Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 4 : NT (Nice Try)


__ADS_3

Rosalyn POV


Waktu-waktu terlepas dari pengawasan kakak memang yang terbaik. Aku harus bisa menghibur diriku habis-habisan kali ini. Aku membeli sebuah Es Krim Taiyaki rasa coklat dan menikmatinya sambil jalan-jalan.


Tapi klo dipikir-pikirkan lagi, aku bebas berkat idola Bangtan. "Maaf idola jika aku menjual nama kalian. Tolong jangan laporkan aku sama agensi ya, klo nanti kalian tau aku gunain nama kalian. Soalnya aku nggak bakalan sanggup ganti rugi atas pencemaran nama baik, apalagi hak paten karena sudah menggunakan nama kalian seenaknya. Mohon dimaklumi saja, ya? Ya ya ya, please!" Mohon ku dalam hati sambil menutup mataku dan mengatupkan kedua tanganku.


"Nah karena kalian nggak menjawab berarti akan ku anggap kalian setuju, jadi jangan salahkan aku lagi ke depannya. Ok?" Kataku pada angin udara yang tertiup melambaikan daun pepohonan di sekitarku.


Aku harus melanjutkan destiny-ku, pokoknya aku harus main sepuas-puasnya, sepuas yang aku bisa. Karena waktu yang bebas ini harus ku bayar dengan waktu yang sangat-sangat melelahkan kedepannya.


"Huaaaaaa... Ku menangis... Membayangkan Kuliah di depan mata... Huh!" Hela nafasku saat memikirkan hal itu. Ingin sekali aku berteriak besar-besaran untuk menghilangkan stress, tapi takut disalahpahami sebagai orang gila.


Aku mengambil jurusan psikologi di universitas terfavorit di kotaku. Papa Mama melarang ku untuk mengambil jurusan Akuntansi atau apalah itu yang berkenaan dengan pekerjaan yang kedepannya harus berkecimpungan dengan perusahaan, karena kata mereka aku harus memilih jalan ku sendiri dan tidak ada kaitannya dengan keinginan orang tua.


Tidak ada istilah yang namanya pemaksaan dalam kuliah ku. Kecuali kakak, yang memang seorang ahli waris. Jadi dia berkorban untuk melanjutkan bisnis keluarga kedepannya, tanggung jawab yang diembannya sangat besar dan beresiko. Makanya kakak sudah dilatih oleh Papa sejak dari dulu dia di sekolah menengah ke atas.


Kata-kata yang paling berkesan dari Mama Papa bagiku  adalah seorang anak mungkin nggak bebas untuk memilih siapa orang tua mereka, tapi mereka bebas memilih jalan mereka sendiri. Tapi meskipun demikian, aku bersyukur banget jadi anak Papa dan Mama. Menjadi anak mereka berdua adalah berkah bagiku, orang tua yang tidak memaksakan kehendaknya kepada anak-anak mereka.


Orang tuaku tidak mengharuskan ku menjadi seperti mereka yang notabenenya sebagai keluarga suksesor. Cukup kakak seorang yang mewarisi bisnis Papa. Walaupun dari banyak sekian alasan yang Papa berikan, ada sesuatu yang disembunyikannya, tapi aku nggak tau apa itu. Dan ku rasa itu sudah cukup mencurigakan bagiku, karena tingkah laku Papa padaku saat aku mulai mengungkit masalah itu mengganjal di hatiku. Mama dan kakak juga begitu, saat aku mulai membahasnya, mereka pasti akan mengalihkan pembicaraan.


Kuliah aku mengambil jurusan Psikologi karena memang aku cukup tertarik di bidang itu. Aku senang mendengar kisah orang lain dan berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah mereka.


Itu bukan berarti aku adalah orang yang suka mencampuri urusan hidup orang lain. Hanya saja aku paham, begitu banyak penderitaan di dunia ini. Terkadang aku pun pernah berpikir, "Saking banyaknya penderitaan dan cobaan di dunia ini, sudah tidak tau lagi mau nyoba yang mana. Bukankah itu sangat miris?"


Terkenal, kaya, miskin, jelek, cantik, pintar, bodoh, juga cinta, semuanya itu adalah penderitaan. Karena nggak ada satupun di dunia ini yang benar-benar dianggap berarti, kecuali diri kita sendiri yang menganggap itu berarti dan melindunginya.


