
Ragil benar – benar tidak pulang malam ini dia menemani keluarga riani di puskesmas, kehadiran ragil membuat suasana berubah ceria, bahkan dini sangat senang dengan adanya ragil yang menemaninya, ada saja keinginan dini yang harus dipenuhi oleh ragil. Seperti keinginan dini makan martabak maka ragil mencarikannya sampai ke desa sebelah. Betapa senangnya dini Ketika melihat ragil datang membawa martabak.
“ terima kasih om ragil martabaknya”
“ iya sayang, dini mau om suapin makan martabaknya”
“ mau banget om”
Dengan telaten ragil menyuapi dini makan martabak, dan interaksi dini dan ragil tidak luput dari pengamatan riani dan dan mbah utinya dini,
“ coba kamu lihat mereka berdua ndok, seperti anak dan bapak ya”
“emak bicara apa sih”
“ ya emak bicara realita yang mak lihat, sepertinya dini memang merindukan sosok seorang ayah ndok, tidak selamanya kamu bisa menjadi ibu sekaligus ayah buat dini, ada kalanya dini tetap membutuhkan sosok seorang ayah ndok”
“ iya bu” “ dan coba kamu lihat cara nak ragil memperlakukan dini ndok seperti memperlakukan anaknya sendiri”
“ apa iya bu”
“ coba lihat”
riani memperhatikan Kembali ragil yang sedang menyuapi dini sambal sesekali bercanda. Ketika selesai sholat magrib badan dini Kembali terasa demam dengan tergesa – gesa ragil mencari petugas Kesehatan yang sedang piket ubtuk mengabarkan kondisi dini yang mulai demam lagi.
“ ada apa mas kenapa tergesa – gesa?”
“ tolong pasien yang Bernama dini mbak, dia demam lagi”
“ oh iya mas tunggu sebentar ya”
“ iya mbak, saya ke ruangan dini dulu ya”
“ iya mas mari”
ragil segera Kembali ke ruangan dini Kembali, melihat ragil datang sendirian riani segera menanyakan soal petugas Kesehatan yang sedang piket.
“ mana petugasnya kok tidak datang bersama mu”
“ sepertinya sedang mengambil peralatan medisnya dulu”
“ ada kan tapi orangnya ?”
“ ada, pasti sebentar lagi akan datang, nah itu orangnya”
“ mbak periksa dulu ya dek dini, apa yang adek rasakan”
“ dingin mbak”
“ nah sudah diperiksanya, adek sudah maem bu?”
“ sudah mbak, dan barusan makan martabak juga”
“ ini obatnya kan saya ganti ya bu riani, dan sekitar jam delapan malam baru diminum obatnya”
“ iya mbak, terima kasih ya”
“ iya bu, saya permisi dulu kalau ada apa – apa saya ada dirungan piket, cari saja disana”
“ iya mbak sekali lagi terima kasih”
“ iya sama – ama bu riani, cepat sembuh ya dek”
“ Aamin terima kasih mbak”
Setelah selesai memeriksa dini mbak perawat memeriksa pasien lainnya. Setelah kepergian petugas Kesehatan
yang memeriksa dini tampak ragil mendekat kea rah dini.
“ apa yang kamu rasakan sayang?”
“ dingin om”
“ mau om peluk supaya terasa hangat”
“ mau”
“ sini om peluk”
“ ibu turun dulu dari ranjang, biar saya mengantikan ibu yang memeluk dini”
“gimana sayang terasa hangat tidak?”
“ hangat om”
ragil melihat jam di hpnya yang jam delapan malam dia teringat kalau dini harus meminum obat jam delapan malam,
“ sayang minum obat dulu ya supaya segera sembuh”
“ iya om, tapi setelah minum obat dini mamu tidur ya”
“ iya nak”
Setelah meminum obatnya dini minta peluk ragil lagi tidak lama berada dalam pelukan ragil dini pun tertidur.
