
Entah kenapa, kalimat yang tadinya sudah dia susun untuk di sampaikan pada Aima tentang kelangsungan rumah tangga mereka, buyar begitu saja saat melihat sorot mata Aima.
Tapi sejenak kemudian Arif mendorong dirinya untuk bersikap tegas.
" Aku ingin saat ini seperti itu dulu Aima. Aku disini bersama dengan orang tua ku, dan kamu disana dengan orang tua mu.."
" Setelah aku sembuh total, aku akan menemui kamu dan orang tua mu. Aku harap kamu bisa mengerti.." Ujar Arif tanpa keraguan.
Aima tersentak. Dia tidak bodoh dengan maksud ucapan suaminya.
" Mas sadar dengan apa yang mas ucapkan ini..? Mas sadar gak kalau omongan mas ini sudah jatuh talak loh mas.." Sentak Aima merasa harga dirinya di sentil.
Arif mengerutkan keningnya bingung.
" Kalau mas gak percaya, mas tanya sama ustadz bila perlu sama kyai sana.." Sentak Aima lagi.
" Aku kesini dengan niat baik, menjemput suamiku pulang. Tapi tak di sangka, justru kata talak yang aku terima. Kamu pikir aku apa mas..?" Emosi Aima akhirnya tersulut.
" Bukan begitu maksud aku Aima.." Sanggah Arif
Aima mengibaskan tangannya di depan wajah Arif.
" Aku yang awalnya tak terima, dan akhirnya berusaha menerima, hingga kini aku niatkan untuk menjaga, tapi apa yang aku dapatkan dari kamu..? Seperti ini yang kamu berikan..?" Ujar Aima menekan kekecewaannya.
Arif tersentak. Keningnya terangkat ke atas ketika mendengar ucapan sang istri.
" Apa maksudnya..? Apa Aima menerima pernikahan ini dengan serius..?" Batin Arif
" Baiklah, aku terima keputusan kamu. Dan jangan pernah mengusik aku sementara waktu ini. Aku pergi.." Pamit Aima dengan kemarahan di hatinya.
Arif tak bergeming. Dia bingung harus apa hingga Aima hilang dari balik pintu kamarnya.
" Apa karena wanita tadi dia menalak aku dengan cara begini..? Sial, dia pikir dia siapa.." Batin Aima menggerutu.
Sementara itu, bu Nana yang tadinya keluar membeli sesuatu di warung sebelah rumahnya, tak sengaja melihat mobil Aima melaju dengan kecepatan tinggi.
Bu Nana mengelus dadanya sembari melafazkan doa, semoga menantunya baik baik aja selama mengemudi.
" Astaga, Arif.." Bu Nana terlonjak saat teringat sang anak di rumahnya.
" Pasti mereka sedang bertengkar gara gara Fika tadi. " Gerutu bu Nana sembari bergegas kembali ke rumahnya dengan langkah kaki cepat.
Dari arah jalan, bu Nana melihat Arif yang keluar dari pintu depan dengan raut wajah gelisah seolah sedang mencari keberadaan seseorang.
Sontak bu Nana mengikuti arah pandang Arif yang menuju ke arah ujung jalan.
" Ada apa Rif..? tadi Aima kenapa pergi..?" Tanya bu Nana penasaran.
" Aima sudah pergi ma..?" Tanya Arif belum yakin istrinya benar benar pergi.
" Iya dia sudah pergi.." Ucap bu Nana menunjuk ke arah jalanan dengan tatapan bingung pada sang anak.
__ADS_1
Arif terlihat sedang menggerutu. Namun bu Nana tidak dapat mendengar dengan jelas.
" Masuk dulu. Di luar anginnya kencang, gak baik untuk kamu.." Ucap bu Nana khawatir.
Arif menurut. Dengan langkah gontai dirinya masuk di susul ibunya di belakang.
" Jelaskan sama mama apa yang terjadi. Apa kalian bertengkar..?" Tanya bu Nana setelah keduanya duduk di ruang tengah.
Arif mengangguk sembari menunduk. Ingin rasanya dia bertanya tentang ucapan Aima soal talak itu pada ibunya, tapi ada perasaan perih disana jika jawaban sang ibu benar.
" Karena Fika..?" Tanya bu Nana memastikan kecurigaannya.
" Bukan.." Arif menggeleng.
" Lantas..?" tanya bu Nana mengerutkan keningnya bingung.
Arif terlihat menarik nafas dalam sebelum mendongak menatap wajah penasaran sang ibu akan jawabannya.
" Ma, apa salah jika aku meminta Aima untuk saat ini tinggal terpisah dulu..?" Tanya Arif mulai mengungkapkan isi hati dan masalah kemarahan Aima.
" Coba jelaskan sama mama duduk permasalahannya.." Ucap bu Nana yang kurang paham masalah.
Arif menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
" Tadi aku minta pada Aima untuk kami tinggal terpisah. Dia di rumahnya dan aku akan tetap disini.. Dan dia merasa aku salah telah mengambil keputusan.." Ucap Arif menatap wajah ibunya.
Bu Nana terkejut mendengar penuturan sang anak.
" Dan aku juga bilang sama dia, setelah aku sembuh, aku akan kesana menemuinya dan orang tuanya.." Tambahnya lagi.
