
Tidak terasa waktu cepat berlalu
satu hari lagi merupakan hari pernikahan radi dan diva, bahkan ayah dan ibu radi sudah meminta tolong terhadap tetangga dekatnya untuk ikut bantu – bantu di rumahnya menyiapkan segala sesuatu yang akan di bawa ke rumah diva besok, bahkan keluarga riani pun ikut membantu, terdengar percakapan para ibu – ibu yang sedang sibuk di dapur membuat beberapa macam aneka kue.
“ bu riani kok tidak ikut kemari bulek” tanya salah satu tetangga terhadap bu sumi.
“ owh ibunya dini baru saja
pulang dari sekolah sebentar lagi pasti kemari “ jawab bu sumi.
“ memangnya bu riani masih
mau datang ke rumah ini ya bulek setelah apa yang dilakukan imah dan ibunya terhadap bu riani?”
“ kamu ini kan waktu mbak
yana nikah bu riani juga mau ikut bantu – bantu disini”
“ oh iya ya, saya lupa”
“ tapi sekarang ibunya dini tidak bisa bantu – bantu seperti nikahnya yana karena semenjak kehamilannya yang ke dua ini suaminya selalu melarang riani melakukan hal – hal yang berat,
kalau riani nya sendiri sih tidak masalah melakukan pekerjaan apa pun tapi dengan suaminya tidak boleh”
“ wah bu riani sedang hamil ya bulek, selamat ya semoga debay dan ibunya sehat selalu”
“ aamiin “ jawab para ibu –ibu kompak.
“ beruntung ya bulek bu riani suaminya ini sayang banget sama bu riani sama dini juga terlihat sayang juga”
“ alhamdulilah mbak bahkan
semenjak tau kalau istrinya hamil ragil lo yang mencuci baju, pokonya riani tidak boleh melakukan hal – hal yang berat, kemarin mertuanya langsung datang ke rumah begitu tau riani hamil”
“ semua ada hikmahnya, bu
riani pantas mendapatkan yang terbaik bulek setelah apa yang bu riani alami”
“ iya mbak, nah tuh riani nya datang”
“ Assalamualaikum ibu – ibu, maaf datangnya telat ya”
“ tidak bu, mari silahkan, duh bumil satu ini kelihatan makin cantik jangan – jangan adik dini perempuan lagi”
“ aamiin memang itu yang
diharapkan dini dan ayahnya bu, mereka berharap adik dini perempuan”
“ bu ayah ke depan sama bapak – bapak ya” pamit ragil terhadap sang istri
“ iya yah”
“ dini mau disini sama ibu atau mau ikut sama ayah” tanya ragil terhadap sang anak”
“ ikut ayah saja ah”
“ ya sudah sana ikut ayah tapi mainnya jangan jauh – jauh yan anti”
“ iya bu” jawab dini.
“ bu riani selamat atas kehamilannya semoga diberikan kemudahan selama masa kehamilannya dan kelancaran
Ketika persalinan nanti”
“ aamiin terima kasih ya bulek”
“ sudah berapa bulan bu kehamilannya?”
“ ini mau tiga bulan bu”
“ kok sudah terlihat seperti lima bulan ya bu”
“ hehehe riani saja yang makin terlihat gendut bu,minggu lalu cek baru Sembilan minggu bu, jadi minggu ini sudah masuk sepuluh minggu”
“ tapi terlihat besar lo bu atau jangan – jangan ibu hamil anak kembar lagi”
“ Amiin semoga saja bu, perempuan semua lagi” ucap riani penuh harap.
“ oh ada yang sudah hamil to ternyata, hati – hati lo jaga bodi takutnya kalau body istri melar suami lari cari yang masih singset” ucap imah tiba tiba.
“ mbak imah ini bicara apa sih datang – datang malah bikin onar, belum puas ya setelah apa yang mbak lakukan terhadap bu riani, untung banget bu riani tidak jadi dengan adik situ kalau jadi aku yakin mbak riani pasti makan hati terus tiap hari”
__ADS_1
“ malah sehat bu makan hati tiap hari” jawab riani berseloroh.