Setelah dini tertidur dengan pulas ragil perlahan – lahan melepaskan pelukkanya dan turun dari ranjang dini.
“ saya permisi mau keluar \ebentar”
“ mau kemana ?”
“ merokok”
“ oh ya silahkan, tapia pa tidak makan dulu, ini tadi mbaknya dini membawa bekal makanan, ayo kita makan dulu”
“ saya merokok dulu baru setelah selesai saya akan masuk lagi untuk makan”
Tanpa menunggu jawaban dari riani ragil segera keluar dari ruangan inap dini, sambal merokok ragil melamun, dia melamunkan kondisi dini.
“ kasian anak sekecil itu harus di rawat dan tanganya diinfus, dari tadi siang kok aku tidak melihat ada orang lain selain mbah kakung, mbah uti dan ibunya, masak keluarga ayahnya dini tidak ada yang membesuk atau ikut menunggui dii, mau bertanya saya takut jika riani tersinggung” lamun ragil.
“ nak ragil boleh bapak bicara sebentar”
__ADS_1
Karena sibuk melamun tanpa ragil sadari bapaknya riani telah duduk disampinya.
“ silahkan pak, sejak kapan bapak disini”
“ sejak tadi sepertinya nak ragil sedang melamun sehingga beberapa kali bapak panggil tidak dengar”
“ oh maaf pak, saya memang tidak mendengar bapak panggil ada apa ya pak ? apa yang akan bapak tanyakan
sama saya”
“ begini nak ragil, sebenarnya bapak kurang enak menanyakan hal ini terhadap nak ragil”
“ tidak apa – apa pak tanyakan saja”
“ saya Cuma ingin tau apa alasan nak ragil melakukan semua ini terhadap keluarga saya?”
“ maksudnya pak?”
“ saya tau dari cara nak ragil memandang anak saya riani nak ragil sebenarnya mempunyai rasakan dengan ibunya
dini, dan semua yang nak ragil lakukan semua ini karena nak ragil sayang sama riani kan?”
“ jujur iya pak, kalau bapak menyizinkan bolehkah saya mendekati anak bapak?”
“ kalau bapak terserah rianinya nak”
“ apa nak aragil bisa menerima dini juga jika nantinya riani menerima nak ragil?”
“ pak saya suka riani denga napa adanya dia dan saya akan menerima seluruh kekurangan dan kelebihanya pak. Saya siap jadi ayah sambung untuk dini”
“ terus bagaimana dengan keluarga nak ragil ?”
“ kalau keluarga saya terserah saya karena saya yang akan menjalaninya pak”
“tentang setatus riani apa mereka juga tau?”
“ tau pak, satu hal saya minta tolong sama bapak apa boleh?”
“ ap aitu nak katakana”
“ tolong bantu saya untuk mendapatkan hati riani pak. Karena sulit bagi saya untuk mendapatkan hatinya”
“ berusahalah nak semampu bapak akan membantumu jika kamu tulus dan serius dengan riani”
“ baik pak terima kasih atas kesediaan bapak untuk membantu saya”
“ iya nak sama – sama, ini sudah mala mayo masuk, kamu tadi sudah makan malam belum ?”
“ belum pak mari”
Beriringan ragil Kembali masuk ke kamar rawat inap dini, Ketika mereka sampai di ruangan dini terlihat dini
masih tertidur pulas. betapa senangnya hati ragil tingal satu langkah lagi maka keinginanya untuk memperistri riani akan terwujud.
“ ayo nak ragil makan dulu, ini ibu tadi bawa bekal dari rumah”
“ iya bu mari, ibunya dini sudah makan belum?”
Lalu mereka berempat makan dalam dian Bersama – sama, setelah selesai makan riani melihat persediaan air
minum tingal sedikit lalu riani pamit ke pada orang tuanya untuk mencari air minum akan tetapi dicegah oleh ragil.
“ biar saya saja yang mencari, kamu disini saja menemani dini takutnya dini bangun dan mencari mu”
“ iya maaf selalu merepotkan mu” jawab riani canggung.
