
Reyhandra POV
Aku terus mencari Rosa sejak dia keluar tadi. Padahal aku nggak beda jauh cuma hitungan menit saja aku membuntuti Rosa, tapi aku malah benar-benar kehilangan jejak Rosa.
Aku terus mengelilingi lantai dua rumah sakit itu, untungnya aku nggak membuka satu per satu dari ruangan para pasien, atau nggak aku pasti bakal repot nantinya. Aku juga udah cek ke toilet, tapi Rosa juga nggak ada, sebenarnya kemana dia pergi?
"Pergi kemana sih si Rosa? Apakah dia membuntuti Dokter Alan, kekasih masa kecilnya itu?"
Aku terus menyusuri lantai dua itu dengan langkah lebar, memperhatikan ruangan satu per satu dengan baik, tanpa melewatkan satu pun. Hingga akhirnya aku sampai didepan sebuah pintu yang sedikit terbuka, karena tidak ditutup dengan rapat.
Aku membaca pelat yang ditempelkan di pintu. Itu adalah ruangan ketua departemen dokter bedah. Aku berencana berbaik hati hendak menutupnya diam-diam, karena pemilik ruangan sepertinya sedang terlibat pembicaraan dengan pasiennya.
Namun seperti mendapatkan jackpot, aku melihat orang yang terlibat dalam pembicaraan itu dibalik celah pintu yang sedikit terbuka itu. Itu adalah dokter yang sama dengan dengan yang memeriksa Raymond.
Aku kembali melihat pelat nama di depan pintu, ketua departemen bedah, Dokter Alandri Wijaya. Aku termangut-mangut memikirkannya, dan itu benar-benar menipukan ku.
"Tak ku sangka klo dokter kekasih masa kecilnya itu adalah ketua departemen. Benar-benar prestasi yang menggiurkan untuk dokter muda sepertinya." Aku berencana menutup pintunya dan langsung pergi dari sana. Namun, saat mendengar pembicara mereka, itu menarik ku untuk mendengar lebih lanjut. Karena instingku berkata klo itu adalah sesuatu yang besar yang bisa menggemparkan.
Aku menguping dari balik pintu yang sedikit terbuka itu, dan ternyata pembicaraan tentang Raymond, yang berarti Dokter Alan itu sedang berbicara dengan Steven Saputra Vogart. Aku nggak mungkin melewatkan sesuatu tentang kelurga Vogart itu, walaupun harga diriku nggak mengizinkan ku untuk menguping pembicaraan orang lain, karena itu tidaklah bermartabat bagiku.
Namun demi balas dendam ini, aku sudah bertekad untuk bermain habis-habisan kali ini. Jika itu harus melompat ke jurang sekalipun, yang keluarga Vogart itu harus ikut denganku, meskipun perhentian terakhir neraka sekalipun.
"Ok, jadi berdasarkan gejala yang dialami paman, paman mengalami serangan jantung. Dan itu sangat berbahaya."
Dokter itu mulai mengungkit tentang penyakit Raymond, dan itu membuatku sontak semakin mendekatkan telingaku untuk menguping.
"Serangan jantung, ya? Ini akan sedikit membantuku untuk kedepannya. Mungkin kita bisa mengancam seseorang dengan ini, contohnya seperti menekan Rosa dan mendorongnya sampai terpojok. Maybe." Saat aku memikirkan sesuatu yang menarik kedepannya dan itu membuatku bahagia.
"Serangan jantung, ya?"
"Kenapa Stev nggak kelihatan kaget gitu malah dia lebih keliatan klo dia sudah bisa menduganya." Aku bertanya-tanya dalam batinku saat mendapatkan reaksi dati Stev begitu.
"Sepertinya kamu nggak kaget. Apa kamu sudah menebaknya?"
Aku terus mengintip dari balik pintu. Tanpa ku sadari seorang suster sedang berjalan dan melihatku. Lantas dia pun langsung menghampiriku dari belakang.
"Permisi, Pak. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Suster itu tersebut kepadaku.
Aku sangat terkejut, karena tiba-tiba saja ada orang yang berbicara denganku. Aku sebaik mungkin berusaha untuk mengatur ekspresi ku, supaya nggak kelihatan gugup. Lalu baru berbalik menoleh kebelakang, kearah suster yang menyapaku.
