkan diri masuk ke dalam.
"Bismillah.." Batinnya.
Tak mendapat sahutan dari dalam setelah Arif mengetuk pintu cukup lama, dia pun memutuskan untuk masuk saja. Toh ini kamar istrinya. Dan yang mau dia temui juga istrinya.
__ADS_1
Berbeda dengan Aima. Tidurnya yang terganggu dengan suara ketukan, seketika terkejut melihat siapa sosok yang mematung di pintu kamarnya tengah menatapnya dalam.
Detak jantung keduanya hampir sama cepatnya. Seolah saling berkejaran satu sama lain.
Arif mengalah dengan sorot mata tajam sang istri. Dia melangkah menghampiri Aima yang masih berada di atas ranjang.
" Mau apa kesini..?" Tanya Aima dengan datar.
Arif tersenyum simpul menatap wajah istrinya yang terlihat marah.
" Apa kabar sayang..?" Bukan menjawab, Arif justru melembutkan suaranya balik bertanya.
" Bukan urusan mu. Aku tanya mau apa kesini..?" Gertak Aima tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
Arif menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan pelan. Di raihnya tangan sang istri, namun di tepis dengan cepat oleh Aima.
" Sayang. Aku minta maaf baru menemui mu hari ini. Aku ingin kita bicara tentang banyak hal. Dari hati ke hati, dengan kepala yang dingin, agar kita bisa saling mengerti tanpa ada kesalah pahaman.." Tutur Arif lembut.
Aima tak bergeming. Terlihat dengan jelas dirinya masih menyimpan kekecewaan yang dalam untuk suaminya.
Melihat istrinya yang diam seperti itu, hati Arif mendadak di liputi rasa bersalah.
Ingin rasanya dia memeluk. Tapi tak cukup berani. Sebab selama ini juga mereka bersentuhan fisik hanya terjadi ketika istrinya yang memulai.
Ucapan Arif menarik perhatian Aima. Aima menatap manik mata Arif dengan ekspresi tak terbaca.
" Aku ingin kita tinggal di rumah hasil kerjaku sendiri Aima. Jujur aku tidak nyaman harus terus terusan tinggal menumpang meski kami tak keberatan akan hal itu.." Imbuhnya lagi.
" Aku ini lelaki. Seorang imam. Pemimpin rumah tangga. Kewajibanku ada sebagai itu. Meski istriku punya segalanya dan sampai kapanpun tak akan pernah bisa sebanding dengan apa yang aku punya.." Lanjutnya.
"Mas.." Aima tak mampu melanjutkan ucapannya.
Mendadak hatinya tersentuh. Ini yang dia mau, sosok seperti ini yang sejak dulu menjadi kriterianya.
Seorang lelaki yang memegang teguh harga dirinya. Mau berusaha dan bekerja keras dengan sendirinya tanpa menunggu di beri.
" Nanti kita ngobrol lagi ya sayang..? Aku janji akan secepatnya menjemput kamu.." Ucap Arif menatap istrinya dengan senyum manisnya.
Aima terkesima melihat senyuman itu. Namun dirinya seolah mematung, entah apa sebenarnya yang dia pikirkan.
" Oh iya sayang. Aku mau nanya ini.." Ucap Arif menyodorkan sebuah map yang sejak tadi berada di tangannya.
Aima bergeming. Di raihnya map tersebut dan membaca isi dalam map itu.
Aima mendongak menatap wajah sang suami.
__ADS_1
" Kenapa ini ada sama kamu mas..?" Tanya Aima bingung.
Sejenak dia lupa tentang perasaannya barusan karena terkejut dengan isi surat perjanjian kerja sama dengan salah satu anak perusahan yang di milikinya.
" Pak Roy adalah ayah nya Andra sahabat aku. Dan beliau menyerahkan proyek itu untuk di tangani oleh Andra. Karena Andra dari awal tidak berniat untuk menjalankan perusahaan ayahnya, dia memutuskan untuk merekrut aku sebagai asistennya.." Ujar Arif menjawab kebingungan Aima.
Mengerti maksud ucapan sang suami, Aima mengangguk sembari mengembalikan map tersebut pada Arif.
" Tapi aku penasaran, kenapa Andra justru merekrut aku dan menyerahkan proyek ini seutuhnya. Padahal dia bisa menolak permintaan ayahnya.." Ucap Arif entah bertanya ataukah sekedar curhat.
"Apa mas curiga pada sahabat mas itu..?" Tanya Aima serius.
Arif mengangguk.
" Dia mengatakan tangani dan buktikan aku bisa. Tapi bagian meeting dan bertemu dengan pemilik perusahaan ini, aku tak perlu ikut.." Jelas Arif.
Aima tersenyum.
" Maksud Andra, dia mau bertemu dengan aku tanpa ada pengganggu.." Ucap Aima terlalu jujur.
Ucapan Aima sontak membuat Arif meradang. Akhirnya dia mengerti tujuan Andra.
Andra tak lain hanya memperalatnya saja untuk membuktikan pada pak Roy dia bisa menjalankan perusahaan dengan baik dan berkesempatan bertemu dengan Aima dengan leluasa.
Apakah Andra menyukai Aima istrinya..? Secara Aima sangat mirip dengan Aini, primadona kampus idola para mahasiswa disana. Apakah karena hal itu. Arif masih menerka nerka.
Yang jelas, sedikit dia mulai paham situasi ini.
" Mas keberatan jika kami sering bertemu karena adanya kerja sama ini..?" Tanya Aima menatap serius suaminya.
Arif diam tak menjawab. Namun dari sorot matanya, Aima tahu ada sesuatu yang mengganjal di hati suaminya.
" Mas saja yang gantiin aku jika ada pertemuan dengan perusahaan Karya grup.." Ucap Aima yang membuat Arif menatapnya bingung.
" Memang benar aku CEO di AK Gemilang, tapi perusahaan itu kini sudah beralih pada Teungku Arif sebagai pemilik saham terbesar disana. Itu untuk kamu mas.." Ucap Aima dengan tenang.
" Apa maksudnya..?" Arif merasa Aima belum paham apa yang dia ucapkan dari awal bahwa dia tidak mau menumpang apapun dari milik istrinya.
.
.
.
... **BERSAMBUNG...
...TERIMA KASIH ATAS SEGALA DUKUNGAN YANG TEMAN TEMAN BERIKAN UNTUK MENGAPRESIASI KARYA SAYA INI.. 🙏🙏...
__ADS_1
...MOHON DUKUNGANNYA TERUS DENGAN CARA VOTE DAN LIKE, SERTA KOMEN KOMEN YANG BIJAK YA TEMAN TEMAN.. 🙏💖💖**...