Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 29 : Tuan You Know


__ADS_3

Sesudah dilepaskan oleh para wanita yang ada di toilet dengan bantuan Alan, Oryza terus berlari mencari jalan untuk keluar dari rumah sakit. Dia nggak peduli walaupun dia belum ketemu sama Erik sama sekali. Dia sudah cukup menderita hari ini, dengan serangkaian dan serentetan peristiwa yang tak pernah dialaminya itu.


"Aku nggak mau tau, mau itu Erik yang mengomel ataupun kakak yang membekukan atm ku, aku udah nggak peduli lagi. The first mission now is how me can to find jalan keluar."


Oryza terus berlari, namun di kembali tersesat juga. Sama seperti awal, dia lagi-lagi tersesat dan nggak ingat jalan keluar. Ya jalan yang dilaluinya saat dia sedang dikejar oleh para satpam yang berjaga. Lalu kemudian sampai salah masuk toilet wanita saking kaget dan gugupnya dia karena takut akan kehilangan keperjakaannya.


"Sumpah demi apapun, sampai kapanpun aku nggak akan sudi masuk, nggak, aku nggak akan sudi sampai di rumah sakit ini. Sekalipun semua rumah sakit ambruk, hilang ditelan sekalian, aku nggak akan sudi ke rumah sakit ini, lebih baik aku mati di rumah aja. Huh, why?? Why this hospital so rush. ****!"


Oryza terus-terusan memaki dalam hatinya dan juga mengutuk rumah sakit yang tidak efesien, sekalian dengan dia yang terus mencari jalan keluar, berjalan menghentakkan kakinya, saking kesalnya dia karena tak kunjung keluar juga meskipun sudah bolak-balik, tapi ujung-ujungnya tetap kembali ke tempat yang sama lagi.


Oryza berjalan tanpa melihat kedepannya karena dia sibuk dengan menggerutu sumpah serapahnya, sehingga dia tidak sengaja menabrak orang yang di depannya.


"Aduuh, sakit tau. Punya mata nggak lo? Klo jalan tu liat-liat dong." Sarkas orang yang di tabrak oleh Oryza karena dia jatuh ke lantai.


"Emang kenapa klo gue punya mata? Suka-suka gue lah." Oryza juga nggak mau kalah juga menjawab. Kebetulan dia dari tadi kesal, untung ada tempat untuk melampiaskannya.


Orang yang ditabrak oleh Oryza mencoba untuk bangun. Begitu juga dengan Oryza dia melihat ke arah orang yang barusan ditabraknya. Mata mereka saling bertemu dan mereka pun langsung kaget saat mengenali satu sama lain.


"Aaahhh, lo lagi, lo lagi. Kenapa sih harus lo??" Tanya Alyana saat melihatmu itu adalah si mesum yang masuk ke toilet wanita.


"Aaaaah, itu kamu. Si cewek barbar yang menghajar aku tadi kan? Kebetulan, aku akan memperhitungkan segalanya. Aku nggak akan melepaskan kamu, because of you, l am so misfortune today. You know???" Oryza menunjuk jari telunjuknya kearah wajahnya Alyana.


"Hah? Misfortune? Hah, hahaha, lo pikir cuma lo doang yang sial hari ini. Gue juga merasa sial tau ketemu sama lo. Nggak pernah gue ketemu sama cowok sindrom you know kayak lo." Tandas Alyana menepis tangan Oryza dengan kasar.


"Alahhh, kamu palingan cuma mau nyari muka aja sama aku. Ngaku aja kamu suka sama aku, karena aku tuh ganteng, cowok bule, bermartabat, berwibawa dan berwawasan luas."


"Apa?? Bermartabat? Berwawasan luas? Kagak salah denger ini gue. Cowok yang masuk ke toilet wanita lo katain bermartabat? Hello?? Tuan you know, sadar diri dong, klo mau sombong tu ngaca dulu dong." Alyana tersenyum mengejek kepada Oryza.


Tentu saja Oryza nggak terima dia diperlakukan seperti itu, dan memelototi Alyana. "Kamu...."


Alyana juga tak kalah saing, dia juga balik memelototi Oryza dengan berani. "Kamu apa?? Huh? Berani lo sama gue, huh?" Alyana maju dan menabrak bahu Oryza menantang Oryza.


