
Rosa yang telah mengantar kakaknya pergi ke kantor langsung mengambil kotak makannya kembali dan langsung naik ke atas buat memantau bagaimana makan romantis orang tuanya.
Namun saat di perjalanan, saat Rosa akan membuka pintu kamar inap papanya, dia bertemu dengan Alan. Orang yang ingin Rosa hindari mulai sekarang.
Selain karena dia akan menjadi milik orang lain dan dia mencintai calon suaminya sekarang. Rosa juga tak ingin menjadi pengganggu hubungan Alan dengan Dinda. Maka jika Rosa terus berada di sekitar Alan, bukankah itu sama halnya dengan yang dikatakan Alan selama ini? Bahwa dirinya hanyalah orang luar, pengganggu hubungan mereka.
Bohong namanya klo Rosa nggak sakit hati dengan perkataan Alan di masa lalu itu, masa saat Alan kehilangan ingatannya. Rosa bingung, nggak percaya akan kenyataan itu. Kenangan indah yang mereka lalui bersama dulu, nggak pernahkah ada sedikit bayangan tentang masa lalu itu?
Rosa selalu bertanya-tanya akan hal itu, namun dia nggak bisa mengutarakannya secara langsung kepada Alan, dan memilih untuk menelan pil pahit itu seorang diri. Pil dalam bentuk kenangan indah namun menyakitkan dan menyesakkan. Slide kenangan yang diingatnya seorang diri.
"Rosa, kebetulan sekali kita ketemu lagi disini, ya? Tapi kamu habis dari mana mau kemana?" Tanya Alan saat ketemu dengan Rosa yang akan membuka knop pintu ruang inap Raymond.
"Eh, Kak Alan. Why you here?" Tanya Rosa yang berpura-pura terkejut. Karena dari awal Rosa memang udah menyadari kehadiran Alan, namun dia pura-pura nggak tau aja.
Rosa menjadi aneh sekarang dengan sikap Alan. Karena Alan sekarang seolah menciptakan momen supaya bisa ketemu dengan Rosa. Rasanya seperti jadwalnya sudah diatur saja.
"Why me here?" Tanya Alan mengulang pernyataan yang sama dengan Rosa. "Of course, because I am a doctor in this hospital. Memangnya kenapa kamu bertanya begitu?"
"Kenapa? Bukankah terlalu buruk untuk dikatakan bahwa ini semua hanyalah kebetulan? Mulai rumah tadi dan sekarang..., di rumah sakit juga? Bukankah itu sangat aneh? Tapi akan lebih aneh lagi klo aku bilang kayak gini ke Kak Alan, kan?" Batin Rosa pada dirinya sendiri. "Nggak ada kok kak. Kakak bebas untuk berkeliaran disini, Rosa nggak akan ganggu lagi." Rosa langsung berencana untuk membuka knop pintunya, namun Alan malah menahan tangan Rosa.
"Bagaimana klo aku bilang aku suka diganggu oleh kamu?" Tandas Alan dengan kilat mata yang serius.
"Apa kakak bilang barusan?" Tanya Rosa balik kepada Alan. Apakah yang didengarnya barusan adalah kenyataan, atau ini hanya angan-angan Rosa saya. Hanya sebuah ilusi saja.
"Apa aku ketahuan?" Batin Alan yang panik tersendiri dalam hatinya. Alan langsung tertawa gaje saat Rosa menanyakan hal itu. "Ahh, aku hanya mau nanya kapan kamu akan mentraktir aku makan malam? Bukankah kamu sudah janji sama kakak, ya? Atau..., kamu hanya mengumbar janji palsu aja sama kakak?" Duga-duga Alan tersendiri. Lalu kemudian diikuti dengan akting sedih. "Ternyata gini ya, kelakuan kamu sama aku. Tega kamu, Sa."
"Ehhhhh kak, kamu...." Rosa nggak bisa berbicara apa-apa lagi, klo keadaannya seperti ini, dia pasti kelihatan brengsek di mata orang lain. Karena sudah mencampaki laki-laki cantik. "Nggak gini lho konsepnya. Kenapa udah jadi gini?" Batin Rosa menangisi nasibnya yang dipermainkan.
