Di Fb Ku Temukan Jodoh Ku

Di Fb Ku Temukan Jodoh Ku
Dini Sakit.


__ADS_3

Sedangkan riani tidak tau


menahu soal kepulangan aldi ke desanya dan juga tidak tau soal perceraian aldi dengan nabila, riani tetap menjalani harinya sesuai  dengan rutinitasnya. Pagi ini pada jam pertama di kelasnya, ketika riani sedang fokus menjelaskan materi pembelajaran tentang sistem pencernaan pada hewan ruminansia, tiba – tiba ada yang mengetuk pintu kelasnya, dan Ketika dibuka pintu kelas riani terlihat mbak tiya yang mengetuk pintu.


“ permisi bu riani”


kalau sedang di depan anak – anak maka mbak tiya dan riani saling memanggil bu, seperti pada umunya para dewan guru lainnya, baru Ketika Cuma berdua maka panggilan mereka akan Kembali


mbak dan dek.


“ iya bu tiya silahkan masuk ada apa ya?”


“ mau memberi kabar kalau tadi dini pinsan di kelasnya dan sekarang sedang di ruangan UKS”


“perkataan bu tiya membuat


riani sangat terkejut, tanpa mengatakan apapun riani segera berlari ke ruangan UKS, tanpa memperdulikan bu tiya yang tertinggal di belakangnya. Sesampai di ruangan UKS terlihat gadis kecilnya sedang terbaring dengan mata terpejam.


Tanpa terasa air mata riani menetes melihat kondisi sang anak, sebenarnya dini memang kurang sehat dari semalam akan tetapi Ketika di suruh istirahat di rumah dini tidak mau, didi tetap ingin pergi ke sekolah.


“ ya Allah nak, bagaimna


kejadianya tadi bu?” tanya riani terhadap wali kelas dini.


“ tadi dini sedang menulis bu, tiba – tiba dini langsung pinsan dan Ketika saya bawa ke ruangan UKS ini demamnya sangat tinggi”


“ dari semalam memang sudah


demam bu akan tetapi pagi ini demamnya sudah turun maka dari itu dini tetap ngotot mau berangkat sekolah saja karena merasa sudah sehat, terima kasih ya bu sudah membawa dini ke ruangan UKS ini”


“ iya bu riani, sudah


kewajiban saya sebagai wali kelas dini untuk memberikan pertolongan, kalau begitu saya permisi ke kelas dulu ya bu”


“ iya bu mari, sekali lagi terima kasih ya”


“ iya bu, sama – sama”


Sepeninggal wali kelas dini


menuju kelasnya terlihat bu tiya memasukki ruang UKS.


“ bagaimana kondisi dini ?”


“ masih pinsan mbak, apa kita bawa ke puskes saja ya mbak ? Riani takut terjadi apa – apa sama dini”


“ iya itu lebih baik, kamu tunggu di sisni biar mbal yang mencari bantuan dan meminta izin buat kamu membawa dini ke puskes”


“ iya mbak terima kasih ya


maaf selalu merepotkan mbak tiya”


“ nggak usah lebay, kamu


kan tau kalau kamu sudah mbak anggap seperti adik sendiri oleh mbak, sudah mbak tak cari bantuan dulu, sudah dong nagisnya kamu itu mbak malah semakin bingun jadinya, nggak apa – apa kan mbak tinggal sendirian”


“ tidak mbak”


Mbak tiya segera keluar untuk mencari bantuang agar dini bisa segera dibawa ke puskesmas, dan meminta izin kepada kepala sekolah untuk riani dan dirinya membawa dini ke puskesmas.


Tak lama berselang tampak


mbak tiya muncul Kembali di ruangan UKS Bersama beberapa dewan guru dan bapak kepala sekolah.


“ apa yang terjadi dengan dini bu tiya?”


“ demamnya tinggi pak, saya izin mau membawa dini ke puskes ya pak”


“ iya bu, tadi bu tiya sudah mengizinkan. Silahkan, saya kebetulan ma uke kecamatan ada rapat kepala sekolah bagaimana kalau ikut dengan mobil saya saja biar lebih cepat dan dini merasa nyaman, kalau bawa motor kasian dininya”


“ apa tidak merepotkan pak”


“ tidak sama sekali bu riani,mari jangan terlalu lama di sini kasian dini semakin cepat kita sampai


puskesmas maka semakin cepat dini ditangani oleh dokter”


“ iya betul apa kata pak kepala


sekolah riani, ayo mbak akan ikut mengantar kamu sama dini”


“ ayo mbak”


Lalu digendongnya dini menuju mobil pak kepala sekolah seangkan mbak tiya pergi ke kantor sebentar untuk mengambil tasnya juga tas riani dan barang – barangnya.


