
Sebelum azan subuh berkumandang ragil sudah bangun dan membangun kan istrinya, sudah berkali – kali dibangunkan riani masih saja pulas tertidur, posisi saat ini mereka sudah berpindah Kembali tidur diatas ranjang kembali, melihat wajah lelah riani ragil tidak tega membangunkan istrinya, apalagi jika mengingat riani kecapean karena ulahnya semalam, ragil segera pergi mandi terlebih dahulu nanti setelah mandi dia baru akan membangunkan istrinya untuk mandi wajib.
Setelah ragil slesai mandi dan Kembali ke dalam kamar Nampak riani istrinya sudah terbangun dan sedang
mengikat rambuntnya yang berantakan.
“ sudah bangun bu?”
“ he’e, ayah sudah mandi wajib ya, kenapa tadi tidak membangunkan ibu”
“ ayah sudah bangunkan ibu berkali – kali akan tetapi ibu masih tertidur pulas, maaf ya ayah sudah membuat ibu kecapean”
“ tidak perlu meminta maaf sudah kewajiban ibu melayani ayah, maaf jika pelayanan ibu semalam kurang memuaskan ayah”
“ siapa bilang ayah tidak puas, ini buktinya ayah sangat mau jika ibu mau nambah”.
“ belum cukup apa yah?”
“ belum ternyata nagihin ya bu, yuk mumpung dini belum bangun”
“ apaan sih yah ayah sudah mandi kan? Dan azan subuh akan segera berkumandang ayah tidak ke mushola sholat
berjamaah apa?”
“ ya kalau ibu mau nambah ayah sholat di rumah saja bu, bagaimana?”
“ ibu mau mandi, lain waktu saja”
“ berdosa lo menolak ajakan suami beribadah”
“ ya sudah ayo” jawab riani dengan cemberut.
“ hahahaha…. Enggak – enggak bu ayah tau ibu sedang capek sayang dan semua itu karena ulah ayah”.
“ iz seneng banget ya sekarang ngerjain ibu”
“ iya dong dan akan menjadi kebiasaan ayah kedepannya jadi ibu jangan marah jika nanti ayah kerjain ya”
“ iya yah ibu mau mandi dulu, eh sebentar ibu mau nyiapin baju buat ayah dulu”
“ ayah bisa sendiri bu”
“ jangan yah sudah menjadi kewajiban istri melayani suaminya, nah ini baju dan sarungnya, ibu mandi sekarang”
“ terima kasih sayang jangan lama – lama mandinya”
“ iya yah”
Selesai mandi riani segera melaksanakan sholat subuh dikamarnya, sedangkan suaminya ragil pergi ke mushola
dekat rumah riani untuk berjamaah dengan bapak mertuanya dan juga dengan warga sekitar. Ketika ragil Kembali dari sholat berjaam terlihat riani sudah berada di dapur untuk memasak menu sarapan buat mereka sekeluarga.
“ sudah pulang yah, mana bapak?”
“ itu masih mengobrol sama tetangga didepan rumah, dini belum bangun bu?”
“ belum, masih tidur dia, coba bngunkan untuk sholat subuh yah”
“ iya”
Tak lama berselang ragil Kembali menuju dapur dengan dini yang berada didendongannya.
“ lho kok gendong sudah sholat subuh belum?”
“ belum, kenapa ayah tinggalin dini tadi bu?”
“ ayah sholat subuh dimushola dengan mbah kung ndok, kenapa memangnya?”
“ Ketika aku masuk kamar dini sudah bangun dan terisak bu”
“ kenapa anak ibu ini kok menangis?”
