
Alan tak berani bertanya apapun kepada Rosa. Lagipula dia yang sekarang bukanlah siapa-siapanya Rosa, dia hanyalah kakak dari teman laki-lakinya. Niat awal Alan yang hendak pergi ke indomaret di urungnya dalam hatinya, karena naluri berkata klo dia harus menemani Rosa disini.
Alan sadar klo Rosa sedang menunggu seseorang datang menjemputnya. Tapi siapapun itu, orang yang ditunggu Rosa bukanlah seorang wanita. Sebagai seorang dokter, meskipun bukan dari divisi Psikologi, Alan paham betul klo yang Rosa tunggu itu adalah laki-laki.
Alan berdiri tepat di samping Rosa, dia terus memperhatikan sosok Rosa dalam balutan outfit laki-laki itu terus memperhatikan kearah jalan dan sesekali melihat jam tangannya.
Rasanya Alan sangat ingin menghujani Rosa dengan berbagai pertanyaan yang sudah membuncah dalam dirinya sejak dia tau klo orang yang keluar malam dengan balutan busana laki-laki itu adalah Rosa yang dikenalnya itu. Tidak, Alan sadar klo dia nggak punya hak untuk bertanya apapun itu. Semua hal yang bersangkutan dengan diri Rosa sudah di putuskan bersamaan setiap rentetan kata-kata kejam yang keluar dari mulutnya.
Tapi Alan juga nggak bisa menahan diri untuk tidak menanyai Rosa. Akan kemanakah Rosa? Buat apa? Dengan siapa? Dan mengapa harus dengan cara begini? Kenapa harus cross dressing? Dan kenapa harus di malam hari?
Begitulah serentetan pertanyaan yang mau ditanyai Alan kepada Rosa. Tapi dia juga sadar diri sebelum menanyakan semua pertanyaan itu. Dia punya hak apa? Dia siapanya Rosa? Dengan status apa dia punya hak untuk menanyakan itu semua? Alan menggenggam tangannya kuat-kuat sampai tangannya itu pun seperti kedinginan gemeteran. Dan Alan selalu menegaskan pada dirinya untuk jangan bertanya pada Rosa.
"Haisshhh..., kenapa lama amat sih ni anak? Nyangkut dimana lagi dia?" Ucap Rosa mengeluh akan keterlambatan Dian, karena dari tadi dia belum nampak batang hidungnya sekalipun.
Rosa kembali memeriksa jam tangannya, masih jam sepuluh lewat sepuluh menit. "Apa aku aja ya yang terlalu bersemangat? Tadi siang, Dian bilangnya jam.... Jam berapa ya? Kok bisa lupa sih? Ini pasti akunya terlalu gugup karena Kak Alan ada di samping. Kumat lagi ni kan otak? Pasti konslet karena ada Kak Alan di samping." Ucap Rosa membatin sendiri sambil mengerling Alan sesekali.
"Hahhh, mari kita cek, jam berapa itu orang akan nyampenya." Gumam Rosa sendiri memeriksa handphonenya. "Ahhhhh..., aku mati kutu.... Aku mesti harus gimana ini? Sangat canggungggg!!!!" Teriak Rosa menjerit dalam hatinya.
Rosa terus menepuk-nepuk kedua pipinya dengan tangannya. Dia sangat senang karena Alan mau berdiri disampingnya menemaninya menunggu Dian. Rosa sangat senang mendapati klo Alan masih peduli kepadanya. Pikiran Rosa mulai dikendalikan oleh sisi gelap dan cahaya dalam dirinya, dia nggak bisa berpikir logis lagi.
"Kamu nunggu apa lagi? Ayo cepat sebet saja dia. Toh emang dari awal dia memang milik kamu, kan? Cepat katakan klo kalian pernah punya masa-masa yang sangat membara dulunya." Kata iblis sisi gelap dalam diri Rosa membisikkan rayuan yang menggiurkan bagi Rosa.
"Tenang Rosa, kamu nggak bisa bertindak gegabah seperti ini. Semua itu butuh proses, begitulah prinsip dunianya ini berjalan. Kamu nggak bisa membuat kesan kamu padanya makin buruk. Dia bisa berdiri di sampingmu menemanimu disini berarti kamu udah punya sedikit kemajuan, jangan biarkan dia terkejut hingga dia menjauh darimu." Bantah sisi malaikat dalam diri Rosa mengemukakan ide yang bagus.
