Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 12 : Siapa Sih Ini?


__ADS_3

Seperti biasanya Reyhandra sedang berkutat dengan komputernya di ruang kerja CEO-nya. Ruangan yang berdekorsikan sederhana tapi terkesan elegan itu sangat cocok dengannya. Dia terus bergelut dengan laporan-laporan yang harus diperiksanya satu per satu. Satu kata pun tidak bisa lepas dari matanya, apalagi itu adalah laporan keuangan, salah isi satu angka nol saja akan berakhir fatal bagi perusahaannya, Kedrey Group.


Reyhandra benar-benar tenggelam dengan pekerjaannya saking banyaknya laporan yang harus diperiksa di atas mejanya. Gaya bangun tidur yang acak-acakan dan dengan sikat gigi di mulutnya, serta sebuah laporan yang dibacanya ditangannya menjadi khas Reyhandra kerap hampir tiap pagi. Image yang tidak sesuai dengan kepribadian luarnya yang dikenal oleh gadis-gadis di luar sana.


Selain celana kantoran yang akan dikenakannya pada hari ini, semuanya tidak ada yang normal bagi seorang Reyhandra. Atasannya yang hanya berupa handuk yang di sangkut di lehernya, membuat dada bidangnya terekspos begitu saja. Membuat wanita mana pun yang melihatnya pasti akan goyah pertahanannya.


Tadi malam, sesuai yang dikatakannya pada Hans, dia memang harus nginap di perusahaan lagi. Karena saking banyaknya laporan yang harus diperiksanya. Jadi efeknya mulai terlihat dan terasa pada pagi ini, habis mandi dia akan langsung dengan laporannya.


Cara berpakaiannya mungkin memang tak normal, karena hanya menggunakan bawahannya saja, tapi cewek manapun yang melihatnya pasti akan goyah dengan postur badannya itu. Pinggang yang kokoh, bahu yang lebar, dada nan bidang serta otot perut yang terus dilatihnya itu sungguh menggoda iman para wanita mana pun. Mereka pasti akan berpikir klo Reyhandra adalah ciptaan Tuhan yang sempurna.


Tak hanya postur tubuh yang bisa dinikmati dari seorang Reyhandra, namun wajahnya yang memesona juga tak kalah menggodanya. Pahatan rahang yang tegas, hidung yang mancung serta tatapan mata young brown yang tajam nan dingin itu setara dengan julukannya 'Wolf of Ice' itu.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Reyhandra yang mendengar ketukan dari luar segera bangkit dari kursinya dan membuka kunci pintunya. Lalu seorang laki-laki langsung menerobos masuk membawakan sebuah kantong plastik yang dijinjing ditangannya, lalu meletakkannya di atas meja tamu. Sedangkan laki-laki itu langsung duduk merebahkan badannya di sofa. Dia kelihatan masih begitu ngantuk, walaupun laki-laki itu sudah stand by dengan pakaian kantorannya.


"Haa..., apes banget hidup gue gara-gara lo, tau nggak? Pagi-pagi buta udah ditelepon buat beli lo sarapan. Untung lo atasan gue sekaligus sahabat gue, klo nggak, ogah banget gue bangun jam enam pagi buat beli sarapan." Keluh laki-laki sebaya Reyhandra itu berdemo padanya. "Mana masih dingin lagi, tidor belum cukup karena gue pulangnya pagi, ehhh..., tau-taunya lo pada suruh bangun gue pagi buta lagi."


Reyhandra mengunci pintunya kembali dan mengikuti laki-laki yang masuk tadi lalu menemaninya duduk di sofa. Reyhandra duduk dengan mensilangkan sebelah kakinya dan dengan tangan yang disilangkannya juga, menatap lurus ke arah laki-laki itu.


Ya, laki-laki itu adalah sahabatnya, Andrea Rocher. Sahabatnya semasa kecilnya juga sebagai tangan kanannya di kantor. Dia memegang peranan penting di perusahaan yang dikelola oleh Reyhandra, yaitu sebagai Manajer Personalia. Tugasnya yaitu merencanakan, mengembangkan, hingga menjaga kegiatan yang berhubungan dengan personalia.


