Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 33 : Drama Perteleponan dan Kebencian


__ADS_3

Reyhandra sudah memutuskan untuk menelpon Steven Saputra Vogart itu, namun lagi-lagi dia mengurung niatnya karena malas akan sikap Stev. Maksudnya adalah malas dengan cara Stev meresponnya.


Reyhandra bukannya nggak kebayang bagaimana cara Stev merespon sesudah ditelepon oleh Reyhandra. Reyhandra tau benar bagaimana itu akan terjadi. Karena Stev begitu mengibarkan bendera merah terhadapnya.


Reyhandra menghibur dirinya dengan melanjutkan membacakan dokumennya kembali. Tapi malah Reyhandra dibuat makin nggak bisa fokus sama sekali. Dia terus-terusan terbayang dengan kata-kata Andre untuk melakukan akting yang sempurna. Dan itu membuat Reyhandra menjadi frustasi, karena Reyhandra nggak mau melakukan itu.


"Kenapa balas dendam aja harus merepotkan seperti ini, sih? Aaarrggghh!!" Reyhandra mengusap kepalanya dengan kasar saking dia frustasi.


Reyhandra bangun dari kursi kerjanya dan berjalan ke arah jendela yang menampilkan pemandangan indah kota Jakarta pada malam hari. Kota Jakarta sebenarnya bukanlah kota yang indah, melainkan hanya kota yang penuh sesak desakan penduduk dimana-mana. Namun kota jakarta itu indah pada malam hari seperti ini, apalagi jika diperhatikan dari atas. Lampu yang bersinar terang di setiap sudutnya, itu sangat indah untuk dipandang.


Reyhandra merongoh handphonenya dari saku celana. Dia mencari kontak Andre untuk menelponnya. Disaat seperti ini dan dalam kondisi ini, memang Andre lah orang yang tepat untuk semua persoalan Reyhandra.


Tuuutt... Tuuutt... Tuuutt... (Bunyi handphone Reyhandra yang sedang bersambung)


"Halo...." Terdengar suara dibalik telepon Reyhandra.


Dan ya, seorang Andre tetaplah Andre, dia sedang berada di bar dengan segala kesenangannya. Reyhandra bisa mendengar suara deguman dari musik DJ dari bar yang khas. Ditambah dengan suara Andre yang sedang bersenang-senang dengan cewek.


"Sebenarnya apa sih yang ku harapkan dari seseorang yang hanya tau bersenang-senang dengan cewek-cewek sana." Batin Reyhandra saat mendapatkan kenyataan suara yang didengar dari balik handphonenya itu.


"Halo, halo, halo...." Andre terus menyapa dari balik handphone. "Reyhandra, bro ATM." Andre baru membaca nama kontak orang yang menghubunginya. "Sayang, sebentar ya... Aku harus menelpon dulu. Bro tunggu bentar ya, gue cari tempat yang nyaman."


"..." Reyhandra masih tetap setia untuk diam dan tidak menjawab apa-apa.


"Sepertinya dia baru sadar siapa yang menelponnya. Tapi apa-apaan tadi, Bro ATM berjalan? Dia menamai nama kontak ku dengan nama seperti itu?? Benar-benar si Andre inj, minta di sleding dia. Awas aja kamu, nggak ada uang tambahan lagi selain gaji kamu sendiri yang kamu terima!" Reyhandra murka mendengar semua itu dibalik teleponnya itu. "Untung ada kejadian seperti ini, klo nggak mungkin sampai kapanpun aku nggak bakalan tau dia menamai kontak ku seperti itu."


"Halo bro, ada apa sih make nelpon gue malam-malam kayak gini, huh? Lo kan tau sendiri klo gue ini orang sibuk." Protes Andre kepada Reyhandra, sesudah cukup lama mencari tempat yang jauh dari kebisingan.


"..."


"Bro, lo masih di tempat, kan? Klo nggak gue matiin nih. Gue matiin ya, matiin ya, benar-benar dimatiin ya... Ok, dimatiin. Aahhhhh..., Reyhandra Kedrey, lo masih di sana, kan?"


"..."


"Arrrggghhh!!! Stress kali lah gue dapat temen kayak lo Reyhandra Kedrey, tau nggak? Woiii, gue serius nih ya, klo lo masih nggak ngomong gue matiin. Woii..., haloo.... Aduuuuh, dapat temen gini amat sih. Mau dimatiin, ribet urusannya nanti. Nggak dimatiin, gimana orang bisa bersenang-senang."

__ADS_1


Andre terus mengomel di balik telepon. Sedangkan Reyhandra, dia tetap saja setia mendengar segala drama perteleponan Andre.


