
Kegalauan radi membuat keluarganya semakin khawatir, radi selalu memilih menyendiri dari pada berkumpul dengan saudara atau keluarganya, hal itu membuat ayah dan juga mbaknya khawatir. jika diajak berbicara pun radi cendrung menghindar, contoh nya malam ini ketika semua keluarganya sedang berkumpul diruang keluarga radi lebih memilih duduk sendiri di teras rumahnya.
" apa setiap hari radi seperti ini bu? " tanya imah terhadap ibunya.
" iya, adek mu selalu murung dan selalu menyendiri seperti itu "
" itulah hasil dari perbuatan kamu sama ibu mu waktu itu im" jawab sang ayah pelan sejujurnya ayah radi sangat kasihan terhadap putra satu - satunya itu akan tetapi apa daya, ayah radi selalu tidak bisa menentang semua kemauan sang istri termasuk keinginannya memisahkan radi dengan riani.
" semenjak kapan radi berprilaku seperti itu bu? ".
" ya semenjak riani menikah, sebelum riani menikah adikmu sudah sering menyendiri akan tetapi tidak pernah menghindar dari ibu, tetapi semenjak riani menikah radi langsung berubah total mau bicara sama ibu pun tidak tiap hari, bahkan dalam hal apa pun adikmu sekarang selalu tertutup dengan ibu"
" mungkin ketika riani belum menikah radi pikir masih bisa memperjuangkan riani bu, akan tetapi ketika riani sudah menikah radi merasa kesempatan untuk memperjuangkan dan mendapatkan riani sudah tertutup" suami imah ikut mengutarakan pendapatnya.
" segitu cintanya radi sama riani bu, aku jadi merasa sangat bersalah sekarang kepada radi bu"
" sama apa lagi kemarin radi sampek menangis ketika bicara sama ibu soal riani im, entah lah bagaimana kedepannya adik mu itu ".
" pas waktu itu radi sudah mau pergi merantau ayah pikir radi sudah bisa melupakan riani, ternyata belum, salah ibu juga ngotot menyuruh radi pulang di pernikahan yana, coba kalau radi tidak pulang mungkin saat ini radi sudah bisa melupakan riani"
" riani juga yang keterlaluan pak, baru putus dari radi langsung menikah, coba dia tidak buru - buru menikah kan radi tidak seperti ini jadi ya ".
" ibu masih juga menyalahkan riani, padahal disini ibu sama imah yang salah".
" sudah - sudah ibu sama ayah tidak usah bertengkar kita cari solusi saja bagaimana baiknya buat radi"
" ayah mu itu memang bisanya cuma menyalahkan ibu tanpa bisa mencari solusi dari permasalahan anaknya" sungut sang ibu merasa jengkel merasa disudutkan oleh sang suami.
" terus ayah harus menyalahkan siapa yang bikin masalah kan memang ibu sama imah, coba saja waktu itu ibu sama imah berembuk dulu dengan keluarga bagaimana baiknya, bukannya malah nekat mendatangi rumah riani seperti waktu itu, mungkin saat ini ceritanya akan berbeda bu" ucap ayah radi jengkel lalu beranjak keluar dari ruang keluarga karena akan terjadi percekcokan jika ayah radi masih tetap berada di ruangan yang sama dengan sang istri.
" apa, kamu sama ibu sampai mendatangi rumah riani dek ? kok kamu tidak ada cerita sama mas? "
" maaf mas aku lupa soalnya mendadak juga ke sananya ibu yang ngajak"
" ibu yang ngajak! yang benar saja kamu imah, bukankah kamu yang mengajak ibu untuk mendatangi rumah riani setelah kamu hina - hina anaknya "
" ibu kok gitu sih"
" keterlaluan kamu dek, kamu juga punya anak perempuan, mau kamu nanti anakmu juga diperlakukan sama seperti kamu memperlakukan riani"
" amit - amit mas, kok gitu kamu nyumpahin anak kita tega kamu sama anak sendiri"
" siapa yang nyumpahin, kamu itu jahat banget jadi orang".
__ADS_1
" ya aku kan mau yang terbaik buat adik aku mas, kalau bisa mencari istri yang masih gadis kenapa harus janda punya anak lagi".
" Astaghfirullah dek, jodoh, rezki, dan maut itu tidak ada yang tau, siapa tahu memang radi berjodoh dengan janda, tidak dengan riani mungkin dengan janda yang lain kan bisa"
" mas radi itu adik laki - laki ku satu - satunya, malu aku kalau dia punya istri seorang janda, dan kamu kalau ngomong dijaga dong asal bilang radi berjodoh dengan janda lagi, asal banget kalau ngomong"
" terserah kamu lah dek pusing aku, entah bagaimana cara berpikir mu itu, terserah kamu kalau sampai terjadi apa - apa dengan radi mas ogah kamu bawa - bawa, urus saja sendiri, mas mau pulang saja"
"jangan gitu lah mas kita kesini itu buat bantu ibu sama ayah mencari solusi bagaimana baiknya buat radi kedepannya, pokoknya pulangnya nanti dulu"
" terserah kamu"
melihat suaminya beranjak imah masih duduk dengan tenang karena dia tau sang suami tidak akan meninggalkannya pulang.
