
Rosalyn POV
Setelah aku membantu kakak dengan perkerjaannya, kami akhirnya menjemput papa dan mama pulang dari rumah sakit. Aku dengan kakak pas menyelesaikan pekerjaan kami pada sore hari, dan kakak juga nggak perlu lembur malam ini karena ada aku yang membantunya.
"Thanks buat hari ini ya, honey. Karena udah ngebantu kakak. Klo nggak kakak harus lembur lagi seperti semalam." Kata Kak Stev mengawali pembicaraannya.
"You are welcome, brother. I'm so happy because l can help you today."
"Hehehe, you are the best honey." Tutur kakak sambil mencoba untuk mencium pipiku, tapi untungnya kakak nggak bisa melakukannya, karena ketahan dengan sabuk pengaman.
Aku mendorong wajah kakak kembali melihat ke depan. "Tolong menyetirlah dengan baik, kak. Rosa nggak mau ya, klo sampai harus berakhir di rumah sakit nantinya."
Kakak memang sudah menjadi kebiasaan klo lagi menyetir ada saja tingkahnya itu jika denganku. Nggak itu bukanlah lagi sebuah kebiasaan, tapi itu sudah menjadi sebuah penyakit dan hama yang harus dibasmi, demi kenyamanan dan keselamatan bersama.
Kakak mendapat perkataan seperti itu dariku langsung menyetir dengan baik, walaupun dia sepertinya sedikit merajuk. Aku tau itu dari mulutnya itu yang mengerucut.
"Benar-benar kekanak-kanakan. Dan herannya lagi, kenapa sikap itu kakak berikan kepadaku yang notabene sebagai adiknya sendiri, bukannya untuk merayu cewek. Klo memang kakak melakukan itu, mama dan papa pasti sudah punya menantu perempuan di rumah, bahkan sudah menimang cucu. Haaah, kakakku ini memang kakakku, kakak yang aneh." Batinku menyayangkan sikap kakakku yang disia-siakan untukku.
Semua itu hanya bisa membuatku menghela nafas panjang, memikirkannya saja sudah lelah, apalagi menerima perlakuan kakak yang obsesif kepadaku.
"Kak, nggak kah kau merasa bahwa sikap obsesif mu itu berlebihan padaku? Kenapa kakak nggak menjaga orang yang penting bagi kakak dengan sifat itu?" Tanyaku pada kakak yang serius menyetir.
Kak Stev nggak melihat kearah ku, melainkan dia sangat fokus menyetir sekarang. Tapi itu bukan fokus, tapi itu adalah sifat serius dan juga kakak nggak ingin menjawab pertanyaan ku ini. Sepertinya klo kakak menjawabnya, itu pasti 90 persennya adalah kebohongan atau hanya dibarengi candaan saja. Pokoknya yang pertanyaan inti itu, kakak nggak akan pernah menjawabnya.
"Kak..., hello? Kakak dengar apa yang Rosa bilang barusan, kan?" Aku melambai-lambaikan tanganku di depan wajah kakak, dan kakak pun menoleh kearah ku.
"Honey, bukankah sudah kakak bilang berkali-kali, kamu itu orang penting bagi kakak, bahkan most important nothing more important." Jawab kakak serius dan tetap fokus dalam menyetir.
__ADS_1
"Bukan itu maksud Rosa. Ya, Rosa tau, Rosa ini penting bagi kalian semua. Tapi maksud penting disini adalah orang yang berharga bagi kakak, orang yang kakak cintai."
"Ya betul lah itu, kakak juga mencintai kamu." Jawab kakak lagi. Sepertinya klo pembicaraan seperti ini, emang kakak nggak mau menjawabnya sama sekali.
"Bukan cinta antara saudara kak, tapi cinta lawan jenis. Orang yang kakak inginkan untuk selalu berada di sisi kakak sampai akhir hayat, sampai maut yang memisahkan."
"Nggak ada yang namanya cinta lawan jenis dalam kamus kakak, honey. Kamu tau itu kan honey, klo kakak hanya mencintai keluarga kakak."
"Haaah, kakakku ini emang nggak ada obat lagi. Tapi pembicaraan ini memang agak terasa berat, dan nggak nyaman untuk dibicarakan. Apalagi mimik wajah kakak langsung berubah saat aku membicarakan hal ini. Lebih baik alihkan saja."
"Apa kakak bilang?? Nggak ada yang namanya cinta lawan jenis dalam kamus kakak? Jangan becanda deh, kak. Atau jangan-jangan, anunya kakak nggak bisa berdiri untuk wanita ya, kak? Atau kakak nggak mampu lagi, makanya kakak lebih memilih untuk merahasiakannya, ketimbang kakak ketahuan, ya? Atau jangan-jangan juga..., kakak tertarik sama sesama jenis lagi ya, kak? Waaahhh, ini benar-benar gaswat kak, benar-benar gaswat ini." Akting ku pura-pura panik.