“ dini kira ayah pergi ninggalin dini bu”
“ tidak sayang, ayah tidak mungkin meninggalkan dini, ayah cuma ke mushola sebentar tadi”
“ jangan tinggalin dini ya yah”
“ tidak akan pernah ayah tinggalin dini, ayo ayah temani ambil wudunya”
__ADS_1
“ iya yah tapi nanti sholatnya temani juga ya”
“ lha kok tumben biasanya juga sholat subuh sendirian“
“ tidak apa – apa bu, ibu lanjutkan saja masaknya biar anak gadis menjadi urusan ayah ya kan sayang”
“ iya dong”
“ jangan lama – lama ini kopinya nanti keburu dingin ibu taruh dimeja depan tv ya yah kopinya”
Riani Kembali melanjutkan masaknya setelah suaminya mengantarkan anaknya mengambil wudu, emak riani masuk kedapur setelah sholat subuh untuk membantu riani memasak.
“ masa kapa kamu ndok?”
“ ini ada ikan lele bu, riani ungkep dan nanti di rebuskan daun ubi, itu kopi bapak sudah riani bikinkan riani letakkan dimeja depan tv the emak juga ada disana”
“ sudah kamu urusi dini saja, biar mak yang masak”
“ dini sudah diurusi sama ayahnya mak, jadi biar riani yang masak”
“ oalah sudah ada yang mengantikan tugasmu mengurusi dini dipagi hari to, ya sudah emak tak yang bersih
– bersih rumah saja kalau begitu”
“ bu dini sudah sholatnya”
“ wah pinter anak ibu, semua peratan sekolah sudah dimasukkan dalam tas belum?”
“ sudah dong ayah yang memasukkanya, bu nanti berangkat dan pulang sekolah dini diantar dan dijemput ayah boleh?”
“boleh sayang asal jangan nakal saja”
“ siap bos, terima kasih ya”
“ iya, dini mandi dulu sana bisa kan mandi sendiri”
“ bisa bu”
“ ya sudah nanti ibu siapkan seragamnya”
Dini segera pergi mandi sesaat setelah dini pergi mandi pagi ragil masuk dapur manyakan keberadaan dini kepada istrinya.
“ pergi mandi yah”
“ owh ya sudah, seragamnya dimana biar ayah siapkan”
“ biar ibu saja ayah lanjutkan ngopinya”
“ tidak apa – apa ngopinya bisa dilanjutkan nanti “
“ ada dilemari sebelah kanan yah”
“ ok, ayah siapkan dulu seragam anak gadis, pakai seragam apa hari ini bu”
“ baju olahraga yah, yang berwarna biru muda”
“siap”
Dan tak lama setelah semua masakanya selesai riai segera menyusun menu masakkanya dimeja makan lalu memanggil seluruh keluarganya untuk segera sarapan Bersama.
Selesai sarapan dini benar – benar minta diantar sekolah dengan ayahnya, entah kenapa dia sangat ngotot cuma
mau diantar sekolah dengan ayahnya saja, padahal biasanya kalau ibunya ada halangan utnuk pergi sekolah selalu mbah kungnya yang mengantarkan dia sekolah, akan tetapi pagi ini dini tetap tidak mau jika yang mengantarkanya pergi sekolah mbah kungnya.
“ dini sekolahnya diantar mbah kung saja ya”
“ nggak dini mau diantar sekolah sama ayah saja kung”
“ kenapa ? biasanya kan mbah kung yang ngantar dini sekolah jika ibu tidak berangkat mengajar ndok”
“iya itu kan dulu kung sebelum dini punya ayah, kan sekarang dini sudah punya ayah jadi ayah saja yang
mengantarkan dini”
“ kenapa to ndok kok harus ayah yang mengantarkan dini” mbah uti dini ikut menimpali percakapan mereka.
“ dini mau tunjukkanke teman – teman dini ayah baru dini mbah, biar mereka pada tau kalau sekarang dini sudah punya ayah sama seperti mereka”
“ maksud dini selama ini mereka meldekki dini tidak punya ayah gitu?”