" itu suami kamu mau kemana imah "
" tidak akan kemana - mana ibu tenang saja, paling juga ngobrol sama ayah di luar "
" owh, terus kamu punya ide apa buat adikmu, kamu harus bisa mencarikan solusi buat adikmu kan kamu yang paling semangat memisahkan radi dengan riani"
" bu bagaimana jika radi kita carikan calon istri saja".
" siapa? memang kamu sudah ada calonya? "
" masih gadis ya? ".
" ya iya lah bu bening banget bu pokoknya "
" terus bagaimana caranya ibu bicara sama radi, wong ibu dekati saja dia langsung menghindar".
" pelan - pelan saja bu biar imah yang atur, ibu cukup pura - pura tidak tahu saja soal rencana kita ini"
" baiklah ibu percaya sama kamu, semoga dengan dijodohkan dengan diva radi bisa segera melupakan riani ya".
" sudah pasti itu bu"
" terus kapan rencananya kamu mulai mendekatkan mereka"
" siapa? "
" kamu ini gimana sih imah, ya radi sama diva lah, memangnya ibu yang mau kamu dekatkan dengan diva"
" hehehehe.. besok imah akan mencoba mendekati bulek kinah bu, dan tanya - tanya soal anak gadisnya itu".
__ADS_1
" semoga diberikan kemudahan niat baik kita ya ndok".
" iya bu"
" coba nanti kamu minta foto si diva itu lalu kirimkan ke adik mu, siapa tau adikmu langsung kesemsem jika melihat foto diva"
" kalau menurut imah sih malah bagus nanti diva imah ajak kesini langsung bu, biar makin langsung jatuh cinta pandangan pertama radi sama diva, bagaikan oke kan bu rencana imah"
" memangnya boleh sama kinah anaknya kamu bawa ke mari".
" gampang soal itu bu, bisa - bisa lah imah bernegosiasi dengan bulek kinah soal itu, dan kalau imah ingat sepertinya diva sudah cukup umur juga untuk berumah tangga mungkin sudah lebih dari cukup malahan bukan sekolahnya lebih dulu diva dari si yana"
" iya - ya, bener kamu semoga saja diva mau kita jodoh kan dengan adik mu ya, dan kamu jangan beri tahu yana soal rencana kita ini, suami dan ayahmu juga jangan kita beritahu nanti saja jika diva bersedia kita jodohkan dengan radi baru kita memberitahukan ke pada semuanya, ibu takut jika kita memberitahukan sekarang dan ternyata diva menolak kan ibu malu kepada semuanya"
" ibu tenang saja cukup kita berdua saja yang tahu soal rencana perjodohan ini yah itung - itung kita menebus kesalahan kita terhadap radi bu dengan mencarikan calon istri buat dia"
" iya benar kamu, ibu juga berfikir seperti itu "
" apa lagi yang kalian berdua rencanakan kok serius gitu bicaranya "
" ayah ini bisanya cuma su'udzon saja sama ibu sama imah, bisa tidak berpikir positif kepada kami yah"
" ya otak dan cara berpikir kalian berdua kan sama jadi wajar kalau ayah berpikir kalian merencanakan sesuatu yang buruk lagi terhadap radi"
" imah ini anak sulung ibu wajar dong kalau pola pikir kami itu sama, dan radi adalah anak laki - laki ibu satu - satunya dan wajar juga jika ibu menginginkan yang terbaik buat anak ibu"
" ibu pikir apa yang ibu lakukan kemarin juga termasuk yang terbaik buat radi, kalau iya tuh lihat sekarang anak laki - laki mu sedang curhat sama mas iparnya sampai menangis, sana kalian lihat saja jika tidak percaya dengan ucapan ayah, makanya bu, dan kamu imah fikirkan dulu semuanya dengan benar baru bertindak, jadikan permasalahan ini sebagai pelajaran buat kalian berdua, ada hati dan perasaan seseorang yang harus kalian pertimbangkan perasaannya, mau kejadian ini terulang lagi" panjang dan lebar sang ayah menasehati istri dan anak sulungnya yang memang memiliki pola fikir yang sama ini.
" iya yah, memang imah kemarin salah sudah tidak mempertimbangkan perasaan radi, imah fikir cinta radi terhadap riani tidak sedalam ini, maafin imah yah"
" bukan sama ayah seharusnya kamu meminta maaf akan tetapi kepada adikmu kamu meminta maaf karena kehidupannya, cintanya dan harapannya yang sudah kamu hancurkan, sudah ah capek ayah lama - lama bicara sama kalian berdua, ayah mau tidur saja"
" sudah jangan kamu dengerin omongan ayahmu kan dia memang selalu menyalahkan kita berdua, bahkan soal pernikahan yana sampai detik ini juga ayahmu masih menyalahkan ibu"
" masak sih bu, sampai segitunya ayah"
" ini sih cuek - cuek saja, yang penting kamu jangan sampai lupa dengan rencana kita tadi"
" siap bu bos, ya sudah bu sudah malam imah sekalian pamit mau pulang, anak - anak juga sudah waktunya pulang dari mengaji ini"
" iya hati - hati ya"
imah segera mengajak suaminya untuk segera pulang, dan didalam otaknya sudah mulai bermunculan ide - ide cemerlang untuk memuluskan rencananya menjodohkan adiknya radi dengan diva gadis tetangga rumahnya yang baru pulang bekerja dari kota tersebut.
__ADS_1