"Ahhh, terserah dah. Yang ada makin sial aku meladeni cewek seperti kamu." Oryza langsung pergi meninggalkan Alyana sendiri, karena dia gagal melampiaskan amarahnya.


"Woiiiii, jangan kabur lo. Woiii....." Alyana berteriak memanggil Oryza namun tidak diindahkannya juga. Dan hal itu membuat Alyana makin kesal. "Woiiii mesum, tuan you know, urusan kita belum kelar ini. Mau kemana lo, woiiii!!!!!" Alyana terus meneriaki Oryza dan hal itu menjadi tontonan di sepanjang koridor rumah sakit.


Alan datang dari belakang Alyana, karena mendengar begitu ribut di sepanjang koridor juga bisik-bisik orang-orang yang mengatakan sepasang kekasih sedang bertengkar. Dan itu membuat Alan langsung mengecek tkp kejadiannya. Dan yang dilihatnya adalah Alyana, temannya Rosa yang sedang berteriak-teriak memanggil seseorang.


"Alyana kenapa kamu disini? Bukannya tadi sedang di kamarnya paman ya?" Tanya Alan menghampiri Alyana dengan nada yang sopan karena banyak yang melihatnya.


"Eh Kak Alan. Aku hanya mau beli bubur diluar kok, sekalian nyari Rosa rencananya."


"Oh gitu ya. Lhah, trus kenapa kamu malah teriak-teriak di koridor beginian." Tanya Alan kembali sambil melihat apa sih sebenernya yang sedang diteriaki oleh Alyana.


"Oh, nggak ada kok kak. Cuma lagi melatih nada tinggi aja." Jawab Alyana cengengesan yang terkesan canggung.

__ADS_1


Sesudah semua orang pergi dan kembali lagi pada aktivitas mereka, Alan mengubah mimik wajahnya dingin terhadap Alyana. Karena dia tidak suka dengan tipe cewek yang seperti Alyana, hanya saja dia tidak menampakinya. Sudah dari tadi dia kesal pas di toilet, yang suka main kekerasan dan hakim sendiri. Untung Alan mengingat Alyana adalah teman Rosa, dan masih menghargainya.


"Oh gitu ya. Lebih baik kamu latih nada tingginya di rumah kamu aja, klo nggak ditempat karokean atau tempat yang sepi. Jangan ditempat umum kayak gini, ini tuh tempat umum bukan pasar malam." Wlan menceramahi Alyana dengan dingin.


"What?! Ini orang mengubah mimik wajah dan nadanya secepat gue berkedip. Dasar muka dua, untung Rosa pernah suka sama lo, klo nggak, mana mau gue terlibat dengan orang seperti lo." Batin Alyana yang juga nggak suka dengan Alan rupanya.


"Oh maaf, kak. Saya berjanji nggak akan mengulangnya lain kali." Jawab Alyana dengan senyum yang dipaksakan. Padahal giginya sudah bergelatuk karena saking kesalnya dia.


"Apa? Masih ada lain kali? Saya harap kamu tau klo ini adalah rumah sakit, bukan tempat latihan kamu. Jadi nggak ada lain kali."


"Iya, kak." Jawab Alyana dengan patuh didepan Alan. Namun dibelakangnya, dia menjulurkan lidahnya mengejek Alan, dan langsung pergi melaksanakan hal yang diinginkannya.


.


.


Oryza yang mencari jalan keluar, akhirnya berhasil keluar juga sesudah bertanya pada seorang anak kecil. Dia tidak menanyakannya pada orang drwasa karena dia nggak mau dianggap sebagai cowok yang buta map, apalagi ini hanyalah rumah sakit. Hanya saja, bagi Oryza itu terlalu banyak koridor meskipun itu hanya satu tingkat lantai saja.


"Hah? Akhirnya..., bisa keluar juga." Lega Oryza sesudah berhasil mencapai luar rumah sakit. "Oh ya, aku nunggu Erik-nya di taman saja."


Saat Oryza alan berjalan menuju taman untuk menunggu Erik, Oryza melihat klo cewek yang yang dilihatnya saat tadi masuk masih duduk di taman sendirian.


"Cewek itu masih menunggu pacarnya ya? Ah ya, boyfriend-nya itu kan dokter yang nolongin aku tadi. Apa aku hampiri aja ya." Gumam Oryza pada dirinya sendiri dan langsung menuju ke tempat Rosa.


