DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
KEKESALAN YANG BERUJUNG ROMANTIS


__ADS_3

"Mas..” ulang Aima lagi


“Iya kak Aima, ada apa..? ” Tanya Arif dengan masih posisi yang sama.


“Gak jadi deh.. Nyesel aku manggil nama situ..” Kesal Aima sambil berbaring membelakangi Arif.


Arif yang mendengar ucapan istrinya langsung merubah posisi tidurnya dan mengarahkan pandangannya pada Aima.


Arif terdiam melihat Aima tidur membelakanginya. Dia tahu Aima sedang menahan kesal karena dia menyematkan kata kak di namanya.


Perlahan Arif bangun dan naik ke ranjang Aima. Ia mengelus kepala Aima dengan lembut.



“Kamu kenapa..? ” Tanya Arif.


“Gak kenapa napa.. Sudah sana, aku mau tidur..” Judes Aima.


“Kata pak ustadz, kalau suami nanya baik-baik pada istrinya, sang istri harus jawab dengan lemah lembut.. Seorang istri gak boleh meninggikan suara pada suami kalo suami bertanya. Nanti dosa besar..” Tutur Arif sambil menahan tawa.


Arif sengaja menakuti Aima dengan kata-kata itu meski itu sesungguhnya benar adanya.


Aima diam tak bergeming. Dia malas menanggapi suaminya itu. Namun dalam hati ia juga takut akan dosa.


Biar bagaiman pun, Arif adalah suaminya yang sah secara agama.


Saat Aima berbalik, Arif sudah berada di bawah ranjang dengan posisi tidur terlentang.


“Mas, naik aja di atas.. Tidur lah di ranjang, di bawah dingin nanti kamu bisa masuk angin..” ucap Aima pelan.



Arif kaget Aima memintanya tidur dalam satu ranjang berdua. Namun dia kembali berpikir lagi bahwa Aima mungkin saja hanya mengasihaninya.


“Tadi kenapa tiba-tiba ngambek..? Jawab Arif tanpa beranjak dari tidurnya.


“Hmm, Aku gak suka kamu panggil kak Aima.. Ya meski benar aku yang lebih tua.. Tapikan kamu suami ku, aku yang seharusnya manggil kamu mas..” Tutur Aima tanpa jaim dengan nada yang masih terkesan jutek.


“Suami..? Aima menyebut aku suaminya..? apakah dia sudah mulai mau membuka hatinya dan menerima pernikahan ini..?” Batin Arif bermonolog.


“Mas.. Ko diam aja..?” Pekik Aima kesal.


Arif pun akhirnya bangun dan duduk menghadap Aima. Lama ia meyakinkan diri untuk naik ke atas ranjang.


Hingga akhirnya ia pun menuruti Aima untuk berbagi tempat tidur berasama.

__ADS_1


Pada saat mereka berbaring menghadap langit-langit kamar, Aima memejamkan mata karena sudah benar-benar mengantuk.


Arif melirik kearah samping, memastikan Aima sudah terlelap. Arif memiringkan posisinya menghadap Aima dengan berbantalkan lenganya.


Di ulurkannya tanganya mengelus kepala Aima hingga turun ke pipi.


“Maafkan aku.. Aku selalu bikin kamu kesal setiap berada di dekat ku..” Gumamnya pelan


“Aku juga tidak yakin apa aku bisa membuatmu bahagia.. Aku banyak kekurangannya.. Kamu berhak memilih kebahagiaan kamu sendiri.. Kamu cantik, baik dan punya segalahnya.. sedangkan aku..?” Lirih Arif.


“Tidur mas, sudah malam..” Ucap Aima dengan menangkap tangan Arif yang berada di pipinya tanpa membuka mata.


Arif kaget bukan main. Salah tingkah, canggung, malu jadi satu. Arif menarik tangannya dari genggaman Aima, namun Aima menahannya.



“Jahil nii..” Ucap Arif dengan perasaan malu.


"Maaf, tadi aku gak bermaksud. Ehh aku, aku " Arif mendadak gugup akibat salting di pandangi oleh Aima.


Mendengar itu, Aima tersenyum dan akhirnya terkekeh. Arif melihat itu menjadi ikut tersenyum. Dia terus memandangi wajah Aima. Cantik pujinya dalam hati.


Tanpa di duga, Aima menggeser tubuhnya memeluk tubuh Arif. Dia terus bergerak mencari kenyamana di dada bidang Arif.


