Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 49 : Demi Kamu, Apapun Itu


__ADS_3

Rosa sudah mandi dan dan sekarang dia sedang bolak-balik mengganti pakaian. Ini nggak pas, itu nggak pas. Pokoknya dia selalu mengganti pakaian dan ganti lagi.


"Mimpi apa aku semalam hingga sampe segininya. Oh god, what's wrong with my day, with my self, with my life." Ratap Rosa dalam hatinya sambil terus mengganti baju yang direkomendasikan.


"Nggak cantik!" Kata Serena menilai sesudah memperhatikan gaya baju Rosa. Gaya cewek polos dan masa muda yang cerah.


"What??! Me? Dibilangnya nggak cantik. Yang bener saja. Siapa sih dulu yang memuji-muji aku cantik kali dan mirip dengan mamanya. DNA-nya unggul kali makanya anaknya dominan cantik. What the f*ck. Yang benar saja ini." Batin Rosa menjawab perkataan Serena dalam hatinya sendiri.


"Iya, nggak cantik. Ini terlihat terlalu polos. Ganti lagi. Sekarang yang ini. Sana pakai!" Perintah Stev melemparkan pakaian warna dongker dengan hiasan bintang. Temanya adalah gaun malam.


Rosa tetap dengan tabah dan dengan kesabaran yang tinggi tetap berjalan ke kamar mandi lagi dan mengganti pakaiannya lagi. Lalu dia keluar dan menunjukkannya pada mama dan kakaknya yang akan menilai.


Rosa keluar dan berpose dengan membawa gaunnya itu secara profesional, dan berjalan layaknya model yang memamerkan pakaian mereka.


"Hemmm, ini lumayan cantik. Layak dipertimbangkan." Puji Stev setelah beberapa saat terdiam dan sempat menciptakan suasana canggung dan tegang untuk sesaat.


"Huuuh, layak di coba, ya? Akhirnya, sesudah penantian begitu lama. Sesudah bolak-balik kamar mandi 26 kali mengganti pakaian yang ke-13 kalinya. Akhirnya ada yang layak dipertimbangkan juga, dan... lumayan cantik." Batin Rosa yang nyawanya tinggal setengah lagi, karena dari tadi terus ngonta-nganti baju.


"No, mama nggak setuju." Satu kalimat dan empat kata keluar dari mulut Serena.


Kalimat yang membuat Rosa langsung serasa ingin berteriak sekencang-kencangnya. Namun Rosa tetap pasrah, karena itu adalah mamanya sendiri. Siapa suruh juga mamanya itu begitu cinta dan penuh kasih pada putrinya itu. Sampai kasihnya pun tumpah keluar bahkan sampai saat pilih baju buat makan malam biasa aja.


"Kita harus ganti yang lain. Gaun malam itu tidak cocok untuk makan malam dengan Alan, karena ini bukanlah untuk menyenanginya. Tapi kita datang untuk berperang, jadi harus pakai baju perang yang cocok juga." Kata Serena yang berjalan menuju lemari penyimpanan baju Rosa.


"Ya, mama carilah baju perang yang cocok. Sampai besok pun mama cari nggak akan ada yang namanya baju zirah perang dalam lemari Rosa itu, ma." Batin Rosa yang menyaksikan betapa malang nasib lemarinya itu sekarang.


Semuanya berantakan, dan bahkan itu dibuat berceceran sampai ke luar lemari. Sampai-sampai ranjangnya pun kadi tempat tidur pakaiannya, bukan tempat tidur orang lagi.


"Ma, udahlah ni. Udah ok ini. Dan kakak juga bilang klo ini layak dipertimbangkan juga lumayan cantik, kan?" Tutur Rosa yang mencoba merayu mamanya itu.


"Sorry ya, honey. Kakak cuma bilang layak dipertimbangkan. Bukan emang harus dipertimbangkan. Jadi kamu diam aja, nurut perkataan orang yang lebih tua dari kamu napa, sih? Kamu itu sekarang banyak bantahannya, ya honey. Udah berani melawan kamu." Ujar Stev yang seperti nada marah kepada Rosa. Apalagi Stev bicaranya pake nunjuk ke Rosa segala.


"Tapi, itu..."