"Oh, itu..., saya hanya sedang lewat saja, kok." Jawabku memberi alasan. "Sebenarnya apa sih yang kupikirkan? Mana ada orang lewat saja celingak-celinguk didepan pintu ruangan orang. Tapi aku juga nggak mungkin mengubah alibi ku, kan? Jadi tinggal ngotot aja." "Iya, iya, saya hanya sedang lewat saja. Dan penasaran akan ruangan ini."
"Ohhhh, ruangan yang ini, ya? Ruangan ini adalah ruang kantor ketua departemen kami, departemen bedah. Namanya Dokter Alan. Dia dokter bedah terbaik di rumah sakit ini, lulusan dari universitas terbaik dari luar negeri. Dia juga dokter termuda yang memegang jabatan tinggi diantara kami semua." Suster itu memberi penjelasan padaku, padahal informasi itu jelas-jelas aku sudah bisa menghafalnya.
"Oh..., begitu, ya?"
"Iya. Baik, klo gitu saya permisi terlebih dahulu." Suster itu segera pergi dari sana. Sepertinya dia bukanlah suster yang makan gaji buta. Dan dia punya pekerjaan yang harus diselesaikannya, makanya terburu-buru pergi begitu saja.
Sesudah suster itu pergi, aku juga langsung pergi dari sana. Aku harus menuju ke kantor, untuk membicarakan masalah ini dengan teman laknat ku itu. Lagipula akan beresiko jika aku berhadapan dan ketemu sama salah seorang Vogart lagi.
__ADS_1
Aku menelusuri koridor demi koridor menuju tangga kebawah untuk pulang. Aku berpikir klo jalan ke depan untuk membalas dendam ku sepertinya akan berjalan sesuai rencana jika nggak ada variabel yang tiba-tiba muncul.
Aku kembali mengingat pembicaraan antara Alan dan Stev tentang penyakit Raymond yang tak boleh diketahui oleh Rosa. Ternyata aku nggak hanya dapat informasi tentang penyakit Raymond yang menguntungkan aku kedepannya, tapi juga informasi dan kunci balas dendam ku ke depannya.
Dan untuk kasus Raymond, aku hanya perlu menambah bumbu kedepannya, mungkin sedikit berita menggemparkan tentang salah seorang dari keluarganya itu.
"Raymond..., Raymond.... Kau yang nggak ada kekurangan selama ini, sekarang malah kau sendiri yang menciptakan bom waktu untuk dirimu sendiri. Jika sampai waktunya tepat dan tiba, maka bom yang waktu yang kau buat sendiri itu akan ku ledakkan. Maka pada saat itu terjadi, boooommm... Pesta untuk diriku pun dimulai. Game volume pertama selesai, mungkin jika aku puas, aku akan mengakhirinya. Atau bisa jadi juga..., aku akan melanjutkannya kembali."
Aku keluar dari rumah sakit dan langsung menuju ke tempat parkir dimana mobil ku parkirkan. Aku mengambil jalan memutar dan kemudian langsung meluncurkan mobil ke kantor. Dalam perjalanan, aku kembali teringat akan pembicaraan Alan dan Stev tentang penyakit Raymond.
"Sudah kuduga, ini memang tidak sesederhana seperti yang kamu bilang pada Rosa." Stev santai mengutarakan pikirannya pada Alan.
"Ya, aku memang sengaja menutupinya dari Rosa. Karena aku yakin kalian juga ingin merahasiakannya dari Rosa."
"Tentunya, meskipun honey berhak tau, tapi sekarang dia belum boleh tau. Dia masih ada pernikahannya di depan, dan itu hanya tinggal lima hari lagi. Jadi kami nggak ingin membuat honey jadi kepikiran. Jadi apa penyakit papa aku?"
Aku mengemudi mobil dengan perasaan senang. Mungkin ini adalah reaksi alami ku karena aku memikirkan bagaimana aku akan menang dalam permainan balas dendam ini.