Arif hanya mematung mendapati Aima melakukan hal itu. Entah apa yang Arif rasakan, yang jelas ia pun tidak menolak.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan ini..? " Tanya Arif menunduk menatap wajah Aima yang sedang memeluknya.


Aima memundurkan kepalanya membalas tatapan sang suami.


"Kenapa emangnya..? Salah..?" Tanya Aima.



Arif menggeleng dan menarik pelan kepala Aima masuk kembali kedalam dekapannya seperti semula.


Aima tak menolak. Bahkan dia terus bergerak mencari kenyamanan dalam dekapan suaminya itu.


Semakin nyaman rasanya ketika tangan Arif terus mengelus kepalanya. Dengan sekejap Aima sudah terbuai di alam mimpinya.


Sementara Arif masih terjaga dalam tidurnya. Bayangan Aini terus saja hadir di pelupuk matanya.


Bukan karena rindu, tapi teringat akan permohonannya di detik detik Aini meninggalkan mereka untuk selama lamanya.


Entah kenapa, ingatan itu selalu datang begitu saja.

__ADS_1


Di tempat lain, Anak gadis pak kades yang begitu menginginkan Arif tengah menangis di kamarnya. Dia belum bisa menerima kenyataan akan penolakan Arif padanya kala itu.


"Mau gimana lagi nak..? Bukan orang tuanya yang menolakmu, tapi Arif sendiri yang tidak mau di jodohkan denganmu.." Ucap bu kades pada anaknya.


"Tapi ma, aku mencintai Arif ma.." Jawab


Lika menatap ibunya denga air mata di pipinya.


"Besok kita coba bahas lagi sama papa.. Semoga papa bisa cari cara untuk menyatukan kalian.. Kamu istrahat dulu, hari sudah malam.." Ucap bu kade mengelus punggung tangan anaknya.


Karna pernikahan Arif dan Aima hanya di hadiri keluarga inti dan hanya peenikahan siri, maka itulah belum ada yang mengetahui termasuk Lika.


"Aku akan terus mengejarmu Arif.. Aku yakin suatu saat kamu akan menjadi milikku.." Gumam Lika dalam hati


Lika sebetulnya adalah gadis yang cantik, berprestasi di bidang akademi, namun karena cintanya pada Arif, membuatnya menjadi seorang yang berambisi.


Dia bertekad untuk mendapatkan hati Arif dan membuatnya membalas cintanya dengan caranya sendiri.


***


Suara adzan subuh mulai berkumandang dengan indah. Memaksa Aima terbangun dari tidur nyenyaknya.


Ia tersenyum saat mendapati dirinya masih dalam pelukan sang suami. Awalnya dia hanya berniat mengerjai Arif suaminya, namun ternyata dia sendiri justru terlelap karena merasa nyaman dalam dekapan suaminya itu.


Tak di pungkiri olehnya bahwa wajah Arif memang tampan, tubuh yang nyaris sempurna, semakin menambah aura pesonanya.


Lagi lagi Aima memujinya dalam hati.


Aima mengelus pipi Arif dengan lembut. Ia tidak menyangka bisa menikah dengan lelaki di bawah umurnya yang tidak ia kenal sebelumnya. Mereka di satukan oleh adiknya sendiri.


Beruntung, adiknya memberinya jodoh yang baik akhlaknya. Sehingga ia bersedia menerima pernikahannya meski belum ada cinta di hatinya.


“Bangun mas, sudah adzan..” Aima terus mengelus pipi Arif hingga ia terbangun.


Di pandangnya wajah Aima yang tepat di depan matanya. Lama mereka saling pandang hingga akhirnya Arif membenamkan wajah Aima ke dalam dekapannya.


Aima tersenyum dengan tingkah Arif tersebut. Ia tidak menyangka laki-laki yang kini telah menjadi suaminya ini cukup lucu juga.


“Sesak mas, gak bisa nafas ihh..” Aima terus mendorong dada Arif.


Arif terkekeh dan mengurai tanganya dari Aima. Di pandangnya lagi wajah istrinya itu dengan senyum.


“Pagi istriku yang cantik..” Ucapnya menatap Aima.


**BEESAMBUNG.. 🙏🙏💞

__ADS_1


MOHON DUKUNGANNYA YA BUAT TEMAN TEMAN.. TERIMA KASIH SEBELUMNYA.. 🙏🙏💞💞**


__ADS_2