Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 9 : Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Seorang wanita dengan make-up yang sedikit tebal tapi tidak terlalu menor melajukan mobilnya ditengah hiruk pikuk jalanan kota Jakarta dengan kecepatan sedang. Dandanannya yang mewah serta kacamata yang dipakainya itu menandakan bahwa dia seorang yang glamor. Serta mobil Lamborghini keluaran terbarunya itu membuat orang-orang tau dan yakin bahwa dia termasuk salah seorang kelas dari atas.


"Sayang, kamu ini gimana sih? Seharusnya kamu bantah saja kakek mu itu. Masa segini sih cintamu padaku?" Kata wanita itu berbicara dengan orang dibalik teleponnya melalui earphone.


"Eva..., saya bukannya tidak sayang dengan kamu. Cinta saya padamu melebihi luas laut di samudra ini. Kamu kan tau sendiri bagaimana sikap kakek saya, jika dia sudah berkata begitu, dia tidak akan mengubah kata-katanya lagi. Mau tidak mau saya harus mengikuti kemauannya itu. Begitupun dia masih tetaplah kakek saya, satu-satunya keluarga saya, jadi saya harus mengikuti kemauannya itu." Jawab suara rendah dibalik teleponnya itu.


"Cih, dasar kamu. Selalu saja alasan. Kamu selalu nggak pernah mengikuti kemauan aku. Janji aja melulu, kemaren kamu janjinya akan melamar aku, lah sekarang malah aku dapat kabar klo kamu akan menikah dengan wanita lain. Mana ini aku taunya dari karyawan kamu lagi, bukannya dari kamu. Pokoknya aku nggak mau tau, akhir pekan ini kamu harus temenin aku seharian, titik." Timpal wanita itu dengan kasar. Seakan dia menyatakan bahwa laki-laki itu hanya miliknya seorang, selain dari dirinya tidak akan ada orang lain yang boleh memilikinya.


"Iya, akan saya usahakan nantinya klo emang kakek tidak minta macam-macam sama saya. Kamu kan juga tau sendiri kakek saya. Dia..."


"Alah, selalu saja kamu bawa-bawa kakek." Kata wanita bernama Eva itu memotong pembicaraan orang dibalik teleponnya itu, yang diyakini klo orang dibalik telepon itu adalah pacarnya. "Bilang aja klo kamu tu nggak mau ketemu kan sama aku? Aku pulang dari luar negeri aja kamu nggak jemput aku di Bandara. Kamu dimana? Mau pake alasan apa lagi?"


"Kan kamu juga tau sendiri, klo saya ini sedang bekerja. Lagipula saya ada mengirim Hans kan buat jemput kamu, malahan saya mengirimi kamu hadiah. Emang Hans nggak mengirimkan hadiah saya pada kamu?" Jawab laki-laki dibalik telepon itu membela dirinya.


"Tapi aku maunya kamu. Pacarku itu kamu, bukan sekretaris mu itu. Hans dia memang mengirimi aku hadiahnya, tapi aku tidak menyukainya, karena kamu tidak datang." Ucap Eva yang terus menuntut dia mau ketemu sama pacarnya. " Ahhhh..., sial. Sayang bentar ya, sepertinya aku menabrak orang." Eva meminggirkan mobilnya di pinggiran dan langsung keluar memperhatikan mobilnya.


"Oh baiklah."


Ternyata Eva menabrak seorang gadis yang sedang menaiki skateboard dipinggir jalan. Gadis dengan dandanan tomboy itu jatuh terduduk dengan luka di lututnya. Darah membasahi celana jeans-nya itu.


Eva keluar langsung memerhatikan mobilnya terlebih dahulu. Dia tidak menanyakan bagaimana keadaan orang yang ditabraknya itu, melainkan dia peduli akan goresan di mobilnya itu.


"Malah lecet lagi. Sial banget sih hari ini." Upat Reva pada dirinya sendiri sambil memperhatikan mobilnya yang tergores. "Hei, kamu! Punya mata nggak sih? Nggak bisa main skateboard malah coba-coba main di jalanan kayak gini. Bayar sini!" Kata Eva marah-marah kepada gadis itu.