Andre mulai mengambil peran dari prosedur tentang administrasi, prosedur perekrutan karyawan baru, seperti wawancara, tes dan lainnya. Selain itu, Andre juga mengurus berbagai kebutuhan karyawan, seperti asuransi kesehatan, ketenagakerjaan, dana pensiun, dan lain sebagainya.


Bisa dibilang tugasnya mungkin terkesan ringan dimata karyawan lain karena hobinya yang suka pergi ke bar dan ngonta-nganti cewek. Bahkan dia sampai mendapatkan julukan 'Si Buaya dari Personalia' dari karyawan perusahaan.


"Jadi kenapa? Nggak suka lo gue suruh? Ya udah, balikin saldo gue yang gue kirim untuk lo?" Jawab Reyhandra sarkas dan menerima protes dari Andre.


"Ahhhh..., jangan gitu dong Pak Bos, masa galak amat sih. Mana mau punya istri lagi, dikontrol dong Pak Bos."


"Diem lo, jangan banyak bacot. Oh ya, yang gue suruh, udah lo cari tau?" Tanya Reyhandra yang mulai melahap sarapannya itu.


Dia kelihatan sangat lapar, karena tadi malam dia banyak menggunakan kapasitas otaknya untuk berpikir, jadi butuh asumsi yang banyak pula, klo tidak dia nggak akan bisa menghadiri meeting bulanan nantinya. Jadi akan sia-sia semua hal yang sudah dilakukan selama ini, capek-capek dia bergadang malam demi semua persiapan ini.


"Oh, yang kamu suruh cari tentang istri kecilmu itu, kan? Nggak ada yang mencurigakan darinya kok, dia aman bro, nggak ada kekasih gelap apalagi suami yang disembunyikan."


"Bukan itu bego yang gue suruh cari." Potong Reyhandra yang melemparkan daun salad ke arah Andre. "Gue itu suruh lo cari tau tentang Rosa yang cross dressing, itu maksud gue. Apa yang dia kerjakan hingga dia sampai melakukan cross dressing begituan. Gitu, paham nggak?"


"Hahaha, iya gue paham, becanda aja Pak Bos, becanda." Senyum Andre sambil cengengesan.


"Cuma lo yang berani becanda sama Bos lo." Ketus Reyhandra terus memasukkan bubur kedalam mulutnya.


"Menurut yang gue ketahui, Rosa itu nggak ada sangkut pautnya dengan segala urusan perusahaan papanya, jadi dia bersih. Segala kelakuannya juga nggak ada yang mencurigakan, selain hanya mencoba untuk bersenang-senang."


"Bersenang-senang? Maksudmu dia suka main cewek atau cowok?" Tanya Reyhandra yang bingung akan makna bersenang-senang yang dimaksud oleh Andre.


"Bro, napa sih otak lo itu selalu mikirnya yang aneh-aneh. Kumat lagi otak lo itu kan, ya? Mana mungkin dia suka sama jenis. Nggak mungkin banget, gue yakin 100 persen. Dan jika lo tanya kenapa gue yakin, itu karena insting gue berkata gitu. Aishh..., bro, bro, meresahkan juga kadang otak lo tu, ya? Dia tu bersenang-senang karena dalam keluarganya dia terlalu dikekang, bukan dikekang juga sih, apa ya bilangnya, ya, dia terlalu dibatasi." Ucap Andre heboh sambil menjentikkan jarinya.


"Nggak usah gitu juga, kali? Keep calm aja, kayak biasa lo lakukan. Lo tu ya, klo udah didepan gue, hilang dah semua image lo yang biasa lo tampilkan didepan cewek-cewek luar sana."


"Tau aja lo tentang gue." Jawab cengengesan sambil mengambil telur yang ada dalam kantong plastik bubur Reyhandra.


