
Empat tahun telah berlalu akan tetapi riani masih saja menyangdang setatus janda beranak satu, kedua orang tuanya selalu memintanya untuk segera memberikan ayah sambung untuk anaknya dini akan tetapi sepertinya riani masih saja nyaman dengan setatus jandanya.
Sebenarnya riani pernah dekat dengan beberapa pria akan tetapi tidak ada satu pun yang menyentuh dihatinya, selalu mencoba dan selalu gagal.
Sebenarnya keinginam riani tidak muluk - muluk, tidak harus yang sarjana, atau harus orang kaya, yang penting mau bekerja keras, tanggung jawab serta mau nerima riani dengan anaknya dam keluarganya.
Akan tetapi setatus jandanya yang selalu dipandang sebelah mata, padahal riani juga tidak pernah menganggu suami orang, atau menjalin hubungan dengan suami orang, bagi riani pantang memyakiti hati dan perasaan sesama wanita.
Sudah dua hari ini riani dan putrinya menikmati hari libur sekolah. Tidak seperti orang - orang ketika libur sekolah pergi jalan - jalan ke tempat - tempat rekreasi atau ke kota. Mereka minikmati liburannya tetap di rumah, riani bersyukur anaknya tidak banyak menuntut untuk pergi berlibur seperti teman - temannya.
Seperti bagi itu ini bersama maknya riani sedang menyiapkan menu sarapan untuk keluarganya emaknya kembali menyinggung soal ayah sambung buat anaknya.
"ndok, sudah empat tahun kamu menjanda, anakmu juga sudah masuk Sekolah Dasar, terus kapan kamu akan menikah lagi?".
" Nanti to mak, belum kefikiran riani masih nyaman kayak gini, takutnya nanti kalau aku nikah lagi ayah sambungnya tidak bisa menyayangi dini dengan tulus".
__ADS_1
" Kamu ki kok aneh belum - belum sudah takut dengan bayangan, emak yakin masih ada laki - laki yang bisa menerima mu dan anakmu dengan tulus".
" riani takut mak, kasian dini".
" ya sudah terserah kamu, perlu kamu fikirkan juga emak sama bapak mu, kami sudah tua tidak ada yang bantu - bantu bapak mu di kebun".
" iya mak nanti riani fikirkan".
" selalu begitu, mau cari yang bagaimana to ndok kamu itu? ".
" yang pasti yang bertanggung jawab, mau menerima riani, dan dini juga emak dan bapak".
" iya banyak, akan tetapi yang bisa menerima riani dan anak riani serta bapak dan emak belum ada mak, mereka mau menerima riani tidak dengan keluarga riani".
" bagi riani keluarga adalah segalanya mak".
__ADS_1
" ndok, apa kamu merasa trauma karena pernah gagal berumah tangga? tanya emak kepada riani".
" tidak mak, bagi riani kebahagiaan dini, emak, dan bapak yang paling utama".
" jadi sudahlah emak jangan terlalu difikirkan, nanti kalau ketemu sudah jodohnya, riani pasti nikah kok mak jangan fikirkan soal jodoh riani, riani yakin Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk riani dan keluarga riani".
" mak jangan terlalu memikirkannya nanti mak malah kenapa - napa, mari kita sarapan dulu, ini sudah matang sayur dan lauknya, kemana bapak dan dini mak kok tidak terdengar suaranya?.
" ke rumah pakde mu, pakde kemarin ke rumah minta ubi kayu, lalu tadi pagi bapak mu cabutkan ubi yang ada di belakang rumah, lalu diantar ke rumahnya".
" owh, ya sudah riani mau beresin kamar dulu mak, nanti kalau bapak pulang baru kita sarapan"
" iya, emak juga mau kasih makan ayam dulu".
Membereskan kamar adalah alasan saja bagi riani untuk menghindari percakapan soal menikah dengan emaknya.
__ADS_1
Sesampainya dikamar riani malah duduk termenung memikirkan perkataan emaknya tadi.
" emak dan bapak yang sabar ya, riani yakin suatu saat riani bisa membahagiakan emak dan bapak juga dini, riani juga tidak akan pernah lagi meninggalkan bapak dan emak itu janji riani mak, bapak.".