"Cih, buat apa kemajuan yang hanya sedikit itu? Lebih baik kamu langsung nyosor aja bilang klo kamu mencintainya seluas lautan samudra ini. Kamu sangat mencintainya seakan dunia ini berhenti berputar tanpa dirinya. Katakan klo cintamu itu murni. Ayo cepat katakan! Gunakan pesona mu itu, setiap laki-laki pasti akan jatuh pada pesona wanita seperti kamu." Bujuk sisi iblis terus menjerumuskan Rosa.
"Jangan Rosa, jangan lakukan itu. Alan bukanlah sembarangan laki-laki, dia laki-laki yang lurus. Kamu nggak bisa mengatakan klo kamu mencintainya sekarang. Meskipun dia peduli padamu sekarang, bagi Alan kamu yang sekarang adalah tunangan orang lain. Jika kamu mengatakan cintamu murni kepadanya, dia hanya akan menganggap mu sebagai wanita murahan yang hina. Kamu nggak ingin sejarah terulang, kan?" Ucap sisi malaikat memberikan nasehat kepada Rosa.
"Sejarah apaan? Sungguh sangat kuno." Kata sisi iblis meledek sisi malaikat dan mencoba melawan sisi malaikat.
"Kamu, dasar iblis jahat. Rosa jangan dengarkan dia. Kamu dengarlah aku." Teriak sisi malaikat sekali lagi, dan menahan serangan yang dilancarkan oleh sisi iblis.
Rosa menggelengkan kepalanya dengan keras, dia terus menepis udara disekitarnya dengan tangannya. Alan yang melihat Rosa seperti itu beranggapan klo Rosa sedang sangat gugup menantikan orang yang akan menjemputnya itu.
Alan tidak tau mengapa tapi hatinya begitu sakit. Dia memegang dada kirinya dengan erat, rasa terbakar dan nyut-nyutan itu jelas terasa dihatinya itu. "Kenapa aku menjadi aneh seperti ini? Bukankah ini keinginanku? Rosa menjauh dariku dengan sendirinya, bukankah ini bagus aku tidak perlu membuang tenagaku untuk mendorongnya menjauh dari dalam kehidupanku? Tapi kenapa rasanya hati ini begitu sakit? Marah? Sedih? Sesak? Kenapa ini terasa? Kenapa aku terus seperti ini? Kenapa aku selalu ingin lari kenyataan ini?" Alan terus bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
Alan nggak bisa terus membohongi dirinya sendiri. Perasaan ini begitu jelas terdeteksi klo itu adalah emosi yang dirasakannya saat ini. Sakit hati, marah, sedih. Alan tau itu dengan jelas, apalagi dia seorang dokter, dia nggak mungkin salah akan perasaannya sendiri.
Kenangan buram tentang Rosa terus bermunculan didalam kepalanya akhir-akhir ini. Setiap segala sesuatu yang bersangkutan dengan Rosa dia kan merasakan emosi itu. Emosi yang bahkan nggak pernah terasakan bagi Alan saat dia sedang bersama dengan tunangannya, ataupun dengan tunangannya yang sedang berada di luar negeri sekarang. Nggak ada perasaan marah sedikitpun yang Alan rasakan, apalagi itu rindu.
Alan terus memperhatikan gelagat Rosa, dia mengipas-ngipasi kedua tangannya seperti gadis yang gerah, gugup gelisah menunggu pasangannya. "Rosa, sebenarnya racun apa yang kau gunakan padaku? Kenapa aku terus merasakan sakit hati ini? Kenapa aku selau ingin lari dari kenyataan yang ku dapati? Kenyataan klo kamu punya orang lain dalam hidupmu. Bukankah kamu pernah mengatakan klo aku orang yang paling berarti dalam hidupmu?"
Flashback
Alan dan si kembar sedang duduk ngumpul si ruang tamu rumahnya. Hanya ada mereka bertiga dan masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Alan sibuk dengan laptopnya karena membaca rincian hasil segala tes dari pasiennya, Aldi yang sibuk dengan men-scroll medsos dan Aldi yang sibuk dengan drama televisinya.
"Whatttt? What the f*ck with this story?" Teriak Aldi tiba-tiba saat sedang men-scroll handphonenya.
