
Bagai petir di siang hari, Arif menggeleng beberapa kali. Tatapannya serasah ingin menembus mata Aima.
Tangannya menggenggam erat jemari jemari lentik sang istri begitu erat. Seakan takut besok tak lagi bisa menggenggamnya.
Mata Aima perlahan turun memandangi tangannya yang terasa sakit akibat genggaman sang suami.
Mengerti akan kegundahan sang suami setelah ajakan Cerai olehnya, Aima mencoba menekan emosinya sendiri agar terkontrol.
"Sakit mas.." Rengek Aima menatap tangannya.
Arif yang kaget mendengar ringisan sang istri, spontan melepaskan genggamannya.
Dengan tatapan bersalah, Arif mengelus tangan sang istri yang sakit dengan lembut layaknya gelas antik yang takut tergores.
Aima hanya diam memperhatikan tingkah sang suami. Dalam hati Aima tertawa melihat ketakutan sang suami setelah mendengar ucapannya.
"Mas kenapa..?" Iseng Aima bertanya
Arif mendongak menatap wajah sang istri.
"Sayang..? Kamu masih bisa nanya aku kenapa..? Kamu pikir aku baik baik aja saat kamu minta pisah..?" Jawab Arif menggebu
Tangannya belum juga lepas dari tangan sang istri.
"Takut pisah tapi gak mikir dulu kalau bikin ulah.. Dasar boca.." Gerutu batin Aima.
"Kalau gak mau pisah, kenapa bikin ulah..? Kamu pikir papa kamu gak akan marah karena kamu terluka karena aku..?" Sentak Aima greget
"Kemarin aja kamu mulus tanpa lecet papa kamu gimana, apalagi kamu yang begini..?" Lanjutnya
"Sayang. Dengerin dulu penjelasan aku.." Arif yang bingung harus mulai dari mana, akhirnya memilih menyerahkan ponselnya.
Aima yang bingung akan maksud sang suami, hanya diam menatap ponsel yang di ulurkan sang suami di tangannya.
"Kamu baca pesannya. Itu alasan kenapa aku meladeninya. Mantan kamu itu begitu ambisius, maka itu aku memenuhi undangannya. Aku gak mau dia bebas masuk dalam hubungan kita jika aku tak datang sore itu.." Jelas Arif lembut sembari mengelus punggung tangan Aima.
Aima yang merasa tersentuh, akhirnya menuntaskan rasa penasarannya dengan membuka aplikasi pesan di ponsel sang suami.
Dengan perlahan Aima membaca percakapan antara sang suami dan mantan kekasihnya itu dengan seksama.
Sesaat kemudian tatapannya beralih pada wajah sang suami dengan tatapan menusuk mata.
"Mas. Aku boleh minta sesuatu..?" Ucap Aima
"Iya, minta apa..?" Jawab Arif mengangguk pelan
"Aku cuma minta, jika dia menghubungi mas lagi, tolong kasih tau aku.. Jangan bertindak tanpa persetujuan aku. Aku tau dia tak akan berhenti sampai disini saja. Pasti akan ada lagi rencana barunya.." Ucap Aima dengan tatapan penuh harap.
Bukannya menjawab, Arif justru menarik Aima dalam dekapannya.
"Aku janji gak akan bertindak gegabah lagi. Aku gak akan nyembunyiin apapun lagi dari kamu.." Jawab Arif meyakinkan.
Mendengar ucapan itu, tangan Aima akhirnya terangkat naik membalas pelukan sang suami.
__ADS_1
Sedetik kemudian Aima mengurai pelukannya. Tangannya terangkat mengelus pipi sang suami penuh sayang kali ini.
"Mas kenapa bisa demam gini sih.." Ucap Aima lembut.
Arif tersenyum memegang tangan Aima yang berada di pipinya.
"Kangen kamu sayang. Kamu diemin aku seminggu lamanya.." Jawab Arif masih dengan senyumnya.
"Mmceehh.." Cebik Aima tak percaya.
"Mas ganti bajunya dulu yuk..? Aku ambilkan makan sama obat dulu ya sebentar.." Ucap Aima penuh perhatian.
"Iya sayang. Makasih ya.." Ujar Arif bahagia
***
Di rumah pak Malik, pak Malik yang sedang menyusun pot bunga yang baru saja di tanami bungan oleh bu Nana ke teras depan rumahnya, di kejutkan dengan kehadiran seorang gadis seksi berparas ayu.
Pak Malik yang sama sekali tak mengenal gadis tersebur, sedikit menaikan volume suaranya memanggil sang istri yang tengah berada di dapur menyeduh kopi untuknya.
"Masuk dulu neng.." Ajak pak Malik sopan
"Tapi kak Arifnya ada gak pak..?" Tanya gadis tersebut yang bernama Fika.
