
dua minggu setelah dini benar - benar sehat dan sudah bisa berangkat sekolah, ketika pulang dari sekolah riani melihat ada kesibukan yang dilakukan emak dan bude nya, mereka berdua bahkan dibantu oleh beberapa tetangganya, ada yang memasak nasi berserta lauk pauknya dan ada juga yang membuat makanan.
" lho mau ada acara apa mbah uti kok pada sibuk".
" ini bapakmu bilang mau ada acara syukuran karena dini sudah sehat kembali".
"kok baru sekarang biacaranya sama riani".
" ya beberapa hari ini kamu kan sibuk dengan urusan sekolahmu nak, jadi biarkan kami yang mengurusnya ".
" owh maafkan riani ya mbah kalau begitu "
" tidak apa - apa, sana kamu ganti seragam mu dulu sana, masak masuk dapur belum ganti baju, atau kamu dan dini mau makan dulu".
" tidak mbah nanti saja, riani mau ganti baju dulu"
Sepeninggal riani dari dapur, bude riani tampak sudah tidak sabar untuk meminta keterangan kepada adik iparnay itu.
" memangnya riani apa belum tau kalau ragil mau melamarnya to sum? ".
" belum mbakyu, bapaknya riani sengaja merahasiakannya dari riani, karena kalau diberi tahu riani pasti akan mencari alasan untuk menolaknya".
" lha nanti kalau tiba - tiba dilamar bagaimana jika riani menolaknya".
" tidak mbak, riani pernah berjanji kepada kami, jika aku sama bapaknya boleh mengambil keputusan soal pernikahannya yang kedua, karena dulu aldi merupakan pilihannya dan berakhir dengan perceraian, jadi kali ini dia memutuskan agar kami yang memilihkan jodoh buat dia".
" semoga saja ini nanti menjadi pernikahannya yang terakhir ya sum kasian riani sama dini, saya lihat sepertinya ragil tulus menyayangi riani dan dini".
" Aaminn mbak, setelah ini kita bikin bolu saja ya mbak, nanti sebagian kita bagi - bagikan dengan tetangga".
" iya sum kan sudah menjadi adat didesa sini bila ada yang lamaran maka kita bagi - bagi makanan ke tetangga".
" makanya itu mbak, kita bikin makanannya lebih banyak, sudah mbak jangan dibahas lagi soal lamaran, itu riani sudah keluar dari kamarnya".
" mbah uti, itu dikamar ada gamis baru punya siapa ya? ".
" punya kamu sama dini, kamu sama dini pakai baju dengan motif yang sama, lalu bapak sama emak juga pakai baju motif yang sama, biar terlihat keren ya din".
" ah uti, ada - ada saja, kapan uti belinya baju - baju itu? ".
" kemarin sekalian belanja kebutuhan acara nanti malam".
" owh, riani mau ambilkan dini makan siang dulu baru nanti ikut bantu - bantunya".
" iya sana urusi dulu dini kasian sudah lapar pasti dini nya".
" iya bude".
Tanpa sepengetahuan riani bapaknya sudah membuat janji dengan keluarga aldi untuk datang melamar siang ini, dan riani tidak tau sama sekali akan hal ini, dan karena riani pun sudah menyerahkan sepenuhnya soal siapa jodohnya nanti, riani pasrah sepenuhnya akan pilihan orang tuanya.
" pak tolong sambil awasi dini ya, riani mau membantu mbah uti di dapur".
" iya, sana soal dini jangan khawatir akan aman dia bersama kedua mbah kakungnya"
" lo pakde disini juga to, kapan datangnya? ".
" sudah dari tadi pagi aku disini, kamu saja baru tau".
" hehehe maaf pakde, riani baru pulang dari sekolah".
" iya - iya pakde tau, tadi hanya bercanda".
" baiklah riani ke dapur dulu ya".
" ya, silahkan".
" riani belum kamu kasih tau soal rencana lamaran nanti siang? ".
" belum mas, biar jadi kejutan buat dia".
