
Tak terasa sudah lebih satu jam mereka mengobrol, ada saja yang jadi bahan percakapan
bahkan bapak riani juga masih duduk menemani tono dan ragil.
“bu” tiba – tiba dini muncul dari dalam kemarnya dan memangil ibunya.
“wah anak ibu sudah bangun ?, sini ndok, ini ada om tono dan om ragil, salim dulu”
Dini berjalan medekat dan bersalaman Ketika bersalaman dengan tono dini bertingkah
biasa saja akan tetapi Ketika bersalaman dengan ragil, ekpresi wajah dini
terlihat berbinar.
“om ragil
beneran ke rumah dini ?” ucap dini.
“ iya dong,
kan om sudah janji sama dini kalua om pasti akan ke rumah dini untuk menemui
dini”.
Riani,
bapaknya, dan tono Cuma bengong melihat interaksi antara dini dan ragil
barusan. Bahkan ariani sebagai seorang ibunya dini pun tidak tau kapan dini
sama ragil telfonan.
“nak kok dini berbicara seperti itu, dan kapan dini sama om ragil bikin janji itu nak?’.
“sudah lama bu, waktu itu hp ibu berbunyi dini cari ibu keman -mana tidak ada jadi dini
angkat pangilannya, ada nama ragil gitu, eh ternyata om ragil ini yang menelfon
ibu”.
“ lalu, dini kenalan sama om ragil. Nah om ragil waktu itu janji mau main ke rumah dini, iya
kan om?”.
“ iya sayang, dini baru bangun tidur siang ya?”.
“iya om”.
“dek, sini sama om tono, tidak kangen ya dini sama om tono lagian yang lebih dulu kenal dini itu om tono lo kenapa dari tadi om tono tidak diajak
bicara? Tono protes kepada dini.
“ngak ah, dini maunya sama om ragil saja, tidak mau sama on tono”.
“kok gitu, tidak boleh seperti itu nak” riani mencoba menasehati dini anaknya.
“sudah – sudah sini dini sama om ragil saja” ragil menyuruh dini duduk disampingnya.
“tumben ya ri, dini langsung mau dekat dengan orang yang baru dilihatnya?”.
“iya pak, ton kalian ngobrol dulu sama bapak ya mbak mau kebelakang sebentar”.
“ iya mbak”.
Dini sebenarnya ke belakang Cuma alas an saja, dari tadi hp yang disakunya bergetar
terus, dia yakin pasti radi menghubunginya terus dari tadi, dan benar saja
Ketika sudah sampai di kamarnya terlihat ada beberapa pangilan tak terjawab
__ADS_1
atas nama radi bahkan radi juga sudah mengirimi riani sms, ada lebih dari lima
sms yang dikirim radi ke riani.
“dek, tonos ama ragil masih di rumahmu ya”.
“ kenpa sms mas tidak kamu balas dek, masih sibuk sama mereka ya”.
Dan masihada beberapa sms yang belum sempat riani baca Ketika radi menghubungiya lagi
untuk yang kesekian kalinya.
“assalamualaium dek, kenapa sms mas tidak kamu balas ?, dan kenapa telfon mas tidak kamu angkat
?”.
“walikum salam mas, maaf, hp riani di kamar, ada apa?”.
“tad ikan kita sms an lalu kenapa bisa ada di kamar, sengaja ya biar mas tidak ganggu
kamu yang sedang ada tamu?”.
“bicara apa kamu mas, kalua nelfon Cuma untuk marah – marah, mendingan riani matikan saja
telfonya, maaf, asalamualikum”.
Dimatikannya pangilan secara sepihak oleh riani, sebenarnya riani memaklumi kalua radi
marah, riani juga merasa bersalah karena sudah mengabaikan radi, akan tetapi
Ketika mendengar kemarahan radi riani juga tidak merasa nyaman.
“bagus ya dek, sudah disms tidak dibalas ditelfon malah dimatikan”.