"Raymond, perusahaan dan kekayaan mungkin bukan kelemahan mu dan tidaklah begitu penting bagimu.Namun siapa yang mengira klo orang berada dibawah moncong mu sendiri justru menjadi kelemahan.Tapi target yang sesungguhnya itu adalah putri tercintamu, kekuatan juga kelemahan. Hal yang seharusnya tidak kamu miliki, atau hal yang seharusnya tidak ku ketahui."
...***...
Alan dan Stev akhirnya keluar dari ruangan itu setelah Alan meresepkan obat kepada Stev. Tapi Alan berencana untuk menemani Stev sampai dia mendapatkan obat untuk papanya itu, Raymond.
Rosa akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan menuju ke sofa untuk duduk di sana. Dia menangis sebisa yang dia lakukan.
"Kenapa kalian tega mencoba menyembunyikannya dariku? Apa aku bukan bagian dari keluarga kalian?" Rosa menangis sesenggukan.
"Apa kalian tidak menganggap ku ada? Atau aku bukan bagian dari kalian? Kenapa kalian mencoba menyembunyikannya dariku? Kenapa kalian selalu menanggung beban hanya dipundak kalian saja? Apakah karena aku yang termuda kalian anggap aku lemah? Ya, aku memang lemah, setidaknya kalian membaginya denganku, aku juga bagian dati kalian. Mungkin ini masuk akal bagi kalian dan jika kalian mau aku juga bisa memasuk akal kan diriku, tapi bagaimana dengan hati ini? Apakah dia bisa menerimanya meskipun itu masuk akal? Hiks..., kenapa kalian menindas ku...., huhuhu..."
Rosa terus menangis meluapkan emosinya itu. Hingga dia menjadi tenang, dan sesudah dia mencuci muka di kamar mandi ruangan Alan dan memperbaiki sedikit riasan baru dia keluar dari ruangan itu secara diam-diam. Dia nggak mau terjadi masalah, karena masalah hari ini sudah cukup mengguncang dirinya.
Rosa hendak pergi keruangan papanya kembali tapi kemudian dia mengurung niatnya itu melihat suasana hatinya lagi kurang bagus. Jika Rosa kembali dalam keadaan seperti ini, mamanya Serena pasti bisa menebak isi hatinya itu meskipun dari raut wajah Rosa saja.
Jadi demi keluarganya juga, Rosa akhirnya memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar di luar.
"Hidup ini memang melelahkan, meskipun tanpa kerja. Siap bilang orang yang nggak kerja itu nggak lelah? Berpikir itu juga melelahkan, tau!" Teriak Rosa saat dia menuruni tangga menuju lantai bawah.
Namun gara-gara Rosa yang teriak, tak hayal jika itu mengejutkan orang-orang, dan cara orang mengambil sikap pasti akan berbeda-beda.
"Bisa diam nggak, lo? Pake teriak-teriak sini segala. Jangan di rumah sakit sini, sana aja di luar."
"Woiii, gila lo ya. Teriak-teriak disini."
"Kenapa sih dia teriak-teriak, udah kayak orang gila aja."
"Dia kenapa sih? Apakah dia terlalu stress karena keluarganya sedang sakit dan butuh biaya besar? Kasian sekali dia."
Rosa tak mengambil hati apa yang orang lain pikirkan tentang dia hari ini. Dia akan menganggap itu sebagai bisikan angin lalu saja, yang tak pamtas dia hiraukan. Karena Rosa bukanlah tipe orang mood booster yang dengan cepatnya kembali baik seperti semula.
__ADS_1
Rosa terus berjalan hendak keluar dengan langkah gontai, lunglai, juga lesu seperti tanpa toh. Hanya raga ada di dirinya, tapi dimanakah jiwanya?
"Rosa, mau kemana?" Alan menepuk bahu Rosa dari belakang untuk menyapanya, karena Rosa tidak menyahut saat dia memanggilnya tadi.
Rosa kembali mengatur ekspresi wajahnya seperti biasa, seperti tanpa masalah, dan menyapa Alan balik. "Ah, Kak Alan. Kakak dari mana mau kemana nih?" Rosa bertanya sambil memasang senyum seperti biasanya.
