
Rosa dan Dian menyelesaikan lagu terakhirnya dengan sukses. Suara gemuruh tepuk tangan puas dari audiens membuat Rosa bangga akan dirinya sendiri, klo bakatnya itu ternyata menghibur orang lain juga selain dari dirinya sendiri. Karena selama ini Rosa hanya menyanyi untuk dirinya sendiri, klo nggak dikamar mandi, ya di depan cermin sambil membayangin dirinya sedang berada di atas panggung.
"Gimana all? Kalian mereka terhibur nggak?" Tanya Rosa mencoba berkomunikasi dengan audiens-nya.
Dan hal itu pun disambut dengan respon yang sangat luar biasa dari penonton, sesuai dengan cara mereka sendiri dalam mengekspresikannya. Andre juga tak mau kalah dalam mengapresiasikan nyanyian Rosa, bahkan dia naik keatas kursi sambil memanggil namanya.
"Shaka!!! You are the best!! My xiao xiao, gege bangga padamu!!!" Teriak Andre melambai-lambaikan tangannya.
"Ni orang napa sih? Bikin malu aja." Rutuk Rosa dalam hatinya sendiri saat melihat tingkah laku Andre.
Orang-orang yang mendengar Andre meneriaki nama Rosa dengan sebutan 'Shaka' juga ikut memeriahkannya lagi. Dan itu sontak membuat Rosa mau tak mau harus meladeni mereka semua. Bahkan karena Rosa sekarang berada dalam balutan pakaian pria dan dengan image pria imut, bahkan ada cewek yang menyerukan 'l love you' kepadanya.
Rosa tersenyum miris yang mengingat klo dirinya yang sebenarnya adalah cewek, tapi ada yang bilang cinta kepadanya. Walaupun itu mungkin sekedar formalitas antara idola dengan fans, tapi Rosa merasa agak gima gitu, karena dia belum pernah mendapatkan hal seperti itu sebelumnya. Mungkin jika perempuan itu tau klo dirinya yang sebenarnya adalah cewek, mungkin dari seorang fans bisa jadi haters yang mengerikan.
"Hahaha, thank you atas cinta kalian padaku. Aku sangat menghargainya. Semoga kedepannya kalian bisa terus menikmati nyanyian ku ini dan aku akan tetap bisa ngehibur kalian selalu. Ok, l hope you have nice day always all, and then l want to say that nice to meet you all. Kalian begitu antusias dengan nyanyian ku ini dan itu membuat ku bangga. Ok, sekian untuk malam ini, aku dan temanku ini mohon pamit. Bye bye all, see you again!!!" Rosa menyampaikan kata-kata pamitannya pada semua audiens.
Rosa turun dari kursi tingginya dan memakai topinya kembali, begitu juga dengan Dian, dia membawakan gitarnya dan segera turun dari panggung.
"Shak, makasih ya buat hari ini, lo udah ngebantu gue. Gue nggak nyangka klo ini akan sukses besar karena di awalnya itu lo bikin gue jantungan. Tapi, lo bener-bener hebat, mantap!!" Ucap Dian mengangkat satu jempolnya kepada Rosa karena sebelah tangannya lagi sedang memegang gitar.
"Jadi aku hanya dapet satu jempol nih??" Tanya Rosa bercanda dengan Dian.
"Ehh..., mana mungkin lo dapet satu jempol, klo bisa gue kasih empat jempol sekalian sama kaki gue."
"Ah, nggak mau aku, bau kaki mu itu, mana pake sepatu lagi."
"Apa?!? Dasar ya kamu ini, Shak? Gue serius lo malah iseng sama gue." Keluh Dian yang berjalan dibelakang Rosa.
"Dian! Penampilan yang begitu spektakuler untuk malam ini. Kamu membawa sesuatu yang berbeda. Memang sangat sulit untuk merubah atau merevolusi sesuatu, tapi kamu berhasil malam inj. Dan itu sangat luar biasa." Sapa seseorang kepada Dian dari belakangnya.