"Udah, berhenti candanya. Jadi gimana? Malam ini bisa, kan? Soalnya udah lama ditangguhkan, Sa."
Alan berjalan sedikit mendekati Rosa. Karena Rosa kurang nyaman dan memang berniat menjauhi Alan, Rosa pun mundur ke belakang, namun dia malah tertahan sama pintu. Alan berbisik di telinga Rosa dan dengan di sengaja Alan meniupkan telinga Rosa.
"Rosa sayang, bukankah ini sudah sangat lama sejak kejadian kamu kepergok cross dressing sama aku dan malah keluyuran ke bar malam-malam, hemmm?" Alan selesai berbisik di telinga Rosa dan malah bersikap seperti anak kucing patuh di permukaan. "Apakah kamu akan selalu membuatku menunggumu?" Tanya Alan lagi sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Rosa.
"Sa, aku udah begitu nyata merayu kamu? Juga udah ngirim sinyal ke kamu. Nggak kah kamu sadar aku sedikit berubah? Atau nggak kah kamu merasa ada sesuatu yang familiar dengan aku?" Batin Alan seakan dia bertanya dan berkomunikasi langsung dengan Rosa.
"Kak Alan ni napa sih? Makin ke sini makin aneh aja bicaranya. Apa dia mau ngetes aku, yah? Masih cintakah aku padanya? Klo emang cinta, berarti dia mau ngemarahin aku lagi? Tapi kan, nggak gini juga konsepnya, masa pake ngerayu segala sih? Ini kan jadi nggak adil bagi aku yang lemah akan keindahan." Batin Rosa yang sudah berkeringat dingin karena Alan menggodanya terlalu berat.
Itu merupakan cobaan yang berat bagi Rosa. Apalagi Alan menggodanya dengan meniup-niup telinganya. Rosa menolak Alan dengan hati-hati, karena dia nggak mau alan tau klo Rosa ngejauhin Alan secara terang-terangan sekarang.
Yah, memang pada awal-awalnya Alan kehilangan ingatannya, Alan emang menyuruh Rosa untuk menjauhinya sejauh mungkin, dan jangan pernah berani bertemu dengannya lagi, apalagi itu tentang kenangan masa lalu. Tapi Rosa juga sadar, klo sekarang itu sudah beda ceritanya. Selain Alan yang mendekatinya duluan, selain dirinya yang udah punya calon suami, tapi Alan juga punya tunangannya sendiri.
Meskipun bagaimana dan berapa pun alasannya, Rosa tetap nggak mau Alan tau klo dirinya mencoba mejauhi Alan dan menghindari Alan, memperlakukan Alan sebagai wabah yang harus di hindarinya.
"Emmm, Kak Alan. Bisakah Rosa mempertimbangkan itu?" Tanya Rosa mencoba mendorong Alan. Namun Alan malah menangkap tangan Rosa dan kembali mendekati wajah Rosa, bahkan nafas Alan pun terasa diwajahnya. Seakan mereka menghirup udara yang sama. Nggak, bukan sama lagi! Tapi lebih ke mereka saling bertukar udara yang dihirup.
"Mempertimbangkan apa, hemmm? Apakah memikirkan untuk mencintaiku..."
"Rosa akan mempertimbangkan lagi, nggak, maksud Rosa memikirkan lagi tentang makan malam yang Kak Alan maksud, soalnya kan papa Rosa kan juga pulang malam ni. Jadi mungkin nggak bisa."
"Hemmm, iya juga sih. Yah, apa boleh buat, kan?" Jawab Alan yang menjauhi Rosa dengan sendirinya. "Kamu tenang aja, kakak becanda doang kok. Apapun itu, keluarga kamu harus tetap kamu utamakan, sekalipun itu suami kamu, ok?"
