
Rosa yang setelah bertemu dengan Alan, dan tau klo sahabatnya Alyana datang, dia langsung berlari menuju ruang inap papanya. Dia membuka knop pintu, dan benar saja klo Alyana sedang duduk di sofa dan sedang mengupas apel.
"Hai Al, udah lama nyampenya ya." Sapa Rosa saat melihat Alyana yang duduk di sofa.
"Ya jelas lama lah. Gue dari dulu udah nyampe tau. Lama gue nungguin lo, katanya mama lo pigi ke toilet, lah nggak nongol-nongol lagi katanya. Darimana aja lo?" Tanya Alyana seperti sedang menginterogasi Rosa.
"Iya sayang, habis dari mana aja sih?" Tanya Serena, mama Rosa juga ikutan nimbrung.
"Ahahaha, nggak habis dari mana-mana kok, ma. Hanya habis nyari udara segar aja. Nah kebetulan ketemu sama Kak Alan, jadi pergi ke indomaret deh buat jajan." Jelas Rosa yang kenapa dia habis pamit ke toilet sama Serena nggak kunjung juga kembali.
"Nah, tadi gue juga beli bubur buat paman di depan rumah sakit kok nggak ketemu sama lo?" Tanya Alyana melanjutkan mengupas apelnya.
Rosa berjalan ke arah sofa dan langsung duduk, dan kemudian dia memakan apel yang di kupas oleh Alyana.
"Ohhhh..., itu mungkin aku lagi duduk di taman deh. Soalnya aku ada duduk di sana bentar. Yah..., biasalah. Habis makan tu istirahat bentar, kasih waktu buat perut buat mencernanya."
"Ya lah tu, si paling dokter masa depan." Ketus Alyana terus melanjutkan kegiatannya. Rosa yang mendapat respon begitu dari Alyana hanya bisa tersenyum-senyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Serena yang memperhatikan putri satu-satunya itu kembali ceria lagi, dia menjadi lega. Tak terbayang gimana reaksi Rosa saat tau klo papanya masuk rumah sakit, dia sangat panik bahkan dia sampai menangis.
Saat Rosa izin ke toilet aja, Serena sangat khawatir akan Rosa. Tapi kemudian dia percaya itu akan baik-baik saja karena Reyhandra langsung segera menyusulnya. Walau sesaat kemudian Serena mendapat telepon klo Reyhandra harus kembali ke kantor karena ada urusan yang mendadak.
Rosa memperhatikan mamanya yang senantiasa selalu setia menjaga papa di sampingnya, dia pun ingat klo kakaknya nggak ada disini. Dan dia juga nggak tau, selama dia pergi apakah papanya udah sadar atau belum?
"Ma, keadaan papa gimana sekarang?" Tanya Rosa yang penasaran akan kondisi papanya itu.
"Alan bilang, kondisi papa udah stabil, hanya saja papa jangan terlalu lelah aja mulai sekarang." Jelas Serena yang membelai rambut suami tercintanya itu.
"Oh.... Ngomong-ngomong, kakak kenapa nggak ada disini, ma?"
"Kakak lo, udah dati tadi dia pergi buat urusan pekerjaan. Untung ada gue, klo nggak, mama lo pasti bakalan sendirian disini. Jadi, bagaimana rencana lo buat balas budi sama gue." Tanya Alyana bangga.
Alyana meletakkan pisau buah kembali dalam keranjangnya dan mengantarkan apel yang baru saja dikupasnya itu pada Serena. Serena mengambil piring itu dan meletakkannya di atas nakas.
"Emang kamu nggak ikhlas nemanin mama aku disini?" Tanya Rosa blak-blakan kepada Alyana, yang buat Alyana nggak enak sama Serena, karena serasa dia sangat perhitungan karena udah menemaninya sebentar.
"Kamu..., nggak gitu juga. Gue makanya yang nggak ikhlas. Gue selalu ikhlas orangnya tau. Dibawa kabur pacar pun gue ikhlas, asal jangan bawa kabur suami gue aja nanti. Yang lain terserah deh." Jawab Alyana percaya diri dengan jawabannya iyu dan kembali duduk ke sofa.
"Ya jelaslah kamu ikhlas. Toh boyfriend aja nggak punya, gimana bisa nyuri coba?"
"Hahahaha, kalian anak muda ini, sangat bersemangat ya, klo udah ngebahas masalah kayak begituan. Tapi ngomong-ngomong, Alyana belum ada pacar ya? Padahal udah mau masuk kuliah ini lho. Kan sayang, biasanya itu masa-masa SMA itu adalah masa-masa terindah." Tanya Serena pada Alyana.
