
Rosa yang duduk di samping Reyhandra nggak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa pasrah saat Reyhandra merangkul bahunya. Rosa hanya bisa melihat kebawah terus, kearah sepatunya.
"Apakah sepatu adik Shaka lebih menarik ketimbang wajah Kak Rey yang tampan ini, ya?" Tanya Reyhandra mengeratkan rangkulannya di bahu Rosa.
Rosa yang mendapatkan perlakuan itu dari Reyhandra hanya bisa menyayangkan sebelah bahunya yang digenggaman erat oleh Reyhandra, tapi dia nggak bisa melakukan apa-apa.
"Haah, bro. Jangan bikin xiao xiao takut dong. Lo itu walaupun ganteng nggak ketulungan sekalipun lo itu tetap masihlah seekor wolf, lo bisa aja gigit xiao xiao sewaktu-waktu, makanya xiao xiao nggak berkutik denganmu. Ya kan, xiao xiao?" Tanya Andre kepada Rosa.
Rosa melihat Andre sekilas dan dengan senyum yang dipaksakan, lalu dia melihat lagi ke bawah. "Terserah dah, kalian mau mikirnya apa? Lagipula aku nggak peduli lagi, udah terlanjur tertekan batin aku soalnya." Jawab Rosa dalam hati dengan pasrah akan pertanyaan Andre.
Rosa masih tidak menjawab apa-apa, dia lebih memilih diam dan tetap menatap kebawah. Dian dan Adel yang melihat Rosa ditindas juga nggak bisa berbuat apa-apa, semuanya punya alasannya masing-masing.
"Maaf Kak, bukannya Adel nggak mau nolongin kakak, tapi resiko Adel ketahuan itu besar. Adel nggak bisa bilang klo Adel seorang cross dressing pada Kak Rey." Nangis Adel didalam hatinya sendiri.
"Shuuttttt..., Shak?" Dian memberi kode kepada Rosa, tapi Rosa tetap nggak mendengarnya, karena dia terlanjur sudah berkeringat dingin duluan.
Dian akhirnya hilang kesabaran juga karena dari tadi Rosa hanya tertarik pada sepatunya, padahal yang lainnya asyik mengobrol tentang perform mereka barusan. Dian menendang kaki Rosa, baru Rosa sadar akan situasinya, situasi klo Dian dari tadi memanggilnya.
"Xiao xiao, suara kamu itu sangat bagus lo, emang kamu nggak ada niatan buat gabung dengan dengan adek gege ini? Mungkin kalian bisa membentuk sebuah group band, and dijamin pasti akan puas." Saran Andre sambil merangkul bahu Dian, dan Dian hanya senyum saja saat kakaknya memperlakukannya seperti itu.
Jujur Dian bukanlah senang karena kakaknya merangkulnya, hanya saja Dian seneng kakaknya membantu membujuk Rosa untuk bisa membuat group band dengannya.
"Dijamin puas? Emang kalian pikir ini layanan hotel apa?" Rutuk Rosa dalam hatinya.
"Adik Shaka mungkin merasa ini bukanlah ide yang bagus, karena biasanya band itu terdiri dari minimal tiga orang. Harus ada yang mainin keyboard-nya, drumer, sama gitaris juga. Baru kemudian vokalisnya. Bukankah begitu adik Shaka?" Tanya Reyhandra kepada Rosa.
"Nah, klo begitu bagaimana klo kita saja yang melakukannya bro. Lo yang main keyboard, biar gue yang urusin tu bagian drum. Masalah itu doang, gampang itu mah." Cerosos Andre lagi mengajukan diri.
"What the hell? Kamu mengajukan diri untuk hal yang nggak pernah kamu lakukan itu? Yang benar saja, bukankah kalian sangat sibuk. Tolak, tolak, tolak saja itu. Jangan terima." Kata Rosa dalam hatinya dan berharap Reyhandra bisa menjawab seperti yang diinginkannya, walaupun Reyhandra nggak bisa mendengar suara batinnya.
"Ide bagus juga itu. Bagaimana menurut adik Shaka? Bukankah itu bagus?" Tanya Reyhandra kepada Rosa untuk memprovokasinya, karena dari tadi Rosa masih belum meledak.