"Kenapa lo ambil telur gue?" Tanya Reyhandra bingung karena telurnya diambil dan dikupas oleh Andre.


"Karena gue mau."


"Yang suruh lo mau siapa? Ada gue suruh? Nggak kan? Sini kembaliin telur gue, kelupaan gue tadi karena sibuk mendengar info yang yang nggak berbobot lo itu. Sini, kembalikan!" Perintah Reyhandra sambil mengulurkan tangannya.


"Udah keburu gue makan." Ucap Andre berwajah polos dengan mulut yang penuh telur itu.


"Saldo yang gue suruh cari tau tentang Rosa gue potong, anggap aja sebagai bayaran telur gue yang lo makan."


"Eh, lo nggak bisa gitu dong."


"Apa yang nggak bisa, lo bisa kayak gitu, masa gue nggak? Lo pikir gue nggak bisa, karena nggak gue lakuin? Naif banget sih. Eye for eye and blood fir blood, you know it very good, I sure it." Jawab Reyhandra tersenyum smirk karena merasa menang dari Andre.


"Terserah lo, lah. Lo yang Bos, apalah daya gue sebagai karyawan kecil yang asyik lo suruh ini itu. Ternista gue ini, ternista." Kata Andre sambil memperagakan mengelap air mata yang tidak keluar itu.


"Dasar, bocah drama. Klo lo ikut kontes dengan bakat lo itu, pasti lo udah jadi pemenangan Oscars nomor satu itu."


"Ya lah tu."


Andre, bekerja sebagai Manajer Personalia. Namun ada juga yang nggak tau dengan pekerjaan serabutan seorang Andre dari Reyhandra, yaitu sebagai informannya. Andre kerap kali disuruh oleh Reyhandra untuk menyelidiki sesuatu, contohnya saja di kasus Rosa yang melakukan cross dressing. Pasti Andre yang ditugaskan Reyhandra untuk mencari tahunya.


Pekerjaan Andre ini hanya Reyhandra dan Hans yang mengetahuinya, juga sebagian bodyguard penting Reyhandra. Andre termasuk salah seorang orang Reyhandra yang jenius, hanya saja kebiasaannya itu yang bikin geleng kepala, terlalu suka main cewek juga langganan tetap dari Bar.


Selain dari dua kebiasaan itu, yang lainnya semuanya ok dari seorang Andrea Rocher. Dia seorang yang friendly dan juga mudah bergaul kemana pun dia pergi, inilah bakatnya sebagai seorang informan yang berguna bagi Reyhandra. Namun disaat yang sama juga, Andre bisa menjadi seorang yang cukup serius tak kalah seriusnya dari Reyhandra.

__ADS_1


"Oh ya, Rey. Bagaimana acara ultah kakak ipar kemaren? Acara kalian juga dilaksanakan pada saat yang sama, kan?" Tanya Andre yang mengubah posisi duduknya menjadi tegak, tanda bahwa dia sedang serius.


"Maksud lo pertunangan?" Tanya Reyhandra balik. Reyhandra sedang memakai pakaian kantornya, karena sebentar lagi sudah memasuki waktu kantor.


"Ya iyalah, emang ada yang lain? Sangat di kasihankan gue nggak bisa hadir di acara lo itu, kan seharusnya gue nggak penasaran lagi dengan wajah kakak ipar gue."


"Kakak ipar? Yang bener saja lo. Dia itu lebih muda dari lo, sepuluh kali lipat lebih muda dari lo, klo dia ketemu sama lo, harusnya dia tu manggil lo paman, tau?" Sarkas Reyhandra kepada Andre.


"Kayak nggak sadar umur sendiri aja. Minimal sadar diri kek. Tapi btw gue denger-denger klo si Rosa itu cantik banget ya?"


"Hah?"


