Di Fb Ku Temukan Jodoh Ku

Di Fb Ku Temukan Jodoh Ku
Malam Pertama Bertiga


__ADS_3

Serangkaian acara berjalan dengan lancar mulai saat ini riani dan ragil telah resmi mennjadi pasangan suami istri, dan Ketika acra telah selesai nampak riani sedang membersihkan sisa – sisa make upnya di dalam kamarnya, riani sedang duduk di dalam kamarnya ketika ragil memasukki kamarnya, riani Nampak terkejut dengan kedatangan ragil


yang tiba – tiba dan langsung duduk diatas ranjang itu.


“ sayang dimana baju ganti ayah, gerah ini mau pakai kaos saja biar nyaman”


“ itu bajunya masih didalam tas belum sempat riani bereskan”.


“ bisa kan kalimat riani diganti ibu atau apa gitu, aku sudah sayang – sayang mangilnya kamu masih riani saja”


“ maaf yah belum terbiasa”


“ mau sampai kapan terbiasanya”


“ heheheh mau diambilkan bajunya”


“ boleh”


“ oke ini baju gantinya”


Ketika riani mengulurkan tangan untuk memberikan baju ganti untuk ragil dengan sengaja ragil menarik pergelangan rianai yang membuat riani terjatuh diatas tubuh ragil.


“ apaan sih”


“ sengaja pengen peluk bolehkan, sudah halal lo”


“ tapi ya pintunya ditutp takutnya dini masuk”


“ sebentar saja, biarkan seperti ini” ucap ragil yang masih asik dengan poisis memeluk riani


“ ibu Bahagia tidak dengan pernikahan kita ini”


“ belum bisa merasakan baru berjalan beberapa jam kan”


“ kok begitu jawabanya, padahal ayah Bahagia banget bisa menikah dengan ibu, apa ibu masih belum bisa


menerima ayah dengan sepenuh hati”


“ maaf kalau masih ada sedikit rasa takut gagal lagi, ta[i kalau soal menerima sepenuh hati sudah, semenjak riani mengambil keputusan menerima mu untuk menjadi ayah dini maka hati ku sudah menerima mu”


“ percayalah sama ayah bu, kalau diantara kita tidak ada yang bisa memisahklan Cuma maut yang bisa


memisahkan kita berdua”


“ bisa seyakin itu?”


“ bisa, bahkan ayah berani menjamin akan hal itu, do’ain ayah bisa menjadi imam yang baik buat keluarga kita, dan bisa menjadi ayah yang baik buat dini serta bisa menjadi suami idaman buat ibu”


“ aamin, terus acara peluk – peluknya bisa dilanjutkan nanti tidak?”


“ iya bisa, bu ayah sebenanrnya menyesal menikah dengan ibu”


Riani melotot mendengar perkataan ragil suami yang baru saja menghalalkannya beberapa jam yang lalu.


“ maksudnya, meyesal bagaimana ya”


“ menyesal kenapa tidak dari dulu saja kita menikahnya, karena baru pelukan sama ibu sebentar saja ayah merasa nyaman sekali”


“ enggak usah gombal nanti lama- lama juga akan bosan dengan pelukan ku”


“ nggak akan pernah bosan ayah bu”


“ sudah ya cepetan ganti bajunya takutnya dikira kita ngapa – ngapain lama – lama di dalam kamar berdua”


“ mau ngapa – ngapain juga tidak apa – apa sudah halal ini bu, lagian mereka jugta maklum dengan pengantin


baru semua orang pernah merasakan bagaimana indahnya masa – masa jadi pengantin baru”


“ ya tapi tidak siang – siang seperti ini yah”


“ waow cepet banget sudah ada kemajuan”


“ kemajua apa?”


“ sudah mau pangil yah ya, ih gemesin deh istriku ini” ucap ragil sambal mencubit sayang pipi riani”


“ bu oleh ayah lihat ibu tidak pakai jilbab?”


“ harus sekarang ya?”


“ tidak minggu depan “


“ oke, minggu depan ya”


“ ya sekarang lah, ayah yang bukain jilbab ibu ya?”


“ iya”


Dengan perlahan ragil membuka jilbab yang riani kenapkan, begitu jilbab terbuka ragil tidak berkedip memandang wajah istrinya itu, dibelainya wajah istrinya dengan lembut lalu ragil mendaratkan sebuah kecupan didahi istrinya.