"Kenapa nggak dimatiin aja?? Nggak berani kan kamu matiin sambungan telepon aku? Karena aku ATM, kan? Jawab kamu!" Bentak Reyhandra yang ternyata masih mempermasalahkan nama kontak yang diberikan oleh Andre.


"Ahahaha, sorry, sorry bro. Nggak berani gue. Lo bosnya, ok? Tolong jangan marah lagi, ya. Cepat tua nanti. Oh ya, ada apa lo nelpon gue sih? Pasti ada hal penting, kan? Klo nggak, mana mungkin lo nelpon gue, kan? Lo juga pada tau gue dimana dan ngapain klo udah malam gini." Tanya Andre memasuki mode serius.


"Aku mau konsultasi, nih." Jawab Reyhandra dengan jujur.


"Konsultasi apa lagi, sih?? Bukannya tadi siang udah ya gue bilangnya apa? Masa lo masih belum ngerti juga sih bro! Gunain IQ tinggi lo itu dong. Masa itu doang lemot sih lo!"


"Apa lo bilang?!? Benar-benar ya kamu, Andrea Rocher. Makin didiemin makin ngelunjak kamu."


"Ahhh..., sorry bro, nggak berani gue. Emang lo mau konsultasi apa lagi sih. Biar gue tebak, ini pasti masalah Rosa lagi, kan? Apa nggak ada habis-habisnya kamu dengan masalah ini melulu. Capek kadang gue dengan lo yang terus mengeluh sama gue, tau nggak? Lo benar-benar udah jadiin gue sebagai psikiater cintai pribadi lo. Ya udah, lo mau nanya apa? Tapi jangan lama-lama, masih banyak job gue."


"Tadi siang, kamu bilang klo aku harus berakting dengan sempurna, kan? Buat dia mencintaiku, seakan-akan aku segalanya bagi dia, kan?"


"Ya. Jadi masalahnya diman. Udah bener itu. Lo mengingatnya dengan baik."


"Berarti klo akting yang sempurna itu, aku harus peduli dengan segala hal yang menyangkut dengan masalah pernikahan kami, kan?"


"Nah, itu dia masalahnya. Soal undangan pernikahan kami, bukan kami yang memilihnya. Tapi para orang tua kurang kerjaan itu. Nah, kebetulan yang laknatnya lagi, pencetakannya itu di handle oleh keluarga Vogart. Aku harus gimana? Klo aku tanya kakek, bukan informasi masalah undangan yang ku dapat, malah omelan yang ku terima. Telepon Raymond, dia sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Klo telepon Serena, dia pasti nggak tau juga. Karena bukan dia yang mengerjakannya, berarti secara otomatis pasti anaknya, Steven yang menghandlenya."


"Nah, analisa udah bener. Jadi lo telepon gue cuma mau bilang itu doang, bener-bener lo, ya. Nggak pernah biarin gue senang bentar."


"Nah, pokok masalahnya disini, aku malas buat nelpon Stev ini, si paling bucin adeknya tau nggak?"


"Jadi masalahnya cuma ini doang bro? Cuma karena lo malas? Mana prinsip lo yang selalu lo bangga-banggain itu, huh? Katanya sedikit pengorbanan bukan masalah lah, demi mencapai tujuan yang tinggi. Mana logo lo itu."


"Aku malas karena aku udah tau gimana reaksi Steven Saputra. Bukan malas karena itu."


"Ya, gue tau. Tapi gue bilangin sama lo ya, bro. Klo tembok itu nggak bisa lo tembus karena lo malas akan reaksi Steven, lo nggak bakalan bisa balas dendam sama keluarga Vogart. Selebihnya lo pikir sendiri lah, lo yang paling tau tentang diri lo sendiri. Malas lo, lebih malas lagi gue, dengernya lo yang nelpon gue cuma mau ngomong itu doang. Gue tutup sekarang."


"Tunggu..." Reyhandra sebenarnya belum habis buat ngomong sama Andre, tapi dia sudah keduluan dengan nada putus.


Tuuuuutt.... Tuuuuutt.... (Telpon berakhir).

__ADS_1


Bukan solusi yang benar-benar mendukungnya yang didapatkan oleh Reyhandra. Ternyata dia memang udah nggak ada jalan keluar lainnya untuk menuju akting yang sempurna. Reyhandra menguatkan tekadnya dan akhirnya dia menelpon Stev juga buat menanyai tentang masalah undangan. Karena hari pernikahan tinggal hari lagi, dan undangan belum selesai dan dikirim juga.


Reyhandra akhirnya mengontak Stev juga. Namun sudah beberapa kali di menelponnya, namun tetap belum diangkat oleh Stev. Reyhandra masih belum putus harapan, sekali mungkin dia belum melihatnya dan akhirnya menelpon lagi dan lagi. Hingga kesekian kalinya.