Mendadak Arif melemas. Sudah di pastikan ucapan Aima adalah benar. Sungguh Arif tak menyangka soal itu.
" Meski hanya kata bias Arif, tapi itu sudah merujuk ke kata talak.. Kamu sadar gak sih nak..? Astagfirullah.." Kecewa bu Nana.
" Tunggu papamu pulang dan bicarakan dengannya. Kalian harus segera rujuk.." Ucap bu Nana tegas.
Arif hanya diam merutuki kebodohannya. Hingga akhirnya
" Aku hanya tidak mau mengikuti kemauannya lagi untuk tinggal di tempatnya. Aku tidak mau terus terusan menumpang disana. Aku laki laki ma, aku punya harga diri.." Ucap Arif membela diri pada akhirnya.
" Sungguh aku tidak ada niatan lain selain itu. Aku hanya ingin agar nanti setelah aku punya uang, aku ingin kami tinggal di rumah kami sendiri, dengan hasil ku sendiri. Hanya itu ma.. " Tambahnya lagi.
Bu Nana terharu mendengar ucapan anaknya. Dalam benak, bu Nana tahu bagaimana perasaan sang anak yang merasa minder akan keberadaan mereka dan menantunya yang punya segalanya.
" Mama paham sayang soal itu. Yang mama sayangkan hanyalah ucapan kamu ke istrimu. Itu saja." Ucap bu Nana tersenyum.
"Mama akan dukung rencana kamu, mama doakan semoga Allah berkenan meluaskan rejeki kamu dari arah yang tak di duga sekalipun.." Imbuhnya
" Terima kasih ma.." Ucap Arif terharu.
***
__ADS_1
Sudah sepekan lebih pak Samsul dan bu Ineke memperhatikan keberadaan anaknya di rumah tanpa kehadiran suami.
Setiap di tanya, jawabannya hanya singkat, istirahat di rumah mertua.
Namun semakin hari semakin menimbulkan kecurigaan di benak kedua orang tuanya. Terlebih tak sengaja pagi tadi pak Samsul menerima sebuah amplop dimana isinya adalah surat pengunduran diri dari Arif, menantunya.
"Ma , Aima mana..? kok gak ikut makan..?" Tanya pak Samsul saat dirinya mulai menikmati suapan pertamanya di meja makan bersama sang istri.
" Katanya dia udah kenyang, tadi makan di luar sama klien.." Jawab bu Ineke
" Aima baru pulang jam segini..?" Tanya pak Samsul penasaran.
" Iya, baru saja naik ke kamarnya.." Jawab bu Ineke sembari menikmati makan malamnya.
Pak Samsul rasanya ingin menuntaskan rasa penasarannya pada sang anak soal kecurigaannya.
Untuk itu dia tak bertanya lagi dan segera menuntaskan makan malamnya agar segera menemui anak kesayangannya itu.
Setelah beberapa menit kemudian, pak Samsul beranjak dari tempatnya dan berniat menghampiri anaknya di kamar.
Di ketuknya pintu kamar dengan sabar. Sebab sejak tadi dia mengetuk, tak ada sahutan dari dalam sana.
Hingga akhirnya setelah beberapa menit lamanya, pintu pun di buka.
" Ada apa pa..? Aku capek mau istirahat. Papa ganggu tidurku aja.." Manja Aima yang sontak membuat sang ayah tersenyum.
" Maaf nak. Tapi ada yang mau papa bicarakan saa kamu. Papa minta waktunya sebentar boleh ya..?" Ucap pak Samsul sedikit memaksa.
Aima tidak menjawab dan beranjak menuju ranjangnya. Tapi melihat pintu kamar di biarkan terbuka lebar, pak Samsul pun menyusul masuk ke dalam.
" Ini, papa mau minta penjelasan dari kamu. Karena papa sendiri tidak bisa menemui Arif, mereka sudah tidak ada disini. Bahkan rumah orang tuanya sudah di jual.." Ucap pak Samsul menyodorkan sebuah amplop di tangannya ke arah Aima.
Ucapan pak Samsul seolah bagai petir yang menyambar hatinya. Aima membelalakkan matanya menatap sang ayah tak percaya.
" Coba papa ulangi lagi. Apa aku gak salah dengar..?" Aima merasa sang ayah sedang bergurau.
" Baca.." Bukannya menjawab, pak Samsul justru menanggapi dengan meminta putrinya itu membaca isi surat dalam amplop tersebut.
Aima menatap nanar amplop di tangan sang ayah. Dia khawatir Arif benar benar menggugat cerai dirinya secara hukum, bukan hanya lewat lisan seperti yang di ucapkan Arif kemarin.
" Apa ini surat cerai dari Arif..? Apa ini surat panggilan dari pengadilan..? Astagfirullah.. " Batin Aima kesal
Di tatapnya sebuah amplop di tangan pak Samsul tanpa berniat mengambilnya.
.
.......
......BERSAMBUNG........
...TEMAN TEMAN, MAKASIH SUDAH MAMPIR LAGI DI EPISODE KALI INI.. 🙏🙏💖💖...
__ADS_1
...MOHON DUKUNGANNYA TERUS YA DENGAN BANTU LIKE DAN VOTE.....
...SEMOGA EPISODE BERIKUTNYA LEBIH MENARIK LAGI.. 🙏💖💖💖...