“ Alhamdulilah, terima kasih sudah mauu menerima ayah sebagai suamimu bu”


“ ibu yang terima kasih karena ayah sudah mau menerima janda beranak satu ini menjadi istrimu”


‘ mari semuanya kita mulai dari awal bu, ingatkan ayah jika suatu waktu ayah khilaf atau ada Tindakan atau perktaan ayah ada yang tidak berkenan bagi ibu”


“ iya yah kedepanya kita akan saling mengingatkan jika ada hal – hal yang kurang berkenan bagi kita, ayah juga jangan sungkan mengingatkan ibu jika ibu ada salah”


“ iya sayang, baju pengantinya mau ayah bukain juga tidak?”


“ tidak ibu bisa sendiri kalau itu”


“ kirain boleh” ucap ragil sambal mulai membuka baju kemejanya”


“ mau gapain itu?”


“ ganti baju lah memangnya mau ngapa – ngapain sekarang, kalau mau ayok” ledek ragil terhadap istrinya.


riani segera Kembali membersihkan sisa – sisa make up diwajahnya. Dan ragil tertawa melihat respon sang istri terhadap keusilanya.


Tok…tok…tok…

__ADS_1


“ bu ini dini, embah uti panggil ibu sama ayah” terdengar suara dini dariluar kamar ibunya.


“ masuk saja nak, pintunya tidak dikunci” jawab riani.


Dini langsung masuk dan ikut duduk diranjang sama dengan ayahnya.


“ yah di pangil uti disuruh makan katanya”


“ dini sudah makan apa ndok?”


“ sudah yah tadi makan duluan “


“ kok tidak nungguin ayah makanya?”


“ dini lapar yah, maaf”


“ tidak sayang ayah cuma becanda” jawab ragil terhadap anak sambungnya ini.


“ibu belum selesai ya membersihkan bedaknya, kok masih tebal begitu bedak ibu”


“ ini bentar lagi selesai sayang, mbah uti sedang apa nak di dapur?”


“ ngobrol saja bu sama kakung, dini sedang sebel sama mbah uti sama kakung yah”


“ kenapa cantik ayah kok sebel sama mbah uti dan mbah kakungnya, sini cerita sama ayah nak”


“ kata mbah uti tadi nanti malam dini disuruh tidur dengan mbah tidak boleh tidur sama ibu dan ayah, padahal din ikan dari dulu sudah kepingin tidur dipeluk ayah dan ayah sudah berjanji sama dini kalau mau peluk dini Ketika tidur”


“ iya, dan nanti malam dan seterusnya kita akan tidur bertiga disini sayang, dini mau kan?”


“ mau yah, tadi dini sudah bilang seperti itu jika kita akan tidur bertiga tetapi mbah kakung tetap melarang yah”


“ nanti ayah yang akan bicara sama mbah kakung ya, sekarang dini istirahat bonbok siang dulu, sini ayah peluk biar dini cepet tidurnya”


“ iya yah”


“ ibu kalau sudah selesai makan saja dulu ayah mau nemenin anak gadis tidur dulu”


“ iya yah bentar lagi ibu selesai kok”


Setelah selesai membersihkan sisa – sisa make up diwajahnya dan berganti baju riani segera ke luar dari dalam kamarnya.


“ mana suamimu ndok?”


“ masih dikamar mak, menemani dini tidur sebentar, kalau dini sudah bangun maka dia akan menyusul kemari”


“ bilang sama dini nanti malam tidur sama mbahnya saja, kasian ragil kalau kalian tidur bertiga”


“ tadi dini sudah mengadu sama ayahnya prihal itu mak, dan kata ayahnya biarlah kami tidur bertiga saja”


“ jangan ndok, tidak enak sama suami mu, biarlah dini dikamar mak saja”


“ tidak apa - apa mbah biarlah kami tidur bertiga sama dini, saya juga tidak apa – apa kok kasian dini mungkin selama ini kepingin bisa tidur sambil dipeluk sama seorang ayah” ragil tiba – tiba datang dan ikut menyahuti percakapan riani dan emaknya.


“ beneran tidak apa – apa nak?”


“ tidak, masih banyak waktu buat saya dan riani menghabiskan waktu Bersama tetapi masa kecil dini tidak akan terulang mak”


“ baiklah kami mengikuti saja apa kata kalian berdua, ayo ri suami mu urusi makanya, emak mau kedepan


“ iya mak”


“ ayah mau makan lauk apa?”