Terlalu terkenal akan mengundang banyak fans juga mengundang banyak masalah. Banyak fans bukan berarti nggak punya banyak haters. Terlalu kaya kita diperlakukan dengan baik dari depan tapi siapa yang tau dari belakang, apalagi klo kita miskin. Semuanya adalah penderitaan, makanya aku selalu ingin menjadi sosok yang rendah hati dan tidak sombong akan kedudukan ku juga posisiku sebagai anak orang yang segalanya berkecukupan. Dan aku selalu ingin melakukan yang terbaik untuk orang-orang disekitar ku.


Meskipun dengan banyaknya keinginan yang ingin ku wujudkan. Aku harus tetap menyelidiki keanehan orang tuaku akhir-akhir ini. Kakak yang protektif menjadi overprotektif, begitu juga dengan Papa. Mama juga menampilkan wajah sayu dan sedih saat aku bilang akan keluar. Seakan aku akan pergi dan takkan kembali. Sebenarnya, rahasia apa yang tidak boleh ku ketahui? Sampai-sampai mereka berusaha keras untuk menutupinya dariku.


Aku berjalan sambil melamun hingga tak melihat bahwa aku menabrak seorang anak laki-laki kecil, sepertinya sekitar umur 15 tahun kebawah klo dilihat dari tampangnya. "Tidakkah ini terlalu pendek untuk seukuran anak laki-laki 15 tahun? Anak yang sedang dalam masa pertumbuhan yang begitu pesat? Nggak mungkin juga di stunting, kan? Wait, ada yang salah. Atau haruskah aku mengatakannya gadis kecil? Ini wig, kan? Wow... Amazing. Apakah dia sefrequensi denganku? Yah semoga saja gitu." Batinku sambil memperhatikan bocah itu lekat-lekat. Tapi kesampingkan itu terlebih dahulu, ada hal mendadak dan lebih penting ketimbang terus membatin dan memprediksi.


"Kamu nggak papa, kan? Apakah ada yang terluka? Maaf tadi aku melamun, sampai-sampai aku tak sengaja menabrak mu." Kataku sambil membantunya berdiri.


Gadis kecil itu tidak menjawab dan melihat ke belakang. Aku memerhatikan apa yang dilihat oleh gadis kecil itu, apakah dia sedang dikejar oleh orang jahat? Lalu aku melihat ada sekolompok pria berpakaian hitam, sepertinya mereka adalah orang suruhan. Kelompok itulah yang sedang mengejarnya. Tapi anehnya kenapa ada dua kelompok orang yang mengejar gadis ini? Apa dia dari keluarga Milyader? Tidak! Pasti lebih dari milyader, kan? Maybe dari keluarga Miliuner.


...***...


Seorang laki-laki dengan setelan lengkap dengan jas berdasinya itu duduk di kursi mewahnya didepan monitor yang terus ditekuninya itu. Sorot mata yang fokus itu menambah pesona tersendiri yang luar biasa. Suara ketukan pintu terdengar dari luar.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" Perintah laki-laki itu dengan suara seksinya itu.


"Pak CEO, saya membawakan kopi untuk Anda." Jawab perempuan itu dengan nampan kopi ditangannya serta beberapa cemilan.


"Ya, letakkan di meja sana saja, Carent!" Jawab laki-laki itu tanpa menghilangkan fokusnya dari monitornya itu, seakan-akan monitor komputernya itu adalah segalanya dalam hidup laki-laki itu.


"Kamu semakin dingin saja, Reyhandra Kedrey. Tidakkah kau ingin bermain denganku, sayang?" Kata cewek itu mendekati sosok Reyhandra Kedrey itu yang sedang bekerja.


Reyhandra melihat sosok sekretarisnya itu dengan pandangan dingin, dia tak tergoda sedikitpun meskipun perempuan itu memakai pakaian seksi yang memperlihatkan belahan dadanya itu, serta rok yang sebatas diatas lutut. Make-up yang tebal membuat orang lain langsung paham akan situasinya, dia adalah rubah penggoda.


Namun itu bukanlah hal jarang yang didapati oleh seorang Reyhandra, banyak perempuan yang mencoba segala cara untuk menjadi wanita pria yang dijuluki sebagai 'Wolf of Ice' itu.