“ kan saya Cuma mengingatkan kok situ sewot amat, adik saya dong yang sangat beruntung coba lihat setelah putus sama janda malah sekarang akan menikah dengan gadis ting ting buka janda tong tong punya anak lagi”
“ mas wisnu mau kemana mencari mbak imah y aini orangnya” tiba – tiba ada salah satu ibu – ibu yang
menyeletuk seolah – olah melihat wisnu suami imah datang mendekat kea rah mereka, dan hal itu sukses membuat imah langsung pergi meninggalkan mereka.
“ ha..ha..ha..” lihat baru aku bohongin ada mas wisnu imah langsung kabur, takut amat sama suaminya”
“ takut karena merasa dia bersalah bu” seloroh seorang ibu ikut menimpali.
“ ibu bia saja dapat ide dari mana tadi”
“ ide spontan bu riani, soalnya saya gemes lihat imah nyerocos terus”
Karena hari sudah menjelang
sore riani memilih segera pulang saja, setiba di rumah dia bertanya kepada suaminya bagaimana baiknya besok ikut mengantarkan radi ke pernikahannya atau tidak.
“ yah, menurut ayah besok
kita ikut tidak ke rumah diva tidak?” tanya riani terhadap sang suami.
“ kalau missal kita ikut ibu tidak apa – apa kan?” jawab tadi dengan pertanyaan pula.
“ ya nggak lah memangnya mau kenapa yah”
“ ya ayah takut ibu kecapean terus dedek bayi di perut ibu kenapa – napa ?”
“ tidak akan kenapa – napa yah dedek bayi kan pinter” jawab riani sambil mengelus perutnya yang terlihat mulai membuncit.
“ yah nanti kalau libur sekolah kita pergi ke kota yuk”
“ mau ngapain bu?”
“ USG yah, ibu penasaran bagaimana adek bayi”
“ owh, iya atau ibu minta izin dua hari gitu”
“ lihat nanti saja lah nunggu kehamilannya empat bulan, buat makin kuat dedeknya”
“ ayah ikut saja apa kata ibu, ayah mau mandi dulu ya bu sudah sore ini, ibu juga segera mandi”
" dan jangan lupa besok bangun seperti biasanya"
"memangnya mau kemana? "
“ ya jalan – jalan pagi sih bu seperti biasanya”
“ baiklah suami ibu tersayang” ucap riani sambil mencium pipi sang suami
“ enggak usah mancing – mancing bu”
“ siapa yang mancing kail saja tidak punya” elak riani.
Lain halnya riani yang sedang bercengkrama dengan suaminya saat ini radi sedang duduk termenung di atas ranjangnya seorang diri.
“ mungkin kini sudah saatnya mas melupakanmu dek” ucap radi sambil mengelus foto riani di hpnya.
“malam ini mas akan menghapus fotomu, dan semua kenangan tentang kita, bukan karena mas sudah bisa melupakanmu akan tetapi mas tidak mau nantinya foto ini akan mejadi masalah baru buat mu, maafkan yang terpaksa
melakukan ini, dan sepertinya kamu benar – benar sudah hidup Bahagia, selamat atas kehamilanmu sayang ku” ucap radi nelangsa.
“ mas harap besok kamu ikut
mengantarkan dan hadir di pernikahan mas, selalu berbahagialah sayang kamu
berhak mendapatkan semua kebahagian itu” tanpa terasa air mata radi ikut menetes Ketika dia mulai menghapus semua foto – foto riani dari galeri hpnya, bahkan semua sms dan daftar panggilan pun radi hapus serta nomer kontak riani pun turut radi hapus.
“ meskipun semua kenangan
tentang mu mas hapus dari hp mas percayalah semua kenangan tentang mu akan abadi di hati mas dek” lirih radi sambil tertelungkup diatas tempat tidurnya bahkan radi sampai tertidur dengan kesemua kesedihannya.
Pagi menjelang semua sudah
sibuk dari pagi akan tetapi sang calon pengantin laki – laki solah enggan untuk bersiap dia masih asik duduk melamun memandang keluar dari jendela kamarnya
hingga sang adik datang ke kamarnya.
“ mas ini yana, apa yana boleh masuk?”
__ADS_1
“ masuk saja dek pintunya tidak mas kunci”
“ lho mas kok belum bersiap? Ada apa mas apa mas senasib dengan yana?”