__ADS_1
“ tidak yah, uma dini kepingin teman – teman tau siapa ayah dini kan waktu itu dini pernah cerita ke teman – teman jika dini akan punya ayah baru gitu, jadi ya kalau yang antarkan dini ke sekolah kan teman – teman dini bisa lihat ayah”
“ kan mereka bisa ke rumah nak jika ingin tau seperti apa ayah dini”
“ mana berani mereka ke sini bu, pasti malu dan takut sama ibu”
“ lha kenapa takut sama ibu perasaan ibu, ibu tidak pernah marah – marah sama teman – teman dini”
“ ya dini mana tau, pokoknya ayah ya yang mengantarkan dini sekolah”
“ iya – iya ayah yang mengantarkan dini sekolah sana pamit dulu sama ibu, mbah kung dan mbah uti sayang”
Sepeninggal ragil mengantarkan dini pergi sekolah riani da ibunya Kembali membereskan sisa – sisa acara kemarin, masih banyak yang harus mereka bersihkan dan bereskan.
Sementara itu dini kembali berulah ketika sampai sekolah dia tetap tidak mau turun dari motor, melihat ulah dini
ragil hanya bisa tersenyum asmbil meluluhkan keinginan dini.
“ sayang ayo turun dulu, nanti ayah antarkan sampai kelas”
“ nggak mau kalau dini turun nanti ayah pulang, sebentar saja to yah tunggu teman – teman dini datang semua dulu”
“ wah siapa nih yang anatar dini sekolah sayang” sapa ibu – ibu yang mengantarkan anaknya sekolah kepada dini dan ayahnya.
“ ayah dini dong bik”
“ iya mbak saya ayahnya dini” ucap ragil
“ yah manja ya sekarang yang punya ayah baru, sekolah saja minta ayahnya yang mengantarkan” timpal ibu – ibu
itu.
“ nggak juga mbak kebetulan mbah kungnya sedang sibuk jadi saya yang mengantarkan dini sekolah mbak “
“ ayo dini masuk kelasnya bareng bibik saja ndok”
“ terima kasih bik dini bareng ayah saja nanti”
“ kalau nanti masih lama dong ayah disini sayang”
“ iya, pokoknya sampai teman – teman dini datang semua”
“ cie – cie yang punya ayah baru sekolah saja minta ayahnya yang ngaterin” tiba – tiba bu tiya datang dan meledek dini.
“ eh mba tiya, baru datang mbak”
“ iya nich gil. Ini bocil, bak perhatikan dari tadi kenapa tidak turun dari motor?”
“ tidak mau mbak katanya masih mau nungguin kawan – kawanya pada datang”
“ alah galem kamu din, sini ke kelas sama ibu saja, biar ayah mu pulang”
“ nggak mau bu dini mau sama ayah saja”
“ kalau mau sama ayahmu kenapa dari tadi tidak turun – turun kamu dari motor?”
“ kalau aku turun nanti ayah pulang sebelum kawan – kawan dini datang”
“ nah ibu tau kamu mau mamerin ayah mu sama teman – teman mu ya”
“ hehehe iya bu” jawab dini malu – malu.
“ dasar bocil, masuk kelas sekarang atau ibu gendong paksa kamu masuk kelas sekarang” ancam tiya terhadap
dini.
“ iya – iya dini masuk sekarang tapi gendong ya yah”
“ siap tuan putri, mari mbak saya dini masuk kelas dulu ys”
“ iya silahkan gil, salam sama riani ya, bilang proyeknya segera selsesaikan”
“ proyek apa mbak, ibunya dini tidak ada cerita sama saya soal proyek”
“ sudah bilang saja perti itu faham dia”
“ baik nanti saya sampaikan”
Ragil segera mengendong dini menuju kelasnya, dan interaksi kedua anak dan ayah tak luput dari penglihatan para wali murid yang mengantarkan anaknya ke sekolah. ada yang memberikan komentar baik bhakan ada juga yang mengatakan ragl pura – pura, dan ragil samasekali tidak perduli atas semua tanggapan mereka.
__ADS_1