Gadis itu mendongak, dan melihat sosok Eva. Dia langsung terlihat jengkel akan sikap Eva itu. "Apa maksudnya ini? Gue bayar lo? OMG hello...., yang nabrak disini tuh lo, bukan gue. Kenapa lo jadi malah nuduh gue gini?" Tanya gadis itu berani. Dia langsung bangun dengan lutut berdarahnya itu dan melabrak Eva balik.


"Hah? Kenapa jadi aku?" Tanya Eva tak percaya klo dia kan dilabrak balik oleh gadis tomboy itu.


"Jelaslah lo. Lo itu bisa nyetir nggak sih? Masa nggak bisa nyetir malah sok-sokan bawa mobil mewah gitu."


"Apa kamu bilang? Aku nggak bisa nyetir? Kamu aja yang nggak bisa main skateboard dengan benar, malah nuduh aku. Pokoknya aku nggak mau tau, kamu lihat ini goresan di mobil, ini tuh nggak sebanding dengan biaya hidup kamu selama setahun. Perbaikannya ini aja tuh hampiri ratusan juta, tau." Kata Eva yang terus menuntut gadis itu.


Gadis itu meniup poni dengan malas, dia malas untuk terus berdebat dengan Eva. "Terserah, gue nggak mau tau. Mau itu seribu kek, mau satu juta, gue nggak peduli. Toh bukan gue juga yang nabrak lo. Buat apa gue nabrak lo? Nggak ada untungnya juga, kan? Satu lagi, karena bukan gue yang nabrak lo, jadi jangan minta duit sama gue. Gue ini bukan bokap nyokap lo, sana minta sama ortu lo sendiri!" Hardik gadis itu dengan kejam. "Ah..., gue lupa. Mana bayarannya sini." Kata gadis itu mengulurkan tangannya. "Lo liat kan luka gue ini? Disini, disini dan disini! Lo liat, kan?" Tanya gadis itu memperlihatkan siku, lutut dan telapak tangannya yang berdarah. "Gue butuh duit buat biaya pengobatan rumah sakit gue, karena gue orangnya baek, jadi lo cukup bayar 500 ribu saja."


"Apa?!!" Teriak Eva nggak percaya klo dia akan diminta uang seperti ini oleh gadis itu.


"Oh ya, skateboard gue lagi. Ini patah, jadi lo harus ganti yang baru, ini pusaka gue buat kuliah nantinya. Untuk skateboard 500 ribu, jadinya satu juta pas. Jadi lo mau bayar pake apa? Tunai atau transfer? Sekarang juga boleh, kebetulan gue ada pake dana."


"Kamu tunggu dulu, apa-apaan ini? Kenapa kamu yang minta dibayar? Skateboard kamu itu nggak seberapa dengan mobil aku. Ini mobil Lamborghini keluaran terbaru, tau nggak? Perbaikannya aja harus di Amerika. Aku sih paham klo kamu nggak tau, kamu kan nggak pernah naik mobil mewah." Kata Eva mengejek gadis itu dengan wajah yang sini.


Gadis tomboy itu juga nggak mau kalah, dia balik memandang Eva dengan wajah sinis juga. "Siapa bilang klo gue nggak pernah naik mobil mewah? Malah gue pernah naik mobil yang lebih mewah dari mobil butut lo itu. Mobil Tesla, lo nggak pernah naik, kan? Jadi gue nggak mau tau, lo yang harus bayar. Karena disini gue yang korban, bukan lo. Jangan sok-sokan jadi korban lo. Muka-muka munafik kayak lo itu nggak ada yang mau pecaya. Yakin deh sama gue."


"Kamu!"


"Lo bayar nggak? Klo lo nggak mau bayar dan tetep ngotot klo lo nggak bersalah, bagaimana klo kita cek CCTV yang disana." Kata gadis itu sambil menunjuk CCTV yang ada di Cafe dekat kejadian mereka. "Gue pikir akan lebih jelas siapa yang salah, siapa yang nggak. Mungkin dengan ini gue akan dapat duit lebih banyak lagi klo kita berurusan dengan polisi. Bagaimana mau mencobanya?" Tanya Gadis itu dengan senyum smirk dari wajahnya.