Aku masih aja menunggu Kak Alan di taman, berharap klo Kak Alan akan datang kembali sesuai apa yang sudah dikatakannya. Aku memang tidak mengaharap sama sekali klo dia akan datang kembali. Apalagi dengar-dengar klo tunangannya juga pindah ke rumah sakit ini. Kak Alan pasti sibuk dan akan melupakan aku yang nggak ada dalam lembaran kehidupannya lagi.


Aku memang bodoh dalam cinta, apalagi Kak Alan adalah cinta pertamaku. Aku tau dia nggak akan datang, dan aku sudah melepaskannya. Tapi aku ingin egois, karena ini adalah terakhir kali, dan setidaknya dia menghargai ku.


Aku memakan coklat yang dibelikan Kak Alan untuk memperbaiki mood ku. Aku nggak mungkin masuk ke dalam dengan wajah yang seperti ini. Mama pasti bakalan tambah khawatir. Meskipun kakak mencoba menyembunyikan penyakit papa dari aku, tapi yang mama dia pasti memberitahunya. Jadi aku nggak bisa menambah keresahan mama dan menjadi beban baginya.


Dan tentang Kak Alan, aku sudah melepaskannya. Meyakinkan diriku klo Kak Alan itu nggak berjodoh denganku. Dan juga untuk menghibur diriku sendiri, aku juga meyakinkan diriku klo jodohku, Reyhandra Kedrey juga lebih tampan darinya.


"May l sit at your side?" Terdengar suara orang yang menyapaku saat aku sedang melamun. Aku menengadah dan melihat orang yang menyapaku itu dalam bahasa Inggris, dia orang blasteran, sama seperti ku.


Aku langsung menggeser duduk ku yang tadinya memonopoli kursi dan mempersilakan dia duduk. "Of course, why not."


Laki-laki itu segera duduk disamping ku dengan alami. Namun bagaimanapun dia, aku tetap berpikir apakah dia cara baru bagi buaya untuk memikat mangsanya. Namun sayangnya itu juga nggak ada gunanya, toh aku sudah punya sendiri, walaupun dia seorang blasteran tampan sekalipun.


"Are you waiting for your boyfriend?" Tanya laki-laki blasteran itu kembali.


Dan aku merasa kaget, kenapa dia tau klo aku sedang menunggu seseorang, walaupun itu bukan pacarku. Hanya saja yang membuatku heran, kenapa di tau. "Why you can think like that."


"Yah, soalnya tadi aku ada liat kamu yang sedang jalan dengan dokter laki-laki, dan ku pikir itu adalah pacar kamu. Tapi dia malah ada pekerjaan mendadak dan menyuruhmu untuk menunggunya dan akan segera kembali lagi." Jawab laki-laki itu tersenyum kepadaku.


"Kembali, ya? Ya, andai saja dia memang kembali lagi padaku. Namun sayang, itu nggak akan terjadi." Batinku menjawab pertanyaan dari laki-laki itu. "Oh gitu ya." Aku hanya menjawab pendek pada laki-laki itu di permukaan.

__ADS_1


"Kamu nggak kaget klo aku bisa bicara Indonesia juga ya." Laki-laki itu kembali bertanya dengan senyuman menggodanya itu.


Mungkin klo itu adalah wanita lain yang nggak ada pacar akan tergoda. Apalagi dia memakai pakaian kasual yang sedang trend, semua pakaiannya itu adalah pakaian bermerek. Ditambah dengan ketampanannya menjadi paket komplit untuk menggoyah para wanita. Tapi itu tidak berlaku bagiku, karena hatiku sudah ada tempat untuk berlabuh dan harus ku jaga hanya untuk dia.


"Ya, karena aku tau kamu pasti blasteran. Sama kayak aku juga, klo bukan papa, pasti mama kamu adalah orang Indonesia." Jelasku menjawab lontaran laki-laki itu.


"Yap, kamu memang benar." Laki-laki itu menjawab dengan menjentikkan tangannya didepan wajahku sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.


"Cowok genit." Hanya itu yang bisa kupikirkan saat aku melihat tingkahnya itu. Namun apa urusanku, dia cuma hanya akan duduk sebentar, lalu kemudian juga akan pergi fan nggak pernah ketemu lagi.