"Nah, udah berani melawan kan kamu sekarang?" Potong Stev yang belum sempat Rosa menyelesaikan kalimatnya. "Nggak apa, ma. Lanjut grebek aja, ma. Cari trus. Sampai dapat. Urusan honey biar Stev yang handle." Kata Stev yang membuat Serena mengerti dan terus mencari pakaian untuk Rosa. Dan kadang saat sudah ditemukan yang kira-kira cocok di di mata, langsung dites ke Rosa. Dan jika nggak cocok langsung sembarangan lempar saja.


"Ma, udahlah. Jangan dengerin kakak lagi. Ini udah yang ke-13 kalinya lho, Rosa bolak-balik ngonta-nganti terus. Kasihan Kak Alan-nya nanti kelamaan nunggu." Protes Rosa yang duduk dengan bete di atas ranjangnya.


"Itu emang udah takdir alam dan kodrat hukum untuk seorang lelaki sejati itu menunggu cewek buat ngedandan, ok? Kamu cukup nanti berpenampilan ok dan wow aja. Klo perlu buat si Alan itu ternganga saat air liurnya itu mau keluar. Ya, nggak, ma?" Kata Stev sambil memperagakan gimana mulut Alan ternganga karena terpesona dengan kecantikan Rosa.


"Iya." Jawab Serena singkat sambil terus mencari pakaian yang cocok untuk dikenakan Rosa.


"Haaah, terserah kalian saja, dah. Rosa udah pasrah. Lagipula nyawa Rosa juga udah tinggal setengah lagi. Nggak sanggup Rosa buat ngadu opini dengan kalian."


"Nah gitu kek dari tadi. Kan kamunya juga nggak kehabisan energi." Jawab Stev senang sambil mempuk-puk kepala Rosa. Stev senang karena Rosa patuh dan menerima saja apa yang diperintahkan olehnya dan mama.


"Nah, ini dia. Ketemu juga." Kata Serena senang sambil mengeluarkan dress warna merah menyala dan blink-blink.


Dress yang menampakan bahunya, juga sedikit sempit bawahnya, seperti ekor duyung. Untung juga nggak terlalu panjang, klo nggak bisa-bisanya Rosa terjatuh karena ke injak dress-nya. Lagi, dress-nya juga ketat, hingga menampakkan lekukan tubuh.


"Nah, ganti sekarang!" Perintah Serena melemparkan dress-nya pada Rosa.


Rosa memperhatikan dress yang dilempar mamanya untuk diganti. Ini bukan selera mereka sama sekali. Nggak biasanya mereka merekomendasikan pakaian terbuka bahu seperti ini pada Rosa, hanya ada dua tali penyangganya saja, sampai dress nggak jatuh merosot ke bawah.


"Mama yakin yang ini?" Tanya Rosa menanyakan pendapat mamanya sekali lagi.


"Yakinlah! Sana ganti cepat! Katanya kamu nggak mau kakak Alan mu itu nunggu lama, kan?"


"Wait. Tapi mama tau kan, ini dress apa? Temanya apa?"


"Taulah. Emangnya mama kamu ini bodoh kali, sampai tema dress aja nggak tau."


"Klo emang mama tau, dress ini temanya apa?" Tanya Rosa lagi yang mementingkan dress itu menunjukkan pada Serena dan Stev.


"Seksi." Jawab Serena pendek.


"Nah, itu mama tau. Kok bisa-bisanya mama nyuruh Rosa buat ganti pake yang ini? Mama ingat nggak, dulu saat makan malam pesta di tempat klien papa, Rosa pake dress ini kakak sama mama malah teriak sama Rosa buat ganti yang lain. Mama ingat, kan?"


"Iya, ingat. Emangnya kenapa? Mama maunya kamu makai yang itu."

__ADS_1


"Tapi ma..."


"Udahlah honey, jangan banyak tapian lagi. Lama lagi ini masih. Belum make up, belum tata rambut juga, belum lagu milih sepatu juga. Pokoknya banyak lagi masih. Jadi cepetan sana ganti." Kata Stev mendorong Rosa untuk mengganti dress.


"Ok, apapun nanti ini yang terakhir, ya? Ini udah yang ke-14 kalinya Rosa ganti dress mulu dari tadi. Ini cocok dan nggak cocok, pokoknya ini yang terakhir. Full stop." Finish Rosa nggak mau ambil pusing lagi karena kelamaan milih bajunya.