Aku sebaik mungkin mencoba untuk merubah suasana dalam mobil. Aku nggak akan memaksa jika memang kakak nggak mau menjawabnya, dan mungkin itu memang benar adanya, semakin sedikit yang ku tahu akan semakin bagus buatku.
Tapi meskipun begitu, kata-kata itu mungkin bisa dirasionalkan oleh pikiran. Namun apakah hati ini bisa merasionalkannya? Aku merasa sedih, juga kecewa, karena hanya aku yang yang tau akan rahasia itu.
"Honey, kamu ini jangan ngadi-ngadi deh." Tegur kakak mengetuk dahi ku. "Mana mungkin kakak gitu, asal kamu tau aja ya, kakak mu ini masih sangat sehat. Mana mungkin juga kakak nggak mampu, padahal tubuh ini masih begitu sehat dan bugarnya. Kakak bukannya apanya gitu, hanya saja yang kakak takutkan semua wanita kakak malah pada tepar semua, karena nggak mampu menyeimbangi kakak."
"Honey! Kamu ini benar-benar, ya. Udah dibilangin juga, kakak mu ini bukan pria bengkok honey, tapi kakak mu ini masih setia dan akan selalu setia pada sekte lurus, honey. Hanya saja kakak belum menemukan orang yang tepat. Dan belum saatnya juga."
Aku berhenti ketawa saat mendengar jawaban dari kakakku. "Belum saatnya? Kak..., kakak itu nggak muda lagi lho, umur kakak itu hampir masuk kepala tiga. Masa sih belum menemui orang yang tepat? Kak, Rosa aja yang baru 18 tahun udah mau nikah lho kak? Masa kakak mau-maunya didahului oleh Rosa. Yah, nggak apalah klo emang didahului, tapi setidaknya kakak nggak main pasrah terima aja didahului. Kak, carilah tulang rusukmu yang hilang itu. Contohnya seperti aku dengan Reyhandra." Ujar ku memberi pencerahan kepada kakak.
"Honey, diamlah. Kakak nggak mau dengar kamu nyebut nama bocah Reyhandra itu, ya? Kakak nggak suka dia, karena dia akan merebut kamu dari kakak."
"Bukannya kakak juga akan menyerahkan ku secara langsung nantinya. Juga melihat serta mengantarkan ku langsung kepada Reyhandra. Kakak akan melihat ku dibawa pergi olehnya. Kenapa kakak harus benci kepadanya? Kami itu akan menjadi sepasang sejoli kakak."
"Sepasang sejoli, ya? Honey, asal kamu tau aja, klo emang adat pernikahan di Indonesia ini seperti adat China kuno ataupun kayak India gitu, yang mengharuskan pengantin wanitanya pakai veil. Kakak rela berganti tempat dengan kamu. Kalaupun kamu nggak mau dan nggak setuju, kakak juga tetap akan melakukannya, dan kakak juga nggak segan untuk membuatmu pingsan. Supaya kakak bisa ngebunuh itu orang yang mau merebut kamu dari kakak." Jelas kakak sambil memukul setir mobilnya.
__ADS_1
"Kasihan mobilnya dipukul padahal kagak salah. Tapi by the way, skenario kakak benar-benar sangat menakutkan. Bahkan aku pun akan dibuatnya sampai pingsan." Batinku yang menggeleng-geleng kepalaku. Itu semua jangan sampai terjadi. Dan untungnya ini bukanlah cina kuno ataupun India.
"Honey, satu hal yang nggak pernah kakak ngomongin ke kamu maupun orang tua kita. Tapi kakak rasa jalan kita kedepannya akan sangat berliku-liku, penuh jurang dan curam, penuh dengan batu sandungan kerikil juga duri. Terutama kamu honey, kamu akan menghadapi sesuatu yang bahkan akan membuatku seakan gila, dan hanya ingin melarikan diri saja." Kata kakak dengan sangat serius serta pandangan yang penuh kekhawatiran yang dalam.
"Kenapa kakak bisa ngomong seperti itu? Kalaupun aku mendapatkan takdir yang seperti itu, bukankah kalian akan selalu bersamaku?Berada di sampingku dan mensupport aku? Hemmm.., dan jika aku memang nggak suka jalan yang itu, bukankah aku juga bisa mengambil langkah untuk memutar balik kembali?" Tanyaku yang entah kenapa menanggapi perkataan kakak itu dengan serius.