"Alyana mama tanya?!? Ma, ma, Alyana mana ada pacar ma. Lah dandanan ma sikapnya aja kayak berandalan gitu, mana ada cowok yang mau sama Alyana." Jawab Rosa mamanasi-manasi Alyana. Pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh Alyana malah direbut oleh Rosa.
"Ehhh, mana tau lo klo nggak ada cowok yang suka sama gue. Jangan syirik deh lo, banyak kok cowok didepan sana yang ngelirik gue, guenya aja yang malas open." Bantah Alyana nggak terima dengan penuturan Rosa.
"Jelas aku tau lah, toh aku sahabat kamu selama tiga tahun ini. Nggak ada yang lepas dari pengamatan aku ma Lilis."
"Nah klo masalah sahabat gue udah nggak bisa ngebantah lagi deh. Tapi kan satu hal yang bikin gue penasaran, kok bisa sih si Lilis tu pacarnya banyak bener, udah berlusin-lusin gitu. Klo jual mah udah bisa dijadikan satu rumah bordil." Penasaran Alyana dan bertanya pada Rosa.
"Yah, mana aku tau. Lagipula kita juga nggak bisa menyalahkan Lilis yang terlalu cantik, mapan and clever girl. Pokoknya nggak jauh tinggallah sama yang lainnya. Nah trus, klo feminim dia juga feminim, kan cowok tu suka yang feminim kayak gitu."
"Nah itulah kendalanya, udah pada hilang kemana sih selera para buaya itu sih?" Pertanyaan penasaran kedua kembali dilayangkan oleh Alyana.
"Alah..., itu nggak usah di penasarankan lagi, itu ang udah kodratnya. Bilang aja klo kamu tuh iri kan sama si Lilis, biar gue suruh beri cowok dia satu sama kamu. Tinggal pilih aja, nggak susah-susah nyari. Cuma tergantung sama cowok itu aja, mau nggak sama kamu dia." Rosa kembali meledek Alyana.
"Emang anak kurang asin lo ya. Malah nyindir kayak gitu."
__ADS_1
Alyana melempar apel ke arah Rosa, karena dia sangat kesal. Rosa selalu saja meledeknya tentang masalah cowok. Tapi untungnya saja pandai dalam masalah menangkap, jadi itu tidak mengenai Rosa. Malahan Rosa langsung menggigitnya dengan ganas gitu didepan Alyana, yang mana membuat Alyana makin kesal.
"Klo aku kurang asin, kamunya kurang asem. Hahahaha." Rosa tertawa puas karena berhasil meledek Alyana. Jarang-jarang ada kesempatan seperti ini, jadi Rosa menggunakan kesempatan itu dengan sebaik mungkin.
"Tau ah gue. Malas gue ngedebat sama lo." Jawab Alyana merajuk dan duduk menyilangkan tangannya dan membuang pandangan dari Rosa.
Tapi tingkah Alyana itu nggak membuat Rosa merasa bersalah, justru dia mlh ketawa mkin keras lagi. Karena lucu saja saat melihat ekspresi Alyana begitu, ekspresi yang jarang ditampilkannya itu. Dan hanya ditampakannya pada Rosa dan sahabat satunya lagi, yaitu Lilis.
Alyana memang sangat jarang menampilan ekspresi seperti itu, dan itu hanya dilakukannya didepan dua orang, yaitu sahabatnya. Klo didepan orang lain, Alyana selalu menampilkan sisi dingin, cuek, cewek keren dan juga cool.
Emang benar kata banyak orang, diluar atau pada pandangan orang lain itu kita begitu sempurna, namun didepan sahabat sendiri itu kita bisa jadi paling diri kita sendiri. Sikap yang jahil, bobrok, bengek ramai-ramai, gila-gilaan sama-sama, pokoknya nggak ada yang jelas lah.
Rosa begitu puas menertawakan Alyana, dan karena tingkah putrinya itu membuat Serena menegur Rosa. "Udahlah sayang, kasian Alyana kamu goda terus."
"Nggak apa ma, lucu aja gitu mikirnya." Jawab Rosa yang terus tertawa, karena itu terus menggelitik perutnya dan nggak bisa untuk tidak tertawa. Dan akhirnya karena Alyana nggak bisa nahan lagi, akhirnya Alyana juga malah ikutan ketawa.
Serena hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah konyol mereka. Tanpa disadari, tangan jari-jemari Raymond sedikit bergerak. Dan sepertinya dia terbangun karena suara tawa yang membahana memenuhi ruangan itu.
"Ma...." Panggil Raymond yang sudah sadar.
