
Sementara itu di rumah pak
Sanusi terlihat ada kesibukan bahkan yana pun ada di rumah itu karena nanti malam seluruh keluarga akan ke rumah diva untuk melamar diva menjadi istri radi.
Radi benar – benar memenuhi
keinginan sang ibu untuk mempunyai menantu seorang diva meskipun dihatinya tidak ada sedikitpun rasa cinta untuk diva asal ibunya Bahagia radi bisa
mengesampingkan perasaan hatinya yang nelangsa.
“apa kamu yakin dengan keputusan mu ini nak, ayah tidak mau jika kamu nanti menyesal karena mengambil keputusan secepat ini” tanya sang ayah meyakinkan radi yang berada di dalam kamarnya sesaat sebelum mereka berangkat menuju rumah diva.
“insyaallah radi serius yah
mungkin ini memang jodoh radi, ya meskipun baru sebentar mengenal diva tapi hati radi sudah yakin jika diva memang yang terbaik buat radi” ucap radi sambil
memalingkan muka karena radi tidak mau ayahnya dapat menangkap raut wajah
terpaksa nya jika mereka bertemu muka.
“ ya sudah jika kamu sudah
yakin nak, sebagai ayahmu aku hanya bisa mendo’akan yang terbaik buat mu”
“terima kasih yah”
“ kalau begitu ayah keluar
dulu ya mau melihat semua persiapannya, kamu segeralah Bersiap nak karena kita sebentar lagi”
“ iya yah” jawab radi ambil
tersenyum seolah – olah dia Bahagia dengan acara lamaran ini.
“ bu serius ini mas radi
akan melamar diva bu?”
“ ya serius lah nyatanya
sebentar lagi kita akan menuju rumah diva untuk melamarnya menjadi istri mas mu” jawab sang ibu
“ tapi bu”
“ sudah tidak usah tapi – tapian sana kamu urus suami mu saja sudah Bersiap belum takutnya kita mau berangkat dia masih asik mainin hpnya saja” sewot sang ibu
“ iya bu”
“ ada apa bu” tiba – tiba
imah datang mendekat kea rah ibunya.
“ ibu kok jengkel melihat
suami adik mu kerjaan nya Cuma mainin hp saja” jawab bu lastri dengan jengkel.
" maklum bu dia kan anak orang kaya jadi wajar dong kalau main HP saja begitu juga hartanya tidak bakalan habis meskipun dia tidak bekerja" bela imah terhadap sang adik ipar.
" bela terus"
" bu apa sih yang ibu lakukan sehingga ibu mengubah rencana awal ibu dan membuat radi mau menerima perjodohan ini" tanya imah penasaran.
" cukup ibu yang tau yang pasti adik mu mau menerima keinginan ibu kan dengan menerima perjodohan ini" jawab bu lastri bangga.
" apa sih bu? " tanya imah masih penasaran.
" sudah lah meskipun kamu memaksa ibu tidak akan memberitahumu" jawab sang ibu.
" ibu tidak melakukan trik yang sama dengan yana dulu kan, dengan ibu berpura - pura sakit dan mogok makan? " tebak imah
mendengar perkataan imah bu lastri tersenyum karena untuk kedua kalinya trik itu memang dia gunakan untuk membuat anaknya mau menuruti keinginannya.
" bu jawab dong" imah kembali memaksa sang ibu.
Dan dengan samar dan sambil tersenyum bu lastri mengangguk mengiyakan perkataan sang putri sulung.
"semoga kali ini pilihan ibu tidak salah seperti mencarikan jodoh buat yana sudah malas bekerja, berani juga memperlakukan anak ku sekehendak jidatnya“ ucap sang ibu.
" kan itu menantu pilihan ibu, terus kenapa sekarang ibu hina - hina" tiba - tiba pak sanusi datang dan menjawab perkataan sang istri.
"bagaimana bu enak kan punya menantu anak orang kaya, ibu bangga kan melihat anak bungsu mu sekarang terlihat kurus kering seperti itu, ya tentunya bangga dong punya menantu anak juragan kontrakan yang memiliki harta melimpah tanpa memikirkan bagaimana kehidupan anakmu di sana” lanjut pak sanusi dengan geram.
“ ayah jangan seperti itu
kalau bicara, siapa tau yana memangnya sengaja diet supaya terlihat ramping didepan sang suami, dan ibu yakin yana di sana diperlakukan secara bak oleh mertua dan suaminya”
“ apa ibu yakin yana diperlakukan seperti itu, kalau ayah sih kurang yakin coba ibu lihat bagaimana
yana dalam menghadapi suaminya itu, lihat raut wajah yana jika bicara dengan suaminya bu, wajahnya penuh dengan rasa ketakutan dan tertekan, lihat saja jika ayah mengetahui mereka memprelakukan anak bungsuku dengan tidak baik maka aku
sendiri yang akan membawa yana pulang dan memisahkan mereka” ancam sang ayah.