Sosok Reyhandra diberikan julukan itu bukan karena tanpa sebab. Sosoknya itu yang selalu berhasil memikat begitu banyak wanita, namun dia tetaplah pribadi yang dingin tak tersentuh. Sorot matanya yang tajam nan dingin menjadi daya tarik bagi wanita-wanita yang menginginkan pria 'penampilan adalah segalanya', ditambah dengan kedudukan sebagai sebagai CEO dari Kedrey Group yang merupakan bisnis terdepan di Negara Indonesia membuat banyak para pengusaha lain iri padanya.


Mereka mengirim begitu banyak mata-mata dalam perusahaannya itu. Umumnya mereka mengirim perempuan untuk menggodanya dan memperoleh informasi darinya. Tapi tak satupun dari mereka yang berhasil, karena setiap perempuan yang dikirim pasti akan jatuh pada pesonanya dan akhirnya bekerja untuknya, menjadi mata-matanya. Contohnya saja adalah Carent, yang menjabat sebagai sekretaris nomor duanya itu.


Carent menghampiri Reyhandra dan memutarkan kursi yang diduduki Reyhandra kearahnya. Itu terhitung hal paling lancang bagi Reyhandra, namun dia menahannya karena dia masih memerlukan peran Carent sebagai pionnya, sumber informasi dalam menjatuhkan lawannya. Meskipun itu bukanlah hal yang sulit bagi seorang Reyhandra, tapi dia setidaknya menghemat tenaganya dan membuat Carent tetap dalam pengawasannya. Itu akan sama saja dengan dua burung dalam satu batu.


"Sayang, kamu ini selalu begini? Bagaimana klo kita istirahat sejenak? Lihat, aku membawa beberapa cemilan lezat untukmu." Kata Carent mengambil biskuit dan menyuapi Reyhandra, namun Reyhandra menghindari dan menolak makan dari tangan Carent.


"Minggir! Saya sedang banyak urusan yang perlu diurus. Juga saya sedang tidak lapar." Jawab Reyhandra dengan nada dingin.


Carent duduk diatas mejanya Reyhandra, dan menarik dasinya. "Sayang, kamu sangat nakal, ya? Kamu beralasan nggak mau makan yang ku suapi dengan tanganku ini. Itu karena kamu mau aku suapi langsung dengan mulut seksi ku, kan?" Kata Carent yang terus mencoba menggoda Reyhandra, mencoba merobohkan benteng pertahanannya.


Carent semakin dekat dengan wajah Reyhandra, dia menggepalkan tangannya erat-erat. Rasanya dia sangat ingin melayangkan sebuah pukulan pada Carent. Suara dering ponsel Reyhandra terdengar. Dia langsung mendorong Carent turun dari mejanya.


"Dari kakek? Kenapa dia menelpon ku?" Reyhandra langsung menjawab teleponnya dan berdiri didepan jendela.

__ADS_1


"Halo Kek, ada apa?" Sapanya pada orang dibalik telepon itu, yang merupakan kakeknya, Direktur dari Kedrey Group.


"Dasar bocah tengik, apakah aku butuh alasan untuk menelpon cucuku? Dan beraninya kamu tidak sopan denganku! Mana sopan santun mu itu saat berbicara dengan orang tua darimu, hah?" Kata kakek marah-marah dari balik telepon.


"Jika tidak ada hal penting, saya tutup sekarang. Saya sedang banyak kerjaan."


"Iya iya. Adel hilang dari rumah. Tadi dia keluar, kamu cari dia! Kamu kan juga tau sendiri, kita punya banyak musuh di luar sana. Bisa jadi mereka menangkap Adel dan menekan kita dengan Adel sebagai tebusannya. Meskipun belum tentu Adel diculik, tapi kita tidak bisa menghindari kemungkinan." Jelas kakek panjang lebar.


"Ya, akan saya urus."


"Apakah begitu cara kamu berbicara pada kakek mu, hah? Jangan samakan aku dengan..."


"Jika tidak ada yang lain, saya akan langsung menutupnya." Potong Reyhandra akan pembicaraan kakeknya itu. Dan langsung menutup teleponnya itu.


Bagi Reyhandra itu tetaplah hal biasa, selalu akan ada omelan karena sikap dinginnya itu. Reyhandra menghela nafas, capek akan segala permasalahannya. Mungkin orang lain tak tau seberapa ingin ia seperti pemuda lainnya yang santai dalam bekerja, tidak banyak beban yang harus mereka tanggung. Tapi itu tak berlaku baginya yang merupakan seorang pewaris dari Kedrey Group.