Karena sudah sekian kalinya Reyhandra menelpon dan Stev masih saja belum mengangkatnya, itu malah membuat Reyhandra naik darah. "Sebenarnya apa sih maunya si sialan itu. Kenapa dia nggak ngejawab teleponnya. Benar-benar sialan." Maki Reyhandra terhadap Stev saking emosinya dia.


Reyhandra menelpon Stev sekali lagi yang mana pada akhirnya Stev mengangkat teleponnya. Reyhandra segera mengubah mimik wajah kesalnya menjadi ramah supaya suara yang dikeluarkannya nanti nggak terdengar judes.


"Selamat malam, Stev. Apa ka..."


"Ada apa. Lagsung intinya aja." Judes Stev dibalik teleponnya.


Reyhandra menggenggam tangannya erat. Stev benar-benar membuat Reyhandra seakan mengemis padanya. Dan itu makin menambah kebenciannya terhadap keluarga Vogart dan keinginannya untuk balas dendam makin menggebu-gebu.


"Sialan, aku tau bakal gini jadinya. Namun entah kenapa tetap aja kesal dengan nadanya itu." Batin Reyhandra yang mendengar jawaban Stev seperti itu. Padahal dirinya udah bermaksud baik, dengan nada yang bersahabat bahkan mau menanyai kabarnya. Namun malam jawaban gitu yang didapatkannya. "Ok, tahan Reyhandra. Demi akting yang sempurna dan demi balas dendam, ok? You should be calm. Anggap itu anjing menggonggong aja."


"Oh ya Stev, soal undangan apakah udah jadi? Kan kita harus mengirimnya untuk para gamu kita, kan?" Reyhandra terus bersabar dan menekan emosi dalam dirinya itu.


"Oh soal itu ya." Jawab Stev dengan nada malas.


"Sialan, si brengsek ini." Upat Reyhandra lagi saat mendapat jawaban setengah hati dari Steven.


"Iya. Jadi bagimana perkembangannya, ya."


"Tuan muda Kedrey tenang saja. Nggak perlu panik dan gegabah gitu. Besok undangannya sudah jadi, dan akan saya kirimkan melalui jasa kurir. Supaya tuan muda Kedrey bisa fokus pada kerjaannya saja. Lagipula saya tau, tuan muda adalah orang yang sibuk, dan akan mustahil untuk melakukan ini semua. Dan akan lebih bagusnya sih, klo pernikahan ini juga dibatalkan. Soalnya saya nggak tau harus gimana, karena kasian melihat tuan muda yang so busy."


"What the hell. Benar-benar melunjak dia. Awas aja, jika rencana ini berhasil, kamu yang akan menjadi target pertamaku, dengan ending yang paling ngeri juga. Aku akan buat kamu hidup segan, mati pun enggan. Ku tandai kamu Steven Saputra Vogart."


"Ah, Stev, Stev. Kamu bisa aja becandanya, ya. Sesibuk apapun saya, saya pasti akan mewujudkan pernikahan ini. Karena saya sudah terlanjur mencintai Rosa. Dan sepertinya saya nggak bakalan bisa mencintai wanita lain, selain itu Rosa. Karena dia sudah memikat hati saya, dan di juga sudah berhasil mengisi kekosongan di hati ini." Jawab Reyhandra terus berakting seakan dia akan mati klo itu bukan Rosa.


"Tahan Reyhandra. Ini sudah bagus, hanya perlu menahannya semenit kemudian lagi." Batin Reyhandra karena dia merasa jijik dengan kata-kata yang dikeluarkannya itu. Dia sendiri yang mendengarnya saja membuat perutnya begitu mual-mual.


"Oh begitu ya. Baguslah klo begitu. Saya akan langsung memutuskan panggilan ini, karena saya nggak berani menganggu waktu berharga tuan muda Kedrey. Lagipula saya nggak menyukai Anda sama sekali. Anda nggak akan pernah mendapat restu saya. Saya hanya mengalah demi adik saya. Saya harap Anda tau batasan Anda tuan muda. Klo begitu selama malam." Stev langsung mematikan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban selanjutnya dari Reyhandra.


Telepon putus begitu saja. Reyhandra menggenggam erat handphonenya. Dia tidak terima Stev memperlakukannya seperti itu, seakan Reyhandra sendiri juga sudi untuk melakukan hubungan ini klo bukan demi balas dendam.

__ADS_1


"Bagus, sangat bagus. Keluarga Vogart, ya. Akan ku injak-injak kalian. Rosa, Rosalyn Saputri kan yang paling kalian cintai. Maka dialah yang paling akan ku rusaki. Tunggu balasanku." Kata Reyhandra dengan kilat mata kebencian yang begitu pekat darinya.


__ADS_2