“ apa yang terjadi sama kamu nak, cepatlah sadar jangan buat ibu takut sayang”


“memangnya dini kemarin darimana atau habis makan apa to ria kok sampai demam, setau mbak dini itu jarang sekali sakit”

__ADS_1


“ tidak keman – mana, dan


juga tidak habis makan apa – apa mbak yang dimakan ya biasa nasi sama jajan saja”


“ ya lagi dapat nikmat sakit saja bu tiya” pak kepala seklah ikut menimpali pembicaraan riani dan mbak tiya.


“ ya semoga saja nanti kalau sudah ditangani dokter segera sembuh ya ndok”


“ aamin, nanti misalnya dini perlu dirawat ya dirawat saja bu riani tidak usah memikirkan soal sekolah, bu riani focus dulu terhadap Kesehatan anaknya, dan saya memberi izin bu riani


untuk tidak masuk mengajar dulu sampai dini benar – benar sembuh bu”


“ wah terima kasih pak, tapi kalau bisa jangan sampai dirawat lah”


“ nah lita sudah sampai. Hati – hati turunya bisa tidak bu sambal mengendong dini kalau tidak bisa biar saya saja yang menggendong dini, ibu sama bu tiya tunggu saya di luar mobil saja”


“ bisa kok pak terima kasih”


“ iya pak biar saya saja yang membantu riani, terima kasih pak atas tumpangannya”


“ iya bus ama – sama”


Bergegas riani membawa dini


menuju ruangan IGD yang ada di puskesmas. Terlihat ada beberapa perawat yang berlari mendekat dan memberikan pertolongan terhadap dini, dan ada pula perawat yang memberi tahu dokter kalau ada psien baru masuk ruangan IGD.


Setelah melalui beberapa


pemeriksaan maka diputuskan oleh dokter agar dini dirawat saja karena demamnya benar – benar tinggi.


“ apa ibu sutuju jika anak ibu dirawat sja bu, saya takut ada apa – apa sama anak ibu ini demamnya sangat tinggi”


“ kalau menurut dokter itu


yang terbaik saya setuju dok anak saya dirawat”


“ baik sus siapkan ruangan anak, dan siapkan juga infus dan alatnya”


“ baik dokter”


Dini pun segera dibawa ke ruangan inap khusus buat anak – anak, lalu dini dibaringkan diranjang pasien.


Suster yang ditugaskan untuk mempersiapkan infus dan alatnya pun telah datang, terlihat dokter mulai akan memasang infus riani memalingkan muka dia tidak tega


melihat tangan dini ditusuk oleh jarum.


“ kalau kamu tidak kuat biar mbak saja yang memegangi dini, kamu minggir atau keluar dulu sana”


Riani memeluk dini Ketika


dokter mulai memasangkan jarum intuk infus ditangan dini. Dan sesaat setelah infus terpasang tampak dini mulai sadar.


“ ibu dini haus” kalimat dini membuat riani mualai merasa tenang meskipun demamnya belum turun setidaknya dini sudah sadar dari pinsanya.


“ iya saying, bude tiya ambilkan ya, dini mau makan apa ? biar bude belikan”


“ tidak bude dini tidak mau makan apa – apa, mulut dini terasa pahit”


“ ini minumnya, riani kamu sudah memberi kabar mbah kakungnya dini belum kalau dini dirawat di puskes?”


“ belum mbak ngagak kefikiran sama mbah aku, sebentar riani telfon dulu mbah kakung sama mbah utinya dini, mana lagi hp riani”


“ ada di dalam tas mbak yang masukkan tadi”


“ terima ksih ya mbak”


“ iya cepetan telfon bapak mu, suruh bawa kipas angin, tiker dan selimut buat dini kalau ke sini”


“ iya mbak”


Riani segera menelfon orang tuanya dan mengabarkan jika dini di rawat dipuskesmas. Setelah bapak dan ibu riani datang mbak tiya pamit pulang karena suaminya sudah datang untuk menjemputnya.


“ apa yang terjadi to ria, kenapa dini sampai dirawat?”


“ dari semalam kan dini


memang demam to mbah, tadi pagi riani suruh istirhat di rumah saja tidak mau, tetap ingin pergi sekolah saja dininya, lalu tadi Ketika riani masih di kelas


riani ada mbak tiya yang datang mengabarkan kalau dini pinsan dan di bawa ke ruangan UKS, terus riani bawa ke puskes, kebetulan bapak kepala sekolah ada


rapat di kecamatan ya sudah beliau memberikan tumpangan untuk memebawa dini ke puskes dan riani ditemani oleh mbak tiya tadi”


“ iya kan bapak ketemu sama nak tiya tadi, terus sekaranga apa yang dini rasakan cah ayu?”