__ADS_1
“ ayah jangan bertindak gegabah ayah mau anak ayah menjadi janda “
“ lebih baik yana menjadi janda dan hidup Bahagia dari pada punya suami akan tetapi hidupnya tertekan bu, sudah bicara dengan mu malah membuat mod ayah menjadi rusak, sudah siap
semuanya belum kalau sudah segera berangkat saja takutnya kemalaman sampai sana”
“ iya yah ini tinggal menunggu radi dan suami yana saja” jawab imah singkat.
Setelah semua Bersiap mereka sekeluarga segera berangkat menuju rumah diva, radi menampilkan wajah sumringah menutupi suasana hatinya yang sebenarnya.
“ayo mas kita berangkat”
“ nanti dulu lah biarlah mereka berangkat duluan kita belakangan saja berangkatnya” jawab suami yana ketus dan semua itu tidak luput dari pengamatan ayah yana.
“ awas saja jika perkiraan ku benar siap – siap saja kamu menjadi duda” batin apak Sanusi dongkol.
“ ayo semuanya berangkat dan jangan lupa barang – barangnya jangan sampai ada yang tertinggal” ucap bu lastri memberikan perintah.
Setelah semua siap mereka
segera berangkat radi yang berboncengan dengan temannya hanya duduk diam sambil
melamun selama dalam perjalanan menuju rumah diva bahkan Ketika motor yang radi
naiki sedang melintas di depan rumah riani radi tak hentinya melihat rumah itu dia berharap bisa melihat riani meskipun sesaat.
“ apa ini memang sudah jalan
takdir kita dek, mas melakukan ini dengan terpaksa semua ini demi ibu dan diva kenapa harus mau Ketika ditanya mau tidak menikah dengan ku, apa benar kalau
sebenarnya dia sudah mencintai ku dari dulu makanya dia langsung setuju atas tawaran tanpa tahap pengenalan lebih dulu dengan ku” lamun radi.
“ di kamu ini mau lamaran mbok yo terlihat Bahagia gitu jangan diam saja seperti terpaksa saja kamu”
“ aku gugup tau gus” jawab radi berbohong
“ baru juga lamaran kamu sudah seperti ini apa lagi nanti kalau menikah dan malam pertama dengan diva, kamu diam – diam pinter ya cari istri tau aja kalau ada yang bening – bening,
dan serius ini kamu sudah bisa move on dari bu riani?”
“ kalau aku belum move on bagaimana aku mau melamar diva dodol suka aneh kamu gus”
“ ya hati orang tidak ada yang tau di” jawab agus
“ kamu benar gus sampai
detik ini riani masih menjadi pemilik hati ku” ucap radi dalam hati membenarkan perkataan sahabatnya itu.
“ kok diem di?”
“ ya aku kan Cuma menebak di kali aja tebakan ku benar”
“ ah kamu suka ngelantur kalau bicara gus, hati – hati bawa motornya sebentar lagi kita sampai tuh”
“ siap sobat”
Tak lama berselang mereka pun sampai didepan rumah diva yang juga terlihat ramai.
“ Assalamualaikum ucap pakde radi mewakili keluarga radi”
“waalaikum salam silahkan
masuk bapak ibu “ jawab seorang laki – laki paruh baya yang merupakan sesepuh keluarga diva.
Setelah berbasa - basi sesaat
tibalah pada inti tuan kedatangan keluarga radi ke rumah diva
“assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh, sebelumnya perkenalkan saya rizki saya merupakan kakak kandung dari Sanusi ayah radi, ada pun kedatangan kami sekeluarga kesini yang pertama kami silaturahmi terhadap seluruh keluarga bu kinah dan yang kedua
kalinya kedatangan kami kesini adalah untuk melamar dan meminta nak diva untuk menjadi istri radi” ucap pakde radi singkat dan jelas tanpa bertele -tele.
“waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatu, perkenalkan saya pak Salim saya merupakan pakde diva
juga merupakan perwakilan keluarga dalam acara ini, disini saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak ibu di sini mohon maaf jika dalam penyambutan kami kurang berkenan dihati bapak – bapak dan ibu- ibu semua dan soal niat baik yang bapak sampaikan tadi saya tidak bisa memutuskan sendiri karena ini menyangkut kehidupan anak gadis kami diva nanti kedepannya jadi saya meminta anak saya diva sendiri yang menjawabnya mau menerima pinangan dari nak radi atau tidak”
mendengar ucapan pakdenya
diva hanya diam dan tersenyum tipis lalu lamat – lamat terlihat dia
menganggukkan kepala tanda dia menerima pinangan radi.
“Alhamdulilah sepertinya diva menerima pinangan mu nak radi, baiklah sebagai symbol pengikat mari saya persilahkan nak radi langsung yang memasangkan cincin nya tadi” ucap pakde diva
Radi segera maju dengan senyumnya lalu memasangkan cincin gelang dan kalung ke pada diva sebagai tanda pengikat buat diva.
“Alhamdulilah semua berjalan lancar ya bapak ibu, dan saya sebagai perwakilan pihak laki – laki mau menanyakan soal waktu pernikahannya sekalian bagaimana bagusnya pak salim?”
