
Reyhandra POV
Aku akhirnya sampai di kantor juga. Sungguh hari yang melelahkan dan super melelahkan sudah berhasil ku lalui. Sebenarnya hari ini bukanlah hari yang paling melelahkan yang sudah pernah ku lewati. Hanya saja serentetan schedule yang melelahkan itu tetap mengikuti seperti itu adalah sebuah bayangan. Hal yang mustahil untuk dihindari, sebab itu pula aku jadi benci untuk melakukannya.
Aku memarkirkan mobil di garasi bawah dan langsung memasuki kantor. Aku sudah mengirim pesan pada Andre untuk datang ke kantor ku karena ada yang mau ku sampaikan. Sebenarnya bukan hal yang terlalu penting untuk disampaikan. Hanya saja aku butuh Andre untuk menceritakan segala yang terjadi hari ini.
"Siang, Pak CEO."
"Siang, pak."
Sapa para karyawan saat berjumpa mereka berpapasan denganku. Aku bukannya nggak tau, mereka hanya akan bersikap sopan dan formal kepadaku dan hanya di depanku karena aku adalah atasan mereka, orang yang menggaji mereka.
Aku hanya membalas sapaan mereka untuk bersifat formal juga dengan seadanya. Aku memang dicap dan di pandang sebagai atasan yang dingin layaknya serigala di padang salju, namun aku bukanlah tipe orang yang akan mendiamkan sapaan karyawan-karyawan ku. Aku hanya membalas sapaan mereka dengan mengangguk saja dan langsung melewati mereka.
Lagipula aku bukanlah orang yang nganggur untuk membalas sapaan mereka dengan sopan. Mereka saja enggan melakukan itu klo saja aku bukan atasan mereka. Aku hanya memperlakukan mereka sama derajatnya dengan mereka memperlakukanku.
Dan lagi mengenai julukan ku, serigala di padang salju ataupun the wolf of ice, itu memang julukan ku. Dan jika ditanya apakah aku bangga dengan julukan itu? Maka aku akan menjawab, tentu daja aku bangga, aku bangga julukan itu.
Dan jika ditanya lagi kenapa aku bisa bangga? Padahal julukan itu adalah sindiran secara halus untukku karena sikap ku yang dingin. Ya, tentu saja aku bangga. Mereka hanya salah mengartikan arti dingin yang melekat pada diriku. Aku hanya dingin pada orang yang punya niat padaku dan aku tidak punya niatnya. Jadi lebih baik aku dingin, ketimbang aku punya ekor yang tak berarti.
Ekor? Kenapa aku menamainya dengan ekor? Ya, tentu saja ekor. Pacar? Orang yang menaruh niat padaku, orang yang menaruh perasaan padaku, orang yang tertarik padaku. Semuanya adalah beban bagiku, dan hanya akan mengikuti ku seperti aku punya ekor. Makanya aku menyebut mereka ekor.
Sebenarnya masalah ekor atau status pacar itu, aku nggak terlalu keberatan dengan hal itu. Justru itu akan bagus bukan? Itu akan menjadi tonggak pertama aku dalam menjalin hubungan. Punya pacar juga bukan sesuatu yang buruk, siapa tau dari sekian banyak pacar yang kumiliki, bisa saja salah satu dari mereka adalah jodohku.
Namun sayang, dengan statusku yang seperti ini. Pasti tidak ada yang memiliki niat tulus dan murni kepadaku. Yang mereka inginkan hanyalah uangku saja. Oh dan juga, tubuhku. Bukan karena aku narsis, aku terlahir dalam fisik yang sempurna. Tapi itu memang kenyataannya.
Makanya aku menganggap pacar atau apapun itu dengan ekor, yang selalu saja mengikuti ku. Dan itu cukup menyebalkan bagiku. Contohnya saja adalah Angel. Hanya saja meskipun dia berstatus sebagai pacar yang ku anggap sebagai ekor, dia punya nilai bagiku, dia punya harga bagiku dan akan berguna bagiku, makanya aku menjaganya sebagai ekor yang selalu setia mengikuti ku itu di sampingku.
Aku menaiki lift dan menekankan tombol lantai paling akhir. Mereka sungguh membosankan, hanya karena mereka melihatku saja mereka langsung keluar dari lift dan menyuruhku untuk duluan saja.