"Kenapa kamu menghela nafas begitu, huh?" Tanya Carent bermanja-manja dan bergelayut di lengan Reyhandra.


Reyhandra mencoba meredamkan emosinya demi tujuannya. Seperti yang sudah diketahui, banyak hal yang harus dia korbankan untuk mencapai tujuannya itu. Dia harus jadi yang terkuat untuk tetap dapat bisa berdiri dengan kokoh.


"Kamu keluar aja, dan panggilkan Hans untukku!" Perintah Reyhandra pada Carent dan melepaskan tangannya.


"Tapi..." Carent mencoba untuk tetap bermanja-manja dengan Reyhandra, karena dia satu-satunya wanita yang tidak ditolak oleh Reyhandra selain anak yang belajar diluar negeri itu.


"Panggilkan Hans untukku, dan jangan membuatku mengulangi kata-kata yang sama lagi."


"Baiklah." Jawab Carent kesal dan langsung meninggalkan ruangan.


Reyhandra duduk di kursinya, dia memijat pelepisnya pening. Sangat sulit untuk tetap bersama orang yang tidak disukainya, apalagi baunya itu sangat membuat kepala pusing, bau obat-obatan, make-up, atau apalah itu.


"Tuan, Anda memanggil saya?" Tanya Hans masuk dalam ruangan Reyhandra. "Tuan, Anda baik-baik saja?" Tanyanya lagi saat mendapati Reyhandra sedang memijat keningnya itu.


"Ya aku baik-baik saja. Sebenarnya dari mana cewek itu mendapatkan parfumnya? Baunya sangat busuk, nggak tahan aku terus disampingnya, bahkan satu menit pun." Keluh Reyhandra didepan Hans.


Baginya, Hans adalah seorang kakak yang lebih tua darinya tiga tahun, jadi tidak ada rahasia antara dia dan Hans. Dan hanya didepan Hans Reyhandra bisa jadi dirinya sendiri. Dia dapat mengeluh dan menjadi lemah didepan Hans, hal yang tak dapat dia lakukan didepan orang lain.


"Bisakah kau membuang embel-embel Tuan jika hanya kita berdua saja, Hans?"


"Tidak Tuan, Anda tetaplah atasan saya. Ini sudah menjadi prinsip kerja saya. Tapi, ada apa Tuan memanggil saya?" Tanya Hans yang sadar akan tujuannya dipanggil oleh Reyhandra.


"Kirimkan pengawal dan temukan Adel sekarang. Bocah itu membuatku sakit kepala saja. Selalu banyak tingkah!"


"Apakah Nona kecil kabur lagi?" Tanya Hans mencoba menebak.


"Apalagi yang bisa dia lakukan selain mencoba kabur dan memberontak. Cepat, jangan sampai terjadi sesuatu padanya. Apalagi jika dia ditangkap dan ditahan oleh orang, itu akan sangat merugikan kita."


"Baik, Tuan. Akan saya atur sekarang." Jawab Hans membungkuk dan langsung keluar dari ruangan Reyhandra.


...***...


Rosalyn POV


"Apakah kamu dikejar oleh mereka?" Tanyaku pada gadis itu. Dan dia hanya mengangguk. "Klo begitu, kamu ikut aku. Tenang saja aku bukan orang jahat, kok."


Aku menarik gadis itu berlari denganku. Aku harus keluar dari keramaian yang sesak dengan orang ini, walaupun aku diuntungkan dengan berbaur dalam keramaian orang, tapi itu beresiko pamerannya akan kacau. Dan kemungkinan terburuknya mungkin akan melukai orang-orang di sana.


Aku menarik gadis itu ketempat yang jauh dari keramaian. Tapi tenaga gadis ini terlalu kecil, dia malah terjatuh karena tak sanggup berlari lagi. Dan sialnya kami ketahuan, sudah tidak ada pilihan lain selain menyerang atau diserang. "Tapi kemana satu kelompok lagi? Bukannya tadi ada dua kelompok, ya? Tapi apapun itu satu lebih baik daripada dua. Dan kemungkinan peluang untuk bisa kabur juga tinggi."


"Di sana! Tangkap mereka! Jangan biarkan gadis itu lolos, Tuan menyuruh kita agar membawa gadis kecil itu hidup-hidup. Jadi jangan lukai dia sedikitpun!"