"Mananya yang bagus!!!" Jawab Rosa dengan suara lantang sambil menggebrak meja.
Andre, Dian dan Adel terkejut saat tiba-tiba Rosa menggebrak meja begitu saja. Padahal seharusnya dia bisa menjawabnya dengan tenang. Bahkan saking bukan mainnya suara Rosa yang lantang, sampai-sampai mengundang semua pandangan melihat ke arah Rosa.
Hal itu berbeda dengan Reyhandra, dia sudah dapat memprediksikan klo Rosa pasti akan meledak dan menggebrak meja, karena hanya itu yang ada didepannya, lagipula emosi wanita itu sangat sulit ditahan. Reyhandra hanya bisa mengulum senyum smirk dari wajahnya itu, sungguh Reyhandra berpikir klo dia nggak sia-sia datang ke bar malam ini.
"Xiao xiao sayang, klo kamu nggak setuju, bilang aja nggak setuju, nggak usah marah-marah sampai menggebrak meja gitu dong. Klo kamu nggak mau kami ikut kami nggak apa-apa kok." Kata Andre sambil mengelap air mata keringnya itu. Lalu kemudian dia melanjutkan kata-katanya kembali, "Tapi kamu jangan gitu dong, kamu itu orang terkenal sekarang di bar ini, jadi lebih baik jaga image, keep calm down aja, ok?"
"Ahhh, bukan gitu maksud aku." Bantah Rosa dengan mengangkat kedua tangannya kearah Andre dan Reyhandra.
"Lalu maksud adik Shaka apa juga?" Tanya Reyhandra yang masih saja mood untuk menggoda Rosa.
"Haahhh, bukan gitu maksudku." Jawab Rosa menghela nafasnya capek. "Tapi maksudku itu kalian sangat menyebalkan, menjijikkan, merisihkan, me-, me-, ahhhh.... Pokoknya me segala me yang punya arti buruk, semuanya menyangkut dan terpampang pada kalian. Tau nggak? Kan nggak mungkin aku jawab gitu, kan?" Pikir batin asli Rosa yang maunya menjawab begitu.
"Maksud adik adalah..., Kak Rey dan Kak Andre kan orang yang sibuk, jadi nggak bagus buat perkembangan perusahaan juga nggak bagus buat kesehatan kakak, karena terlalu memaksakan diri dan tidak menyempatkan tubuh kakak buat beristirahat." Jawab Rosa mencari alasan. Rosa berusaha untuk menyampaikannya sebaik mungkin dan terus mempertahankan senyum diwajahnya itu.
"Hemmm? Begitukah? Klo gitu kakak mau tak mau harus mendengar nasehat adik Shaka."
"Yayaya, memang harus gitu." Jawab Rosa bangga karena sudah berhasil membujuk Reyhandra.
"Tapi klo dipikirkan lagi...."
"Nggak usah dipikirkan lagi itu mah. Emang udah pas itu." Batin Rosa saat Reyhandra kembali berkata.
"Klo dipikirkan lagi?" Teleng Andre yang nggak nyambung karena Reyhandra bicaranya setengah-setengah.
"Klo dipikirkan lagi itu bukan masalah besar bukan? Lagian di perusahaan udah ada sekretaris, klo nggak buat apa kita gaji mereka, buat pajangan?"
"Yayaya, bener tu." Setuju Andre langsung menjawabnya. Tapi baru sesaat kemudian dia paham, klo orang yang bekerja di perusahaan Reyhandra juga termasuk dirinya. "Lo nggak mengatai gue kan?"
"Menurutmu?" Tanya Reyhandra dengan senyuman di wajahnya itu.
"Menurut gue..., iya."
"Berarti emang iya." Reyhandra langsung memberi demage menusuk kepada Andre.
"Kejam banget sih lo bro."
"Hah, itu bukan intinya, karena adik Shaka sudah mengkhawatirkan Kak Rey, berarti Kak Rey nggak usah khawatir lagi, karena adik Shaka pasti akan menjadi dan merawat Kak Rey, kan?" Tanya Reyhandra sambil melepaskan topi Rosa.