Setelah ragil keluar dari ruangan rawat inap dini untuk mencari persediaan air minum bapak riani mengajak riani ngobrol.
“ ndok, bapak kok merasa sebenarnya nak ragil itu ada rasa ya sama kamu”
“ ah bapak ini ngak lah pak”
“ ndok, cuba kamu fikirkan, kemarin dia kesini tanpa ada yang membri tahu jika dini sakit, lalu sampai sekarang belum pulang karena dini yang meminta, terus lihat coba dini tadi mau tidur kalau dipeluk sama dis, barusan kamu mau keluar cari air tidak boleh kan karena dia khawatir dini terbangun, lihat betapa perhatiannya dia sama kamu dan dini, bapak yakin dia melakukan semua ini karena dia suka sama kamu ndok”
“ sebenarnya dia sudah beberapa kali bilang suka sama riani pak, tetapi riani ragu, kami jauh berbeda pak dari segi usia dan setatus, bahkan riani belum tau seperti apa sifat dia, di mana rumahnya, apa keluarganya juga bisa menerima riani pak”
“ misalnya keluarganya mau menerima kamu apa adanya bagaimana ndok?”
“ entahlah pak biar Allah saja yang mengatur soal jodoh riani, riani mau focus bekerja dan membesarkan dini pak”
“ ndok misalnya tiba – tiba dia melamarmu apa kamu terima” emak riani ikut menimpali percakapan mereka.
“ riani manut apa kata bapak dan emak. Silahkan bapak sama emak yang menilai soal ragil dan memutuskanya”
“ baik jadi apa pun keputusan bapak kamu ikut ya”
“ iya pak”
Tak lama setelah percakapan mereka ragil datang tetapi tidak hanya membawa air minum Nampak ada beberapa makanan ikut dia bawa.
“ kok banyak banget beli apa saja itu nak”
“ ini pak buat kawan nanti malam menjaga dini biar tidak mengantuk”
“ terima kasih lo nak ragil malah merepotkan ini”
“ tidak kok bu, makananya letakkan di wabah yang biru itu saja takutnya dicicipi sama semut”
“ sini biar emak saja yang menaruhnya di wadah”
“ iya bu ini”
Melihat riani berjalan keluar dari ruangan ragil mengikutinya.
“ mau kemana kamu?”
“ mencari angin, mau tidur belum mengantuk”
“ ikut dong, kita duduk di rungan tunggu saja banyak orang kok disana, terang dan juga luas ruanganya, jadi tidak ada yang ganggu kita”
“ emang kita mau ngapain kok mencari ruangan yang luas, aneh”
__ADS_1
“ ngobrol, ada yang kepingin aku omongin sama kamu”
“ apa”
“ makanya ayo ikuti aku biar tidak penasaran”
“ sudah sampai kan, sini duduk disini”
“ ada apa sih gil kok harus duduk segala, aku keluar Cuma sebentar mau cari angin saja, jadi tidak perlu duduk disini segala”
“ kan sudak aku bilang jangan pangil aku ragil saja, dan yang kedua tad ikan sudaj aku bilang ada yang mau aku omongin, untung cantik jika tidak sudah marah aku”
“ mau marah silahkan”
“ ih sensi amat bu”
“ bodo, cepetan mau ngomong apa kamu”
“ sabar dong, duduk dulu biar enak ngomongnya”
“ iya ini aku sudah duduk ada apa?”