Aku mendorong gadis itu untuk menyingkir dan melemparkan tas selempang ku kepadanya. "Kamu! Sembunyi di sana! Jangan keluar sebelum aku suruh!" Perintahku mendorongnya ke semak-semak.


"Hei. Serahkan gadis kecil itu." Kata ketua kelompok orang suruhan itu. Sial, dia sangat besar dan besar. Tidak salah jika aku mendeskripsikannya dengan beruang.


"Gadis kecil mana yang kalian maksud? Aku, kah?" Tanyaku pada mereka.


Aku tak boleh gentar. Klo tidak, apa gunanya aku ikut Ekskul Taekwondo selama ini. Lima orang, akan ku bereskan mereka secepat mungkin dan kemudian kabur. Walaupun sepertinya ini akan menghabiskan sedikit banyak waktu dan menguras banyak tenaga.


"Cari gadis itu dan jangan biarkan dia lolos lagi."

__ADS_1


"Heeehhh... Mau membawa gadis itu? Apa kalian mengabaikan ku? Hah? Beraninya kalian! Hadapi aku dulu dong. Baru akan ku biarkan kalian membawa gadis itu. Itu pun jika kalian mampu, tapi klo diliat sih nggak bakalan mampu deh, badan saja yang gede. Sama tuh sama hewan berkaki empat luar sana!"


"Gadis yang sangat pemberani untuk seukuran bocah bau kencur seperti kamu."


"Kalian akan tau aku bau kencur atau bukan setelah kita selesaikan sesi panas ini. Ayo, maju! Aku bukan tipe orang yang suka membuang-buang waktu." Kataku sambil menyiapkan kuda-kuda ku.


"Sebenarnya kami bukanlah orang yang suka memukul anak kecil, tapi kau sendiri yang memaksanya. Jangan harap kami akan berbelas kasihan."


"Jangan panggil aku anak kecil, Paman! Dan satu lagi, emangnya aku mengharapkan belas kasihan dari kalian? Keluargaku saja sudah cukup memberinya. Aishhh, kalian ini banyak bacot juga, ya? Klo aku jadi Bos kalian, belum di tes pun langsung ku usir keluar. Kalian tau kenapa? Karena kalian tidak profesional, tidak menjunjung tinggi etika dalam bekerja. Sudah, jangan banyak basa-basi lagi, maju kalian!"


"Kamu... Beraninya kamu! Sungguh gadis yang sombong." Kata ketua itu marah.


Dasar bodoh, dalam kemarahan itu hanya akan membuat kalian menuju kekalahan telak. Sepintar apapun orang dalam beladiri, jika dia dikuasai oleh amarah, maka hanya akan membuatnya rugi. Dia tidaka kan bisa membaca pergerakan lawan dengan benar, juga gerakannya sendiri pun juga mengandung celah yang luar biasa.


Aku tau, aku mengambil jalan yang salah. Seharusnya aku nggak ikut campur dalam masalah gadis kecil tadi. Tapi mau gimana lagi, hati nurani ku tertohok jika aku tak menolongnya. Keluarganya pasti sangat mencemaskan dia. Aku hanya bisa menggunakan metode ini untuk menang, dan provokasi mungkin bekerja.


Kemungkinan ku untuk menang memang sangatlah kecil. Selain kalah dalam tenaga, aku juga kalah jumlah dengan mereka. Lima orang vs satu orang gadis imut. Hilangkan bagian imutnya itu, aku harus memikirkan solusi dari masalah yang sudah ku timbulkan ini.


Ternyata kakak memang benar. Sedikit lepas dari pengawasannya, aku akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Tubuh mereka lebih besar dan kekar, jadi solusi ku adalah menghindar dari serangan fatal mereka, sebisa mungkin tidak memberi celah pada wajah dan leherku.


Kuharap gadis kecil itu tidak membuatku kerepotan, dia akan tetap bersembunyi hingga aku berhasil mengalahkan lima beruang  ini.


"Baiklah, maju kalian! Kalian akan merasakan apa itu jurus dari gadis imut yang memegang sabuk hitam Taekwondo." Kataku memprovokasi mereka, padahal ini hanyalah salah satu teknik siasat ku dalam mengalahkan mereka, jika memang prediksiku tidak melenceng.


"Kami tidak pernah memukul gadis kecil terlebih dahulu." Jawab salah satu dari mereka.


