Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 27 : Mencoba Mendelete Kamu


__ADS_3

Rosa dan Alan berjalan dengan santai sesudah membeli beberapa makanan termasuk roti dan susu coklat kesukaan Rosa dari indomaret. Dan sesuatu yang tak diduga-duga oleh Rosa, Alan juga membeli coklat yang dulunya selalu dibeli oleh mereka berdua.


"Jangan berfantasi Rosa. Kan bisa jadi Kak Alan beli coklat itu untuk tunangan tercintanya itu. Jangan berharap klo Kak Alan itu mengingat kenangan lama kalian makanya membeli coklat itu. Dan jangan berharap juga dia belinya untuk kamu. Entar malah sakit hati aja, klo kamu terus berharap. Kenyataan itu tak seindah yang dibayangkan, Rosa." Rosa meyakinkan dirinya sendiri dalam hati untuk tidak berharap pada sesuatu yang mustahil terjadi sekarang.


Rosa tetap berjalan seperti biasa, sedangkan Alan menyamakan langkahnya dengan langkah Rosa. Tidak ada pembicaraan basa-basi yang terjadi selama perjalanan pulang. Makanya Rosa terus menjejalkan roti kedalam mulutnya. Daripada mulutnya yang akan bertanya Alan membeli coklat itu untuk siapa?


"Rosa, tahan hasrat mu itu untuk bertanya. Tahan, tahan, tahan.... Tahan Rosa." Batin Rosa yang sekarang sedang meminum susunya.


"Tanya aja Rosa, apa salahnya buat bertanya coba? Bukankah kamu anak yang berpendidikan, kamu pasti nggak mau tersesatkan? Apalagi sampai salah paham, kan bisa jadi coklat itu untuk kamu." Kata sisi gelap Rosa mulai memanas-manasin.


"Jangan Rosa, lebih baik kamu diam aja ketimbang citra kamu malah semakin jelek dimata Alan. Jika emang coklat itu untuk kamu, berarti kamu tinggal terima aja. Dengan begitu, kamu juga nggak patah hati karena terlalu berharap." Sisi baik Rosa membantah argumen sisi gelap Rosa.


"Kamu emang bener. Aku sekarang udah nggak terlalu berharap lagi, atau lebih tepatnya aku nggak usah berharap lagi. Hilangkan angan-angan yang bakal menyakiti dirimu sendiri. Lebih baik love yourself sekarang, and love your future husband." Rosa membenarkan sisi baiknya itu.


"Eleh kamu ini, kenapa jadi cewek lurus amat sih, seluruh menara Tokyo. Nggak usah jadi cewek gitu deh, klo bisa dua kenapa harus satu. Ya, kan?" Sisi gelap Rosa tak mau kalah, terus menjerumus Rosa.


"Nah, klo ini bener juga. Lagipula Reyhandra hanyalah suami doang, bukan seorang suami yang benar-benar ku cintai. Justru Kak Alan lah orang yang ku cintai. Bukankah dengan ini aku membunuh dua burung dengan satu batu? Aku menikahi Reyhandra untuk menenangkan ortu, juga hubungan sama Kak Alan juga terus jalan." Rosa berpikir segala opsi yang terlintas dalam kepalanya, dan dia mulai terjerumus dengan sisi gelapnya itu.


"Rosa kamu jangan dengerin dia. Kak Alan itu sudah dapat segel milik orang lain, dan kamu juga akan jadi istri orang lain. Kamu harus mencintai suamimu sendiri dan setia padanya. Baru kamu akan bahagia. Bukan dengan menjadi pelakor yang akan dicap sebagai wanita j*l*ng." Sisi baik Rosa mulai panik dan mencoba menyadarkan Rosa.


"Apaan sih kamu? Jangan sok ceramahin gitu deh. Itu udah jadi keputusan Rosa. Jangan mengganggu gugat keputusan tuan tubuh deh. Jangan sok-sokan nasehatin orang gitu." Judes sisi gelap Rosa kepada sisi baiknya.


"Apa? Menasehati adalah hal yang bagus. Kenapa kamu malah marah seperti ini." Si sisi baik tetap nggak mau kalah.


"Apanya yang apa? Aku hanya membangkitkan rasa keinginan tuan tubuh pada dirinya sendiri, agar dia sadar dan tidak membohongi dirinya sendiri."


