DI BALIK SIKAPMU

DI BALIK SIKAPMU
BERPISAH


__ADS_3

" Yasudah kalau mas ingin aku mengiyakan ajakan partner kerjaku untuk diner malam ini.." Ucap Aima memancing.


" Aku gak memintamu untuk berkencan dengan lelaki lain Aima. Aku hanya bilang.."


"Iya mas bilang pergi kan? Itu artinya mas ngasi izin. Aku sih tergantung mas. Yang jelas tadi itu teman bisnis aku mau ngajak aku makan malam.." Ucap Aima memotong ucapan Arif.


Melihat Arif yang diam membisu, membuat Aima gemas jadinya.


" Mas..?"


" Jangan pergi. Tetaplah disini, jangan kemana mana.." Akhirnya Arif melarang Aima dengan nada dingin.


Aima mencoba menahan senyumnya di hadapan Arif.


"Jadi yang benar yang mana? Iya apa gak ni?" Tanya Aima menggoda.


" Andai aku tidak seperti ini, udah aku makan kamu Aima.." Arif merasa Aima sengaja mengerjainya.


" Emangnya kalau sekarang kenapa?" Goda Aima tak henti.


" Ada apa denganmu sayang. Sejak kemarin aku perhatikan dirimu seolah sedang berusaha menjadi wanita ku sepenuhnya.." Batin Arif menatap Aima.


***


Beberapa hari berlalu, Arif akhirnya di perbolehkan pulang.


Dan lagi lagi Arif menelan kekecewaan saat Aima kembali sibuk sendiri dua hari sebelum hingga kepulangannya dari rumah sakit.


Kali ini Arif pulang bersama orang tuanya. Sedangkan mertuanya sendiri kini tengah berada di luar kota karena urusan pekerjaan.


"Assalamualaikum mas. Aku nanti pulang telat ya mas. Ada kerjaan yang harus aku selesaikan dulu.."


" Mas pulang ke rumah papa ya? Aku udah hubungi mbok Lala untuk masakin makanan kesukaan kamu.."


" Jangan lupa minum obat ya mas. Maaf aku gak sempat jemput kamu di rumah sakit. Assalamualaikum "


Arif menghela napas berat saat membaca deretan chat yang masuk ke ponselnya yang di kirim oleh Aima.


Saat ini Arif tengah berbaring di kamar sederhananya di rumah orang tuanya.


Arif sudah niatkan mulai saat ini dirinya tidak akan lagi ikut dengan istrinya dimana istrinya tinggal.


Dengan kejadian yang ada, di tambah dengan sikap Aima yang seolah menarik ulur perasaannya, membuat Arif merasa kecil dari sang istri.


Bukan menyalahkan keadaan. Bukan pula menyesali keberadaan hidupnya saat ini. Hanya saja Arif merasa perlu sadar diri memangnya siapa dirinya yang tak punya apa apa ini.


' Rif, kamu tidur nak? "


Arif tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara sang ibu dari balik pintu kamar tengah memanggilnya.


Arif beranjak dari tempat tidurnya dan membukakan pintu untuk sang ibu.


Bu Nana sang ibu tersenyum tatkala wajah tampan sang anak muncul dari balik pintu.


" Makan dulu. Mama sudah siapkan di meja makan. Setelah itu kamu minum obat dan istirahat.." Ucap bu Nana mengelus lengan sang anak penuh kasih.

__ADS_1


Sejujurnya Arif tidak berselera makan. Terlebih otak dan perasaannya saat ini seolah berperang.


Namun melihat raut wajah sang ibu, di tambah dengan jari tangannya yang di lingkari plester luka, membuat Arif tak tegah untuk menolak.


" Kenapa melamun? Mikirin istrimu? Makan dulu, nanti setelah makan, kamu telepon istrimu biar hati kamu tenang.." Ujar sang ibu tulus.


Arif tersenyum kemudian mengangguk.


" Yasudah ma ayo kita makan.." Ajak Arif menggandeng tangan sang ibu.


" Mama temani makan ya? Mama tadi sudah makan duluan. Habisnya perut mama sudah keroncongan tadi.." Ucap bu Nana tertawa geli dengan dirinya sendiri.


Arif pun ikut tertawa menanggapi celotehan sang ibu yang menurutnya lucu.


Di lain tempat, seorang gadis anak dari pak lurah yang bernama Fika tengah bersiap untuk mengunjungi rumah Arif.


Lebih tepatnya mengunjungi Arif di rumah orang tuanya. Kabar Arif yang pulang ikut orang tuanya membuat Fika sangat senang.


Pasalnya Fika merasa Arif bakal meninggalkan Aima dan memulai hidup baru. Ada kemungkinan peluang perjodohan yang dulu gagal bakal lanjut lagi untuk kali ini. Seperti itu yang terlintas di benak Fika.


Dengan semangat yang membara, kini tanpa terasa Fika sudah berada di depa rumah Arif. Fika turun dengan senyum merekah, tak lupa kue yang dia beli di toko kue sebelum ke rumah Arif.


Arif yang baru saja mulai menyuapkan makanan ke mulutnya, terkejut dengan kedatangan Fika yang tiba tiba saja sudah berada di ruang tengah.


Ruang makan di rumah Arif memang di gabung dengan ruang tengah yang juga ruang dia dan kedua orang tuanya biasa nonton tv.


" Maaf, tadi pintunya gak di kunci. Jadi aku langsung masuk aja.." Ujar Fika tersenyum seolah itu sah sah saja.