"Bukan begitu lho konsepnya." Coplos Rosa menjawab Reyhandra. Sadar klo dia menolak Reyhandra, Rosa langsung menutup mulutnya dan mengutuk mulutnya sendiri. "Ini mulut, kenapa susah amat sih diajak kompromi?" Batin Rosa sambil mukul-mukul mulutnya sendiri.
Reyhandra tersenyum puas, dia puas mengerjai Rosa habis-habisan. Dan Adel yang melihat Rosa begitu menjadi tak tega padanya.
"Anu..., Kak Rey..." Panggil Adel bersuara.
"Hemmm???" Reyhandra melihat kearah Adel yang memanggilnya.
"Bukankah kakak sudah keterlaluan mengerjai Shaka?"
__ADS_1
Melihat dirinya yang dibela oleh Adel, akhirnya Rosa punya harapan dan dia sangat berharap akan itu. "Kamu emang malaikat malam penyelamat Cinderella yang ditindas, Adel." Binar mata Rosa menatap Adel.
Reyhandra memperhatikan Adel dengan lekat, Reyhandra seakan akrab dengan perawakan dan pembawaan Adel. Lalu akhirnya dia pun bertanya, "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Adel menjadi panik, begitu juga dengan Dian. Karena hanya Dian dan Rosa yang tau klo cowok dengan nama Leon itu adalah Adel. Mareka pun juga gugup takut ketahuan sama Andre dan Reyhandra. Saat Dian hendak menjawab untuk menangkis kecurigaan Adel, namun Adel malah keduluan menjawabnya sendiri.
"Nggak, kita nggak pernah ketemu kok. Maaf, Yan, Shak, gue punya sesuatu yang mendadak nih. Gue cabut dulu, ya! Shak, gue pinjam topi lho, entar kapan-kapan gue balikin." Adel langsung mengambil topi Rosa tanpa ada izin dari sang empunya dan melanggeng pergi.
"Ehhhh..." Teriak Rosa saat Adel mengambil topinya. Rosa hendak mengejar Adel sekalian buat kabur, tapi Reyhandra justru menahan tangannya.
"Biarkan saja dia pergi mengurus keperluannya itu."
"Tapi...."
"Klo masalah topi itu, adik Shaka nggak perlu khawatir, biar Kak Rey menggantikan yang baru untuk kamu, bahkan lebih bagus dari yang itu. Sekarang duduk, kita minum-minum dulu. Karena sudah sampai kesini, maka ritualnya belum sempurna klo nggak minum-minum, kan?" Ujar Reyhandra yang menarik tangan Rosa untuk duduk. Rosa duduk dengan hati berat dan tangannya yang dipegang oleh Reyhandra juga langsung ditariknya dengan kasar.
"Kamu yakin mau minum hari ni, bro? Bukannya besok harus fitting baju ya sama kakak ipar?" Tanya Andre yang mengingatkan Reyhandra.
"Emang iya, tapi minum sedikit bukan masalah, kan?" Pancing Reyhandra sambil melihat ekspresi Rosa yang gugup sambil memainkan jarinya. Reyhandra yang melihat ekspresi gugup Rosa membuat dirinya semakin bersemangat untuk menggodanya.
"Buset, aku lupa lagi klo besok tu aku fitting baju sama Reyhandra." Batin Rosa pada dirinya sendiri saat Andre tiba-tiba mengungkit masalah fitting baju.
"Lo tenang amat bro, padahal itu lho yang paling dinantikan oleh pasangan yang akan menikah. Hanya bisa dipakai sekali seumur hidup."
"Matamu yang mana melihat gue yang begitu santai. Padahal gue cukup gugup menantikannya. ya kan, adik Shaka?" Tanya Reyhandra memancing Rosa.
Rosa yang sadar klo Reyhandra mengajaknya berbicara hanya bisa mengangguk saja sebagai jawaban. Reyhandra pun puas karena Rosa meresponnya dan membalas Rosa dengan senyuman dari wajahnya itu.