Serena segera menoleh kearah sumber suar, ternyata suaminya itu sudah sadar. "Pa, kamu udah siuman. Syukurlah, makasih Tuhan. Apakah kamu ada merasa sakit? Pusing mungkin atau apa gitu?" Tanya Serena cemas-cemas, namun juga bahagia karena suaminya itu sudah siuman.
Raymond menggelengkan kepalanya dan menjawab klo dia baik-baik saja. Serena segera menyuruh Rosa untuk mencari Alan, dan mengatakan klo papanya sudah siuman.
Rosa segera keluar dan mencari Alan. Kebetulan Rosa bertemu dengan Alan di koridor menuju ruang inap Raymond. Yang mana Alan emang berencana buat memeriksa ulang Raymond.
Alan sampai di ruangan Raymond dan langsung memeriksanya dengan telaten. "Kondisi paman sudah stabil. Seperti yang saya sarankan tadi sama Stev, paman harus banyakin istirahat, kurangi aktivitas dulu sekarang. Juga pola makannya harus dijaga, jangan bolong-bolong, usahakan makan tepat waktu kalaupun itu tidak banyak, meski sedikit tapi harus tetap makan. Dan yang terakhir, jangan lupa minum obatnya. Obatnya udah ada, kan?" Nelas Alan panjang lebar.
"Ya udah ada. Tadi Stev yang bawa." Jawab Serena mengambilnya obat dalam nakas.
"Nggak usah, Ros. Udah gue beli barusan. Masih anget juga diket." Tahan Alyana mengambil bubur dan menyerahkannya pada Rosa.
"Oh, ok. Thanks ya, Al. You are the best lah pokoknya." Puji Rosa sambil mengacungkan jempolnya kepada Alyana.
"Nah kan lo ini. Klo masalah gini aja baru bilang gue best lah, bertian lah. Pokoknya apa-apalah. Tapi sama-sama kok."
"Ehehehe, kamu ini. Paling ngerti aku aja deh." Rosa tercenge-cengesan, karena nggak bisa ngebantah penuturan Alyana yang memang benar adanya.
Serena langsung bangu dari kursi dan bangun karena Rosa akan menyuapi papanya itu.
"Papa, makan diket ya. Biar bisa minum obat, papa mau liat Rosa bahagia kan, pa? Jadi papa harus sehat." Kata Rosa yang merujuk pada hari pernikahannya sama Reyhandra.
Raymond mengangguk dan langsung memakan bubur yang disuapi oleh Rosa. Serena memperhatikan itu dan merasa lega, lalu dia mendekati Alan dan berterima kasih padanya.
"Bibi nggak perlu berterima kasih kok, ini memang sudah menjadi tugas saya sebagai dokter untuk merawat pasiennya. Klo gitu saya permisi dulu, bi. Ada pasien lain yang harus diperiksa." Pamit Alan pada Serena.
"Oh, baiklah klo gitu. Bibi nggak akan menyita waktu Nak Alan lagi."
Alan memperhatikan Rosa yang dengan telaten merawat papanya itu, bahkan menyuapinya makan dan membujuknya untuk meminum obatnya.
"Kamu memang pantas jadi dokter psikologi masa depan Rosa. Kamu punya kemampuan untuk membujuk orang lain, mendamaikan hati orang lain dan menyembuhkannya. Hanya saja aku nggak tau, apakah kamu juga bisa mwmperbaiki dan menyembuhkan aku yang sudah terlanjur sakit dan menyakiti ini?" Batin Alan dalam hatinya sambil memperhatikan Rosa dan kemudian langsung keluar melanjutkan kewajibannya itu sebagai dokter.
Raymond akhirnya selesai minum obat juga, dan Rosa mengambil buah yang sudah di kupasnya barusan oleh Alyana yang ada di atas nakas. Serena menghampiri Rosa dan mengatakan klo Rosa sudah bisa pulang. Lagipula sekarang hampir menjelang malam.
"Sayang, kamu pulang aja sama Alyana aja, ya. Ketimbang kamu pulang sendirian nanti, malam-malam naik taksi. Mama khawatir."
"Emang Rosa nggak bisa disini aja? Menemani papa sama mama." Tanya Rosa pada mamanya itu.
__ADS_1
"Nggak apa sayang, kamu pulang aja. Biar mama yang jagain papa disini." Tutur Raymond yang bersuara dengan nada lirih karena masih lemas.
"Nah, dengerin tu kata papa. Lagipula nanti kan kakak mu juga akan menyusul ke sini. Kamu pulang biar rumah nggak kosong, kasian Bibi Salma sendirian di rumah." Jelas Serena memberikan perhatian.
"Kam masih ada Kang Udin yang jaga gerbang itu lho." Rosa masih aja kekeh untuk tetap tinggal.