Tentu saja aku nggak akan membuang sia-sia niat baik mereka, aku menyambutnya dengan baik, lagipula aku bukanlah tipe orang yang suka keramaian. Terlebih lift bukannya kamar hotel suite presidensial yang sangat luas untuk dinaiki puluhan orang yang bahkan punya kasur king size didalamnya.
Aku sudah sampai di lantai paling atas dan segera menuju ke kantorku juga rumah pindahan ku jika ada lembur malam. Aku membuka pintunya dan melihat klo Andre sudah ada didalam dan sedang menikmati kopinya di sofa.
"Apakah kamu pikir aku memanggilmu ke kantor aku hanya untuk menikmati kopi?" Tanyaku pada Andre yang masih saja slow dengan aktivitasnya. Sepertinya perkataan ku nggak diindahkan sama sekali olehnya, dia tetaplah pada kegiatannya.
Aku melepaskan jas ku dan menaruhnya ditempat aku menyangkut jas, yang memang khusus aku pajang di sana, dikarenakan kantor ini sudah seperti kamarku sendiri, jadi aku sedikit mendekornya dengan nuansa kamar di ruang kerja yang kadang dikunjungi oleh bawahan ku.
Andre meletakkan gelas kopi yang baru saja diseruputnya dengan elegan, yang merupakan ciri khasnya dan juga taktik biasanya dalam menaklukkan lawan jenisnya.
"Oh, ayolah bro. Bukankah kau merasa dirimu terlalu pemarah dan pelit, hahhh?" Andre berkata dengan elegant layaknya cewek-cewek matre diluar sana.
"Ahhh, mataku! Bisakah kau hilangkan kebiasaan mu itu. Jijik aku lihatnya, jijik. Kau kembali aja seperti diri lo biasanya, yang bajingan itu." Aku bangun dari kursi kerja ku dan menuju ke sofa.
"Oh, bro. Jangan bicara bajingan gitu lo. Lo harusnya nyadar diri dong. Kayak diri sendiri bukan bajingan aja." Protes Andre yang bangun dati duduknya karena tidak terima dengan perkataan ku.
"Duduk." Perintahku sambil memberi aba-aba padanya dengan tanganku.
"Oh, nggak bisa begini dong. Aku nggak terima ini. Keberatan gue."
Aku kembali mengangkat tanganku memberi kode padanya untuk duduk. Tapi Andre tetap kekeh untuk berdiri dan bahkan dia membuang mukanya dariku saat aku menyuruhnya.
Ini anak satu memang sangat kekanak-kanakan sekali. Bahkan lebih susah diatur dari Adel yang masih duduk di kelas SMA. Walaupun kadang Andre berguna dan bisa diandalkan saat-saat aku membutuhkannya, namun syaratnya aku harus tahan dengan sikapnya itu. Untung aku sudah terbiasa dengan semua ini, hanya butuh beberapa trik saja untuk menaklukkannya.
"Oh baguslah klo begitu, silakan berdiri saja pelayan Andre yang disiplin."
Andre kaget saat aku menyebutnya seperti itu, dia melotot ke arahku dan tentu saja aku akan membalas pelototannya itu. Namun pada akhirnya Andre menyerah juga dan duduk dengan patuh.
"Jadi ada apa lo manggil gue kesini? Ini bukan karena kerjaan, kan? Lo manggil gue kesini karena ada yang pengen lo cerita ke gue, kan?" Tanya Andre yang bisa begitu cepat mengubah ekspresi wajahnya dengan serius.
Dan inilah sisi unik dari seorang Andre. Dia dengan cepat bisa beradaptasi dengan bal yang ada disekitarnya. Dia bisa lebih serius jika itu adalah hal yang penting. Meskipun dia suka bersenang-senang dan seenak jidat sendiri, tapi dia cukup profesional dalam hal seperti ini.
"Ya." Jawabku singkat.
__ADS_1
"Apakah ini ada kaitannya dengan fitting baju hari ini? Atau emang cerita yang menggemparkan hari ini, hah?" Tanya Andre tersenyum smirk. "Atau jangan-jangan lo pada diusir oleh kakak ipar gue lagi, dan nyari-nyari gue buat minta saran?" Tanya Andre senang dengan fantasinya sendiri.