"Pelayan!" Panggil Reyhandra memanggil pelayan yang sedang lewat.
"Ya tuan, Anda mau pesan apa?" Tanya pelayan itu menghampiri Reyhandra.
"Tolong minumannya dua botol, kemudian sekalian sama buahnya ya." Pesan Reyhandra sambil melirik ekspresi Rosa. "Oh ya, saya juga mau beberapa cocktail yang 50 persen alkoholnya, ya!" Lanjut Reyhandra lagi. Dan kemudian Reyhandra membisikkan sesuatu kepada pelayan itu, dan diangguki oleh si pelayan.
"Baik, silakan menunggu, tuan-tuan." Kata pelayan itu yang langsung pergi menyiapkan pesanannya.
Mendengar itu Rosa menjadi terbelalak kaget. Ternyata dia memang nggak punya jalan untuk terlepas lagi. Dan hanya bisa menerima alur yang sudah berjalan ini. Hanya saja Rosa berharap akan ada plot twist nantinya, yang membantunya untuk bebas dari Reyhandra.
"Gila lo, bro. Katanya dikit." Suara Andre yang melihat Reyhandra bersikap aneh malam ini. Seperti bukan Reyhandra, karena biasanya Reyhandra nggak pernah minum. "Tapi nggak apa juga sekali-kali, gue anggap lo sedang mentraktir gue. Lo juga harus minum ya, Yan?"
"Ah, nggak kak. Aku nggak minum." Tolak Dian.
"Nggak apa, lagipula lo udah dewasa. Ya kan xiao xiao?
"Tapi xiao xiao jangan minum ya. Ok?" Tekan Andre karena dia tau klo dalam balutan siluet laki-laki itu adalah seorang gadis kecil.
"Oh ya ya."
"Nggak apa-apa. Lagipula meskipun adik Shaka kelihatan kecil juga seperti cowok cantik, dai ini sudah dewasa. Klo nggak mana mungkin dia berani buat pergi ke bar. Ya kan, adik Shaka?" Tanya Reyhandra kepada Rosa.
Rosa tak punya jawaban lain kecuali mengiyakan pertanyaan Reyhandra juga. Karena klo dia jawab tidak, itu berarti Rosa sama saja dengan mengekspos dirinya sendiri.
Tak lama kemudian pesanan mereka akhirnya datang. Dua botol alkohol, satu baskom es, juga satu piring yang penuh potongan buah-buahan dan yang yang terakhir adalah empat gelas cocktail.
Rosa yang melihat semuanya tersaji didepan matanya menjadi kagum sekaligus was-was. Ternyata hal yang hanya dilihat di drama kini berada nyata dan tersajikan didepan mata kepalanya sendiri.
Andre langsung menyambar gelasnya dam membuka alkoholnya, dia mengisinya ke gelasnya, Reyhandra dan juga Dian. Rosa juga mau nggak mau juga harus mengambil gelasnya untuk diisi walaupun dengan tangan yang gemetaran.
Anggur mengalir jernih dengan warna merah pekat dalam gelas Rosa. Yang lainnya segera menegaknya dalam sekali minum. Rosa menghirup aroma anggur dalam gelasnya dan dia mengernyitkan keningnya, baunya sangat menyengat.
"Kenapa nggak minum?" Tanya Andre yang melihat gelas Rosa masih utuh.
"Mungkin adik Shaka ini seorang penikmat anggur, makanya dia sangat memperhatikan baunya saat akan meminum anggurnya. Lagipula anggur akan nikmat jika kita menikmatinya. Istilahnya adalah elegant. Ya, kan adik Shaka?" Tanya Reyhandra kepada Rosa dan lagi-lagi Rosa dipojok hanya bisa dengan mengiyakan segala perkataan Reyhandra.
"Xiao xiao, jangan khawatir. Ini masih banyak kok." Ucap Andre yang menandaskan gelas keduanya.
"Shaka, kamu minum aja. Liat aku, aku sudah menghabiskannya." Dian juga menandaskan gelas keduanya sampai kosong, bahkan dia menungging gelasnya sendiri memperlihatkan dia sudah menghabiskannya. Dian sudah mulai mabuk, walau itu baru gelas kedua.