"Ok, mama jamin itu." Jawab Serena yakin sambil membuat tanda ok dengan tangannya. Seolah-olah Serena berkata klo itu aman, dan Rosa tenang saja.


Rosa mengganti bajunya yang ke-14 kalinya, lalu keluar lagi. Dan langsung disambut dengan perasaan puas dan pujian dari Serena dan Stev.


"Ok, cantik. Emang DNA unggul mama ini." Puji Serena pada Rosa dan of course, tak lupa dia memuji dirinya sendiri.


"Hemmm, sangat mempesona. Cukup layak untuk dipertimbangkan. Udah ok ini. Lanjut step selanjutnya, make over." Kata Stev dengan semangat 45-nya itu.


Serena mendudukkan Rosa didepan meja rias dan langsung membuka perkakas perang itu dan mensulap Rosa. Stev juga dengan telaten memberikan alat apa saja yang dibutuhkan Serena.


Sedang yang lainnya sibuk dengan memake up-nya, Rosa hanya bisa pasrah, dan juga ini kali pertamanya dalam hidupnya, selama hidupnya sampai Rosa berumur 18 tahun kemarin, dia di make up setebal ini dan juga dengan gaya yang nggak main-main. Tema seksi yang menggoda, image orang dewasa yang mendominasi. Bisa dikatakan itu adalah gaya CEO perempuan yang mendominasi.


Mulai dari make up hampir kelar, tinggal gaya rambut sekarang. Serena bekerja dengan cepat dan sangat profesional seakan dia emang udah terbiasa dengan semua alat yang digunakannya. Semuanya Serena dan Stev yang atur, Rosa hanya harus menerima saja untuk malam ini.


"Stev, udahan ini. Cuma sedikit polesan gaya rambut aja. Kamu sana cari heels yang cocok dengan baju ini." Perintah Serena yang langsung dilakukan boleh Stev.


"Ma, mau warna merah atau yang hitam?" Tanya Stev mementingkan sepatu merah disebelah kanannya dan yang hitam di tangan kirinya.


Serena sempat berpikir sebentar sebelum memastika. Karena baju Rosa warnanya merah menyala dan itu sangat sulit untuk menentukan. "Udah, sini! Bawa aja dua-duanya." Perintah Serena sesudah selesai mengatur rambut Rosa dan make up-nya pun udah selesai.


Stev membawa sepatunya ke depan Serena. "Yang merah cantik juga, tapi nggak ada blink-blink nya. Yang hitam ada blink-blink nya. Ahhh, yang hitam aja, biar sama blink-blink nya, biar lebih glamor dan seksi." Putus Serena yang memberikan heels hitam untuk dipakai Rosa.


"Udah jadi blackred aku hari ini. Orang blackpink, aku malah blackred. Haaah, emang udah nasib." Batin Rosa yang emang udah pasrah.


Rosa memakai heels-nya dengan patuh dan langsung turun ke bawah, karena mobil Alan juga udah sampai, karena tadi Bi Salma sempat mencari Rosa dan bilang klo Alan sudah sampai, hanya saja Alan-nya nggak masuk, dan tetap menunggu di mobil.


"Woooow, you are so beautiful tonight, my daughter Rosa. How beautiful are you?" Puji Raymond yang melihat perubahan Rosa.


"Gimana, pa? Karya seni mama dan Stev. Cantik, kan?" Tanya Serena yang ingin dipuji oleh Raymond.


"Tapi..., apa si non nya nggak bakalan masuk angin itu? Kan pakaiannya terbuka gitu?" Tanya bibi ikut berkomentar dengan baju Rosa.


"Ah, iya juga, ya. Kamu tunggu disini bentar, honey. Kakak bakal segera kembali!" Perintah Stev yang langsung naik ke atas entah apa yang akan dibawanya lagi dan apa yang akan terjadi dengan Rosa lagi.


"Tak lama kemudian, Stev turun sambil membawa dua jas kantornya. Dan itu masih baru karena belum dipakainya sama sekali. Satunya jas putih dan satunya lagi warna hitam.