“ begini ya rasanya punya istri makan saja ada yang melayani”


“ ini nasinya, maul auk pakai apa?”


“lauknya biar ayah ambil sendiri, ibu ambil nasi saja kita makan barsama – sama, atau mau sepiring berdua”


 “ tidak usah mulai dech yah segera makan. Lalu kita istirahat”


“ siap istriku”


Riani dan ragil makan siang berdua dalam diam, hanya sesekali ragil minta diambilkan minun, setelah selesai


makan riani membuatkan kopi pahit kesukaan ragil yang itu pun riani tau dari tono pas ragil ke rumah riani pertama kali waktu itu,kalau ragil Sukanya kopi pahit dengan sedit gula.


“ ini kopinya pak, yah”


“ iya terima kasih”


“ lagi ngobrolin apa sih seru banget?”


“ biasa lagi ngobrolin urusan laki – laki” kelakar bapak menjawab pertanyaan riani.


“ keluargamu sudah sampai rumah belum ndok?”


“ nggak tau pak riani belum menelfon mbak leha”


“ kamu ini bagaimna to ri, coba sana telfon dan tanyakan sudah sampai rumah belum?” “


“ mereka sudah sampai rumah pak, tadi mbak leha sudah menelfon ragil, ketka kamu sedang di dapur tadi bu”


“ syukurlah kalau sudah sampai rumah,tadi ketika acara pamitan kami para orang tua sudah sepakat jika lima hari dari sekarang kita perginya ke rumah mertuamu ndok”


“ riani ikut saja pak lagian riani ambil cuti satu minggu, soal dini nanti saya izinkan lagi pas hari kita kesana saja”


“ iya,mana dini kok sepi?”


“ dini sedang tidur siang pak tadi ayahnya yang nemenin tidur”


“owh pantas sepi sedang tidur to dia, tadi emakmu cerita kalau nanti malam dini mau tidur dikamarmu, apa kamu tidak apa -apa gil”


“ tidak pak, biarkan dini tidur dikamar kai saja”


“ baiklah kalu begitu, bapak mau istirahat dulu, kalian lanjutkan saja mengobrolnya”


“ iya pak silahkan”


“ bu kita istirahat juga yuk” ucap ragil sepeningal bapak mertuanya.

__ADS_1


“ yu, capek juga ibu”


“ capek tapi bahagiakan”


Setelah mereka sampai kamar dini terlihat tidur dengan lelap, dengan posisi memeluk guling kesayanganya.


“ ibu ditengah saja tidurnya, biar ayah yang dipinggir, kalau ibu yang dipinggir ayah takut ibu jatuh”


“ ya sudah”


Riani mengambil posisi tidur ditengah tanpa sadar riani memiringkan badannya kearah dini, maka dengan leluasa ragil memeluk istrinya dari belakang.


“ seperti ini ternyata nyamanya punya istri makan ada yang melayani, tidur ada yang dikelonin” ucap ragil dalam hati ambil tersenyum sendiri.


Tanpa terasa cukup lama mereka tertidur Ketika bangun riani terkejut mendapati ada tangan yang


melingkar dengan sanatai dipinggangnya, untung saja riani segera tersadar jika dia baru saja menikah jadi dia tidak mengurungkan reflek berteriaknya.yang membuat riani lebih terkejut dengan begitu nyamanya dia tidur berada dalam pelukan ragil dan berbatalkan tangan kanan ragil.Dengan perlahan riani segera menyingkirkan tanga ragil yang ada dipinggangnya akan tetapi sebelum tangan itu berpidah tempat ragil sudah berbisik ditenga riani.


“ biarkan seperti ini sebentar saja bu, ayah masih sangat nyaman dengan posisi ini”


“ tangan ayah tidak capek apa, maaf ya ibu tidak tau jika ibu menggunakan tangan ayah sebagai bantal”


“tidak perlu meminta maaf, ayah malah bahgia bisa melakukan ini yang membuat ibu nyaman sayang, tapi tidak


geratis lo ya”


Habis mengatakan itu ragil segera mendaratka ciuman dipipi riani.


“ ayah sangat menyayangi dan mencintai ibu, apakah ibu sudah bisa membuka hati buat ayah?”


“ semenjak bapak menetukan pilihan nya kepada ayah dan semenjak kita resmi bertunangan maka hati ibu sudah


menjadi milik ayah”


“ serius sayang kok tidak pernah bilang?”