Pak Malik yang bingung siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan Arif, hanya diam tak menjawab.
"Kenalkan, saya Fika. Anak Johan, kades disini.." Ucap Fika mengulurkan tangan saat melihat reaksi yang di tunjukan pak Malik.
Sedetik kemudian bu Nana pun muncul dari daalm rumah dengan segelas kopi di tangannya.
"Ma, ini Fika anak pak kades Johan.." Ucap pak Malik pada sang istri.
Bu Nana mendadak resah. Tatapannya mengarah pada sang suami linglung.
"Mari masuk dulu neng.." Ajak pak Malik mengurai suasana
"Disini aja pak.. Saya cuma mampir sebentar kok. Tapi kalau kak Arif ada di rumah, gak apa apa saya mampir meski ada urusan di luar.." Ucap Fika dengan anggunnya.
Pak Malik dan bu Nana saling pandang satu sama lain.
"Arif gak tinggal disini lagi. Dia tinggal sama istrinya sekarang.." Ujar pak Malik jujur
Menurut pak Malik, tak ada lagi yang perlu di tutupi dari pernikahan sang anak. Apalagi pada gadis di depannya kini.
Yang sebelumnya sempat di minta oleh pak kades untuk di jodohkan dengan sang anak.
"Hahh..? Kak Arif menikah dengan siapa..?" Terkejut. Ya Fika sangat terkejut.
"Dia menikah dengan Aima sudah hampir lima bulan yang lalu.." Imbuh bu Nana.
"Jadi, sesudah perjodohan saya dan kak Arif..?" Tanya Fika mendesak.
Mrlihat diamnya pak Malik dan bu Nana, Fika sudah bisa menebak itu benar.
__ADS_1
"Kalian kok tega..? Saya bahkan tak tau soal ini. Dan sampai saat ini saat masih berharap ada kelanjutan pembahasan yang lebih serius lagi tentang pernikahan saya dan kak Arif.. Tenyata.." Ujar Fika emosi.
"Maafkan kami. Tapi kami sudah menyampaikan soal penolakan Arif pada pak kades. Arif punya alasan menolak karena dia sudah mempunyai calon.." Jawab pak Malik menjelaskan.
"Saya tak terima di beginiin.." Sentak Fika penuh amarah
***
Setelah selesai minum obat penurun demam, Arif kembali melanjutkan istrahatnya yang sempat terusik oleh sang istri.
Karena demam tinggi, Arif yang sedang tertidur dengan pulasnya mengigau hingga keringatnya mengucur deras membasahi wajahnya.
Cukup lama Arif mengigau. Hingga nafasnya terus memburu dengan raut wajah penuh gelisah.
Mbok Lala yang baru saja masuk dengan mengantar buah yang di kupas oleh Aima untuk Arif, bergegas membangunkan tuan mudanya dengan panik.
Karena masih terbawa suasana mimpi, Arif tanpa sengaja menangkap tubuh sang asisten dalam pelukannya.
Hal itu tentu saja sontak membuat mbok Lala ketakutan. Bukan takut pada Arif, tapi takut pada Aima yang bisa saja salah paham.
"Den, ini mbok Lala den.. Bukan non Aima istri aden.." Mbok Lala memberontak dalam pelukan sang suami majikannya itu.
"Mesra amat.."
Mbok Lala semakin panik dan ketakutan saat suara Aima muncul dari arah belakangnya.
Dengan sekuat tenaga yang ada, mbok Lala mendorong paksa dekapan Arif dan berhasil.
Arif dengan nafas yang masih memburu, dengan keringat yang masih mengucur di sudut pipinya, menatap wajah mbok Lala dan Aima secara bergantian.
Masih bingung dengan apa yang baru saja dia alami, Arif hanya diam tanpa suara. Sedangkan mbok Lala langsung berdiri di samping Aima dengan gugupnya.
Aima pun tak kalah bingung. Dia hanya menatap keduanya secara bergantin.
Segelas ramuan jahe yang baru saja dia buatkan khusus untuk sang suami, di berikannya pada sang asisten.
"Kasih ke dia.." Ucap Aima menunjuk Arif dengan dagunya
.
BERSAMBUNG..
TEMAN TEMAN, MAKASIH SUDAH MAMPIR LAGI DI EPISODE KALI INI.. 🙏🙏💖💖
MOHON DUKUNGANNYA TERUS YA DENGAN BANTU LIKE DAN VOTE..
SEMOGA EPISODE BERIKUTNYA LEBIH MENARIK LAGI.. 🙏💖💖💖
PROMO 👇
JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL SAYA YANG SUDAH TAMAT YA GUYS.. 🙏💖
__ADS_1