" kalau dia menolak bagaimana".
" tidak akan mas, karena riani sudha menyerahkan sepenuhnya soal jodohnya nanti"
" aneh memang anakmu itu".
" itulah uniknya riani mas, oh ya tadi ragil menelfon katanya dia dan keluarganya sudah bersiap mau berangkat mas, mas pulang sana dulu untuk bersiap juga, jangan lupa dandan yang rapi".
__ADS_1
" ah kamu ini, tapi aq juga belum sholat dzuhur tadi, ya sudah aku pulang dulu saja, sekalian nanti kesini boncengin pak masduki, sudah kamu tembus i kan beliau? ".
" beres pokoknya mas".
" ya sudah aku pulang dulu kalau begitu ".
" iya mas hati - hati"
Sementara didapur riani melihat keanehan yang ada di dapur.
" mak kok makanannya sebanyak ini, memangnya orang banyak ya yang akan datang di acara syukuran nya? ".
" iya, memang banyak, sini kamu bantuin bude membungkusi lemper itu".
" iya mak, masih banyak ya bud".
" ini masih ada separuh yang belum dibungkus ria"
" ria bantuin ya".
" iya sini".
Riani nampak asik membungkusi lemper sambil bercanda dengan bude nya, kalau riani perhatikan sepertinya bude nya menyembunyikan sesuatu, riani ingin bertanya akan tetapi takut menyinggung bude nya, jadi riani diam saja.
" kamu sudah sholat ndok".
" belum mak, jam berapa sekarang? ".
" hampir jam setengah dia, sana kamu mandi dulu, sholat lalu bersiap".
" bersiap kemana mak? ".
" lho bapak mu belum memberi tahu mu kalau acaranya siang ini? "
" belum. kok aneh sih mak acaranya kok siang kenapa tidak malam saja, kan biasanya kalau ada acara kenduri sehabis magrib mak".
" sudah sana jangan banyak tanya, jangan lupa dini juga kamu mandikan dan pakaikan baju yang sudah mak siapkan".
" ah emak ini seperti mau pergi ke acara istimewa saja, kan cuma acara syukuran mak, kenapa harus segala mak siapkan baju buat kami"
" meskipun cuma acara sederhana akan tetapi kita harus tampil beda dong, masak tuan rumah kucel sih tampilannya ".
" ingat jangan lama - lama bersiapnya nanti tamu pada datang kamu malah belum mandi".
" tenang saja mak tamu datang riani dan dini sudah tampil cantik untuk menyambut para tamu undangan yang datang ".
" sukurlah, sudah sampai mana sekarang? "
"........ ...... "
" orang berapa jadinya yang ikut kesini? ".
"........ "
" oh ya sudah semoga perjalanannya lancar, kalau sudah sampai dekat rumah kasih kabar bapak lagi".
"....... "..
" iya, Waalaikumsalam ".
" bapak telfonan sama siapa pak? n siapa yang mau datang? ".
" oh tadi kamu menguping bapak telfonan ya? ".
" siapa yang menguping bapak saja yang terlalu keras bicara di telfonnya"
" oh ya ndok, maaf bapak baru kasih tau sekarang, kalau acaranya siang ini, jadi kamu segera bersiap sana ".
" iya pak, riani sudah diberi tahu mbah uti kok".
" apa lagi yang dibicarakan emakmu sama kamu? ".
" enggak ada, memangnya ada apa pak".
" tidak, dini ada diruang tamu mau kamu mandikan kan dia".
" iya Pak"
__ADS_1
" kenapa sih kok semua orang pada aneh gitu,"cuman riani lirih.
" sayang mandi dulu yuk".
" ayok bu".
" tumben semangat banget mau mandinya".
" iya lah dini mau pakai gamis yang cantik, nanti palaikan dini jilbab yang cantik juga ya bu".
" tumben, ada apa nih".
" kan ayah ragil mau kesini jadi dini harus cantik, nanti jilbab kita sama ya bu warnanya".