“ rahasia lah masak mau diumumkan, cukup rasakan yah dan buat ibu selalu mencintai ayah”


“ pasti sayang, akan buat ibu hanya akan menciantai ayah selamanya dan membuat hati ibu penuh hanya untuk


mencintai ayah dan anak – anak kita nantinya juga kluarga kita”


“ aaminn”


Mereka larut dalam suasana hingga tanpa ciuman ragil tidak hanya dipipi riani saja kini sudah berpindah ke bibir riani dan tanpa sadar tangan ragil sudah bergrilya kemana – mana dan gerakkan reflek mereka terhenti Ketika mereka melihat dini mulai terbangun.


“ sepertinya kita harus pintar – pintar mengatur strategi bu”


Riani hanya menanggapi perkataan suaminya dengan senyuman.


“ kok malah ibu yang tidurnya ditengah bukannya ayah”


“ kan janjinya nanti malam ayah peuk dini tidurnya, tadi duluan ibu tidurnya sayag jadi ayah kebagian


tempatnya dipinggir”


“ ini sudah sore sayang, dini mandi sekarang yan anti ibu yang menyiapkan baju ganti bajunya”


“ nanti dulu bu mandinya”


“ mau pergi mengajinya telat”


“ tidak apa – apa ditinggal kawan – kawan pergi mengajinya bun anti kan ada ayah yang mengantarkan dini


berangkat yak an yah”


“siap tuan putri”


Waktu cepat berlalu, selesai sholat magrib riani dan keluarga makan malam Bersama dini tidak jadi pergi mengaji karena hujan turun dengan derasnya.


“ selesai makan dini belajar lo ya”


“ iya bu, nanti belajarnya sama ayah saja boleh”


“ boleh dong ayo makanya selesaikan dulu nak” jawab ragil


Selesai makan malam semua berkumpul diruang tamu, karena tiba – tiba lampu pun mati karena hujan deras


disertai dengan petir. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam Ketika dini sudah mulai merasa mengantuk,melihat anaknya menguap beberapa kali riani membawa dini ke kamarnya akan tetapi dini tidak mau dini meminta yang gendong kepada ayahnya untuk digendong menuju kamar mereka.


“ dini maunya dipeluk ayah, jadi ibu tidurnya dipinggir dan ayah ditengah jangan seperti tadi dini nggak mau”


“ iya  sayang sini ayah akan peluk dini, mau pakai selimut tidak dingin soalnya?”


“ kalau mau tidur dinitidak bisa pakai selimut nanti Ketika sudah tertidur baru diselimuti yah”


“ dengan menyenandungkan sholawat nabi ragil berusaha menidurkan dini”


Sedangkan riani hanya bisa tersenyum memandang pemandangan yang ada didepannya itu.


“ ibu sholat isya dulu ya yah, nanti gentian saja sholatnya”


“ iya hati – hati bawa senter ambil air wudunya”


“ iya”


Segera riani pergi mengambil air wudu dan melaksanakan sholat isya didalam kamarnya, dan tak lama dini pun sudah terlelap dalam dekapan dini. Selesai sholat isya riani segera menggantikan ragil menunggui dini, sedangkan ragil mengambil wudu lalu malaksanakan sholat isya. Selesai sholat isya ragil menghampiri istrinya.


“ maaf ya yah malam pertama kita malah jadi seperti ini”


“ tidak apa – apa bu,masih banyak kok malam – malam selanjutkan tidak perlu dihiraukan, malam pertama berdua saja atau bertiga dengan adanya dini disini sama saja, yang penting kita nyaman saja, ibu sudah ,mengantuk belum?”


“ belum yah”


“ sepertinya alam ikut mendukung malam pertama kita bu liat hujanya semakin deras saja” ucap ragil


sambal terus mendekatkan tubuh kearah riani”


“ yah bagaimana jika dini terbangun”.


“ ayah lihat disamping ranjang ada kasur busa, kita tidur dibawah dulu pakai kasur busa itu, sebentar ayah ambil dan siapkan dulu”

__ADS_1


Ragil segera turun dari atas ranjang dan menyiapkan tempat yang akan digunakan untuk melakukan ritual


malam pertamanya dengan istrinya, setelah semua siap ragil segera membawa riani menuju Kasur yang telah dia siapkan dan mereka memulai ritual malam pertama mereka dengan diringi derasnya hujan di luar rumah.


__ADS_2