"Bodoh gue klo nyari lo klo cuma buat minta sama lo." AkAku menjawab sarkas pertanyaan absurd Andre itu.
"Alah, kau ini. Nggak bisakah lo biarin gue berfantasi sedikit saja?"
"Itu nggak baik buat kesehatan lo." Aku melihat Andre dengan ujung mataku dari bawah sampai atas.
Andre yang melihat aku memperhatikannya seperti itu langsung menutup dadanya dengan kedua tangan, dan balik memandangku dengan pandangan memusuhi dan waspada.
"Kenapa lo liatin gue gitu amat."
"Gue hanya kasian sama lo aja." Aku segera membuang pandanganku dari Andre dan melihat keluar jendela dan kemudian melihat ke arah Andre lagi.
"Kamu liatin apa, huh? Dasar laki-laki mata jelalatan! Nafsu kan lo sama gue. Gue nggak nyangka bro, ternyata lo nggak suka cewek cantik itu karena lo udah oleng. Gue nggak nyangka itu. Pantesan lo lebih tertarik dengan Xiao Shak." Andre masih saja menutupi dadanya itu.
Aku terus memperhatikan Andre dengan tatapan aneh. Dua ternyata laki-laki yang seperti itu ternyata. "Apa Andre pikir akh adalah tipe homoseksualitas yang bisa tertarik pada lawan sama jenis. Dia emang sinting, bahkan IQ-nya itu dikalahkan oleh sifat playboy nya itu."
"Apa yang lo maksud Shaka yang di bar kemarin."
"Emang ada yang lain?" Andre kembali menurunkan tangannya dari dadanya dan duduk dengan menyilangkan kakinya lalu bersandar ke sofa.
"Hentikan fantasi lo itu. Gue masih normal kok." Aku menghela nafas capek saat harus menghadapi satu-satunya sahabat ku ini. Fantasinya itu begitu liar, bahkan melebihi Utopia sendiri.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Tuan, ini saya Hans. Saya membawakan Anda kopi."
"Oh, masuk Hans."
"Baik."
Pintu langsung dibuka oleh Hans yang membawakan kopi untukku. Hans menaruhnya di depanku dan kemudian langsung berdiri tegak lagi. Dia memang benar-benar seperti butler kepala pelayanan gitu. Sikapnya begitu kaku, padahal aku sudah mengatakan padanya untuk bersikap biasa saja klo hanya didepan kami.
"Nggak ada. Terima kasih kopinya. Kau bisa mengerjakan kesibukanmu kembali."
"Baik. Saya permisi." Hans mundur dua langkah, baru kemudian dia berbalik dan pergi keluar.
Andre memperhatikan bagaimana cara Hans bersikap dengan kerjaannya pada saat Hans keluar sesudah mengantarkan aku kopi. Lalu Andre berbicara denganku saat aku sedang menegak kopi ku.
"Bukankah dia sangat fleksibel? Maksudku dia sangat berdedikasi pada kerjaannya itu."
"Dia bukan kamu yang bekerja seenak jidat, dan hanya akan berbinar pada uang mereka saja. Yang bahkan menganggap bosnya sendiri seperti atm berjalan." Jawabku menusuk kepada Andre. Setidaknya jawaban ku ini pasti menusuk hati nuraninya itu.
Andre yang sedang minum kopinya jadi tersedak saat mendengar jawabanku. Dia terbatuk-batuk dan kemudian meletakkan cangkirnya kembali. "Hem, hem. Bukan gitu juga bro. Hanya saja segala hak di dunia ini sekarang yang dibutuhkan itu adalah materi, jabatan, kekuasaan. Jadi lo paham sendiri, kan?" Andre menjawabnya beralasan dengan hati-hati.
Tapi apa yang dikatakan Andre memang tidak salah sedikit pun. Di dunia yang segalanya milenial sekarang, jabatan, kekuasaan itu sangatlah berpengaruh. Yang penting kamu punya uang, maka segalanya itu akan berjalan sesuai kehendak mu.
"Btw, lo nggak manggil gue buat ini aja, kan?"
Andre mengubah haluannya dalam berbicara denganku. Aku meletakkan cangkir kopi ku kembali. Kemudian duduk dengan menatap Andre serius.