"Kamu! Apa sedang memeras ku?" Tanya Eva nggak terima.


"Siapa juga yang mau meras lo, gue cuma minta biaya kerugian gue sama biaya pengobatan gue. Satu juta doang. Dan gue pikir nggak ada masalah dengan duit segitu kan klo diliat dari dandanan lo yang glamor bling-bling gitu? Sampe mau buta mata gue liatnya. Gimana? Mau tunai atau tf? Oh klo lo mau nyerahin gue cek, juga nggak papa. Gue terima dengan lapang dada."


"Sial banget sih hari ini. Ya udah aku transfer aja. Mana nomor kamu, sini!"


Gadis itu segera mengambil handphonenya dan menampakkan nomornya pada Eva. Dia malas buat ngedekte, lebih baik dia liat aja sendiri. "Oh ya, gue lupa. Sama biaya psikologis gue lagi. Lo udah buat mental gue jadi down, bisa-bisanya gue nggak berani naik skateboard lagi di jalan raya. Jadi tambah satu juta lagi, jadinya dua juta." Tambah gadis itu terus mencoba memeras Eva. "Salah sendiri juga. Siapa suruh lo sombong banget gitu. Baru juga Lamborghini jelek gitu, sombongnya minta ampun. Rosa baby gue aja yang tajir melintir kagak pun sombong kayak lo. Anggap aja lo lagi sial karena ketemu gue. Andai aja klo lo minta maaf duluan, jadinya pasti kagak akan seribet ini urusannya." Kata gadis itu membatin tersendiri sambil menunggu Eva menansfer uangnya.


Notifikasi dari handphone gadis itu berbunyi. Dia membuka dan membaca notifikasi yang baru saja masuk itu. Gadis itu tersenyum puas, dan kemudian dia melihat wajah Eva. Eva masih sangat jengkel dengan gadis tomboy itu, muka cemberut dan marahnya itu sama sekali tidak dia sembunyikan.

__ADS_1


"Ok sudah." Kata gadis itu kepada Eva sambil tersenyum. "Senang bertransaksi dengan Anda Nona Evangeline. Semoga hari Anda menyenangkan." Kata gadis itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tanda klo dia sangat puas akan kerjasamanya itu. Dia tau nama Eva, karena ada tertera nama pengirim disana, jadi dia bisa langsung tau dengan jelas nama Eva.


Eva menampik tangan gadis itu dan langsung kembali masuk kedalam mobilnya. Gadis tomboy itu melambaikan tangannya pada Eva. Dan itu juga kembali berhasil membuat mood Eva tambah buruk, dan dia langsung menancap gasnya dan melaju dengan kencang.


"Sial, sial, sial!!!!" Teriak Eva dengan kencang saking marahnya.


"Kamu kenapa, Eva." Tanya orang dibalik teleponnya itu, ternyata orang diseberang itu tak kunjung juga mematikan sambungan teleponnya itu.


"Aku lagi sial. Ketemu sama cewek tomboy yang memeras aku tadi. Awas saja, akan ku balas nanti dia."


"Tapi kamu tidak apa-apa, kan?"


"Ya, aku nggak apa-apa." Jawab Eva dengan judes. "Aku akan matikan sambungan teleponnya, aku lagi nggak bad mood. Aku butuh pelampiasan."


"Ok, baiklah. Saya mengerti, kamu hati-hati nyetirnya."


"Ok, see you later." Ucap Eva sebagai salam perpisahannya itu.


"Hemmm, see you."


...***...


Rosalyn POV


Aku yang mendengar jawaban pendek dari Aldo menjadi termangu diam. Apalagi Aldi, bahkan sampai terhuyung. Untungnya ada kursi di sampingnya itu. Klo nggak, mungkin sudah ambruk di lantai. Aldi mungkin nggak tau apa yang mau diomongin Aldo, tapi aku tau.