Dian membalikkan punggungnya dan melihat siapa orang yang menyapanya itu. "Oh, pak menejer. Selamat malam, apa kabar?" Tanya Dian mengulirkan tangannya.
Menejer yang disebutkan oleh Dian itu menyambut baik uluran tangannya. Rosa yang berdiri disamping Dian juga ikut memperhatikan sosok menejer yang dipanggil oleh Dian itu dengan seksama. Dia itu terbilang masih muda, mungkin seumuran kakaknya.
"Apakah dia bos dari bar ini?" Tanya Rosa dalam hatinya sendiri. "Dia terbilang masih muda. Apakah dia ini hanya orang yang dipercayakan untuk mengelola bar ini? Dan masih ada bos besar dibelakang semua ini. Mungkin juga seperti mafia?" Pikir Rosa lagi.
__ADS_1
"Kabar baik, Dian. Bagaimana denganmu?" Tanya sang manager balik bertanya kondisinya Dian.
"Seperti yang terlihat, saya juga baik." Jawab Dian dengan berwibawa.
Kemudian si menejer itu mengalihkan pandangannya melihat rosa, " Jadi ini yang namanya, Shaka ya?" Tanya si menejer saat melihat Rosa.
"Iya, yang saya bilang ditelepon tadi siang." Jawab Dian memberitahu si menejer.
"Senang bertemu denganmu, Shaka." Kata si menejer mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Rosa.
"Senang bertemu dengan Anda kembali pak menejer." Jawab Rosa seadanya.
"Hemm, nggak seperti di atas panggung, kamu ternyata orangnya kaku juga, ya? Tapi itu sangat luar biasa, karena kamu bisa menguasai panggung dengan baik dan berinteraksi dengan para audiens mu. Itu adalah sisi paling sulitnya dan kamu berhasil melaluinya dengan baik. Awalnya saya kurang yakin dengan kamu hanya karena kamu bernyanyi sekali kemaren. Jadi karena Dian yang memintanya kepada saya, maka saya memberinya satu kesempatan. Katanya kamu punya kualifikasi yang baik, dan itu terbukti klo mata Dian nggak salah memilih kamu. Saya sungguh salut, jarang ada pemuda yang punya bakat seperti kamu ini. Apakah kamu nggak mempertimbangkan untuk menjadi penyanyi tetap di bar kami ini?" Tanya si menejer akhirnya setelah sekian banyak rentetan-rentetan kata-kata.
"Ini memang bener asli seorang menejer. Lika liku dia bicara yang pada akhirnya tetap berencana untuk merekrutku untuk menjadi penyanyi mereka. Memang, teknik marketing." Pikir Rosa dalam batinnya saat si menejer terus menyerocos tentang dirinya tadi.
"Terima kasih atas tawarannya dan saya sangat menghargai itu. Tapi saya tidak bisa. Saya disini hari ini karena saya mau membantu teman saya, Dian saja. Saya tidak ada niat untuk menjadi penyanyi tetap di bar Anda ini. Sekali lagi, terima kasih atas tawarannya." Jawab Rosa menolak dengan sopan dan sedikit membungkukkan badannya.
"Kamu nggak perlu khawatir tentang gaji, kamu akan saya gaji dua kali lipat dari gaji penyanyi biasa di bar kami ini. Saya bisa menjamin itu, klo perlu saya akan mencantumkannya dalam bentuk kontrak jika kamu memang menginginkannya. Lagipula, kamu dan Dian bisa membentuk satu group yang utuh. Kamu sebagai vokalis dan Dian sebagai gitaris. Bukankah itu ide yang sangat brilian?" Bujuk sang menejer lagi.
