
"Tuan, ini sudah nggak awal lagi. Jam hampir menunjukkan setengah sembilan. Anda akan berangkat pada jam sembilan, kan? Lebih baik tuan segera bersiap-siap?" Beritahu Hans pada Reyhandra yang masih saja setia dengan dokumen yang menumpuk didepannya itu.
"Bersiap-siap? Emang ada rapat apa malam-malam gini? Seingat aku nggak ada rapat dengan klien malam ini? Ahh, Hans. Jangan ngada-ngada deh kamu ini. Kamu nggak liat apa klo aku sedang bergelut dengan tumpukan laporan ini? Ini semua harus siap malam ini, klo nggak pasti bakal numpuk lagi seperti kemaren. Emangnya kamu mau membereskan semua sisa dokumen ini nantinya? Nggak, kan? Jadi lebih baik jangan becanda saat sedang serius seperti ini, ok?" Tutur Reyhandra yang marah-marah panjang lebar seperti tanpa ada mendung, tapi udah hujan aja.
"Tuan, apakah kamu amnesia sesaat? Bisa-bisanya kamu menyebabkan masalah tapi lupa untuk menuntaskannya. Dan juga tuan, kamu sudah kehilangan citra wolf mu itu ya, klo sudah bersama dengan saya saja? Saya jadi bertanya-tanya kemana sebenarnya lenyap sifat mu yang itu? Kemana larinya, apakah sudah dibawa pergi oleh Nona Angel tadi pagi?" Jawab Hans yang dengan tajam berani untuk mengkritik Reyhandra.
Jleb, Reyhandra langsung nggak bisa berkata apa-apa lagi sesudah Hans membuka mulutnya yang tajam itu, setajam predator bunga piranha. Kata-katanya itu pas tepat mengenai sasaran yang membuat harga diri dan segala citranya Reyhandra menjadi runtuh dan terluka tak tertolong lagi mungkin jika terdengar oleh orang lain.
"Ahh, Hans. Kata-kata mu itu dan segalanya itu makin hari makin jago aja. Namun sayang, malah aku yang selalu kena omelan itu. Kadang-kadang aku menjadi bertanya-tanya, kenapa bisa kamu selama ini menyembunyikan bakat seperti itu? Kenapa nggak buka jasa omel keliling aja." Keluh Reyhandra pada Hans.
Mendengar itu, Hans tetap aja masih saja setia untuk berdiri seperti yang biasa dia lakukan, hanya mulutnya saja yang lebih aktif membalas segala perkataan Rosa.
"Itulah saya, tuan. Klo saya nggak punya bakat seperti itu, gimana bisa saya masih bertahan di samping tuan yang saya yakin sesuai dengan sifat keras kepala tuan itu pasti nggak akan mau mendengarkan segala perkataan saya jika saya nggak lebih unggul dari tuan. Dan itu terbukti bahkan kakek Anda sendiri saja Anda bantah sampai membuat umur tuanya itu semakin tambah tua lagi."
"Wahhh Hans, kamu semakin jago mengatai ku, ya. Untung kamu udah ku anggap seperti kakak sendiri." Potong Reyhandra menjadi tak tahan jika terus membiarkan Hans seperti itu.
"Nggak tuan, biar saya tetap bicara. Akan saya lanjutkan. Kadang saya sendiri pun merasa takjub pada diri saya sendiri. Kenapa bisa saya masih tahan untuk tetap bekerja di samping tuan sebagai sekretaris, yang banyak pekerjaannya itu melebihi kerja rodi. Belum lagi klo tuan bilang pagi buta udah pada stay ditempat, harus segera hadir. Dan kadang juga tengah-tengah malam, yang ayamnya aja pada tidur semua. Emang tuan kira sekretaris itu kelelawar? Saya bukan Batman, tuan. Mungkin klo itu adalah orang lain, belum juga satu hari, setengah hari saja langsung minta resign. Yah, meskipun nggak dipungkiri lagi klo gajinya itu tinggi. Namun apa fungsinya juga klo gajinya tinggi namun suka melayang." Keluh Hans panjang lebar pada Reyhandra yang mau tak mau Reyhandra harus mendengarnya.