"Kalian apaan sih? Ga usah lebay, bisa?"


"Tapi...." Sahut mereka bersamaan sambil terus mengekori ku.


"Long." Jawab si kembar dengan serempak.


"Klo bahasa Inggrisnya teriak panjang?" Tanya ku kembali.


"Tolong."


"Pandai! Kalian memang sahabat terbaik aku. Jadi kalian nggak perlu khawatir, klo memang suami aku jahat nantinya, aku tinggal teriak minta tolong deh. Kalian akan datang, kan?" Tanyaku berbalik dan meyakinkan mereka.


Mendengar ku berkata begitu, si kembar hanya bisa mengangguk. Meski itu terasa berat, karena mereka adalah tipikal orang yang sangat lengket denganku. Itu sungguh berbeda dengan mereka yang masih kecil dulu, sangat sering menjahili ku.


"Wah wahhhhh, sepertinya bakalan ada acara meriah, nih." Suara itu, aku mengenalnya dengan sangat baik. Ternyata dia sudah kembali.


Aku melihat kearah pintu, arah sumber suara itu berasal. Suara yang sangat akrab, ku kenal dengan baik bahkan jika orangnya mati sekalipun sampai gentayangan. Ternyata memang benar, dia adalah saudara sepupuku. Anak pamanku, kakak dari Papaku. Wanita ular yang pandai bermuka dua. Yah, setidaknya dia bagiku.


Dengan pakaian seksinya yang kekurangan bahan, sepatu heels yang sangat tinggi serta make-up menornya yang selalu dibanggakannya kemanapun dia pergi. Yah, setidaknya itu adalah pandanganku. Tentunya tidak bakal ada hal yang baik, selain untuk menggoda laki-laki.


Tapi yang membuatku heran adalah apakah semua laki-laki itu buta akan kecantikan palsunya itu? The fake beauty, apakah mereka tidak menyadarinya? Atau karena selera mereka itu rendah? Atau mungkin memang karena mereka satu server dengan dia?


Entahlah, aku juga nggak tau, dan juga nggak mau repot-repot memikirkannya. Buat apa aku menyia-nyiakan tenaga dan otakku buat memikirkan hal yang nggak penting itu, lebih baik singkirkan saja itu jauh-jauh dari pikiran. Yang jelas satu bal yang pasti, para lelaki buaya itu sangat mudah digoda oleh ular Medusa ini.


"Yo, bagaimana kabarmu, Rosalyn Saputri Vogart? Semoga harimu menyenangkan. Yah itu sih sepertinya nggak mungkin terjadi. Karena kamu akan dijodohkan dengan lelaki tua, kan? Kasian banget sih hidupmu itu?"


Ya, itu kata-kata pertama dari kakak sepupuku. Ucapan selamat yang paling memuakkan sedunia.


"Ya, emang nggak ada yang menyenangkan bagiku, klo pagi-pagi gini ketemu dengan kamu. Malah ngerusak mood aja." Jawabku membatin. Andai aja bisa ku keluarin kata-kata kayak begitu, pasti langsung lega. Untung aku masih menghormatinya sebagai sepupuku, klo tidak udah dari dulu dia ku blacklist untuk daftar orang yang mau ke ladenin.

__ADS_1


"Apa-apaan kau ini, Eva?" Teriak Aldi hilang kesabaran.


"Ohoho..., not Eva, but Angel, ok? Call me Angel." Jawab Eva dengan nada lebay. Dari mana dia belajar hal menjijikkan itu? Nggak mungkin dia belajar itu di luar negeri, kan? Karena disana jelas-jelas nggak diajarin yang begituan.


"Kau! Dasar kau..." Kata Aldi menggeram sambil menunjuk kearah Eva. Aku memegang pundak Aldi dan menggelengkan kepalaku supaya dia mengendalikan emosinya itu. Untung Aldi selalu patuh padaku, jadi dia akan mendengarkan kata-kataku.