" Pakai ini honey, biar nggak kedinginan. Biar si Alan juga nggak bisa liat bahu mulus kamu juga." Kata Stev yang memakaikan Rosa jasnya, yang hanya di turuhnya di bahu saja, tanpa memakainya. Karena itu emang trend-nya.


"Jangan yang putih, Stev." Komentar Raymond yang meras nggak cocok dengan Rosa.


"Iya, tuan muda. Jangan yang putih. Nanti dikiranya non itu malah kerasa jadi bendera lagi. Dikirainnya malah cosplay kayak yang biasa lewat di TV-TV lagi." Tambah bibi lagi menjelaskan alasannya.


"Ah, iya juga, ya. Yang hitam aja ah." Stev langsung mengambil yang hitam dan memakaikannya. Lalu dia baru terlihat puas akan penampilan Rosa.


Serena memperhatikan penampilan Rosa, lalu dia merasa ada yang kekurangan. "Bi, tolong ambilin tas tangan yang kemarin saya belikan, ya. Ada di lemari tas juga. Tolong bibi ambilkan. Yang warna merah kayak gini juga." Perintah Serena yang tau apa yang kurang sejak tadi.


Bi Salma langsung berlari kecil dan mengambil apa yang disuruh majikannya itu. Selagi Bi Salma mengambil tas tangannya, Rosa menunggu ditemani oleh pandangan dari keluarganya yang terus memperhatikannya.


"Mama ngerasa ada yang kurang nggak, sih?" Tanya Stev berkomentar.


"Iya, mama ngerasa juga gitu Seakan ada yang hilang gitu."


"Ahhh iya. Lehernya kosong ma. Kan jadi nggak realistis banget gitu." Kata Stev akhirnya tau apa yang kekurangan.


"Iya juga, kamu benar tuh. Kok bisa-bisanya mama lupa tadi." Serena langsung memutar otaknya untuk mengakalinya.


Lalu dia melihat di lehernya ada kalung berlian hadiah dari suaminya. Serena melihat ke arah Raymond seakan minta izin dan langsung di angguki oleh Raymond. Serena segera melepaskannya dari lehernya dan memakaikannya pada Rosa sesudah mendapatkan lampu hijau dari Raymond.


Tak lama kemudian, Bi Salma pun datang membawa tas tangan berwarna merah yang dimaksud oleh Serena dan diberikannya pada Rosa. Rosa hanya mengambilnya dan memperhatikan baik-baik. Pada malam ini dia hanya akan menerima, nggak ada komentar lagi. Udah cukup tadi, dan kini setengah energinya lagi akan dia gunakan untuk makan malam dengan Alan.


"Ok, honey ini udah perfect. Kamu sekarang udah boleh maju ke medan perang." Tutur Stev yang tak lupa mengambil beberapa potret dari adiknya itu.


"Tunggu dulu, cek lagi dulu sekali lagi. Pokoknya jangan sampe ada yang ketinggalan." Kata Raymond yang orangnya super hati-hati.

__ADS_1


"Undangannya." Kata si bibi mengingatkan.


"Ah, ya. Undangannya. Hampir aja lupa. Padahal itu fokus utamanya." Kata Serena yang langsung menyuruh Stev untuk mengambil undangannya.


"What??? Fokus utamanya itu adalah undangan? Jadi buat apa juga aku dari tadi nganta-nganti bolak-balik ganti dress ini jangan itu tidak boleh, klo emang fokus utamanya adalah undangan." Pekik Rosa dalam hatinya, yang pengen kali klo pertanyaan yang itu dia koar-koarkan.


"Datang. Ini dua undangan yang emang langsung dari tas selempang honey tadi. Nih, honey. Tolong sampaikan kepada Alan dengan baik." Perintah Stev yang langsung menyambar tas tangan yang ada di tangan Rosa dan memasukkan undangannya.


"Kenapa harus dua, kan satu aja juga cukup." Protes Rosa pada Stev.


"Buat jaga-jaga aja honey, siapa tau nanti tunangannya juga muncul di sana. Alih-alih dia melabrak kamu selingkuh sama Alan, jadi kamu lempar aja undangan ini di mukanya itu." Tutur Stev yang imajinasinya emang seperti drama-drama Indosiar.