"Ah, bukan gitu maksud gue. Gue nggak ada niat buat ngeganggu atau mau ngerebut istri kecil lo itu. Hanya saja gue penasaran dengan wajah kakak ipar gue. Ah bukan, gue penasaran dengan wajah Rosa aja. Soalnya banyak yang bilang dia jelek makanya jarang dikasih keluar, ada juga yang bilang dia tu cantik banget. Jadi gue penasaran, sebenarnya ini yang mana dulu yang bener, ya kan?"


"Klo menurut gue sih dia cukup cantik." Pikir-pikir Reyhandra sambil memakai dasinya, lalu segera menuju ke meja kerjanya.


"Jadi lo ngaku klo dia itu cantik?" Tanya Andre kepo dan segera pindah ke kursi depan Reyhandra. "Makin penasaran aja gue sama si Rosa ini."


"Jangan macem-macem lo sama dia, dia mangsa gue." Ancam Reyhandra kepada Andre.


Andre yang mendapat sinyal mematikan dari Reyhandra langsung ciut dan kembali duduk ke kursinya. Padahal tadinya dia hampis saja menaiki meja saking penasarannya dengan sosok Rosa.


Memang nggak banyak yang tau tentang Rosa, termasuk bagaimana rupanya dia. Karena dia memang jarang diajak ke acara luar, maksudnya seperti acara makan bisnis. Ayahnya sangat menjaganya, dia nggak mau mengekspos Rosa ke dunia luar, karena dia nggak mau anaknya terlibat sama sekali dalam dunia bisnis yang bagaikan arena laga ular.


"Klo menurut gue sih, cantiknya Rosa itu unik, dia berbeda dengan yang lain. Mungkin cewek lain sama cantiknya dengan dia, tapi di mata gue dia tetap punya sisi lebihnya, rasanya dia lebih elegant, kharismatik and she so unique."


"Hemmm...., bau-bau cinta ini."


"Nggak, gue nggak bisa mencintainya meskipun dia sangat cantik. Gue nggak bisa, lo juga tau sendiri, kan?"


"Ya gue tau, dan gue juga nggak bisa ikut campur dalam masalah lo itu. Bukan gue nggak mau, hanya saja gue dengan Rosa itu..., rasanya tak pantas aja klo dipikirkan."


"Ya, gue nggak maksain lo buat setim dengan gue, ini perang gue sendiri. Gue yang memutuskannya untuk memberantas sampai akhir, sampai itu terpuaskan." Ucap Reyhandra yang sedang fokus dengan laporannya.


"Entahlah, gue juga nggak tau mau bilang lagi." Jawab Andre yang merasa kebingungan sampai-sampai dia menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. Entah mengapa dia merasa makin kesini makin berat arah pembicaraannya.


Suasana menjadi hening sesaat. Andre yang nggak tau mau membicarakan apa lagi karena memang mereka sudah menghabiskan waktu hampir dua jam untuk berbicara dan membahas ini itu. Lagipula kini Reyhandra juga sedang berkutat dengan laporannya, jadi jarang-jarang dia bisa meladeni orang didepannya.


"Ini kok suasana jadi kayak gini ya? Emang nggak penasaran lagi sih klo seorang Reyhandra sedang bekerja dia akan mengabaikan semua hal didepannya, sampai-sampai klo pun presiden didepannya sekalipun pasti bakalan dia anggurin sekalian, kecuali memang punya bisnis dengannya. Hah...., tertekan batin gue klo kayak gini terus. Kenapa bisa-bisanya gue tahan berkawan dengannya dulu, ya?" Pikir Andre sambil menghela nafas, lalu kembali melihat Reyhandra yang masih saja fokus pada laporannya serta komputernya.


"Ini orang kenapa fokus kali sih sama laporan atau komputernya. Apakah itu lebih menarik baginya. Padahal dia nggak perlu terlalu serius untuk mencari uang, klo pun dia nggak cari uang sekalipun dia bakal hidup ini sampai tiga keturunannya, mungkin sih. Ah..., pengen kali mengambil laporan itu dan melemparnya dalam tong sampah. Tapi tetapi, gue orang yang nggak berkepentingan baginya, hanya sebatas sahabat kecil, karyawan yang bisa disuruh kerja rodi. Gue nggak masalah dengan gajinya karena dia selalu menepati kata-katanya, hanya saja jika dia mau, mau malam itu sedang tidur, lagi di bar, bahkan sedang di toilet sekalipun harus segera stand by didepannya." Pikir Reyhandra lagi, dia melihat Reyhandra lekat-lekat.