"Ini menejer kenapa ngeyel banget sih? Mau aku jadi penyanyi tetapnya bar dia. Dian lagi, kenapa dia nggak bilang apa-apa buat ngebela aku, atau memang ini maunya?" Tanya Rosa dalam hati sambil bermain mata dengan Dian supaya Dian membantunya bicara sama si menejer.
"Maaf, pak menejer. Tapi ini bukan masalah gaji atau apapun. Ini masalah saya tetap nggak bisa melakukannya. Saya nggak bisa tiap malam keluar..."
"Kalau begitu kamu bisa menyanyi pada hari tertentu aja, kamu bisa memilih jadwal mu dengan bebas, dan saya akan menyesuaikan itu kemudiannya." Ucap sang menejer itu memotong perkataan Rosa.
"Ini menejer kenapa keras kepala banget sih? Dipukul sekali kayaknya nggak apa ni kan?" Tanya rosa pada dirinya yang sedari tadi menahan tinjunya itu.
"Ahhhh, maaf menejer. Saya ini walinya Shaka, dan Shaka ini adalah adik kesayangan saya. Jadi saya nggak bisa membiarkannya menghabiskan masa mudanya itu hanya untuk menjadi penyanyi di bar saja. Saya mau masa depannya itu cerah. Tapi karena saya terlalu memanjakan adik saya ini dan karena dia bosan akan pelajarannya yang sangat sulit, saya menjadi kasian padanya dan membawanya untuk bersenang-senang kesini. Jadi mohon pengertian Anda." Ujar Andre yang tiba-tiba datang dari belakang Rosa.
"Oh Tuan Andre, maaf saya nggak tau klo ini adalah adik Anda. Ini ketidaktahuan saya karena sudah membuat Tuan Shaka kesulitan." Kata si menejer yang panik saat Andre tiba-tiba datang ngebela Rosa.
"Ahahaha, nggak apa-apa, wajar jika kamu nggak tau soal ini. Karena ini adik angkat saya yang sangat saya cintai dan bangga-banggakan. Oh ya, bukankah bakat adik saya ini sangat luar biasa, dia adalah muse yang hanya ada seratus tahun sekali bukan?"
"Yayaya, Anda benar Tuan Andre, saya saya yang tidak mengetahui klo beliau ini adik Anda. Dan karena bakatnya itu pula, makanya saya bisa berpikir dan berencana untuk merekrutnya." Jawab si menejer itu menjilat Andre. Bukan menjilat dalam artian kasar tapi menjilat dalam artian halus.
__ADS_1
"Ya itu sangat wajar, jadi saya akan mentolerir untuk kesempatan ini. Tapi nggak bakalan ada kesempatan lain. Ingat itu dengan baik! Bukankah kamu juga berpikir begitu xiao xiao?Hemmm?" Tanya Andre merangkul bahu Rosa dengan dekapan sebelah tangannya dan kemudian dia menatap Rosa sambil mengedipkan matanya kepada Rosa.
"Ya? Oh yayaya...." Jawab Rosa sambil tertawa tanpa arti apa-apa, dia terjebak dalam kata-kata Andre. "Ya benar, apa yang dikatakan kakak saya, jadi Anda dengerkan saja keinginan kakak saya ini. Karena keinginannya adalah keinginan saya juga." Jawab Rosa dengan otak yang sudah ngeblank dan nggak tau harus ngomong apa lagi, hanya kata-kata itu saja yang bisa keluar dari otaknya.
"Ah xiao xiao..., mestinya dong. Kan kakak paling sayang sama kamu." Ucap Andre dengan nada manja dan hendak mencium pipinya, tapi Rosa dengan sigap langsung memblokrnya dan mendorong mulut Andre.
"Ahahaha, iya." Rosa sebisa mungkin menjaga senyum diwajahnya, atau tidak ini nggak ada akhirnya jika si menejer itu tau. Bisa-bisanya dia dianggap gay nantinya klo dia menolak mengakui Andre, dan itu bakal ribet lagi urusannya. "Ini orang sakit apa sih? Bisa nggak klo nggak pake rangkul-rangkulan segala. Bikin tertekan batin aja ini orang. Ih, jijik kali...." Batin Rosa sendiri sambil menahan tinjunya yang sedari tadi udah gatal mau mukul Andre.