"Tahan dulu. Biarin gue ngeghibah diket lagi." Andre mengangkat tangannya menghentikan ku saat aku akan berbicara. "Gue nggak tau fitting baju lo sama kakak ipar itu lancar atau nggak, lo ditinggalin sama dia atau nggak? Tapi satu hal yang membuat gue penasaran, sebenarnya gimana sih kakak ipar itu?"
"Lo penasaran akan penampilannya?" Tanyaku memastikan ketepatan kemana pertanyaan Andre itu mengarah.
"Yap, itu dia yang gue maksud." Andre menjentikkan jarinya saat aku menebak pertanyaan itu.
"Lo udah pernah liat dia kok. Bahkan sangat dempet dengannya."
"Lo jangan fitnah, bro. Mana ada kesempatan gue buat dekat-dekat sama calon bini lo, gue orangnya aja kagak kenal. Kan lo tau sendiri, putri Vogart itu, dia nggak pernah hadir di pergaulan kelas atas. Keluarganya begitu menjaganya." Andre terlihat frustasi sendiri saat memikirkannya.
"Nah, buat apa juga lo penasaran sama calon istri orang."
__ADS_1
"Yaelah, bro. Pelit amat sih. Lagian lo nikahin dia juga buat balas dendam pada keluarganya aja, kan? Kenapa lo tiba-tiba jadi suami yang bucin sama istri?"
"Lhah ini kenapa juga gue bucin sama dia. Gue serius lo udah pernah ketemu sama dia."
"Jangan becanda deh bro, dia itu nggak pernah sekali pun, pun pun hadir di acara pesta atau apapun itu. Gimana gue pernah ketemu sama dia. Ya, kan?"
"Andre, Andre. Gue nggak habis pikir, punya sahabat sebego lo. Asal lo tau aja, penyakit keluarga pengusaha itu yang bucin anak perempuan itu nggak pernah mengizinkan anaknya itu untuk keluar ke pergaulan, karena mereka nggak ingin adanya pernikahan bisnis yang nggak diinginkan anaknya. Tapi justru itulah yang jadi masalahnya, karena nggak pernah keluar, justru itu membangkitkan rasa ingin tau si anak. Seperti halnya kita disuruh untuk tidak mendekati sesuatu, namun karena penasaran, hal itulah yang mendorong kita untuk mendekati, bukan?"
"Ya, ya, benar. Jadi apa kaitannya mendekati dengan gue yang ketemu sama Rosalyn?" Tanya Andre yang masih saja bengong dengan apa yang ku maksud.
"Jadi, semakin dilarang maka dia semakin penasaran. Itu juga berlaku pada seorang Rosalyn si bunga rumah kaca dari keluarga Vogart."
"Udah jangan bicara mutar-mutar muli dari tadi. Gue udah paham konsepnya. Jadi pertanyaan gue itu, kapan gue ketemu sama si Rosalyn itu. Gimana sih lo? Atau jangan-jangan lo mau bilang foto Rosalyn kemarin saat lo makan malam kemaren tu yang lo maksud gue ketemu sama Rosalyn."
"Dasar emang sinting lo. Gue pikir lo peka sama semua cewek."
"Nah, klo itu gue emang peka sama segala hal yang berkaitan dengan cewek." Jawab Andre dengan cepat plus bangga lagi.
"Trus, kenapa lo nggak peka sama Shaka yang dibar kemarin itu adalah cewek?"
"Klo itu dari awak gue juga udah tau. Tapi btw, lo tau juga klo Shaka itu cewek. Kok bisa? Gue pikir lo tertarik sama sesama jenis gitu, karena dipikirkan Shaka itu cowok cantik gitu."
"Fantasi lo itu emang liar, ya. Gue yakin pasti nggak ada orang yang ngalahin lo di belahan bumi ini. Tapi yang bikin gue penasaran itu, kenapa bisa-bisanya lo itu sesinting ini? Itu yang bikin gue nggak habis pikir." Aku memijat kepalaku saat memikirkan Andre.
Andre berpikir sejenak, dan baru sesaat kemudian dia sadar. "Jangan lo bilang klo Shaka itu adalah Rosalyn Saputri Vogart itu."
"Klo bukan dia, siapa lagi? Klo nggak, buat apa juga gue ngegoda sesama jenis."