"Oh, nggak kemana-mana, kok. Hanya saja habis dari Depo Farmasi, temenin Stev buat ngambil obat untuk paman."
"Oh, ya. Thanks ya, Kak Alan. Because you are so kind to me, to my family. Terima kasih juga buat memeriksa papa Rosa hari ini. Syukur banget deh, papa Rosa ditangani oleh dokter muda yang hebat." Rosa berterima kasih kepada Alan sambil tersenyum kepadanya, dia benar-benar tulus melakukannya.
"Ternyata dia baik-baik saja. Ku pikir dia bakal sangat sedih. Ternyata dia masih ceria dan bisa tersenyum seperti biasa." Batin Alan saat melihat wajah Rosa tetaplah Rosa yang sering tersenyum dan ceria.
"Tersenyum, ya? Sangat miris ternyata diriku ini? Aku sangat hebat, bahkan memakai topeng yang tak mau kupakai. Bisa tersenyum seperti biasa, ya? Apa karena tersenyum luka itu tidak ada, luka itu tak membekas? Ya, hidup memang miris, luka tidak nyata, kenapa saat dia sakit rasanya sangat pedih dan menyesakkan?" Rosa menyayangkan dirinya sendiri. Dia langsung kembali berjalan keluar sesudah menyapa Alan tadi.
"Kamu mau kemana, Rosa?" Alan bertanya mengikuti Rosa dati belakang dan berjalan menyeimbangi Rosa.
"Rosa hanya mau keluar jalan-jalan, sekalian Rosa mau cari makanan ringan untuk mengganjal perut."
"Oh..., klo gitu kita ke indomaret sana aja, tak jauh dari sini kok. Kakak yang traktir!" Alan merangkul bahu Rosa seperti dulu yang dilakukannya.
"Kakak kembali melakukannya, tapi kakak mesti nggak ingat. Lupakan saja Rosa, sudah saatnya merelakan. Dalam lima hati ini, pasti bisa, kan?" Pikir Rosa saat di melihat tangan Alan merangkulnya.
"Jinja?? Ahhh, gomawo Alan oppa." Jawab Rosa ceria layaknya orang yang senang ditraktir sambil melepaskan rangkulan tangan Alan dengan reaksi yang alami.
"Wah..., kakak harus pake bahasa apa nih buat ngejawabnya ya? Kan nggak mungkin kakak hanya jawab pake bahasa Indonesia sedang kamu pake bahasa Korea." Tertawa Kak Alan yang mau kalah. Padahal jarang-jarang Alan seperti itu.
"Hahaha, klo begitu kakak jawab aja pake bahasa Inggris aja."
"Klo itu bukannya nggak adil. Sedang kamu udah sering pake Inggris juga."
"Apakah kita sedang berlomba nih ceritanya?"
"Tentu saja, jika kamu memang mampu."
"Wah..., kakak sangat sombong, ya?"
"Udah, udah... Kita ke indomaret sekarang. Klo nggak, nggak bakalan nyampe ini."
"Baiklah, karena ini kakak sendiri yang mengatakan akan mentraktir Rosa, jadi jangan menyesal, ya?" Peringat Rosa sambil terus jalan menuju ke indomaret dengan Alan."
"Hemmm, baiklah. Belanja lah sesukamu. Tapi jangan biarkan juga indomaretnya kosong ya, kasian orang lain nggak kebagian nantinya." Canda Alan kepada Rosa.
"Alah..., Kak Alan bilang aja pelit napa sih?" Rosa memukul bahu Alan ringan.
"Bukan itu juga, setidaknya kamu nggak boleh membiarkan kakak bangkrut. Itu sudah cukup."
"Wah, wah... Dokter termuda yang berprestasi dengan gaji gede, ternyata takut bangkrut juga, ya?" Canda Rosa terus ngeledek Alan.
"Sesukamu aja lah mau mikir kayak mana." Pasrah Alan akhirnya.
__ADS_1
Tawa Rosa terdengar syahdu di telinga Alan disepanjang jalan menuju indomaret. Mereka bercengkrama seperti dulu lagi, meskipun Alan hilang ingatan sekarang, tapi dia merasa familiar dan entah kenapa dia merindukan tawa itu.