" om ragil mau kesini, kok dini tau".
" tau lah kan tadi ayah ragil nelfon kakong, dan dini dengerin "
"kok ragil tidak kasih tau aku ya kalau main kesini, tumben banget" lamun riani.
" ayo bu kok malah melamun, katanya mau mandi dan bersiap".
" oh iya, dini mandi sendiri atau mau ibu mandikan? "
" mandi sendiri dong kan sudah kelas dua malu kalau ibu mandikan".
" baiklah bidadari ibu, silahkan mandi, bajunya ibu siapkan di atas ranjang ya".
" iya ibu".
Setelah dini pergi mandi riani mencoba menghubungi no ponsel ragil akan tetapi sudah tiga kali panggilan tetap tidak terjawab.
" tumben banget nih anak, biasanya kalau aku nelfon baru sering sekali langsung diangkat, kemana dia? mungkin sedang sibuk dia" riani berguman sendirian.
selesai mandi, sholat dan bersiap, riani dan dini segera keluar dari kamar mereka, alangkah terkejutnya riani melihat ruang tamu rumah mereka sudah bersih dan rapi, kersi dan meja ruang tamu sudah tak terlihat keberadaannya terganti dengan karpet dan tikar.
" tamunya belum pada datang ya mak".
" belum mungkin sebentar lagi, kenapa sudah nggak sabar ya".
" enggak sabar kenapa memangnya mak? ".
" nggak sabar menyuguhkan makan heheh e".
" ah emak ada - ada saja"
tak lama terdengar suara motor didepan rumah, riani dan emaknya segera keluar dari dapur untuk melihat siapa yang datang. Kalau emak riani sudah tau siapa yang datang, akan tetapi riani tidak tau sama sekali siapa yang datang.
Setelah riani keluar dari dalam rumahnya alangkah terkejutnya melihat yang datang adalah ragil dan beberapa orang. dan mereka datang dengan membawa beberapa seserahan seperti orang mau lamaran.
Dan yang membuat riani lebih terkejut adalah baju yang dipakai ragil motifnya sama persis dengan gamis yang dia pakai dan yang dipakai dini, melihat situasi seperti ini membuat otak cerdas riani tiba - tiba blang tidak bisa berfikir jernih.
" assalamualaikum pak sudrajat".
"Walaikumsalam, pak darno, mari silahkan masuk"
" terimakasih pak".
melihat interkasi yang ada riani cuma bingung dan tidak tau harus bersikap bagaimana.
" oh ini yang namanya riani".
" i.. iya mbak saya riani".
" Hai riani saya mbak leha mbak pertamanya ragil".
" dan saya mbak dian, mbak keduanya ragil"
riani nampak kikuk dengan situasi seperti ini, dengan diam riani memilih membantu ibunya menyuguhkan makanan dan minuman untuk tamunya.
Setelah mengobrol dan berbasa basi dengan semua keluarga ragil nampak, seseorang berdehem untuk memulai pembicaraan serius, dan riani masih dalam posisi yang sama tidak tau apa yang terjadi.
" sebelumya perkenalkan saya marno kakak dari bapaknya ragil, pertama - tama saya atas nama keluarga ragil mengucapakan beribu - ribu kata maaf jika kedatangan kami sekeluarga ini mengganggu pak sudrajat sekeluarga "
" yang kedua kalinya niat kami datang ke sini adalah untuk menjalin silaturahmi dengan seluruh keluarga pak sudrajat tanpa ada pengecualian".
" dan yang ketiga kalinya kedatangan kamin kesini langsung saja adalah untuk menyampaikan niat baik kami yaitu melamar nak riani untuk menjadi pendamping hidup anak kami ragil".
__ADS_1
Jeledarrr...
Riani sangat terkejut mendengar penuturan pakde ragil barusanbarusan, sedangkan ketika riani melirik kearah keluarganya nampak mereka semua terlihat tersenyum bahagia, bahkan dini anaknya terlihat melonjak sangking senangnya.