__ADS_1
"Kirain apa? Padahal kakak cuma becanda doang, ya? Hampir copot jantung Rosa barusan kirain Kak Alan salah makan apa, pake ngerayu Rosa kayak gitu. Tapi syukurlah, kak. Oh ya kak, soal perkataan kakak yang terakhir itu. Kata-kata itu kakak dengarnya dari mana? Soalnya persis sama sedang kata-kata Kak Stev." Senyum Rosa sambil terkekeh sendiri memikirkannya lagi.
"Kamu terlihat senang ya, Rosa. Sepertinya akhir-akhir ini kamu terlihat lebih bahagia dan juga bebas pergi dengan tunangan kamu itu. Bahkan Stev aja nggak terlalu ketat lagi sama kamu, selama dia ada di sampingmu. Dan dia sangat beruntung bisa mendapatkan kamu. Nggak seperti diriku, yang sudah berhasil menggenggam tanganmu, namun sedikit kecelakaan kecil, aku malah melepaskan kamu dengan tanganku sendiri." Batin Alan yang menyayangkan dirinya yabg dulunya berlaku kejam.
"Begitukah? Kamu pikir aku meniru kata-kata kakakmu yang siscon itu? Emm, anggap aja begitu. Namun sayang, klo kata-kata itu memang dari diriku sendiri sih." Tutur Alan menjawab pertanyaan Rosa tadi dengan kalimat terakhir yang sedikit digumamkan saja.
"Apa maksud Kak Alan?"
"Nggak ada apa, kok. Kamu masuk aja, nanti mama papa kamu malah khawatir sama kamu lagi. Padahal paman lagi sakit, jadi kamu jangan buat dia khawatir, ya." Kata Alan sambil menepuk-nepuk kepala Rosa tiga kali. Kemudian langsung pergi begitu saja.
"Aneh." Batin Rosa yang mengeluskan kepalanya bekas ditepuk oleh Alan. Sesaat kemudian pun, Rosa baru ingat klo ada yang mau dia bilang sama Alan, namun Alan keburu pergi karena Rosa sempat melamun sesudah Alan menepuk kepalanya.
"Kak, jika nanti Rosa sempat, akan Rosa kabarin lagi, ya!" Teriak Rosa kepada Alan yang belum jauh darinya.
Alan berbalik kearah Rosa dan menganggukinya lalu tersenyum kepada Rosa. Rosa melambaikan tangannya kepada Alan sambil tersenyum juga, lalu langsung masuk ke ruangan papanya.
"Papa! Mama! Bagaimana makan romantis kalian?" Tanya Rosa bersemangat.
"Sayang, kamu kok gitu sih nanyanya. Aneh-aneh aja deh mana ada yang namanya makan romantis di rumah sakit." Bantah Serena yang malu-malu.
"Alah mama ini, pake malu-malu lagi. Padahal seneng banget tu, kan? Liat aja wajah mama yang bersemu merah itu?" Goda Rosa semakin menjadi-jadi pada mamanya itu.
"Akuin aja, ma. Nggak usah malu-malu. Didepan anak kita juga." Tambah Raymond nggak mau kehilangannya momen yang jarang terjadi sekarang ini.
"Kalian ini, ya. Mau mama pukul, huh?" Tanya Serena yang tak tau mau berbuat apa lagi. Dan dia mengangkat tangannya kearah Rosa yang berada diseberang ranjang Raymond.
"Eiiiittt, ma. Kekerasan itu dilarang ya sekarang." Tutur Rosa yang mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan Serena.
"Iya sayang. Sekarang kekeraaan itu dilarang, bagaimana klo kita ngomongin ini baik-baik?" Tambah Raymond lagi yang nimbrung ngerjain Serena bareng-bareng sama Rosa.
"Jangan dong, ma. Papa lagi sakit juga, masa mama main pukul-pukul gitu sih. Malah tambah sakit nanti papa gimana? Kan mama juga yang repot. Seharusnya ni ya ma, karena papa lagi sakit-sakitan kayak gini, mama makin sayang gitu sama papa. Masa mama langsung main pukul? Padahal cuma digoda dikit aja. Emang mama mau papa mati ditangan mama, ya? Klo emang mama maunya kayak gitu, bisa mati di tangan mama, papa nggak sedih kok, ma." Canda Raymond yang terdengar berlebihan bagi Serena.