“ bukankah niat baik itu harus segera di segerakan ya pak rizki jadi menurut kami alangkah baiknya jika pernikahan mereka juga kita percepat lagian usia mereka juga sudah cukup matang
untuk membina rumah tangga pak”
__ADS_1
“bagaimana dek” tanya pak rizki terhadap sang adik
“ lebih cepat lebih baik mas” Belum juga pak Sanusi menjawab sang istri duluan menyahut dan kontan
mendapat plototan mata dari sang suami.
“bagaimana nak radi”
“ saya ikut apa kata orang tua saja” jawab radi pasrah.
“bagaimana jika satu atau dua minggu ke depan kita langsungkan pernikahan mereka terlalu cepat tidak pak ?” tawar salim terhadap keluarga radi.
Sebenarnya menikahkan mereka dengan cepat adalah keinginan ibu diva sedangkan pak salim Cuma sekedar menyampaikan keinginan ibu diva tersebut.
“ bila tidak memikirkan masih banyak yang perlu disiapkan mala mini saja kita nikahkan mereka langsung pak “ kelakar pak Sanusi terhadap pak salim
‘ apa begitu saja pak baiknya” jawan pak salim
“ sebentar pak saya minta waktu sebentar untuk berembuk dengan keluarga saya” jawab pak rizki
“ mari pak diperlihatkan”
“bagaimana ini dek menurut
mu bagaimana”
“apa tidak terlalu cepat mas masak dalam hitungan minggu lagian uangnya belum siap saya pikir tahun depan atau gimana”
“soal uang radi ada tabungan yah” jawab radi tiba – tiba.
“ ibu juga ada simpanan
perhiasan yah” jawab bu lastri dengan semangat
“ jadi bagaimana keputusan
kalian aku ikut saja kamu radi bagaimana maumu?”
“ radi ikut apa keputusan ayah sama ibu pakde”
“ baik radi ikut apa yang menjadi keputusan kalian berdua, apa kalian punya ide ?”
“apa tidak terlalu cepat mas jika dalam waktu minggu pernikahan itu bukan sebuah permainan lo menurut ku perlu disiapkan secara matang, kalau menurut ibu bagaimana?”
“ kalau menurut ibu lebih cepat lebih baik pak, mau nanti atau sekarang sama saja, soal persiapan kan kita mempunyai banyak keluarga nanti kita bisa kan meminta tolong kepada keluarga untuk menyiapkan segala sesuatunya dan sepertinya pihak keluarga perempuan kalau kita siap satu minggu lagi mereka pun siap”
“radi kalau kita sepakat satu minggu lagi bagaimana apa kamu siap?”
“ siap pakde”
“ kalau dua minggu lagi bagaimana”
“ kapan pun radi siap pakde”
“ bagus itu baru keponakan
pakde, ya sudah kita sepakat semakin cepat semakin baik jadi menurut pakde waktu satu minggu cukup yakan Cuma ijab qobul saja nanti kalau mau resepsi di rumah kamu bisa kapan saja”
“ apa tidak terlalu mepet mas kalau satu minggu lagi” tanya pak Sanusi terhadap kakaknya.
“ saya rasa tidak yah, ibu juga setuju satu minggu lagi kita laksanakan ijab nya saja nanti resepsi di rumah kitab isa dua bulan ke depan yah”
“ ya sudah berarti kita sepakat satu minggu lagi ya”
“ ya sudah ayah ikut saja bagaimana baiknya”
“ maaf sebelumnya pak salim
karena kami lama berembuknya, setelah kami melakukan diskusi tadi saya mau bertanya dulu kepada pihak keluarga Wanita jika kami siap satu minggu ke depan
kita melaksanakan ijab qobul antara keponakan saya radi dan diva, apa pihak keluarga Wanita siap?”
“Insyaallah kami siap pak” ibu diva langsung yang menjawab karena memang keinginannya supaya diva segera menikah sebelum kehamilannya semakin membesar.
“ Alhamdulilah jadi satu minggu dari sekarang kami akan kesini lagi untuk pelaksanaan ijab qobul ya pak”
“ iya pak”
Setelah ada kesepakatan soal
pelaksanaan ijab qobul maka acara lamaran antara radi dan diva selesai, dan setelah dijamu dengan beberapa makanan dan minuman keluarga radi undur diri pamit pulang.
“apa tidak terlalu tergesa – gesa ya dek jika pernikahannya dilakukan minggu depan” tanya wisnu setelah mereka sampai rumah.
“ tidak juga mas toh di rumah bulek kinah kan tidak aka nada acara apa pun Cuma ijab qobul saja mas”
“ meskipun Cuma ijab qobul lo dek, masak Cuma satu minggu jedanya ke hari pernikahan”
“ ya mungkin jalannya jodohradi seperti ini mas, sudah ah sudah mala mayo tidur saja aku sudah mengantuk tuh lihat anak mu sudah menguap terus tu”
“ kamu tidur lah duluan mas mau melihat bola dulu”
__ADS_1
“ ternyata menjodohkan radi
dan diva semudah ini, kenapa tidak dari dulu saja aku jodohkan mereka” batin imah sambil berjalan menuju kamar anaknya utuk menemani anaknya tidur.