"Nak, kamu maju saja dulu. Kami beri kamu kesempatan untuk mendaratkan pukulan pada wajah paman yang tampan ini."


"Baiklah, jangan pernah menyesalinya nanti." Kataku memperingatkan mereka.


Cara jitu pertama dari Rosalyn Saputri Vogart, jangan menunggu lawan menyerang mu terlebih dahulu. Baiklah, aku harus menggunakan serangan ganda. Tonjok wajahnya disekitar hidung dengan keras. Karena itu adalah daerah tulang rawan, pasti akan memberikan efek yang berarti. Selanjutnya adalah serang tulang keringnya, supaya sulit untuk berdiri kembali. Gabungkan kekuatan dan lakukan secepat kilat, jangan biarkan musuh punya kesempatan untuk menghindar, apalagi menyerang balik.


"Agggrh...." Teriak salah seorang yang menjadi target pertamaku.


Apapun itu, itu sangat bagus buat percobaan pertama, Nice Try. Aku berhasil menumbangkan salah satu dati mereka, dan aku tersenyum menyeringai ke arah mereka.


"Paman, apakah guru bahasa mu diajarkan oleh guru seni? Tidakkah paman tau istilah 'jangan menilai sesuatu itu dari covernya'?" Tanyaku mengejek.


"Kurang ajar kamu bocah. Beraninya."


"Bukankah sudah pernah ku katakan, jangan menyesali pilihan kalian, paman?"


"Serang dia secara bersamaan."


Mereka maju secara bersamaan, ini bukalah metode yang mendukungku untuk menang. Apalagi ini sama sekali tidak ku harapkan terjadi. Tapi, beginilah kompetisi dalam kehidupan. Yang kuat yang akan berkuasa. Yang kuat akan menindas yang lemah. Jika kau tidak punya kemampuan, maka kau hanya akan menjadi batu pijakan bagi mereka yang kuat.


Cara kedua panduan Rosalyn, incar matanya dengan berusaha mencolok jari telunjuk ke matanya, itu akan mendukungku untuk melakukan serangan fatal berikutnya. Saat mata dibutakan, serang ditempat yang dikira fatal. Percobaan kedua, ok. Untuk skor sementara 2 : 0.


Cara ketiga, aku harus memfokuskan serangan ku pada hidung, dagu, kerongkongan leher atau selangkangannya. Pilihanku adalah selangkangannya. Yah, walaupun kakiku harus tercemar dan sepatuku menjadi kotor. Tapi memang itu adalah kelemahan para pria. "Tendangan pemutusan, meluncur!!!"


"Agggrrhh... Telurku pecah!!!" Teriak paman itu histeris sambil memegang selangkangannya. Duh teriakannya itu, melebihi suara lengkingan seorang wanita.


"Ngilu aku lihatnya." Kata salah satu paman yang masih tertinggal.


"Ngapain kamu diam! Serang dia!" Perintah bos mereka.


"Tapi... Bos. Saya nggak mau keturunan saya putus disini Bos." Jawabnya beralasan.


"Yah, ku sarankan kamu lebih baik mundur saja. Daripada kamu tidak bisa bersenang-senang lagi." Batinku sambil menunjukkan senyum smirk puas ku pada mereka.


"Nggak ada tapi-tapian Dasar kamu! Aku nggak tau klo aku mendapatkan bawahan pengecut seperti kamu. Bahkan seorang gadis kecil mau kencur pun nggak bisa kalian urus. Ayo, kita serang dia bersamaan." Kata pemimpin mereka.


"Bau kencur lagi. Lelah aku dengarnya. Apa tidak ada kosakata lain? Dia harus mempelajari sinonim lebih banyak lagi ternyata."


Tapi tinggal dua paman ini lagi. Paman Bos beruang sama paman kacang. Kami melanjutkan pertarungan kami, segala serangan dari dua arah secara bersama. Ini sangat menguras tenagaku, ini lebih buruk dari tadi.


"Ketangkap kamu bocah. Kemana kamu akan lari, hah? Hehehe..." Kata paman beruang itu tersenyum mesum.


Dasar paman-paman mesum. Mereka menangkap ku dari belakang dan mengunci pergerakan ku. Sialan, mereka sangat licik. Mampus aku, berencana menolong orang malah sendiri kena sial.

__ADS_1


__ADS_2