"Pa, papa kok ngomongnya kayak gitu sih. Mana mungkin mama ngebunuh suami mama sendiri. Emang mama mau jadi janda gitu." Kata mama yang terlihat sedih dan langsung memeluk Raymond. Meskipun suasananya seperti itu, tapi Raymond sangat menikmati perlakuan itu.
Rosa yang melihat papanya yang negerjain mamanya berlebihan seperti itu jadi kasihan akan mamanya itu. Mamanya yang laksana kelinci gemeteran itu, mau nggak mau ya tetap harus nunduk sama singa si hewan endemik Afrika itu.
"Dasar papa ini, emang singa licik." Batin Rosa saat melihat mamanya yang akhirnya selalu luluh akan papanya itu.
"Ehem, hem."
Mendengar Rosa yang berdehem, Serena pun langsung menjauhi Raymond kembali dan sedikit menjauh. Raymond yang kesal klo putri bungsunya itu sengaja mengganggu momennya itu, hanya bisa melototi putri kesayangannya itu.
"Apa?" Batin Rosa yang seakan berbicara pada papanya itu karena dia malah dipelototin begitu oleh papanya.
"Oh ya, ma. Kata kak Stev undangannya udah dicetak, ya? Mana sini, Rosa mau nengok desainnya." Tutur Rosa yang mengalihkan pembicaraan menjadi serius.
"Oh..., itu, ya? Lupa tadi mama nunjukinnya sama kamu, karena udah keburu lupa sama sarapannya."
"Nggak apa, ma. Sarapan kan penting juga. Jadi mana undangannya itu?"
"Itu tuh, atas meja."
__ADS_1
"Atas meja yang dalam tas belanjaan itu ya, ma?" Tanya Rosa yang langsung berjalan ke arah sofa.
"Iya, coba kamu liat aja. Klo emang kamu nggak suka, kita masih bisa mengganti dan mencetak ulang. Masih sempat juga, empat hari lagi masih. Pasti siap jika emang kamunya mau diubah." Kata Serena memberi saran.
"Buset, mau diganti klo nggak suka? Emang lagend ya my parents." Batin Rosa yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
Rosa langsung membuka tas belanjaannya, dan melihat undangannya. Warna putih dengan motif keemasan, sangat indah. Itu sangat murni.
"Itu motifnya mama, papa sama kakek tunangan kamu yang milih. Stev dia juga ikut nimbrung. Meskipun dia nggak suka kamu akan pergi dari rumah, tapi dia sangat perhatian. Sampai detaik terkecil pun dia perhatikan sampai ke sel-selnya itu. Bisa dibilang, undangan itu Stev langsung yang mendesainnya, sesuai saran dari papa, mama juga kakek William. Gimana? Kamu suka nggak dengan desainnya?" Jelas Serena panjang lebar.
"Ternyata kakak sendiri yang mendesainnya, ya? Ini sangat indah. Tak ku sangka, kakak yang posesif dan siscon yang nggak mau aku nikah itu mencoba melakukan yang terbaik untuk pernikahanku ini. Makasih kak. Rosa selalu berterima kasih kepada kakak. Kakak tenang saja, nanti saat kakak akan menikah, juga Rosa sendiri yang akan mendesain undangannya untuk kakak." Rosa sangat terharu akan perlakuan Stev kepadanya.
Rosa terus membolak-balikkan undangan itu, dan tak jemu untuk dipandangnya itu. Ternyata kakaknya itu dari awal sampai akhir, bahkan saat Rosa melakukan sesuatu yang nggak disenanginya itu tetap melakukan yang terbaik untuk dirinya, tetap memperlakukannya bak tuan putri kerajaan yang sangat penting baginya.
"Ini sangat cantik, ma. Rosa sangat menyukainya."
"Ya, baguslah klo kamu menyukainya. Kakak mu juga pasti akan senang jika mendengar itu dari kamu. Meskipun dipermukaan di akan pura-pura nggak peduli gitu. Padahal dalam hatinya, dia pasti berjingkrak-jingkrak melompat saking senangnya."