"Nah itu kan beda lagi, sayang."
"Jangan banyak protes, ayo kita pulang. Biar abang anterin kamu." Canda Alyana yang langsung menarik Rosa pergi.
"Ehhh, ehhh, iya iya. Jangan main tarik gini dong." Protes Rosa sambil berusaha melepaskan tangannya dari Alyana.
"Makanya buruan kek." Alyana trus menarik Rosa yang masih saja berat untuk pergi. "Tante pamit dulu ya. Sampai jumpa besok lagi. Bye, beautiful tante." Kata Alyana melambaikan ke arah Serena.
Serena membalas lambaian Alyana sambil tersenyum hangat. Dia merasa bersyukur karena anaknya mendapatkan sahabat sebaik Alyana. Lagipula Alyana ceria orangnya, jadi dia bisa menangani rosa yang kadang suka keras kepala gitu. Rosa juga ikutan melambai, walaupun dengan lemas.
"Sayang, jangan lupa makan nanti ya." Peringatan Serena kepada Rosa dan hanya di anggukinya, dan akhirnya dua sahabat itu hilang dibalik pintu dan meninggalkan sepasang sejoli itu.
...***...
Rosa akhirnya sudah sampai di rumah dan sudah mandi, bahkan sudah memakai piayamanya dan bersiap untuk tidur, walaupun masih jam setengah sembilan. Rosa sedang nggak mood untuk nonton televisi, karena hanya sendiri saja.
Kalaupun ada Bibi Salma, Rosa nggak tega mengganggunya karena pasti bibi sangat capek waktu siang hari, jadi Rosa membiarkan saja bibi untuk beristirahat lebih awal. Lagipula, untuk makan malam Rosa juga sudah makan, walaupun hanya nasi goreng yang dimasaknya sendiri, karena dia melarang bibi untuk masak karena tidak ramai di rumah. Namun Rosa jiga nggak melarang bibi untuk memasak jika memang si bibi lapar.
Rosa merebahkan dirinya di atas kasur dan sambil men-scrool handphonenya, melihat status teman-temannya. Namun tiba-tiba Stev, kakaknya menelpon.
"Halo..." Sapa Rosa mengangkat teleponnya.
"Halo, baby. Kamu udah nyampe di rumah, kan?" Tanya Stev dibalik telepon.
"Udah dari tadi kali, kak. Malahan Rosa mau tidur ini."
"Kok awal kali kamu tidur. Emang nggak nonton gitu sama bibi?"
"Nggak kak, nggak tega Rosa ngeganggu bibi, dia pasti capek hari ini."
"Oh ya juga, ya. Kamu baik-baik di rumah, ya. Tidur trus, jangan lupa di kunci semua pintu, ya. Klo kakak nanti emang pulang, kakak bakal telepon kamu duluan, ok?" Peringat Stev supaya Rosa berhati-hati di rumah.
"Iya kakak sayangku yang siscon. Kak, tapi Rosa bosan nih. Boleh nggak Rosa keluar bentar buat jajanan malam kaki lima aja. Boleh ya, kak? Ya?" Pintu Rosa pada kakaknya.
Stev masih saja belum menjawab saat mendengar permintaan Rosa itu. "Kakak pasti nggak bakal izinin ini, apalagi malam, nggak ada yang temenin lagi." Batin Rosa karena orang dibalik telepon hanya diam saja.
"Kak? Boleh nggak?" Tanya Rosa lagi.
"Emmmm, ya udah, boleh. Tapi kamu hati-hati ya. Bawa salah satu dari si kembar aja buat di temenin kamu, ya? Pokoknya kamu jangan pergi sendiri. Kamu ada uang kan? Klo nggak kakak kirim sekarang."
"Ada kok kak, aman itunya. Aku ajak teman aku aja. Makasih kakak sayang. Muahhh..., love you. Bye." Kata Rosa senang.
Stev yang mendengar adiknya itu senang, dia juga ikutan senang. "Ya, love you too, bye."
Telepon dengan kakaknya pun berakhir, Rosa segera mencari kawan yang sedang aktif di chat dan pastinya bisa diajak keluar. Dan kebetulan orang yang dibutuhkan oleh Rosa sedang aktif, dan Rosa langsung mengirim pesan padanya.
"Keluar jajan yuk. Bosan nih. Kamu tenang aja, udah ada izin sama bos, kali ini nggak pergi lewat belakang lagi."
Rosa menunggu balasan dari orang yang baru saja dikirimnya itu. Dan seperti yang diharapkan, orang seberang langsung mengetik, dan chat pun sampai.
"Ok, kamu siap-siap trus. Aku jemput kamu sekarang."
__ADS_1