"Tapi ini juga demi tuan tubuh sendiri. Kamu tidak boleh membangkitkan hasrat yang mementingkan dirinya sendiri saja. Kamu dilarang untuk memanas-manasi tuan tubuh." Peringatan sisi baik pada sisi gelap.


"Apa?! Memanasi?? Enak saja kamu nuduh aku gitu. Aku nggak terima, sini kita gelut, siapa yang menang." Sisi gelap mulai melancarkan serangan pada sisi baik dan menarik rambut dan sayap malaikatnya itu.


"Sebenernya aku bukanlah tipe yang akan berkelahi dan main tangan duluan, tapi kali ini aku nggak akan tinggal diam. Ini termasuk tindakan bela diri, kan? Jadi aku nggak salah dalam kondisi ini." Sisi baik mulai menyerang balik membela diri ari segala terkaman sisi gelap.


"Tuan tubuh asli Rosa, dengarkan hasrat mu itu. Jangan pedulikan si putih!!"


"Tidak tuan tubuh. Jangan biarkan pikiranmu mengambil alih dirimu, jangan biarkan hati nurani mu tertelan oleh hasrat mu!!"


"Berisik! Aku nggak mau mendengarkan siapapun diantara kalian." Rosa mengipas-ngipasi udara di sekitarnya untuk menghilangkan segala bayangan sisi gelap dan sisi baiknya itu, supaya dia dapat berpikir jernih.


Namun Alan yang melihat itu, justru menganggapnya imut karena di mata Alan dia berpikiran berbeda dengan Rosa yang sedang berkecamuk kalang kalut dengan pikirannya sendiri. Di mata Alan, Rosa itu imut dengan segala pikirannya itu yang sedang berkhayal dan memikirkan sesuatu yang ingin ditangkisnya sampai-sampai dia mengipas-ngipasi tangannya di udara. Dan Alan hanya bisa menahan senyum melihat itu semua.

__ADS_1


Rosa dan Alan terus berjalan tanpa ada komunikasi sedikitpun. Hanya terdengar suara kendaraan di jalan raya yang sedang lalu lalang.


Rosa menegak habis susu coklatnya dan langsung membuang kotaknya ke tong sampah yang ada disekitarnya itu. Alan berhenti berjalan menunggu Rosa saat dia membuang sampahnya itu, dan kembali melanjutkan perjalanan saat Rosa sudah selesai melakukannya.


Mereka melanjutkan perjalanan, tapi masih aja belum ada yang memulai pembicaraan, hal yang berbeda dengan yang mereka lakukan saat mereka pergi tadi. Sekarang mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Dan hanya akan menimbulkan kesan aneh saja, dua orang asing namun saling jalan berbarengan. Saling menyamakan langkah dan satu tujuan.


"Aku nggak tahan lagi, sampai kapan kami harus diam seperti ini. Ini terasa super duper canggung. Haruskah aku mencairkan suasananya?" Rosa bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Ahhh..., apapun lakukan saja, lagipula nggak salah untuk saling berbicara."


"Kak Alan...."


"Kamu...."


Rosa dan Alan berbicara bersamaan, dan itu membuat mereka seketika saling menatap dan bertambah rasa canggung kembali. Rosa nggak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa menatap kearah jalan, dimana kaki sepatunya menapaki.


Klo dulu mereka pasti akan tertawa receh hanya karena tindakan ini. Namun sekarang itu hanya bisa menjadi tindakan yang membuat mereka semakin canggung saja.


"Ehem, hem... Silakan, lady first." Alan mempersilahkan kepada Rosa untuk berbicara terlebih dahulu.


Rosa tersenyum kepada Alan, walaupun itu terasa canggung, namun dia akan menanganinya. "Kita sangat cocok ya, sampai mau bicara pun bisa bersamaan ya..."


"Ya, kita emang sangat sehati." Alan menjawab sambil membuang pandangannya ke arah lain.


"Eh, Kak Alan ini bisa aja deh becandanya. Bikin Rosa baper aja, hahaha" Rosa tertawa receh karena dia memang terbawa perasaan teringat masa lalu diantara mereka, tapi hanya saja Rosa sadar akan posisinya saat ini.


"Mungkin sekarang ini hal itu terasa bercanda bagiku, tapi bagiku itu adalah hal yang keluar dari lubuk terdalam hatiku sendiri. Dan aku mengatakan itu karena aku serius, namun karena salahku dulu, kamu hanya anggap itu adalah lelucon untuk menghiburmu. Tapi aku nggak bisa bilang klo aku benar-benar ingin mengatakan itu padamu." Alan membantah kata-kata Rosa yang menganggap Alan hanya becanda dalam hatinya sendiri.