"Napa lo liat gue segitunya, suka lo sama gue?" Tanya Reyhandra yang sadar klo dia dilihat oleh seseorang dengan pandangan yang nggak biasa.


"Ihhh..., gue masih lurus ya. Nggak banget gue suka sama lo, tapi klo duit li sih gue mau. Tapi btw soal kakak ipar, lo bilang kan klo dia cantiknya itu unique, siapa cantikan dia dengan si Evangeline paca lo itu?" Tanya Andre mencoba mengorek informasi dari Reyhandra, karena baginya itu pasti akan sangat menyenangkan untuk mengetahuinya.


"Yah, gue sih..."


Tok... Tok... Tok...


Reyhandara menghentikan perkataannya untuk menjawab pertanyaan dari Andre barusan karena ada orang yang mengetuk pintu ruangannya. Mendapati hal seperti itu, Andre mendecih jengkel, padahal sedikit lagi dia bisa mendapatkan ghibah yang begitu hangat di kantor ini.


"Yah ini memang sangat disayangkan, tapi itu bukan masalah, meskipun gue ingin menyebarluaskan hal itu tetap nggak bisa juga, karena pertunangan Reyhandra itu masihkah rahasia umum, hanya beberapa orang orang yang mengetahuinya." Pikir Andre lagi.


"Siapa?" Tanya Reyhandra menanyakan orang dari luar yang mengetuk pintu ruangannya.


"Saya Tuan, Hans." Jawab suara dari luar.


"Oh, Hans, masuk aja, pintunya nggak saya kunci." Jawab Reyhandra mempersilahkan Hans masuk.


"Sejak kapan lo buka kunci pintu. Yang gue tau, tadi saat gue masuk lo langsung mengunci pintunya lagi, kan? Jadi sejak kapan lo bukainnya." Tanya Andre penasaran, kapan Reyhandra membukakan kunci pintunya padahal ari tadi Reyhandra duduk sarapan didepannya dan berbincang-bincang dengannya.


"Saat gue berpakaian tadi. Kan gue ada bangun dari sofa dan mendekati pintu." Jelas Reyhandra kepada Andre.


"Ah, ya saat lo mengikat dasi lo itu ya? Gue lupa." Jawab Andre lagi yang hanya bisa termangut-mangut.


Hans membuka pintu ruangan Reyhandra, dia sudah siap bekerja untuk hari ini. Segala schedule sudah dia siapkan dalam bentuk catatan papan list-nya. Hans berjalan mendekati meja Reyhandra dan berdiri disampingnya menyampaikan jadwal hari ini.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Hans saat dia berdiri di samping Reyhandra.


"Pagi, Hans. Ok, jelaskan schedule saya hari ini."


"Baik, Tuan. Hari ini untuk pagi Anda akan free hanya perlu memeriksa laporannya dan rapat bulanan perusahaan, lalu di waktu siang Anda punya jadwal makan siang dengan klien dari Amerika kemaren. Dan untuk selanjutnya sudah habis." Jelas Hans kepada Reyhandra.


"Apalah sudah semua?" Tanya Reyhandra yang merasa sangsi klo jadwalnya hanya segitu saja, karena biasanya dia memperoleh jadwal yang sangat padat.


"Ya Tuan, sudah semuanya. Tuan besar bilang untuk sementara ini Anda nggak perlu terlalu sibuk, katanya cukup karyawan yang menanganinya, kecuali bisnis dengan klien dari Amerika hari ini."

__ADS_1


"Ah ya, kakek lagi ya? Kenap sih orang tua ini nggak bisa diam sebentar saja?" Gerutu Reyhandra pada dirinya sendiri.