“ dingin kong dan mulut dini terasa pahit”


“ panasnya juga belum turun kong” jawab riani.

__ADS_1


“ ada – ada saja kamu ndok – ndok, semoga segera sehat Kembali ya, dini mau makan apa, ini mbah uti tadi mebawakan apel, sama jeruk dini mau yang mana?”


“ tidak semua uti dini mau tidur saja”


Tiba – tiba pintu rawat inap dini terbuka Nampak ragil datang dengan membawa boneka beruang besar berwarna pink dan aneka makanan ringan kesukaan dini, tentu saja kedatangan


ragil membuat semua yang ada didalam ruangan terkejut,riani dan bapaknya saling pandang seolah mengisyaratkan pertanyaan kok bisa tau kita di sini.


“ eh nak ragil silahakan masuk kok tau kalau kami sedang di puskesmas”


“ iya bu terima kasih, tadi saya datang ke rumah kata tetangga semua sedang di sini karena dini dirawat jadinya saya menyusul kesini, tidak apa – apa kan kalau saya menyusul kesini?”


“ tidak nak”


“ ini bu saya ada oleh – oleh buat dini, dininya sedang tidur ya?”


Tiba – tiba dini membuka matanya dan langsung berkata dengan girang.


“ hore boneka sesuai dengan keinginan dini ya om, terima kasih”


“ katanya tadi mau tidur?”


“ tidak jadi ah bu soalnya ada om ragil, bawa sini om bonekanya mau dini peluk”


“ kalau dini mau boneka seperti itu kenapa tidak minta sama ibu nak?”


“ tidak karena om ragil sudah janji kalau mau membelikan dini boneka beruang besar yang berwarna pink , iya kan om?”


“ apa pun asal kamu senang


cantik, dini sakit apa kok samapai dirawat seperti ini pak?”


“ demamnya tinggi nak tadi sempat pinsan di sekolah”


“ apa sakitnya dari semalam?”


“ iya benar kok tau?”


“ mungkin kebetulan atau apa yang pasti sejak semalam saya kefikirin dini terus makanya pagi tadi saya


berangkat ke sini pak”


Jawaban ragil membuat riani, emakn, dan bapaknya terbengong.


“ kebetulan yang seperti apa ini” kata hati riani.


“ kamu sendirian kesininya tono mana?”


“ tidak bisa ikut dia, masih belum bisa melihat yana katanya, jadi ya saya ke sini sendirian”


“kenapa semalam tidak memberi kabar kalau dini sakit?”


“ tidak diberi kabar saja kamu sudah ngerasa nak, kok bisa ya”


“ tidak tau pak, bahkan saya sampai tidak bisa tidur kefikiran dini terus”


“nggak usah modus”


“ serius, kalau tidak percaya nih telfon orang tua ku dan tanyakan pada mereka, dan kalau saya tidak


ke fikiran sama dini terus tidak mungkin juga saya ada disini saat ini”


“ iya juga ya padahal tidak ada yang memberi tahu mu kalau dini sakit, bahkan tono pun tidak ku beri tahu”


“ na kan berarti saya tidak membual bu riani”


“ tapi ngomong – ngomong bapak dini dan keluarganya tidak ada yang kesini ? kok sepi?”


“ saya sudah lama putus komunikasi dengan keluarga bapaknya dini, tidak enak sama ibu sambungnya dini, takut dia salah faham”


“ ya tapi kan saat ini suasananya berbeda dini sedang sakit”


“ dini tidak mau ada bapak disini om, cukup ibu, mbah kakung, mbah uti sama om saja yang jagain dini, jadi om nanti jangan pulang dulu ya “


“ asal ibu dini, dan mbah kakung


dini mengizinkan om mau menjaga dini sampai dini sehat saying, bagaimana pak?”


“ apa tidak merepotkanmu nak?”


“ tidak sma sekali pak”


“ kalau memang tidak merepotkan terserah kamu sama dini saja, bahkan bapak senang nanti malam ada teman  nanti malam”


“ terima kasih pa katas izinya”


Riani tidak bisa lagi berkata – kata jika bapaknya sudah memberikan izin terhadap ragil maka dia

__ADS_1


ikut saja, toh ada banyak orang di puskes ini, dia tidak Cuma berdua sajadengan ragil.


Sedangkan ragil senangnya bukan kepalang karena mendapat izin untuk ikut menemani keluarag riani di puskes mas, kalau tidak malu mungkin saat ini dia akan bersorak sambil melompat.


__ADS_2