“ ada peraturannya dalam hal yang akan aku omongin kamu cukup berkata iya, karena saya tidak menerima penolakan”
“ kok gitu, apa dulu dong yang akan kamu sampaikan asal saja kamu nyuruh saya iya”
“ setuju dulu bilang iya maka saya hanya akan bicara sama kamu tapi jika kamu bilang tidak maka saya akan berbicara langsung sama bapak dan emak kamu, oke”
“ lha kok ngancam, oke saya akan bilang iya, awas saja kalau ngomongnya aneh – aneh atau macam – macam”
“ tenang tidak akan aneh – aneh atau macam – macam, karena saya Cuma mau satu macam saja saat ini”
“ beneran apa, katakana”
“ dengarkan baik – baik, saya tidak bisa menunggu terlalu lama lagi saya takut ada yang mendahului saya jadi,
saya mau setelah dini benar – benar sembuh dari sakitnya maka saya akan membawa oarng tua saya untuk melamarmu, suka atau tidak suka kamu tidak bisa menolak karena sudah janji tadi akan berkata iya”
“ maaf kalau soal itu saya tidak bisa berkata iya”
“ kenapa? Kasih saya alasan yang bisa membuat saya berhenti mengejarmu”
“ ya alasanya karena kita jauh berbeda”
“ kamu manusia kan?”
“ kamu fikir aku kuntilanak sembarangan”
“ kamu makan nasi kan”
“ nggak aku makan bunga”
“ berarti sama dengan ku, kita sama – sama manusia dan makan nasi terus dimana bu guru yang cantik perbedaan kita, apa karena kamu guru aku petani itu perbedaanya?”
“ bukan soal pekerjaan perbedaan kita itu, coba bandingkan “
“ nggak aku tidak mau membandingkan aku maunya kamu jadi istri ku dan aku menjadi ayah dini selesai urusan”
“ dengarkan saya dulu”
“ jiah main saya – saya an ya sekarang bagus”
“ susah emang bicara sama kamu. Sekarang kamu diam dulu aku yang bicara’
“siap bu guru cantik”
“ serius bisa ngak sih”
“ ya Allah kurang serus apa aku sama kamu,apa perlu aku suruh keluarga aku datang kesini sekarang juga lalu kita menikah mala mini, kalau memang itu bisa menyakinkan mu akan saya lakukan”
“ memangnya seberapa serius kamu sama aku, nanti jika saya ada kepentingan mendadak ke suatu tempat karena
urusan pekerjaan dan kamu atau dini sedang sakit apa yang akan kamu lakukan”
“ kerjakan dulu urusanmu soal akua tau dini atau keluargamu yang sakit biar menjadi urusan saya”
“ usia kita jauh berbeda apa kamu tidak malu”
“ hello, kenapa harus malu bangga lagi ada saya bisa menjadi suamimu”
“ soal setatus kita bagaiman”
“ tidak ada masalah, aku suka kamu apa adanya”
“ keluargamu?”
“ mereka terserah aku, yang menjalani aku bukan mereka”
“ jika aku sibuk dengan urusan pekerjaan bagimana dengan urusan rumah?”
“ aku yang akan mengerjakanya dibantu emak pastinya”
“ ok, kalau missal kita menikah apa kamu akan mengajak ku tinggal di daerah mu”
“ tidak, kita akan tingal dimana kamu dan dini merasa nyaman”
“ baik aku belum bisa berkata iya atau tidak kasih saya waktu untuk meminta petunjuk dari Allah lewat sholat
istikharah, jika saya sudah mendapatkan jawaban maka kamu harus bersedia menerima dengan iklas apa pun jawaban dari saya”
“ baik saya akan bersedia menunggu jawaban dari mu kapan pun itu”
“ ok, ya sudah aku masuk dulu, takutnya dini bangun”
“ ok ibunya dini calon bidadari surga ku”
“ nggak usah lebay”
“ siap”
Setelah riani berlalu ragil menlfon keluarganya dia mengabarkan jika dini dirawat di puskesmas dan dia menemani dini jadi tidak pulang. Awalnya ragil di marah – marah oleh ayahnya dan di suruhnya pulang akan tetapi setelah diberikan alasan dan pengertian ayahnya berbalik menyarankan agar ragil segera melamar riani saja, bapak ragil takut terjadinya fitnah diantara mereka, dan ragil sangat senang mendengar usul dari bapaknya itu.
__ADS_1