"Tapi btw, thanks ya for today. Because Kak Alan udah traktir Rosa ini." Rosa mengangkat kantong plastik indomaret yang sedang di jinjingnya itu.


"Hemmm, klo Kamu benar-benar merasa berterima kasih, kamu tinggal mentraktir kakak balik kan? Lagipula kamu nggak lupa kan, klo aku masih menyimpan rahasia terbesarmu itu."


"Rahasia yang mana sih?! Kakak ini jangan ngadi-ngadi deh, main misterius gitu sama Rosa."


"Kamu ini, ngadi-ngadi? Mana mungkin kakak ngadi-ngadi, yang malam itu loh. Masa kamu lupa sih. Seorang gadis cross dressing yang pulang dini hari diantar sama tunangannya sendiri, masa kamu lupa sih." Alan memainkan alisnya memancing Rosa.


Sesat kemudian Rosa baru paham apa yang dimaksud oleh Alan. Rosa merasa sangat sial, karena Alan memegang kartu As-nya itu, salah sedikit hal itu isa terbeberkan pada orang tua dan kakaknya yang siscon itu.


"Kamu ingat kan?" Tanya Alan lagi kembali kepada Rosa.


"Sialnya aku.... Aku benar-benar dipermainkan oleh Kak Alan." Rosa mengutuk dirinya sendiri karena dia menyayangkan kenapa dirinya bisa ketangkap basah sama Alan? "Baiklah, kapan-kapan nanti Rosa akan traktir kakak deh."

__ADS_1


"Tapi nggak jajanan di indomaret ya."


"Aman itu kak, bisa diatur. Asal rahasia akunya aja aman sama kakak." Rosa meyakinkan Alan dengan dengan mengancungkan jempolnya sendiri. Dan Lan hanya tersenyum yang melihat wajah Rosa kembali cerah dan tersenyum seperti dirinya yang biasa.


"Sepertinya dia sudah melupakan hal tentang pahan tadi. Syukurlah klo dia kembali tersenyum, klo nggak bibi yang melihatnya juga pasti makin sedih, karena melihat Rosa yang murung seperti tadi, sampai-sampai dia berbicara sendiri tadi pas di tangga mau turun kebawah." Batin Alan yang ternyata dia juga melihat tingkah Rosa yang seperti orang gila, bahkan sampai dimaki-maki oleh orang disana.


Namun Alan tiba-tiba ingat sesuatu, hal yang ingin ditanyainya kepada kepada Rosa yang tadi berbarengan dengan Rosa hendak berbicaranya.


"Oh ya Rosa, kakak mau nanya tadi, Kamu kenapa tidak memberi kakak kabar kemaren ya?" Tanya Alan yang mengubah situasinya menjadi serius.


"Kabar yang mana sih kak? Kabar soal tentang Rosa tunangan, ya? Tapi bukannya Rosa ada titip kabar sama si kembar, tapi katanya kakak sibuk nggak bisa hadir." Rosa menjawab dan juga menerka-nerka kabar mana yang dimaksud oleh Alan.


"Bukan yang itu. Ini yang... yang..., ah, ada kok, malam yang kamu pergi ke bar itu. Kan kakak bilang sama kamu, klo udah sampe dalam rumah, kasih kabar sama kakak." Alan mengingatkan Rosa kembar, tapi rosa tetap aja mengernyit, seakan-akan dia tidak ingat. "Ada kok yang kamu cross dressing malam tu."


"Ya aku tau kak, mana mungkin aku lupa, karena itu adalah momen dengan kamu. Tapi hanya saja, kenapa kamu peduli disaat aku mencoba untuk melepaskan? Seharusnya kamu pura-pura tidak peduli aja sampai akhir, ketimbang aku ragu-ragu dan salah paham akan semua tindakanmu itu?" Rosa merasa nanar pada dirinya sendiri dan masih tetap berlagak pura-pura tidak ingat di permukaan, didepan Alan.


"Oh... yang malam tu kak ya. Sorry kak, kelupaan Rosa soalnya Rosa. Jadinya tak ingat deh buat kabarin kakak, dan Rosa langsung tidur habis ganti baju. Nggak mungkin juga kan kakak menunggu kabar dari Rosa kan? Nggak kan? Kan?" Rosa mempertebal mukanya sendiri untuk bertanya. Meskipun dia tersenyum seakan dia hanya bercanda namun dia harap Alan benar-benar menunggunya.