"Ya, mungkin kami akan bersamamu dan mungkin juga nggak bersamamu. Honey, kadang jalan itu hanya bisa dilalui oleh satu orang dan tak semua jalan juga bisa untuk diputar balik. Sama seperti trotoar yang hanya dikhususkan untuk pejalan kaki, begitu pula dengan jalan takdir. Kadang takdir tidak menyatukan jalan kita untuk bisa melangkah bersama, dan hanya bisa one person and just only one. Bahkan untuk jalan kakak sendiri, kakak seakan ragu. Kakak merasa akan ada plot twist dalam hidup kakak ini, dan akhirnya harus kakak sendiri yang menentukan."
"Plot twist?? Hahaha, kakak ini ngomongnya makin kesini makin aneh aja. Malah pake plot twist segala, emangnya kakak pikir ini film? Webtoon?? Novel?? Manga?? Haha, kakak ini benar-benar punya bakat buat jadi pelawak, ya." Aku tertawa keras saat mendengar segala perkataan kakak itu, dia udah serasa kayak peramal saja.
"Honey, mungkin ini terdengar lucu bahkan kakak sendiri saja menganggap klo kakak udah gila. Tapi kita nggak tau honey, bisa saja ini adalah sebuah ilham dan juga kebenaran."
"Hahahaha...., kak, kak. Kau ini, ya? Sejak kapan kakak jadi percaya dengan insting kakak yang seperti peramal itu. Nggak ada kak yang namanya gitu. Mungkin insting kadang memang ada, tapi itu hanya akan berlaku untuk bertahan hidup juga untuk... ujian sekolah. Hahahaha.... Apa lagi itu kakak bilang?? Plot twist?? Plot twist apaan itu emangnya? Kesho!! Why you talk about laught today with me, brother? Apakah untuk menghibur diri kakak sendiri? Hahaha..."
"Honey, mungkin ini terkesan lucu dan lawak. Tapi kakak nggak bisa menyangkal firasat ini, kakak bukan sekali dua kali terlintas firasat ini. Honey, mungkin kamu meremehkan plot twist ini. Ya, mungkin seperti yang kamu bilang. Plot twist itu hanya ada di film, novel. Tapi plot twist itu bukan hal yang indah, honey. Plot twist itu adalah kenyataan juga kejadian yang kita sendiri nggak bisa menebak alurnya." Jelas kakak tetap dengan pandangan mata yang punya makna yang dalam.
"Bukankah hidup ini juga nggak bisa ditebak? Klo itu emang plot twist yang seperti kakak maksud, bukankah itu biasa saja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan." Tutur ku menepuk-nepuk bahu kakak untuk menenangkannya.
"Mungkin emang iya, honey. Tapi itu tetap seperti dua sisi koin yang berbeda. Meski namanya koin, tapi itu tetap sisi yang berbeda dan makna yang berbeda. Kehidupan mungkin kita sudah menebak dan merencanakannya, sedangkan plot twist, rencana yang kita atur malah berubah dan berjalan tidak sesuai keinginan."
"Emang di dunia ini nggak semuanya berjalan sesuai keinginan, kak. Kakak jangan udah kayak orang tua primbon Jawa deh. Ngeri tau kak. Kalaupun plot twist, kan tetap saja endingnya bisa bahagia, kan?" Jawabku dengan enteng.
"Ya, mungkin. Tapi tetap aja, plot twist itu kebanyakannya, 98 persennya itu adalah luka, sengsara, duka juga nista. Dan 2 persennya adalah bahagia, ending yang diinginkan banyak orang, and all person, all human."
"Bukankah hidup ini memang pilihan? Maka dari itu, aku tinggal memilih alur yang akhirnya harus bahagia, kan? Aku akan menjadi orang diantara 2 persen orang yang beruntung itu, orang yang bahagia itu." Jawab ku meyakinkan kakak ku juga tersenyum manis padanya.
Hanya saja kakak ku yang biasanya kepercayaan dirinya yang melebihi semua orang di jagad raya, kenapa hari ini bisa berbicara ngelantur kayak nggak jelas gitu.
__ADS_1
"Sebenarnya kemana kakak ku yang penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi itu?" Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri akan kakak ku yang aneh hari ini.
"Yah, terserah kamu, honey. Kamu akan menanggapi perkataan kakak ini gimana. Tapi yang jelas honey, you should remember that l said to you, you should always to remember this one. In this life, the winner will continuous and the loser will stop. Ingat itu baik-baik, honey." Kata kakak mengetuk kepalaku. Kali ini dengan kesan yang serius juga misteri, bukan kesan bercanda ataupun untuk unsur kebercandaan.