"Oh, pantesan aja ya lo ngegoda anak orang habis-habisan. Ternyata karena lo tau itu adalah bini lo. Lo nggak suka dia datang ke bar, makanya lo ganggu dia biar nggak datang lagi. Diam-diam lo ternyata tipe bucin istri juga ya, bro." Andre melemparkan kulit kacang padaku. Kacang yang memang ada di atas mejaku buat sekedar cemilan ringan aja.
"Btw, dari mana lo tau bahwa itu Rosa? Dan kenapa lo bisa yakin klo itu adalah dia?"
"Itu karena gue pernah masuk ke kamarnya dia dan liat persediaannya itu." Akui ku bicara jujur seadanya.
"Apa?!? Lo pernah masuk ke kamarnya? Lo apain anak orang, bro." Andte kaget bahkan sampai bangun dari tempat duduknya.
"Calm aja napa, sih? Lo pikir gue apa?"
"Kan nggak tau aja gitu bro. Siapa tau kan, tiba-tiba lo dapat ilham gitu, kan?"
"Jangan ngada-ngada deh. Gue tu pas ulang tahunnya dia, gue terlanjur capek saking banyaknya orang disana. Lo juga tau sendiri gue kayak mana. Walau nggak terlalu banyak orang seperti pesta bisnis gitu, hanya saja gue benci klo tiba-tiba orang datang berkerumunan dekat gue dan nanyain ini itu tentang hubungan kami. Apalagi hari ulang tahun Rosa kemaren tu dibarengin dengan pertunangannya kami."
"Ya ya, gue paham. Trus?"
"Nah, gue nanya kamar mandi dama bibi disana. Lhah? Taunya dia tunjukin kamarnya Rosa. Nah pas gue tidur-tidur disana buat istirahat, gue liat pakaian laki-laki. Awalnya dih gue pikir itu pakaian kakaknya atau pacarnya gitu.Eh itu malah kekecilan klo ukuran tubuh laki-laki, jadi gue tebak itu adalah pakaiannya sendiri. Dan itu makin ngedukung kecurigaan gue, pas gue liat ada wig juga." Jelasku panjang lebar kepada Andre.
"Oh...., jadi gitu, ya?" Jawab Andre termangut-manhut mengangguk tanda dia paham. "Tapi bro, satu hal yang bikin gue nggak habis pikir." Andre kembali berkata kepadaku.
"Apa itu?" Aku merespon santai perkataan Andre sambil kembali menyeruput kopinya.
"Ternyata lo udah pernah tidur di kasurnya Rosa, ya."
Spontan aku tersedak dengan kopiku saat mendengar Andre mengucapkan hal demikian. Ternyata dari tadi itu, fokusnya Andre itu hanya pada bagian aku tidur di kasurnya Rosa, bukannya pada bagian aku menemukan pakaian cross dressing-nya Rosa.
...***...
Rosa yang sudah kembali habis berbelanja di indomaret bersama Alan, habis makan-makan buat sekedar isi perut kembali ke rumah sakit. Meskipun dia sekarang dia sedang sendiri aja berjalan-jalan di taman pekarangan rumah sakit, karena sekarang dia hanya ingin menghirup udara segar saja.
Karena Alan tadi pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, makanya Rosa juga tak ingin menghalangi Alan hanya untuk menemaninya jalan-jalan melepaskan segala hal yang terjadi hari ini. Lagipula Rosa juga ingin berusaha sedikit demi sedikit buat melepaskan Alan juga.
Rosa terus berjalan-jalan di taman, memperhatikan sekelilingnya. Begitu banyak pasien yang jalan-jalan di taman, dan dari berbagai usia. Rosa melihat bangku disana dan kemudian dia duduk memperhatikan segala pemandangan taman rumah sakit yang diisi dengan segala kunjungan keluarga pasien ataupun pasien yang jalan-jalan dengan kursi roda di taman.
Rosa tidak peka klo ada seseorang yang terus memperhatikannya dari kejauhan, saking dia linglungnya dengan segala masalah tiba-tiba yang menimpa papanya itu. Padahal Rosa yang biasanya begitu peka akan keadaan disekitarnya, tapi pada hari ini dia tidak menyadari sama sekali klo ada orang yang terus memantaunya.
__ADS_1