"Yan, kamu udah mabuk. Cukup minumnya!" Andre menghentikan Dian yang kembali menuangkan anggur kedalam gelasnya.
"Jangan hentikan aku kak, biarkan aku minum lagi. Aku nggak mabuk." Kata dia yang sudah sempoyongan walaupun dia sedang duduk.
"Nggak mabuk kayak mana, bahkan duduk aja nggak tegak." Andre mendudukkan Dian dengan baik, dan mengambil gelas dari tangan Dian.
"Biarkan aku minum! Ini semua salah kalian karena sudah menindas...Rosa." Ucap Dian yang akhirnya pingsan. Tapi untuk dia pingsan, hingga kata terakhir yang menyebutkan nama Rosa nggak kedengaran.
"Hah..., ini bocah. Baru juga tiga gelas." Hela nafas Andre yang melihat tingkah laku adik bungsunya itu.
"Ini baru hidangan pembuka sebagai contoh untuk kamu, Rosalyn Saputri Vogart." Smirk Reyhandra diwajahnya, karena Rosa tercengang melihat Dian yang sudah tumbang pada gelas ke tiga.
Rosa hendak menegak minuman di gelasnya, walaupun dengan berat dia menutup matanya dan menghentikan nafasnya supaya bau menyengat anggur nggak dihirupnya. Tapi belum sempat Rosa meminumnya, pelayan kembali datang.
__ADS_1
Rosa dengan cepat membuang anggurnya kedalam baskom es selagi yang lain terpaku pada kehadiran si pelayan. Reyhandra menyadari klo Rosa membuang anggurnya, dan lagi-lagi Reyhandra tersenyum smirk. Tapi dia tidak meladeninya, biar Rosa melakukan apapun yang disukainya, asal dia tidak ketahuan saja.
"Apa lagi ini?" Tanya Andre yang melihat minuman warna-warni dalam gelas seperti tabung kimia, tapi bukan tabung kimia, tapi menyerupai tempat cat akrilik biasanya.
"Oh ini pesanan tuan ini." Jawab si pelayan menunjuk Reyhandra. "Klo begitu silakan menikmati, saya nggak akan mengganggu waktu tuan-tuan sekalian." Lantas si pelayan pun langsung pergi melayani yang lainnya.
"Nah adik Shaka, ini minuman yang populer di bar ini. Kamu harus mencobanya."
Reyhandra mendorong tabung minuman warna-warni itu kedepan Rosa. Rosa yang sedang makan buah untuk mengalihkan mereka supaya tidak ketahuan membuang anggur hanya melihat tabung itu dengan datar.
"Haaah, gue nggak tau ide aneh lo itu dan lo pesennya apa. Mari kita main aja." Ucap Andre bersemangat. "Rasanya kurang menyenangkan klo kita hanya minum-minum saja, ya kan?"
"Emang mau main apa?" Tanya Reyhandra kepada Andre, dan Rosa tetap diam menyimak saja dengan terus memasukkan anggur hijau dalam mulutnya.
"Kit main truth or dare. Gimana berani?" Tanya Andre yang menggoyang botol kosong dengan tangannya. "Caranya so simple, aku akan memutar botol ini dan arah yang ditunjukkan oleh muka botol ini, harus memilih antara truth or dare. Jika kamu memilih truth or dare, orang yang ditunjuk botol akan diberikan pertanyaan oleh yang lainnya, atau kamu bisa langsung meminum anggur didepan kamu." Senyum licik Andre.
"Ok, setuju." Jawab Reyhandra tidak masalah.
"Hmmm..., permainan yang cukup berani, tapi siapa takut." Rosa juga nggak keberatan.
"Aku ikut." Teriak Dian menunjuk tangannya ke atas, dia tetap ikut walau setengah sadar.
Andre hanya bisa tersenyum miris, melihat tingkah laku kekanak-kanakan adiknya yang seperti anak PAUD.
"Ok, kita mulai!" Kata Andre yang memutarkan botolnya.