“ kamu bicara apa sih yan, mas Cuma merasa dingin saja jika segera mandi sepagi ini”
“ mas bisa membohongi semua
orang akan tetapi mas tidak akan pernah bisa membohongi yana, katakana ada apa mas? Apa pernikahan ini atas paksaan ibu juga? Kalau iya batalkan saja mas,
cukup yana yang merasakan akibat pernikahan yang ibu paksakan mas jangan sampai
merasakannya”
“ apa yang kamu rasakan dek, apa kamu tidak Bahagia dengan pernikahanmu?”
“ jujur mas raga ku memang
dimiliki oleh suamiku akan tetapi hati ku masih menjadi milik mas tono sampai detik ini aku belum bisa melupakan mas tono” ucap yana pelan sambil menangis.
“ ya Allah dek maafkan mas
mu ini yang dulu tidak bisa mencegah keinginan ibu dan mbak imah, kenapa dulu ketika yang tanyakan prihal perasaan kamu, kamu berbohong sama mas yana,andai dulu kamu berkata jujur sama mas mungkin mas masih bisa mempersatukan kamu sama
tono”
“ tidak mas, yana Cuma tidak mau ibu kenapa – napa” jawab yana.
“ dengan kamu yang tidak bahagia dengan pernikahan mu”
“ jangan pikirkan tentang
perasaan ku mas, semenjak aku memutuskan berpisah dengan mas tono dan menerima perjodohan yang ibu buat perasaan ku ikut serta mati mas, sudah sekarang mas bersiaplah jangan pikirkan soal yana karena adikmu ini terlalu kuat untuk
menghadapi semuanya seorang diri, do’akan saja yana selalu kuat ya mas”
“ yang sabar ya dek semua akan baik – baik saja” ucap radi menguatkan sang adik meskipun saat ini dirinya pun sedang rapuh.
Sekitar jam delapan pagi semua rombongan pengantin telah siap semua di rumah radi bahkan radi tersenyum senang melihat riani turut hadir mengantarkan dia menuju tempat ijab qobul nya.
“ terima kasih sudah mau ikut mengantarkan mas dek” ucap radi dalam hati sambil tersenyum simpul.
“ semua sudah siap kan, kalau iya mari kita berangkat saja ke rumah calon pengantin Wanita” ucap pakde radi mewakili pihak keluarga.
“ itu barang – barangnya jangan
sampai ketinggalan ya” bu lastri memperingatkan para rombongan pengiring pengantin.
“ bu riani tidak usah ikut
membawa barang saja kasian dedek bayinya” ucap salah satu tetangga riani.
“ iya bu biar kami saja yang membawanya” timpal yang lain
“ baru hamil saja sudah merasa sok istimewa semua juga pernah hamil tapi biasa saja” sewot imah.
riani Cuma tersenyum menanggapi ucapan imah, karena baginya sudah terbiasa dijutekkin oleh imah.
“ sebenarnya ada masalah
apa sih si imah sama bu riani jutek terus bawaannya, kalau aku jadi bu riani sudah tak sumpal mulutnya” terdengar komentar gusar seorang ibu terhadap sikap imah barusan.
“nah itu bedanya kamu sama
bu riani, sudah ya bu riani anggak saja orang gila sedang kambuh, mari kita berangkat saja itu yang lain sudah mulai berangkat juga.
“ kenapa mbak imah masih
selalu jutek sama ibu sih ada salah apa sebenarnya ibu sama dia?”tanya ragil terhadap sang istri Ketika mereka masih dalam perjalanan menuju rumah diva.
“ibu juga tidak tau yah, untungnya ibu tidak jadi menjadi iparnya bisa kurus kering ibu menjadi iparnya
karena selalu mendengar dia berkata super pedas” jawab riani sambil tersenyum.
“ Allah itu Maha Tau bu
jadi Allah tau jika ibu nekat menikah sama radi ibu bakalan tidak merasa bahagia, lain kalau sama ayah full bahagianya” kata ragil dengan penuh percaya diri.
“ aamiin” jawab rinai membenarkan perkataan sang suami.
Setelah beberapa jam perjalanan sampailah mereka di rumah diva sang pengantin Wanita, rumah diva
__ADS_1
nampak dihias sedemikian rupa bahkan tenda di depan rumahnya pun ikut dihias dengan nuansa biru muda.
Semua rombongan pengirim pengantin laki - laki dipersilahkan menempati tempat yang telah disediakan oleh pihak pengantin wanita.