Radi mengirimi riani sms kenmali akan tetapi tidak riani balas, nanti saja Ketika
radi secara perlahan.
“riani tolong temani tonos ama temanya sebentar ya ” tiba – tiba bapak muncul di kamar riani.
“iya pak memangnya bapak mau kemana”.
“bapak mau menjemput mak mu sebentar ya”. Lalu bapak riani bergegas menuju ke rumah
kakaknya.
Riani segera keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka lagi di ruang tamu. Ketika riani
sampai di ruang tamu terlihat dini duduk dipangkuan ragil sambal melihat video
animasi dari ragil.
“dini sini nak, om ragilnya mau pulang, lagian kasian om ragilnya pasti capek kalua dini
minta dipangku gitu duduknya”.
“tidak apa – apa mbak biar saja, sepertinya dini nyaman seperti ini” jawab ragil.
“iya mbak dari tadi mana mau dini sama saya, maunya sama ragil saja, eh dek mau nggak
kalua om ragil jadi ayah dini ”. tiba t-tiba saja meluncur dengan mudah kalimat
itu dari bibir tono, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari riani, akan
tetapi jawaban dini membuat sang ibu kaget.
“ mau om mau banget”.
“beneran” tanya tono lagi, sedangkan ragil seolah mendapat lampu hijau dari dini wajahnya
__ADS_1
langsung berseri – seri.
“wah punya pendukung ini” batin ragil dalam hati.
“iya om ton”.
“ kalua om tono yang menjadi ayah dini, dini mau tidak”,tono bertanya lagi kepada dini.
“enggak, dini maunya om ragil yang jadi ayah dini”.
“dini tidak boleh, seperti itu nak”.
“kenapa dini tidak mau kalua om tono yang menjadi ayah dini kenapa pilih om ragil?”, Tono
soalah penasaran dengan keinginan dini.
“entah, kalua om ragil baik tau om tidak seperti om tono atau om radi”.
“enggak pokoknya dini Cuma om ragil yang jadi ayah dini, bukan om tono atau om ragil”.
Jawaban polos dini membuat hati riani merasa tersentil ada apa dengan dini kenapa bisa
langsung dekat dengan ragil seperti itu.
“sudah mbak riani jangan terlalu difikirkan perkatan tono maupun dini, senyaman mbak riani
saja seperti apa”. Kata ragil melihat wajah bingung riani.
“mbak ini mas radi ada sms tono tanya apa saya sama ragil masih di rumah mbak, kenapa dia
tidak tanya langsung ke mbak?’.
“ya manambak tau mungkin dia hubungi mbak Cuma hp mbak ada di kamar”.
tak lama berselang terlihat bapak dan emak telah pulang dari rumah pakde.
“oalah ada tamu to, sudah dari tadi ton” tanya emak riani terhadap tono.
“sudah bude”.
“lho lha inisiapa temanmu ton ?”.
“iya bude ini..”.
“saya ragil bu teman tono” ragil langsung memperkenalkan diri kepada emak riani.
“oh iya saya emaknya riani, mari saya tingal dulu ke dalam ya”.
“iya bu mari”. Jawab ragil kembali.
Sepeningal emak riani yang masuk kedalam. Bapak terlihat memasuki rumah, mbah kakungnya
riani kaget melihat sang cucu yang Nampak dekat dan nyaman dalam pangkuan
ragil.
“lho dini kenapa duduknya minta dipangku sama om ragil ndok, nanti capek om ragilnya
nak”.
“tidak apa – apa pak” jawab ragil.
Mendengar jawaban ragil lagi – lagi riani sama tono saling pandang. Tadi ragil memanggil
emaknya dengan pangilan ibu, sekarang riani baru sadar kalua ragil juga panggil
bapaknya pak, sangat berbeda dengan panggilan tono kepada bapak dan emaknya
yaitu pakde dan bude riani mencoba melupakan soal panggilan ragil terhadap bapak dan emaknya.
__ADS_1