"Iya sayang. Kamu jangan ambil hati sikap kakakmu itu, ya? Dia hanya sedang dalam masa pemberontakan sekarang, dia hanya nggak mau klo kamu jauh darinya." Tambah Raymond lagi meluruskan kesalahpahaman Rosa. Karena Raymond memperhatikan suasana Rosa dan Stev tadi pagi yang kurang mengenakkan, jadi dia pikir Rosa dan Stev pasti lagi punya perbedaan pendapat ataupun konflik kecil.
"Nggak kok, pa. Rosa paham akan kekhawatiran kakak. Klo Rosa berada diposisi kakak juga pasti akan melakukan itu. Ini bentar lagi, waktu istirahat siang kakak, Rosa juga berencana mengantar bekal untuk kakak, sekalian berterima kasih. Oh ya, ma. Rosa bisa nggak minta undangannya beberapa? Soalnya Rosa mau ngundang Alyana sama Lilis juga, sama si kembar lagi."
"Iya, ambil aja sayang. Kan kamu juga pasti ada tamu yang ingin kamu undangan secara pribadi." Jawab Serena yang berjalan ke arah meja.
"Rosa cuma ambel tiga aja ya, ma?" Kata Rosa yang memperlihatkan tiga undangan yang diambilnya itu.
"Kamu yakin hanya mau mengambil tiga? Nih, ambil aja dua lagi, kan siapa tau kamu ingat lagi siapa yang mau kamu undang nantinya?" Tanya Rosa yang memberikan dua undangan lagi kepada Rosa.
"Udah cukup kok, ma. Tiga aja cukup." Tolak Rosa saat Serena memberikannya pada Rosa.
"Ambil aja sayang, siapa tau kan kamu butuh. Tiba-tiba aja ketemu teman lama kamu saat lagi jalan-jalan nanti."
"Nggak lah, pa. Kan papa juga tau sendiri, klo temen Rosa itu juga kagak banyak. Selain si kembar, ya Alyana sama Lilis yang sering main ke rumah. Lagipula Rosa nggak terlalu ingin mengekspos pernikahan Rosa ini. Klo ini tersebar, bakal susah kehidupan kuliah Rosa nantinya." Kilah Rosa tetap saja menolak.
"Ambil aja sayang. Nggak mubazir kok. Kan siapa tau aja butuh gitu. Kamu bisa ngasih ke Bibi Salma di rumah gitu. Sama Kang Udin lagi. Oh ya, sama Alan lagi. Lagipula si kembar nanti dapat, masa Alan-nya ditinggalin sendiri, nggak dikasih. Kan pilih kasih itu namnya."
"Ya, dengar tu kata papa."
Rosa nampak berpikir sebentar, ternyata benar juga yang dibilang sama papanya itu. "Ya iya deh, Rosa ambel. Oh ya, klo gitu Rosa pulang ya. Soalnya mau siapin bekal makan siang buat kakak, jadi Rosa harus berbelanja dulu. Mama nggak apa kan klo emang Rosa tinggalin?" Tanya Rosa sambil memasukkan undangannya ke dalam tas selempangnya.
"Nggak apa kok." Jawab Serena menenangkan Rosa. "Lagipula disini aman kok, banyak orang juga, buat apa takut."
"Iya sayang, kamu tenang aja." Kata Raymond lagi menenangkan Rosa, karena Rosa nggak enak untuk meninggalkan orang tuanya itu. Apalagi cuma mamanya seorang yang menjaga papanya.
"Papa ma mama, mau Rosa bawa kotak siangnya sekalian?" Tanya Rosa lagi sebelum meninggalkan orang tuanya.
"Nggak usah. Kamu cukup masak buat Stev aja. Kamu nggak perlu khawatir. Mama mudah disini klo emang mau dapat makanan."
"Ya udah, Rosa pamit, ya."
"Iya sayang, hati-hati di jalan, ya."
__ADS_1
"Ok mam. Bye-bye ma, pa."
"Bye."