"Wah, Welcome back Evangeline. So long l don't see you. How about you study in America? Kuharap kau baik-baik saja disana. Dan nggak mempermalukan paman nantinya dengan kelakuanmu itu." Aku maju ke depan dan menyapa Evangeline.


"Ternyata kau bisa juga menjaga tata krama, nggak seperti dua budak mu itu." Balasnya pedas.


Itu adalah sisi yang paling ku benci darinya, yaitu mulutnya yang sangat pedas itu. Dia nggak peduli apakah hati orang lain sakit atau nggak dengan omongannya itu. Apakah di mulutnya itu ada zat Capsaicin?


"Yah, aku beruntung karena punya mereka di sampingku. Mungkin mereka akan sedikit kurang ajar jika ada orang yang mencaci tuannya, jadi jangan salahkan kedua kucingku ini jika dia mencakar mu. Ahahaha..., maaf aku menyebutnya kucing. Karena mereka begitu imut sih. Walaupun kadang mereka suka menyerang orang, tapi setidaknya mereka setia padaku. Tidak seperti seseorang." Ejek ku dengan nada sinis.


"Kau...." Eva menunjukku dengan telunjuknya saking dia marah karena ku enek. " Uhh! Awas saja kau, tunggu pembalasanku."


"Ancaman itu nggak akan ku biarkan merusak mood-ku ini. Bagiku kata-kata mu itu hanyalah angin lalu bagiku. Kau tau, itu seperti nyamuk yang berdengung ditelinga." Kataku kembali mengejeknya. Aku maju mendekati Eva. "Aku nggak akan membiarkanmu melakukan hal yang sama padaku, akan ku balas kau dengan sesuatu yang lebih kejam lagi jika kau terus mengusikku. Karena aku memegang kartu AS di tanganku." Kataku membisikkan sesuatu di telinganya. " Ingat Angel, sayang. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan sedikitpun, atau tidak paman pasti akan sangat sedih nanti." Ucap ku sambil berakting pura-pura sedih dan kasihan padanya.


"Kau! Dasar j*l*ng."


"Oh..., siapa yang j*l*ng disini, kau sendiri yang paling tau, kan?" Jawabku dengan santai sambil mengedikkan bahuku tanda nggak tau.


Eva langsung meninggalkan kami setelah ku provokasi sedikit. Dia sangat marah, lebih tepatnya marah besar. Dia kehabisan kata-katanya untuk membalas ucapan ku, nggak tau mau balas apa lagi, makanya dia pergi dengan marah. Dia memang pantas mendapatkan itu. Tapi lihat jalannya itu, bukankah itu sangat lucu? Dia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Moga aja heels-nya itu nggak patah.


"Pftt... phuhahahaha..... Baby, sejak kapan kau mempelajari ini? Kau lihat, cara Eva berjalan? Hahaha.. rasanya aku... bhahaha... aku sangat puas, baby. Aduh... sakit perut ku.. hahaha..." Aldi tak hentinya ketawa melihat Eva yang langsung pergi dengan muka murkanya itu. Ku akui, itu kali pertamanya aku membalas perkataan Eva.


Setelah kepergian Eva kali ini, bukan berarti nggak ada kali berikutnya. Pasti dia akan datang lagi dengan berbagai triknya dan bahkan membawa gengnya. Sampai kadang aku sangat malas meladeni mereka. Eva seorang aja udah muak, apalagi mereka berkelompok, malah bikin bad mood. Tapi apapun itu, fokus hari ini adalah membantu orang rumah mempersiapkan segala hal.


Kami melalui hari dengan sibuk beberes-beres dan menyiapkan segala keperluan yang diperlukan. Hiasan mulai dati pintu sudah dipasang, balon khas anak-anak sudah tertiup semuanya. Ini mesti ulah kakak. Aku yang berulang tahun, kakak yang selalu seenak jidat menghiasinya dengan suka hati. Untuk kali ini nggak terlalu parah, dekorasi Mama yang atur. Karena hari ulang tahunku juga merupakan hari pertunangan ku.