Botol berputar dan terus berputar, hingga akhirnya dia diam dan menunjukkan kearah Andre. Andre tersenyum receh yang menyayangkan klo dirinya langsung kena pada putaran pertama, dan dia langsung mengisi gelasnya dan menegaknya sampai habis.
Rosa yang melihat Andre hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Dia sangat menyayangkan dirinya kenapa dia dengan begitu bego mau mengikuti permainan tidak jelas ini.
Botol kedua diputar, dan itu berhenti menunjukkan arah Reyhandra. Reyhandra masih tetap calm dan tidak bereaksi apa-apa, seolah-olah itu bukan masalah besar. Walaupun pada dasarnya itu bukan masalah, karena sebelum Reyhandra setuju akan permainannya, Reyhandra sudah memprediksinya.
"Bro, giliran lo. Milih apa?" Tanya Andre yang melihat Reyhandra masih tidak menegak minumannya.
"Gue pilih dare."
"Klo gitu, silakan bangun dan cari orang buat lo cium." Perintah Andre tersenyum licik, sambil mengerutkan bibirnya kearah Reyhandra menggodanya.
"Gila ini orang, kiss???" Sentak batin Rosa mendengarnya.
Reyhandra segera bangun dari duduknya dan mencari target. Rosa juga begitu, dia dengan cepat mengatur ekspresinya kembali. Tapi yang tanpa diduga oleh Rosa, Reyhandra mencium pipinya saat dia sedang asyik-asyiknya makan buah.
Rosa sontak terkejut memegang pipinya bekas dicium Reyhandra dan memberikan tatapan mau kepada Reyhandra. Namun Reyhandra hanya tersenyum polos tanpa dosa.
"Dasar laki-laki, ciuman pipi pertamaku." Rosa membuang pandangan dengan aura membunuh kearah Reyhandra. Andre yang tertawa melihat mereka, juga ditatapnya dengan galak, karena ini semua, sumbernya dari Andre.
Meskipun itu bukan ciuman pipi pertama Rosa, karena sudah direbut oleh kakak sama papanya juga si kembar, juga Alan, tapi itu ciuman pipi Rosa sebagai Shaka.
Andre tertawa ngakak melihat ekspresi Rosa. Sampai-sampai dia terpingkal-pingkal ketawanya dan Rosa hanya bisa mengambek, namun tidak terlalu diperlihatnya, karena didepan mereka, dia adalah cowok tulen, jadi bukan masalah.
"Dasar lo bro, serigala cari untung. Kenapa harus xiao xiao sih?"
"Kan lo nggak bilang aturannya gimana, jadi gue bebas mau nyium siapa. Lagipula aku juga cukup menyukai adik Shaka. Cowok cantik sepertinya siapa sih yang nggak suka?" Pancing Reyhandra dengan menekankan kata cantik.
"Udah cukup. Putaran ketiga. Xiao xiao, kamu. Kamu milih apa?" Tanya Andre bersemangat. "Klo kamu milih dare, kamu harus melakukan kiss dengan Reyhandra, bukan pipi tapi..." Kata Reyhandra menunjukkan bibirnya. Dan itu berhasil membuat Rosa bergidik ngeri dan Andre pin lagi-lagi tertawa dengan ekspresi Rosa. "Atau xiao xiao juga bisa milih truth, kamu akui siapa diri kamu sebenarnya!" Ucapa Andre serius, lalu kembali tersenyum.
"Dasar, psycho. Kamu emang nggak mau membiarkan aku lepas aja, kan? Panggilannya aja yang xiao xiao sayang." Kutuk Rosa dalam hatinya sendiri yang menyadari Andre, klo dia pria dengan dua wajah.
Reyhandra masih saja calm, karena dia tau Rosa nggak akan milih truth ataupun dare. Klo seorang Rosa memang Rosa yang dikenal oleh Reyhandra, disinilah Reyhandra berencana mengetes Rosa.
"Klo aku nggak milih, aku hanya harus minum minuman yang ada dimeja ini, kan? Bebas mau milih yang mana, kan?"
"Ya tentu saja.. karena ini semua nggak ada bedanya, kan?" Tanya Andre kembali bertanya.