"Oh ya Tuan, Tuan besar bilang untuk pulang ke rumah untuk makan malam. Lebih baik anda pulang lebih awal, karena ada yang mau di diskusikannya dengan Anda."


"Ok, aku ngerti. Orang tua ini apa lagi maunya coba? Klo bukan masalah pernikahan lagi. Kemaren pertunangan dan sekarang harus menyiapkan segala hal untuk pernikahannya." Ucap Hans sambil memijitkan keningnya.


"Maksud lo resepsinya?" Tanya Andre bersuara.


"Ya, klo bukan itu apalagi coba?"


"Ah Tuan Andre, selamat pagi, saya kurang memperhatikan Anda tadi klo Anda duduk didepan Tuan." Sapa Hans pada Andre.


"What?? Dati tadi gue didepan Reyhandra, lo nggak liat keberadaan gue?" Teriak Andre dalam hatinya. "Ah, nggak apa-apa kok. Selamat pagi, Hans. semoga harimu menyenangkan." Sapa Andre balik sambil tersenyum, dan terlihat sedikit dipaksakan. "Ah marahnya, moga lo minum kopi lupa narok gula." Kutuk Andre dalam hati lagi untuk Hans.


Andre memperhatikan jam tangannya, ini sudah masuk jam kerja kantor. Dia juga harus segera bergegas untuk kembali bekerja. Sebagai Manajer Personalia, dia juga harus bisa menjadi contoh bagi karyawan dibawahnya juga, nggak hanya seorang CEO yang harus tepat waktu dan menjadi contoh untuk karyawan yang lain.


"Gue juga harus kerja nih sekarang, banyak kerjaan yang harus gue urus. Ok, bye bro, moga hari lo menyenangkan." Kata Andre beranjak ari kursinya dan menepuk-nepuk bahu Reyhandra ringan.


Reyhandra hanya sekedar mengangguk, dan Hans sedikit membungkukkan kepalanya, meskipun dia seorang sekretaris, Andre tetap di atasnya. Andre segera bergegas ke arah pintu dan saat akan membuka knop pintunya dia kembali menoleh kebelakang.


"Bro, malam nanti main yuk?" Tawar Andre kepada Reyhandra.


"Kemana?"


"Tempat biasa. Gue tunggu di sana, gue denger adik gue mau manggung, sekalian kita bersenang-senang, udah lama juga lo nggak keluar buat hangout, kan?"


"Ok, gue usahain." Jawab seadanya.


"Nggak usah di usahain, gue tunggu lo di sana, tempat bisa, ya!" Kata Andre, lalu dia segera membuka pintu dan melanggeng pergi.


Sesudah kepergian Andre tinggallah Reyhandra dan hans berdua. "Apa adiknya Andre biasa manggung." Tanya Reyhandra kepada Hans.


"Ya Tuan, adiknya tuan Andre terbiasa manggung di Bar langganan Tuan. Saya denger-denger sudah beberapa kali dia manggungnya, dan kemaren mereka membentuk band dua orang. Seorang laki-laki temannya yang menjadi vokalis dan dia sebagai gitaris."


"Apakah dia punya bakat itu?"


"Ya, setau yang saya denger, band yang terbentuk dua orang kemaren tu cukup mengundang banyak apresiasi dari penontonnya, bahkan Manajer di sana mencoba merekrut mereka sebagai penyanyi tetap di Bar itu." Jelas Hans panjang lebar.


"Ok, aku ngerti. Sepertinya aku cukup tertarik untuk melihatnya."


"Ya, Tuan, tapi Anda jangan lupa untuk memenuhi undangan Tuan Besar atau dia akan marah nantinya." Peringat Hans kepada Reyhandra, hanya Hans yang berani berkata seperti itu pada Reyhandra.


"Iya Hans, iya. Kau ni ya, makin hari makin bawel saja. Sama seperti kakek." Jawab Reyhandra yang sedikit ngegas. "Seharusnya dulu aku tau klo kamu akan sebawel ini." Gerutu Reyhandra lagi dengan nada yang sedikit lebih kecil lagi.