"Apaan sih kamu, Di? Asyik mengupat aja kerjaan mu. Nggak ada yang lain apa?" Tanya alan kesal karena fokusnya hancur gara-gara Aldi yang terus berteriak nggak jelas saat lewat sesuatu di handphonenya.
"Kagak jelas." Tambah Aldo lagi ngedukung Alan, karena Aldo juga merasa keganggu saat dia sedang menonton drama televisinya.
"Diem lo, Do. Kagak usah sok kalem deh didepan gue, lo bisa jadi diri lo sendiri klo didepan gue deh. Jijik gue liat lo irit kosakata itu." Ucap Aldi nggak terima klo dirinya dikritik oleh Aldo. "Coba lo liat story sosmed lo, Kak Steve ada naikin history tuh. Masih baru, cepetan lo liat sendiri."
Aldo langsung membuka story yang dimaksudkan oleh Aldi. Foto bareng keluarga Rosa, dan dengan Rosa yang didandani seperti putri bintang pada malam hari. Ada tiga gambar yang dinaikin story-nya, dua foto dengan keluarga dan satu foto Steve dengan Rosa, dan keteranganya itu adalah, 'Honey, kakak nggak rela kamu pergi ke perjodohan malam ini, kakak mau kamu hanya milik kakak seorang.'
"****, baby bener-bener mau pergi ke perjodohan ini?" Tanya Aldo pada Aldi.
"Mana gue tau, kakaknya lah yang paling tau, klo nggak keluarganya atau baby sendiri. Tapi baby nggak naikin status apa-apa." Jawab Aldi sesudah memeriksa history-nya lagi. "Tanya baby ajalah." Akhirnya Aldi memutuskan untuk bertanya pada orangnya langsung.
"Tunggu, Di. Baby baru aja naikin status baru. Kata-katanya, 'Shhuuhhhttt, harap tenang, orang cantik mau lewat...'. Cepet lo periksa sendiri." Ucap Aldo pada Aldi.
"Ya, ntar dulu gue periksa." Aldi melihat foto yang baru saja Rosa posting di statusnya. Gaun yang sama dengan foto di status Steve, hanya saja Rosa sendiri di statusnya, dan dengan pose jari telunjuk didepan mulutnya. "Ah damn, she is so beautiful. Gila, bener-bener gila ini, dia seperti peri bintang pada malam hari." Upat Aldi saat melihat foto Rosa itu. "Tapi, btw apa maksud dari keterangannya itu, ya?" Tanya Aldi kembali ke mode gobloknya.
"Mungkin dia nggak ingin kita menangainya, dia ingin tenang dulu karena harus ikut kenakan malam perjodohan, itu arti dari orang cantik mau lewat. Dan klo harap tenang, berarti kita yang udah tau dia hendak ke perjodohan, lebih baik tutup mulut dari orang lain." Analisa Aldo dengan cepat.
"Nggak nyangka gue Do, pandai juga lo ni, ya?" Puji Aldi pada Aldo. "Tapi, Do. Gue nggak sabar esok pagi datang, gue mau langsung lari untuk menanyakan ini semua pada baby."
"Lo pikir cuma lo doang. Gue juga tau." Sarkas Aldo menjawab perkataan Aldi dengan cepat.
Alan juga diam-diam melihat story yang dibicarakan oleh si kembar barusan. Dia melihat status Rosa, dan foto cantiknya muncul dari balik layar handphone Alan. Tapi anehnya dia tidak mendapat story yang sama yang sedang dibicarakan oleh ai kembar, story dari Steve. Dia tidak mendapatinya.
__ADS_1
"Apa mungkin Steve mem-private pada orang-orang tertentu, ya? Dan status ini hanya dikhususkan untuk si kembar." Pikir Alan yang larut dalam pemikirannya sendiri. "Dan untuk kasus Rosa, dia memang nge-posting status biasa, yang berarti semua orang bisa melihatnya. Perjodohan, ya? Bukankah Rosa terlalu dini untuk melakukan sebuah pertunangan? Bukankah dia baru akan memasuki 18 tahun satu minggu lagi. Bahkan si kembar aja hampir 19 tahun." Pikir Alan mencoba mengira-ngira dan menerka-nerka umur Rosa.
Alan kembali ke masa sekarang, dia sadar seberapa keras dia menampik kenyataan bahwa Rosa sudah bertunangan sekarang itu memang susah. Apalagi sosok Rosa dalam balutan gaun biru corak bintang-bintang itu begitu membekas dalam pikiran Alan.