"Ah.., mana mungkin juga kakak nunggu pesan kamu kan? Kakak juga langsung tertidur pas sampe rumah." Alan menjawab risa sambil membuang pandangannya ke arah lain, Lagipula Rosa juga menoel-noel dagunya itu untuk bercanda. "Mana mungkin aku bisa tidur Rosa karena kamu belum ngasih kabar. Bahkan aku sendiri tidak tau kapan aku tertidur dengan handphone ditangan karena menunggu kabar darimu." Naas Alan sendiri yang bermonolog dalam hatinya sendiri seolah memberi tahu Rosa.


"Oh ya? Jadi kakak nggak menunggu ya?" Rosa kembali bertanya kepada Alan dengan wajah bercandanya itu.


"Iya, tentunya dong." Jawab Alan mantap sambil melihat tepat kearah bola mata Rosa.


"Iya juga, mana mungkin kakak menunggu kabar dariku. Aku saja yang terlalu berharap." "Oh gitu ya. Kirain kakak tetap nunggu pesan dari aku gitu. Kan siapa tau aja kakak benar-benar khawatir sama aku, kan?" Rosa tertawa receh pada dirinya sendiri dan Alan. Dan tawa itu juga mewakili dirinya sendiri, menyayangkan dirinya sendiri yang sudah nggak penting lagi bagi Alan.


Mereka kembali berjalan dengan segenap obrolan ringan diantara mereka. Sampai akhirnya mereka sampai didepan rumah sakit dan hendak menuju ke taman buat melepaskan lelah.


Namun Alan mendapatkan sebuah telepon, klo dia harus segera bergegas karena ada pasien yang harus ditanganinya. Alan pamit pada Rosa klo dia harus segera masuk kembali mengerjakan tanggung jawabnya.


"Maaf Rosa, sepertinya kakak nggak bisa nemanin kamu lagi."


"Nggak apa kok kak, Risa ngerti. Kakak pergi aja sana, sembuhin pasien kakak, ok?" Rosa tersenyum kepada Alan.


"Hemm, kamu duduk aja di taman. Mungkin ini nggak akan memakan waktu terlalu lama, mungkin kakak akan menyusul kamu. Ini hadiah kakak untuk kamu. Semoga bisa memperbaiki mood kamu. Soalnya kamu terlihat jelek hari ini, sampai-sampai kakak nggak tahan makanya membeli ini. Ini coklat favorit kamu kan?" Kata Alan menyerahkan kantor plastik berisi coklat yang dibelinya tadi. "Oh ya, jangan lupa buat sisain untuk kakak beberapa ya? Soalnya kakak akan nyusul nanti. Kakak pergi dulu." Alan segera berlari masuk ke dalam sesudah dia membelai kepala Rosa.


Rosa memegang rambutnya yang dibelai oleh Alan tadi. Itu terasa asing bagi Rosa sekarang. Asing melihat seorang Alan membelai kepalanya kembali. Rosa memperhatikan punggung Alan yang semakin lama semakin menjauh masuk ke dalam rumah sakit, hingga dia benar-benar masuk kedalam dan tak terlihat lagi.


"Kak, jangan bikin aku salah paham lagi jika kamu nggak bisa melakukannya." Rosa segara menuju kearah taman dan duduk di sebuah bangku dibawah pohon yang rindang, menunggu janji Alan, yang apakah itu benar-benar akan terpenuhi?

__ADS_1


"Kuharap kamu nggak memberiku harapan palsu kak. Meskipun hanya duduk bareng, tapi aku egois menyangkut dirimu. Aku ingin mempercayaimu akan datang, karena ini adalah kali terakhir. Kamu memang orang yang sibuk dengan pekerjaanmu juga dengan tunangan mu, begitu juga dengan aku. Aku juga sibuk menata diriku, aku sibuk mencoba mendelete kamu dalam hidupku. Aku harus memprogram masa depanku dan menatanya, program kehidupanku, dimana masa pada masa depannya nggak ada kamu yang begitu mencintaiku. Tapi aku masih berharap kak, berharap kau datang. Walaupun hanya untuk menghiburku, bukan untuk mencintaiku." Batin Rosa yang terus bermonolog yang seakan berbicara dengan Alan dibawah pohon rindang juga dengan coklat yang dikasih Alan kepada Rosa.


__ADS_2