"Tuan, apakah Anda membicarakan sesuatu barusan?" Tanya Hans kepada Reyhandra karena dia kurang jelas apa yang di gumamkan oleh Reyhandra barusan.


"Ah, bukan masalah besar. Aku hanya bilang klo aku harus segera menyelesaikan laporan-laporan ini untuk menemui klien ku itu."


"Oh baguslah jika Anda berpikir begitu. Akan ada baiknya jika kita sampai 10 menit sebelum acara makan dengan klien Anda itu dimulai. Itu akan memberikan Anda waktu untuk memikirkan strategi Anda, karena klien kali ini bukanlah klien biasa, dia memegang hampir satu per tiga bisnis di Amerika."


"Ya, aku ngerti. Kamu boleh kembali."


"Baik, Tuan." Hans membungkukkan badannya sedikit lalu mundur tiga langkah dan langsung pergi ke arah pintu dan akhirnya lenyap dibalik pintu itu.


Reyhandra menghela nafas berat sambil mengusap rambut dengan kedua tangannya. Sebenarnya bukan kerjaannya yang berat, hanya saja beban untuk pernikahan itu yang berat. Karena Reyhandra sudah memutuskan untuk melajang selama sisa hidupnya, dan untuk balas dendam dia akan menggunakan cara yang lain, cara tanpa harus memiliki ikatan ikrar antara kedua belah pihak.


...***...


Rosa sedang mengelap rambutnya dengan handuk dan mengeringkannya dengan hairdryer. Semalam adalah malam yang sangat melelahkan bagi Rosa, meskipun begitu rasanya sangat menyenangkan.


Karena semalam adalah ulang tahunnya, yang dimana dia adalah tokoh utamanya, Rosa harus melayani dan meladeni tamunya dengan baik, tidak boleh meninggalkan tamu sendirian, apalagi itu tuan rumah, begitulah etiket perjamuan. Untung nggak ada yang namanya kata-kata sambutan disini, karena Raymond yang memberikan kata-kata sambutan itu.


Kado hadiah ulang thun Rosa tertata rapi di meja tamu kamar Rosa. Meskipun tidak banyak tapi itu cukup besar. Tak ada yang berubah, tetap seperti biasa, orang-orang di sekeliling Rosa akan begitu sangat antusias tentang apapun itu asalkan ada kaitannya dengan Rosa.


Untuk hari ini nggak ada agenda yang berarti bagi Rosa, makanya sehabis mandi dan mengeringkan rambutnya, Rosa akan kembali berbaring di kasurnya lagi. Membalaskan pesan dari teman-temannya, karena semalam dia cukup sibuk dan sangat capek walau itu hanya sekedar membalas pesan.


Satu per satu pesan chat yang masuk kepadanya dibaca dengan saksama. Sebagian besar itu adalah dari group Camaba-nya. Begitu banyak pesan yang masuk, bahkan sampai ribuan pesan yang masuk.


"Buset banyak bener pesan dari ini group, untung ada di silent-kan, klo nggak bakalan macet ini handphone. Ternyata dari group Camaba, mereka semua adalah orang yang hiperaktif dalam berteman, rata-rata percakapannya sama chat seharian dengan teman akrab biasa. Sungguh luar biasa."


Rosa kembali membuka chat dari yang lainnya, hingga ada dua pesan dari nomor yang tak dikenal. Rosa langsung membuka dan membacanya.


"Yo, apa kabar, Shak? Moga lo baik-baik aja, ya?"


"Gimana, ada plan this night? Gue mau ngajak lo manggung. Jika memang lo ada waktu."


"Pesan yang aneh, biasanya orang akan bilang dirinya dulu. Tapi ini nggak ada perkenalan apa-apa, apalagi sekedar formalitas. Pakek langsung sapa dengan akrab, emangnya siapa sih ini?" Teriak hati Rosalyn menjerit.

__ADS_1


__ADS_2