Rosa menghela nafasnya panjang, dan langsung pamit lagi pada semuanya. Namun belum juga Rosa membuka knop pintunya, Raymond kembali memanggil Rosa. Raymond memberikan kartu kredit pada Rosa, dan itu sontak membuat Rosa bingung, karena Rosa sendiri juga bawa uang cash, sekitaran 2 jutaan gitu, kan lebih dari cukup itu untuk makan malam.


"Mana cukup itu honey, kasih aja apa. Jangan biarkan si Alan itu yang traktir kamu honey. Pokoknya kamu yang harus mendominasi dan kamu harus berinisiatif klo emang kamu yang bayar malam ini. Klo perlu bawa ke tempat mewah aja sekalian, ok? Pokoknya harus kamu yang pegang kendali malam ini. Klo nggak buat apa, kamu capek-capek dandan kayak gini." Kata Stev terus mendorong Rosa untuk mengambil kartunya, karena awalnya Rosa menolak kartu kredit dari papanya itu.


"Lhah, yang mau dandan seperti ini siapa juga?" Batin Rosa yang mempertanyakan.


"Bagus Stev, perang tetaplah perang. Semua perangkat harus siap. Siap untuk balas dendam." Batin Serena mengangguk-angguk kepada Stev yang hanya dibalas senyum oleh Stev.


"Iya, nggak peduli berapapun uangnya, pokoknya balas dendam atas hinaannya dulu. Dia emang pantas untuk dibalas, karena sudah membuat putri kecilku itu menderita, bahkan psikologisnya juga terluka." Batin Raymond lagi.


Rosa lagi-lagi hanya menerima saja. Saat dia sudah pamit dan akan membuka knop pintu, dia kembali dicegat oleh Raymond.


"Ini yang kedua kalinya." Batin Rosa berhenti membuka knop pintu.


Raymond menyerahkan kartu peserta VIP pada Rosa. Kartu untuk mengakses restoran kerja samanya dengan klien di Amerika. Yang katanya untuk masuk ke restoran sekaligus hotel itu butuh waktu sebulan untuk reservasinya. Dan kartu VIP saja hanya ada seratus lembar. Jadi itu edisi terbatas.


"Gunakan ini, sayang. Bawa dia ke tempat mewah ini, ok? Kamu tau hotel yang ada restoran ini, kan?" Tanya Raymond yang di angguki oleh Rosa. "Ya, bawa dia kesini. Papa pikir kartu ini nggak ada gunanya, tapi siapa tau akhirnya kartu peserta papa ini akan digunakan juga. Untung saja papa menerima kartu beserta ini. Jadi kamu udah boleh pergi sekarang." Kata Raymond tersenyum pada Rosa.


"Beneran udah boleh pergi ini, kan?" Tanya Rosa meyakinkan saat akan membuka knop pintu.


"Tunggu dulu honey, pakai jam tangan juga." Seru Stev menghentikan Rosa. Stev melepaskan jam tangannya lalu memakaikan pada Rosa. Rosa bingung kenapa dia harus memakai jam tangan lagi, bukankah itu tidak cocok. Seakan tau klo Rosa bertanya, Stev pun menjawab. "Nanti kamu klo mau pulang jangan lupa tetap bergaya honey. Liat jam tangan ini. Lalu kamu bilangnya seperti ini, 'Sama seperti Cinderella yang sihirnya akan berakhir dan habis berdansa dengan sang pangeran di tengah malam. Jadi makan malam diantara kita juga akan berakhir disini. Klo gitu aku pulang dulu. Terima kasih atas waktunya'." Ujar Stev yang berakting. "Jangan lupa kamu honey, harus yang cool. Trus jangan lupa bayar juga kamu ini, gunain kartu kredit yang papa kasih itu." Peringatan Stev lagi pada Rosa.


"Ok ok, Rosa ngerti kok."


Rosa mengangguk mengerti dan langsung keluar membuka knop pintu. Nggak mau mendengarkan apa-apa lagi. Semakin Rosa berlama-lama di sana, maka makin banyak pula yang harus dia denger.


Kenangan Berakhir....