Reyhandra yang terus membolak-balikan lembaran dokumennya, dia nggak bisa membaca atau mengingatnya satu kalimat pun. Karena setiap kata dan rangkaian kalimat yang keluar dari mulut Hans, masuk lewat telinga langsung direspon oleh otak kecil dan menuju ke jantung. Langsung mak jleb, pas mengenai hati nurani.
"Kamu jangan maun tuduh gitu ya, Hans. Mana ada sekretaris yang nggak betah bekerja di bawah aku ini. Buktinya si Carent itu masih aja selalu absen wajahnya tiap pagi saat aku melihatnya. Nggak pernah alpa sekalipun." Kata Reyhandra membela dirinya, bukan membela sih sebenernya. Melainkan itu adalah bentuk pertahanan harga dirinya itu. Orang yang di kantor itu dianggap sebagai tiran kerja rodi.
"Nona Carent itu berada dalam kasus yang berbeda tuan. Dia betah karena sedang memata-matai perusahaan kita. Tapi ngomong-ngomong tuan, sampai kapan Anda akan membiarkan Carent dan membereskannya?" Tanya Hans yang nggak paham akan rencana tuannya itu, selalu saja berubah dan nggak jelas itu.
__ADS_1
Yang seperti bunglon yang selalu berubah-ubah warna, tanpa warna yang menetap. Begini juga dengan rencana Reyhandra, pasti bakal ada plan B sampai Z yang nggak pernah bisa ditebak.
Dan sampai sekarang masih belum ada orang yang bisa menandingi tuannya itu dalam masalah mengatur rencana. Bisa saja orang seperti itu nggak pernah akan ada atau belum muncul aja. Dinilai dari sifat ambisius Reyhandra itu pasti sangat sulit untuk mendapatkan lawan yang setara. Karena Reyhandra nggak hanya sekedar menanamkan ambisi, tapi juga menumbuhkan sifat ambisius yang gila.
"Aku punya cara sendiri untuk membereskan Carent. Tunggu setelah semua ini kelar, pasti ada waktu dan cara yang tepat untuk membereskan Carent. Namun agak sayang juga untuk melepaskan Carent, karena dinilai dari progres kerjanya itu, dia punya kemampuan yang kita butuhkan. Jadi akan lebih baik jika kita juga bisa meraup keuntungan darinya tanpa kerugian. Dan itu bukanlah masalah besar. Kamu cukup awasi dia sehari-hari aja, sebelum kita benar-benar bergerak untuk membersihkan semua serangga yang ada di sarang kita ini." Tutur Reyhandra berwibawa dan kembali serius dan nggak becanda lagi.
"Baik tuan, seperti yang Anda prediksikan, juga masih belum ada pergerakan juga dari pihak sana maupun dati Carent." Lapor Hans menurut pengamatannya.
"Baguslah, tapi kamu harus tetap waspada. Karena suatu variabel bisa saja muncul dalam suatu operasi. Selalu buka matamu itu, Hans!"
"Baik tuan." Jawab Hans dengan patuh.
Hans adalah asisten ayahnya Reyhandra dulu sebelum ayahnya itu meninggal karena insiden malam berhujan itu. Hans sudah mengikuti ayah Reyhandra sejak dia masih muda. Dan dia masih saja setia sampai ayahnya Reyhandra itu meninggal.
Kecuali itu adalah perintah dati kakeknya yang udah tua itu, kakek yang terus saja mendesaknya untuk menimang cucu, dan selalu saja merepet membandingkannya dengan tetangga sebelah.
"Baiklah Hans. Kita akan mengurus Angel malam ini. Mengurus ekor ku yang selalu saja melekat dan menyebalkan itu. Aku akan bersiap-siap dan mandi terlebih dahulu setelah dokumen yang satu ini." Jelas Reyhandra pada Hans.
