
"Tau kan apa yang gak aku sukai..?
Tau kan..?" Ucap Aima menatap wajah Arif dengan kesal.
Arif diam. Pandangannya tak lepas dari wajah Aima. Aima membuang muka dengan perasaan yang semakin kesal.
Arif mengalah. Dia duduk perlahan di sisi ranjang depan Aima. Di raihnya tangan Aima dengan lembut, namun di tepis kasar oleh Aima.
"Aima, istriku sayang. Aku mau dengar dari hati kamu yang paling dalam. Ini yang terakhir kalinya aku bertanya, setelah ini gak akan ada lagi.." Aima sontak menatap wajah Arif dengan perasaan yang kian kesal.
Arif tak peduli tatapan sang istri. Dia harus menuntaskan semuanya.
"Aku tanya sekali lagi, kamu maunya hubungan pernikahan kita ini di bawa kemana..? Apa harus di akhiri atau kita perbaiki sikap kita masing masing dan mulai membenahi bahtera rumah tangga kita dengan satu tujuan, menuju rumah tangga yang sakina mawadah warahmah .. Rumah tangga yang mengharap keridhaan Allah.."
"Aku gimana kamu aja, maunya seperti apa dan bagaimana.. Tapi kalau boleh jujur, dari awal niat aku menikahimu, aku ingin pernikahan ku ini adalah yang pertama dan terakhir di dalam hidupku.. " Lamjut Arif.
"Tapi jika kamu mau kita pisah, akupun harus bisa menerimanya.. Karena aku gak mau kamu terus berada dalam keterpakasaan apalagi terkekang.." Arif terus menatap wajah sang istri tanpa celah.
"Seharusnya kamu mempertahankanku mas, bukan membiarkan aku jika memilih perpisahan.." Aima kecewa mendengar apa yang di ucapkan Arif kepadanya itu.
Menurutnya Arif tidak tegas. Apalagi mempertahankan apa yang menjadi hak dan miliknya.
Aima adalah type orang yang mau di perjuangkan. Bukan di beri sebuah pilihan. Andai dia salah memilih keputusan saat bertengkar, apa jadinya hubungan mereka nanti pikirnya.
Dengan sorot mata penuh pengharapan, Arif setia menunggu jawaban dari Aima.
Aima dapat melihat dari sinar mata Arif, bahwa memang Arif mengharapkannya. Tapi kenapa Arif seakan pasrah jika seandainya pilihannya tidak sesuai yang di inginkan..
Aima tersenyum kecil tidak habis pikir dengan suaminya itu.
"Terserah kamu aja mas.." Malasnya
Aima bangkit perlahan dari tempat tidur dan keluar dari kamar meninggalkan Arif sendirian disana.
Arif menatap sendu punggung istrinya hingga sang istri hilang di balik pintu kamar.
__ADS_1
***
Fatur yang baru saja sampai di rumahnya, di sambut oleh asisten rumah mereka dengan sebuah amplop.
Arif menerima amplop tersebut dan menaiki anak tangga menuju kamar pribadinya.
Selesai membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, Fatur kembali menghubungi seseorang lewat ponsel pribadinya.
Dengan perasaan penuh emosi, Fatur membuka amplop yang di terimanya tadi.
Dengan wajah serius Fatur terus membaca setiap lembar demi lembar berkas yang di kirim oleh orang suruhannya itu.
Dengan emosi yang meluap luap, Fatur meremas kertas di tangannya dan melempar ke sembarang tempat.
"Akan aku beri perhitungan nanti.." Gumam Fatur dengan melempar remot ac yang terletak di atas meja di depannya menghantam dinding meluapkan emosinya.
***
Arif keluar kamar niat mencari keberadaan sang istri yang sudah hampir tiga puluh menit lamanya, belum juga kembali ke dalam kamar.
Saat Arif mengedarkan pandangannya, tidak sengaja matanya menangkap bayangan istrinya yang berada di luar rumah.
Arif bergegas keluar menghampiri istrinya dengan raut wajah panik.
"Sayang.. Kenapa disini..? Udara di luar dingin.. Mana pake baju tipis gini lagi.." Ucap Arif dengan raut wajah cemas.
Aima yang kaget, hanya menatap suaminya dengan kesal.
"Ayo masuk.. " Arif menarik pelan tangan Aima.
Aima menahan tangannya membuat Arif menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
__ADS_1
"Masuklah.. Aku masih mau disini.." Ucap Aima menarik tangannya dari genggaman Arif.
Arif duduk menatap wajah Aima dengan intens.
"Jangan aneh aneh.. Di luar kabut sudah semakin tebal.. Kamu hanya pakai baju tipis seperti ini. Apa kamu mau membeku disini..? Mau mati konyol disini..?" Ucap Arif dengan nada marah.
"Kenapa peduli..?" Celetuk Aima.
"Aima.. Kamu ini istriku.." Sarkas Arif emosi.
"Istri..? Kalau memang aku istrimu, kenapa kamu gak niat untuk menahanku..?" Ucap Aima dengan kesal.
Arif menatap mata Aima mencari makna dari ucapan istrinya itu.
"Apa maksud kamu Aima..?" Tanya Arif dengan nada pelan.
Sejujurnya Arif sudah mulai lelah menghadapi ambekan istrinya hampir seharian ini.
"Gak usah tanya.. Aku malas membahas yang gak ada ujungnya.." Jawab Aima.
Arif yang kesal, menggendong tubuh Aima dan membawanya masuk ke dalam rumah meski Aima terus berontak minta di turunkan.
"Jangan berontak nanti jatuh.." Arif memperingati Aima dengan tegas tapi Aima tidak peduli.
"Kalau gak bisa diam, habis kamu malam ini.. Mau aku makan malam ini..?" Ancam Arif yang tidak punya pilihan lagi.
"Silakan saja kalau berani.." Tantang Aima yang tidak peka dengan maksud ucapan Arif.
"Oh jadi kamu nantang aku..? Kamu siap siap aja, aku akan ambil hak aku sebagai suami malam ini juga.." Ucap Arif sambil terus melangkah masuk menuju kamar.
Aima yang baru sadar dan mengerti akan maksud ucapan suaminya itu, spontan memukul dada Arif minta di turunkan dari gendongannya berniat untuk kabur.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SUDAH MAMPIR KESINI.. 🙏💞
MOHON DUKUNGANNYA YA UNTUK AUTHOR AGAR LEBIH SEMANGAT LAGI DALAM BERKARYA.. 🙏🙏💞💞**