Dan disinilah Rosa sekarang, satu mobil dengan Alan. Menuju ke hotel De. Dreams Roza. Hotel kerja sama papanya Rosa dengan pemilik di Amerika yang akhir-akhir ini sedang begitu populer. Karena hotelnya yang menyediakan restoran di bawahnya, bahkan ada limited edition buat yang VIP. Jadi banyak orang kaya yang memburunya, karena semakin langka suatu barang pasti akan semakin menarik perhatian orang kaya yang suka pamer untuk memilikinya.


Tidak ada banyak pembicaraan yang berarti antara Alan dan Rosa, kecuali hanya sebatas basa-basi Alan yang bertanya tentang papanya Rosa, dan Rosa yang bertanya seputar pekerjaan Alan saja. Rosa tertarik dengan hal itu, karena itu juga dikarenakan Rosa ada keinginan untuk bekerja di bagian medis, walaupun jurusannya berbeda.


"Kamu sangat cantik malam ini. Dan itu cocok untuk kamu." Puji Alan yang dimaksudkan untuk pakaian Rosa.


Rosa tersenyum simpel seperti biasa untuk menanggapi pujian Alan, dan bereaksi sepantasnya saja. "Begitukah? Thanks. Kak Stev dan yang lainnya juga bilang gitu ke Rosa. Katanya ini sangat cocok untuk Rosa, tapi Rosa malah ngerasa ini sebaliknya."


"Nggak kok Kamu cocok memakai apapun. Tapi dalam balutan dandanan seperti ini, kamu seakan lebih bersinar dan dewasa. Kamu seakan menemukan jati diri kamu yang lainnya. Bahkan saat pertama aku lihat, aku seakan nggak percaya klo itu adalah kamu."


"Kakak ini ngomong apaan sih? Biasa aja kali, bikin orang malu aja."


"Ehhh, kok gitu. Kakak serius lho mujinya."


"Ya lah itu. Tapi, by the way, Kak Alan juga kelihatan lebih ganteng malam ini. Juga kelihatan lebih gagah." Balas Rosa yang memuji Alan.


Alan yang biasanya hanya pakai jas dokter atau cuma pakai blouse dan celana sebatas lutut yang dikenal Rosa, atas cuma pakaian casual, kini memakai pakaian formal, bahkan sampai menggunakan jas.


"Hemmm, menurutmu begitu? Maka baguslah, klo kamu emang suka, kiranya kamu bakal nganggap aneh dan culun gitu, sebab kakak nggak pernah pakai pakaian formal kayak gini sebelumnya."


"Iya, beneran lho. Kakak jadi kelihatan lebih macho gitu." Puji Rosa lagi yang membuat Alan tersenyum begitu cerah, walaupun ini adalah malam hati.


"Syukurlah klo dia suka. Tidak sia-sia aku dandan dan bergaya di depan cermin begitu lama. Kedepannya, aku juga akan berpakaian seperti ini karena dia suka." Batin Alan yang berharap Rosa akan memberinya kesempatan, dan akan mempertimbangkan kata-kata yang akan disampaikannya nanti, setelah mendengar pengakuannya, tentang amnesianya, dan Alan juga ingin maaf atas kata kasar dan makiannya dulu yang membuat Rosa terluka.


"Kakak tenang saja, kedepannya kakak pasti akan lebih sering menggunakan jas." Kata Rosa yang dimaksudkan untuk perkataan Alan yang mengatakan klo dia kali pertama memakai jas begituan.


Namun Alan malah salah nangkap maksud Rosa dan berpikir hal lainnya, padahal Rosa hanya ingin mengatakan klo Alan mungkin juga akan memakai jas di hari pernikahan Rosa dan juga pernikahannya sendiri dengan tunangan Alan, Dinda.


"Ternyata kamu sangat suka, ya. Klo gitu aku akan memakainya tiap hari. Demi kamu, apapun itu. Apapun itu, asal bisa mengembalikan cintamu padaku, mengembalikan masa lalu kita. Aku akan melakukan segalanya, asal kamu bahagia aku akan melakukan segalanya. Termasuk menggunakan jas seperti ini sekalipun, pakaian yang membuatku kurang nyaman. Tapi klo kamu suka, maka aku akan..., Rosa. My Sonia." Batin Alan yang menyebutkan nama panggilan mereka dulu saat pacaran diam-diam.

__ADS_1


__ADS_2