"Oh ya, aku ada liat your boyfriend tadi, dia tu keren banget tau. Tolong sampaikan thanks aku ya sama your boyfriend karena udah nolongin aku. Katakan saja klo yang ditoilet itu, ok?" Lagi-lagi dia mengedipkan matanya padaku. Namun dia sudah salah paham padaku, yang mengira aku adalah pacar Kak Alan.


Tapi biarlah dia salah paham, lagipula itu juga nggak penting. Biarkan saja dia salah paham, karena sekarang aku sedang malas untuk menjelaskannya.


Dia memang laki-laki yang aneh, kenapa dia bisa sok akrab begitu dengan ku? Padahal kenal juga nggak. Kenap dia bisa sampai gitu. Aku nggak peduli, aku melanjutkan mkan coklat ku kembali tanpa menghiraukan dia.


Namun tiba-tiba dia malah memukul pahaku, dan itu sontak mengejutkan ku, karena dia pake memukul pahaku, bukan memanggil 'hei' saja, karena kondisi kami yang belu berkenalan.


"Sorry ya." Dia tersenyum nggak enak padaku. Untung juga baru kenal, klo nggak udah ku sleding dia, klo dia teman aku.


"Ya, nggak apa-apa." Aku juga tersenyum ramah, karena dia tau untuk meminta maaf.


"Bukankah itu your boyfriend? Why he so near with another girl. Tidakkah kamu cemburu?" Tanya laki-laki itu menunjuk Kak Alan dari jauh yang sedang jalan sama Dinda, dan mereka cukup lengket.


"Karena dia bukan boyfriend aku. Dia hanyalah kakak tetangga aku yang kebetulan menangani papaku." Jawabku menghela nafas. Kenapa aku harus menjelaskan ini semua padanya.


"Oh gitu ya. By the way, why you look so familiar? Apakah kamu punya kembaran, yang mungkin pandai menyanyikan? You know, jadi kemarin aku tu datang ke bar, ada cowok yang nyanyi, dia tu hampir mirip dengan kamu. Apa mungkin itu kembaran kamu ya?" Tanya laki-laki itu serius dalam menceritakannya.


"Gawat!! Apa dia pelanggan dari bar itu dan kebetulan melihat aku nyanyi ya? Apa aku akan ketahuan?!" "Oh mana mungkin. Aku nggak punya kembaran kok." Jawab ku berkeringat dingin takut ketahuan. Siapapun nggak boleh tau klo aku itu cross dressing. Kak Alan seorang aja yang tau, itu pun udah repot.


"Mana mungkin, dia itu mirip kali dengan kmu. Persis sama, hampir kayak duplikat gitu." Tutur laki-laki itu tetap ngotot.


"Ini orang kenapa susah kali dibilang sih. Benar-benar mint dihajar ini orang." Aku mulai naik darah dalam menghadapi orang ini. "Oh itu karena wajah aku ini pasaran kali ya. Makanya mirip." Jawabku beralasan. "Padahal mana mungkin, aku cuma ada satu orang di Indonesia ini, mana mungkin banyak dih. Pake duplikat segala lagi. Kecuali kamu cari orang seperti aku satu dunia ini."


"Oh ya, bisa jadi juga ya. Btw kita belum kenalan nih. Kenalkan nama aku...."


"Ahh, aku lupa klo aku harus pergi sekarang. Bye bye ya. Senang berjumpa dengan kamu." Aku langsung memotong perkataan laki-laki itu sebelum tambah panjang lagi. Agak kasihan sih, tapi mau gimana lagi? Aku lebih kasihan oada diri sendiri. Ketimbang dia terus bertanya dan aku keceplosan membeberkan identitas cross dressing-ku.


"Oh ya, bye bye. Senang juga bertemu dengan kamu. Semoga kita jumpa lagi." Dia melambaikan tangannya kepadaku.


"Ya." Aku kuga membalas lambaiannya itu. "Ya aku senang, tapi akan lebih baik klo kita nggak bertemu lagi." Aku berjalan dengan cepat, ssupaya dia nggak berencana untuk mengejarku pula.


"Heiii, coklatmu ketinggalan!!!!" Teriak laki-laki itu memberitahuku sambil menjejeng plastik berisi coklat ku.


"Untuk kamu aja!!! Hadiah perjumpaan!!!" Aku menjawabnya dan langsung berlari masuk ke dalam. Aku harus kembali, sebelum mama dan kakak panik. Karena aku hanya izin sebentar saja pada mama.

__ADS_1


__ADS_2