Malam harinya, segala persiapan telah diselesaikan. Tinggal menunggu hari esok datang. Mama mendatangi kamar untuk melihatku. Saat ku tanya ada perlu apa, Mama hanya menjawab dia hanya ingin memastikan klo aku istirahat lebih awal, karena besok akan menjadi hari yang cukup melelahkan.


Mama mengecupkan kening ku dan mematikan lampu kamar, dan kemudian dia langsung keluar lagi. Aku bukannya nggak tau klo Mama mencemaskan ku. Bagaimana bisa aku nggak tau perasaannya itu? Padahal jelas terbaca, rasa sedihnya, khawatir, segalanya jelas terpampang di wajah ayunya itu.


Aku mengambil ponsel dan melihat notif yang masuk. Sangat banyak pesan yang masuk. Tapi itu ku abaikan semuanya, lagipula bukanlah hal penting. Hingga satu pesan menarik perhatianku, dari 'pacar'. Itu Adel, gadis cross dressing di pameran.


"Yang, jalan-jalan, yuk! Aku akan jemput kamu pukul sepuluh. Sherlock cepat! Biar di jemput."


Aku mengirimkan lokasi rumahku kepada Adel, tapi aku menyuruhnya untuk menungguku agak jauh dari rumahku, supaya nggak ketahuan satpam penjaga. Aku menyuruhnya menunggu di mini market dekat rumah.


Aku membuka laci rahasiaku, dan mengambil segala perlengkapan ku. Perlengkapan untuk cross dressing. Nggak ada yang tau klo aku hobi cross dressing saat mau keluar malam di rumah ini. Bisa dibilang, meskipun aku anaknya patuh, bukan berarti aku akan terlalu patuh, pasti ada beberapa rahasia yang mau ku simpan, termasuk belajar Taekwondo, hobi cross dressing, juga masalah pacaran dengan Kak Alan. Aku sebisa mungkin ingin merahasiakannya.


Semua lampu sudah dimatikan. Aku keluar melalui pintu belakang, bagian dapur. Hanya saja harus berhati-hati takut Bibi kebangun nantinya. Aku mendapat pesan baru dari Adel, dia sudah ditempat.


Aku segera keluar, dan membawa kunci pintunya bersamaku. "Maaf ya, Bi. Kunci pintunya terpaksa Rosa bawa. Takut Bibi bangun nanti, dan ngengunci Rosa dari dalam."


Aku langsung keluar, dan seperti yang diharapkan, nggak ada yang satpam penjaga di pintu belakang. Tapi pagarnya terkunci, terpaksa harus manjat. Tapi itu bukan masalah besar, karena aku sudah cukup pro dalam hal memanjat, disebabkan oleh faktor terbiasa.


Aku menuju ke mini market dekat rumah. Ternyata Adel memang sudah menunggu. Tapi apaan ini? Dia naik motor sport Kawasaki? Motor warrior yang terkenal itu? Wow, amazing.


"Gila, Del. Ini motor kamu? Buset! Keren banget." Tanyaku tak percaya.


"Punya sendirilah, kak. Masa hasil nyolong, sih. Hanya saja aku simpan di rumah kawan, supaya nggak ketahuan sama kakak, yang super duper bawel." Jelasnya dengan nada cuek. Mungkin dia menganggap ku kampungan, karena motor segitu saja nggak pernah liat. Padahal aku bukannya nggak pernah liat, hanya saja nggak pernah naik. "Nih, kakak yang bawa." Katanya melempar kunci kearah ku. "Kakak bisa bawa motor, kan? Jangan nanti malah tiduran di jalanan pula." Tanya Adel mempertanyakan bakat ku.


"Ok, aman tu. Serahkan saja pada ahlinya." Jawabku percaya diri dan menangkap kunci yang dilempar Adel.

__ADS_1


Aku memang cukup percaya diri soal bawa motor beginian, karena ini nggak jauh beda dengan main game, hanya saja ini versi real. Ini pasti akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi dapat teman yang sefrequensi denganku. Memang benar kata orang-orang, dua orang lebih baik dari pada satu orang.


__ADS_2