"Baiklah klo begitu." Rosa segera mengambil gelas berisi minuman warna-warni, minuman terakhir yang dibawa oleh pelayan. Dia menegaknya sampai habis, menandaskan gelas yang satu dan melanjutkan ke gelas yang lainnya.
Andre yang melihat Rosa begitu berani buat minum bahkan menandaskan semua gas yang ada hanya bisa terbelalak kaget. Rosa menegaknya dalam sekali teguk, orang yang pandai minum alkohol sekalipun juga bakalan dengan cepat bisa minum. Hal itu berbeda dengan Reyhandra, yang tersenyum dan masih saya santai.
"Sudah bukan?" Tanya Rosa percaya diri, sesudah mengosongkan seluruh gelas minuman kecil itu. Rosa juga membuktikannya dengan menuang satu per satu gelas kecil itu didepan Andre dan jumlahnya ada dua belas buah.
"Buset dah ini cewek. Jago banget minumnya." Pikir Andre yang dibuat terbelalak oleh Rosa.
Rosa paham betul akan ekspresi Andre itu dan dia pun tertawa dan kemudian tersenyum elegan dicampur dengan senyuman smirk mematikannya. Akhirnya dia bisa juga membalas Andre.
"Ini bukanlah alkohol sesungguhnya. Melainkan ini hanyalah jus buah biasa dengan campuran berbeda oleh bartender ataupun mixologist, orang yang berkarya dengan minuman lengkap dengan filosofinya. Warna yang berbeda ini menunjukan jus buah yang berbeda-beda digabungkannya menjadi sesuatu yang baru. Menjadi seorang bartender bukan berarti mereka hanya bisa mengkreasikan alkohol menjadi cocktail saja." Jelas Rosa sambil mengambil minuman cocktail 50 persen alkohol yang dipesan Reyhandra dan kemudian ditaruhnya kembali ketempat semula.
"Seorang bartender juga harus bisa mengkreasikan minuman lain, sesuai dengan pesanan pembelian, misalnya saja jus buah." Sambung Rosa kembali sambil menyentuh gelas minuman berisi jus yang habis di minumnya.
"Asal Kak Andre tau saja, minuman jenis ini dinamakan dengan Mocktail atau Virgin Cocktail. Salah satu yang terkenal di antaranya adalah mocktail bernama Shirley Temple yang pertama kali dibuat tahun 1930an untuk aktris cilik asal Amerika Serikat Shirley. Temple yang juga menginginkan cocktail saat melihat orang tuanya mengonsumsi cocktail." Jelas Rosa sambil memperhatikan raut wajah Andre. Rosa kemudian menyilangkan kakinya layaknya sang CEO besar lalu melanjutkan penjelasannya.
"Nggak cuma namanya yang unik, kadang racikan bartender punya komposisi unik tersendiri seperti minuman bernama Bloody Mary yang terbuat dari jus tomat, kecap Inggris, saus tabasco dan sebagai hiasannya ditaruh batang seledri. Mungkin Kak Andre berminat untuk mencobanya, jadi jika kakak ke Amerika, jangan lupa untuk mencobanya ya. Dan ya, sebagai penikmat minuman, akan sangat memalukan jika kakak nggak tau hal sekecil itu. Adik harap, kakak untuk mempelajarinya, supaya tidak terlalu memalukan kedepannya. Atau Kak Andre bisa mencari adik untuk diminta bantuan, adik pasti akan dengan senang hati mengajarkan kakak. Lagipula kita ini sudah bersaudara, kan?" Kata Rosa menutup pembicaraannya dengan tersenyum bisnis.
__ADS_1
Dia hanya mau menegaskan, klo pun dia bisa ditindas oleh mereka tadi itu bukan berarti Rosa bodoh akan dunia seperti ini, walaupun sekarang dia menjadi cowok cantik. Andre yang mendengar itu hanya bisa diam terpaku saja, dia tidak menyangka klo seorang gadis kecil sudah mengalahkannya.
"Menarik, sungguh menarik cowok cantik." Gumam suara seorang laki-laki disebelah bilik tempat mereka duduk.