"Baik, haruskah saya menyiapkan pakaian untuk tuan?" Tanya Hans lagi karena sampai pakaian Reyhandra juga menjadi bagian Hans. Karena selain sebagai sekretaris Hans juga bekerja sebagai asisten pribadi Reyhandra, juga sebagai bodyguard yang siap pasang badan. Bisa dikatakan, Hans adalah wujud nyata dari multitalent yang dilatih oleh ayahnya Reyhandra dahulu.
Hans dalam kuliahnya dia biayai oleh ayahnya Reyhandra, karena Hans adalah seorang yatim piatu. Karena bakatnya yang mengagumkan itu, makanya ayahnya Reyhandra mensponsorinya. Dan sebagai wujud balas jasa Hans akan jasanya itu, Hans akan mengabdikan dirinya itu pada keluarga Kedrey.
"Siapkan aku baju yang mewah, Hans, karena aku akan pergi berperang. Haruslah sangat elegant, kita akan membuat Angel nggak bisa berpaling dariku. Ih ya, trik selanjutnya adalah tolong pesan aku sebuah buket bunga juga. Itu adalah element penting dalam sebuah makan malam kencan yang romantis. Begitulah kata guru, akting itu haruslah sempurna." Smirk Reyhandra memikirkan rencananya itu.
__ADS_1
"Baik tuan. Tapi buket yang seperti apa yang tuan inginkan?" Tanya Hans lagi sebelum dia pergi menunaikan perintah itu.
"Ahhhh, aku nggak tau. Kamu handle aja bagian itu. Klo kamu emang nggak tau tanya aja pendapat florist di sana itu. Klo nggak, kamu juga bisa nanya pada Andre. Tapi opsi ini nggak nyaranin banget klo udah malam seperti ini."
Kata Reyhandra lagi yang ujung-ujungnya memperingatkan Hans. Jangan sampai kejadian kemarin malam yang terjadi oleh Reyhandra malah terulang sama Hans. Dan pada paginya Andre akan membuat ulah di ruangannya pagi-pagi sekali.
"Baik tuan. Saya mengerti. Dan saya akan memilih bunga yang diinginkan dan disukai oleh Nona Angel nantinya. Tuan tenang saja." Yakinkan Hans pada Reyhandra.
"Emang kamu punya pengalaman kencan apa? Malah sok-sokan bisa meng-handlenya. Pengalaman cinta kamu itu nol tau."
"Tuan jangan meremehkan saya. Orang yang saya mata-matai sehari-harinya itu adalah orang yang menggantikan dan menggoda pria seperti penggoda ulung tuan."
"Maksud kamu Carent?" Tanya Reyhandra penasaran.
"Ya, tuan. Saya akan segera keluar. Tuan segera lekaslah mandi dan bersiap-siap, pakaiannya akan saya letakkan di atas kasur tuan nanti. Karena saya harus membeli buket bunga terlebih dahulu. Ini bukan hal yang mudah untuk mencari buket bunga ditengah malam seperti ini. Kemungkinan terburuknya adalah saya harus pulang ke rumah untuk memetiknya beberapa dan merangkainya menjadi sebuah buket yang diinginkan Nona Angel, disukai olehnya dan juga romantis untuk ngedate makan malam romantis."
"Baik, ku percayakan padamu. Oh ya, hampir saja aku melupakan bumbu pentingnya."
"Apa itu, tuan?"
"Jangan lupa bawa undangannya juga. Kita sangat membutuhkan variabel andalan yang satu ini." Perintah Reyhandra pada Hans sambil tersenyum smirk yang puas. Sudut bibirnya sangat naik, karena dia sangat senang, apalagi membayangkan akan bagaimana reaksi Angel nantinya.
"Baik, tuan. Saya permisi dulu." Pamit Hans pada Reyhandra yang langsung hilang lenyap di balik pintu. Dan dengan Reyhandra yang tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, juga langsung mandi untuk bersiap-siap. Menuju makan malam romantis yang penuh kejutan, serta panggung akting yang sudah menunggunya.
__ADS_1