Apalagi pikiran dan ingatan tentang pertunangan Rosa yang bersamaan dengan ulang tahun ke delapan belas tahunnya itu, itu masih segar dalam ingatannya. Ingatan tentang cincin pertunangan yang disematkan ke jari manis Rosa, gemuruh tepuk tangan penonton saat mereka sudah bertukar cincin, itu semua masih segar dalam ingatannya.
Yang aneh bagi Alan, dia tidak mengerti kenapa dia begitu peduli akan hal itu? Padahal dia selalu mencoba untuk mendorong Rosa menjauh darinya. Bahkan dia merasakan naas, saat dia harus membawa kado pada hari pertunangannya itu, itu sangat menyakiti hati Alan. Dan pertanyaannya selalu sama, dia tidak tau mengapa hatinya begitu sakit.
"Anu..., kakak mau kemana?" "Kamu mau kemana?" Tanya Rosa dan Alan secara bersamaan.
"Kakak aja dulu." Ucap Rosa mempersilahkan Alan untuk berbicara terlebih dahulu.
"Aku mau ke indomaret di depan, mau beli cemilan." Jawab Alan menjelaskan tujuannya. "Kamu sendiri mau kemana? Kenapa malam-malam begini? Pergi dengan siapa? Buat apa?" Tanya Alan dengan pertanyaan beruntun.
Rosa yang mendengar pertanyaan beruntun itu menjadi terdiam. Dia nggak nyangka klo orang yang mau dirinya menjauh itu menanyakan banyak hal sekaligus seperti itu.
"Kak Alan mau bertanya atau mau mengintrogasi penjahat ini. Banyak amat pertanyaannya." Pikir Rosa saat mendapai pertanyaan seperti itu. Tapi itu bukanlah masalah besar bagi Rosa, semua pertanyaannya dapat dicerna dengan baik, dan soal jawaban, yang bisa diberitahu, beritahukan, yang tidak bisa diberitahu, hindari saja.
"Oh, Rosa mau pergiain keluar buat cari angin malam. Pergi sama teman dan sedang menunggu untuk dijemput. Tempat? Maaf, tapi nggak bisa Rosa kasih tau, harap kakak maklumin. Dan soal kenapa malam, itu karena Rosa pengen cari angin malam aja." Jawab Rosa seadanya.
"Tapi itu nggak etis bagi seorang cewek untuk keluar malam-malam keluyuran kayak gini." Kata Alan yang frustasi akan bagaimana sikap anak zaman sekarang.
"Makanya Rosa cross dressing."
"Tapi itu juga bukan berarti klo kamu itu sudah menjadi laki-laki beneran dengan melakukan cross dressing. Body kamu itu tetep cewek, tenaga kamu itu tetap cewek. Masa itu pun kamu nggak mikir, sih?"
"Lhah, kenapa jadinya Kak Alan marah-marah kayak gini?" Batin Rosa bertanya-tanya karena dia sedang dimarahin oleh Alan.
"Apalagi kamu keluarnya malam-malam kayak gini, pake ngendap-ngendap segala lagi, udak kayak pencuri aja. Mesti paman, bibi sama Steve nggak tau kan klo kamu keluyuran kayak gini. Pulang sekarang! Klo nggak kakak aduin kamu ke paman dan bibi, biar kamu dikurung, baru tau rasa."
"Tapi, kak...."
Rosa mendengar ada suara motor melaju ke arahnya, lalu melihat jam tangannya, lima menit lagi setengah sebelas, itu pasti Dian. Rosa menjadi terburu-buru, pokoknya dengan kecepatan Dian segitu hingga dia sampai didepan Rosa, Rosa harus berhasil memenangkan Alan, supaya rahasianya tidak kebongkar sampai ke telinga orang tuanya, apalagi itu sampai ke telinga Steve, orang siscon itu.
"Kak, Rosa mohon jangan laporin ke orang tua Rosa, ya. Ini baru pertama kali Rosa kayak gini. Rosa mohon, ya!" Pinta Rosa kepada Alan dengan mengatupkan kedua tangannya didepan Alan. "Ya, Kak Alan, ya? Rosa mohon, please! Klo Kak alan nggak laporin Rosa ke orang tua Rosa, Rosa janji Rosa nggak akan ngeganggu Kak Alan lagi, swear!" Ucap Rosa bersungguh.
__ADS_1