Andre menyadari klo Rosa sedari tadi menahan dirinya untuk tidak memukulnya, hanya saja Andre menikmati momen itu karena dia tau klo Shaka itu adalah cewek yang menyamar dengan cara cross dressing. Karena itu pula dia semakin ingin menjahili Rosa.
"Ini cewek kecil pasti nggak bisa menahan dirinya lagi. Sedikit lagi mungkin dia akan segera meledak." Batin Andre yang melihat mimik wajah Rosa yang merah padam saking marahnya, bahkan tangannya saja sampai gemeteran karena menahan diri.
"Ah, maaf pak menejer, saya harus membawa adik saya ini. Dia pasti sangat kecapean dari tadi nyanyi trus ditambah lagi berpikir keras karena tawaran pak menejer. Boleh kan saya membawa adik saya kembali?" Tanya Andre pada menejer yang sedari tadi udah keluar keringat dingin.
"Oh silakan tuan, saya nggak akan mengganggu waktu Anda dengan adik Anda lagi. Sekali lagi maafkan saya." Ucap menejer itu membungkuk meminta maaf.
"Bukan masalah besar pak menejer. Semoga hari Anda menyenangkan. Ayo, xiao xiao ku sayang." Ajak Andre dan segera berbalik pergi dari sana.
"Tapi, Dian...."Kata Rosa yang melihat Dian tidak mengikuti mereka.
" Dian punya sesuatu untuk dibicarakan dengan menejer, kita kembali duduk dulu aja, xiao xiao. Jangan khawatirkan Dian."
"Tapi...."
"Sudah, ikut saja." Ucap Andre yang mengeratkan rangkulan.
Hingga agak jauh sedikit dari menejer tadi Rosa langsung menepis tangan Andre dari bahunya. "Bisa singkirin nggak? Lepasi nggak? Bisa tolong lepasin tangannya nggak? Klo memang kamu masih ingin tangan kamu itu tetap utuh." Kata Rosa dengan pandangan yang tajam dan dengan aura membunuh.
"Hemmm..., aura membunuh ya? Memang kucing xiao xiao yang imut." Pikir Andre lagi saat melihat Rosa dan dia masih belum melepaskan tangannya dari bahu Rosa.
"Kamu bener-bener nggak ingin tanganmu lagi, ya? Ok, sesuai keinginan. Aku orangnya sangat fleksibel, selalu menghormati keinginan orang lain." Kata Rosa yang udah siap membanting Andre dan sudah memegang tangannya
"Ehhh, tunggu dulu xiao xiao sayang." Kata Andre menghentikan Rosa dan melepaskan tangannya dari bahu Rosa. "Kamu keep calm down dong, ok?" Kejar Andre saat melihat Rosa langsung berjalan sendiri menuju ke meja tempat mereka duduk. "Tunggu dulu xiao xiao, tunggu gege mu ini. Emang kamu tau di mana tempat duduknya?" Tanya Andre yang terus berisik dibelakang Rosa.
Rosa tetap berjalan ke depan tanpa memperdulikan gimana berisiknya seorang Andre, karena bagi Rosa itu memalukan, apalagi dipandang oleh banyak pasang mata.
__ADS_1
"Tunggu dulu xiao xiao? Tungguin gege mu ini!!!"
"Sangat berisik. Bikin sakit kepala saja. Dasar laki-laki buaya. Emang bener apa yang dibilangin sama Dian. Ahhh..., aku sangat stress sekarang. Bukannya bikin good mood, malah bikin badmood. Aduh hatiku, tertekan kali kayaknya." Pikir Rosa sambil memegang kepalanya.