Arif menatap diam ke arah bu Nana yang juga sontak mengalihkan pandangannya ke arah Arif.


Jujur bu Nana tak tahu harus menanggapi bagaimana soal kedatangan Fika. Sebab saat ini bukan waktu yang tepat untuknya berkunjung.


Terlebih saat ini, sikap Fika seolah sedang mengakrabkan diri pada mereka sebagai seorang wanita yang menyukai lelaki, yaitu anaknya Arif yang sudah menikah.


Jika dia menunjukkan tidak suka dengan kedatangan Fika, tentu akan menjadi masalah besar lagi seperti waktu itu.


Dimana Fika pernah berkata akan melakukan apa saja karena merasa di sakiti.


" Gak usah tante. Aku udah makan tadi. Oh iya, ini ada kue, semoga suka khususnya mas Arif.." Ucap Fika mengulurkan bingkisan yang ada di tangannya dengan senyum termanisnya.


Sementara Arif sendiri hanya menatap diam interaksi antara ibunya dan Fika.


" Aduh repot repot nak Fika ini. Makasih ya.." Ucap bu Nana merasa canggung.


Mendengar kata mas yang Fika sematkan di kalimat ucapannya, sontak membuat Arif menghentikan aktifitas makannya.


" Mau apa dia kesini sebenarnya. Apa tujuannya. Mas..? sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan itu..? Ini sih gak boleh di biarin lama lama.." Batin Arif bermonolog.


Baru saja berniat menyela, mata Arif menangkap sosok Aima yang baru saja muncul dari arah pintu.


" Astaga.." Batin Arif menggerutu.


Arif mendadak panik melihat sorot mata tajam dan raut wajah marah Aima yang tengah menatap ketiganya secara bergantian.


" Assalamualaikum.." Sapa Aima dingin.

__ADS_1


Bu Nana yang juga terkejut dengan kedatangan Aima, spontan menghampiri sang menantu dengan senyum yang di usahakan terlihat santai agar tak menimbulkan kemarahan sang menantu.


" Nak, kamu udah pulang kerja..? Ayo masuk dulu, temani Arif makan, kamu juga belum makan kan..?" Ujar bu Nana mengalihkan suasana hati sang menantu yang terlihat menahan amarah melihat kehadiran Fika disana.


Aima yang sejak tadi memperhatikan Fika dan Arif secara bergantian, hanya menanggapi dengan senyum tipis ajakan ibu mertuanya itu.


Arif sendiri seolah bungkam. Dirinya bingung harus bersikap apa.


" Gak usah ma. Aku sudah makan tadi sama klien.." Ucap Aima sopan.


"Oh begitu.." Ucap bu Nana berusaha tetap tenang.


Sedangkan Fika, melihat kehadiran Aima dan interaksi bu Nana, membuat hatinya panas. Dirinya seolah tidak bisa menerima.


Tapi dirinya sendiri tidak berani menyerang Aima meski hanya dengan kalimat penegas. Sebab dirinya tengah berusaha mengambil hati Arif dan orang tuanya.


Dia harus terlihat elegan dan baik di mata pria pujaannya itu dan juga orang tuanya.


" Mas, selesaikan dulu makannya. Nanti setelah itu kita pulang ke apartemen.." Ucap Aima menatap Arif.


Ingin menyela, tapi Arif urungkan karena ada Fika disana.


" Aku sudah selesai. Kita ke kamar saja, kita bicara disana.." Ucap Arif beranjak dari tempatnya menuju kamarnya.


Sementara Aima hanya bisa menurut. Masalah rumah tangganya tak mau menjadi konsumsi orang lain apalagi Fika. Gadis yang jelas jelas mengibarkan bendera perang pada Aima.


" Nak Fika, ayo kita ke depan saja. Kita ngobrol disana.." Ajak bu Nana melihat Fika yang terlihat sedang tidak baik baik saja.


" Aku balik pulang aja deh tan, nanti aku kesini lagi.." Ucap Fika kemudian pamit pergi.


Bu Nana hanya menarik napas lega melihat kepergian Fika.


Di kamar, Arif yang sedang duduk di tepi ranjang, tengah menunduk dengan diam. Auranya terlihat dingin tak seperti biasanya.


Aima tak peduli. Toh dia memang selalu seperti itu. Tidak pernah peduli bagaimana pun sikap Arif kepadanya.


" Aku sudah memutuskan untuk tetap tinggal disini dengan kedua orang tuaku. Jadi kamu tak perlu repot repot menjemput ku seperti ini.." Tutur Arif masih dengan posisi semula.


Aima yang berdiri tidak jauh dari Arif, menatap bingung pada suaminya itu.


Arif mendongak menatap Aima yang berada di depannya.


" Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan. Tapi saat ini hanya itu saja dulu. " Ucapnya lagi dengan sorot mata teduh.


Sungguh tak kuasa hatinya menatap wajah sang istri yang entah sejak kapan menghuni hatinya itu. Meski tidak menggeser posisi Aini di hatinya, tapi tempat Aima saat ini cukup indah disana.


" Apa maksud kamu mas? Apa ini kalimat penegas bahwa kita akan berpisah? " Tanya Aima menahan gejolak di dadanya.


.


.


...BERSAMBUNG...


...Terima kasih atas segalah dukungan dari teman teman semua.. Terima kasih juga karena sudah mampir disini sampai pada episode kali ini.. 🙏🙏💖...

__ADS_1


...Mohon dukungannya terus biar lebih semangat lagi UP episode selanjutnya dengan bantu vote, like ya.. 🙏💖💖...


__ADS_2