Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 50 : Asal Dia Bahagia


__ADS_3

Reyhandra selesai mandi dan berpakaian dengan rapi. Dia berpakaian formal seperti biasa dia pergi ke perjamuan bisnis ataupun rapat bisnis lainnya. Yah, walaupun Reyhandra sangat jarang didapati memakai pakaian kasual biasa, kecuali itu di rumahnya sendiri.


"Hemmm, Angel baby angel, nanti kamu jangan kecewain aku ya, aku sudah susah-susah payah buat berdandan seperti ini, so you should perform like me want too." Tutur Reyhandra berbicara sendiri seakan dia berbicara dengan Angel sambil memperbaiki dasinya.


Reyhandra membuka lemari pakaiannya, dan mengambil jasnya. Karena pakaian formal itu nggak akan lengkap tanda jas. Reyhandra memerhatikan jas yang ada di gantungan itu sebentar, seakan ada rasa enggan untuk memakainya.


"F*ck, benar-benar sialan. Padahal aku nggak makai jas ini saat tunangan sekalian seumur hidup aku ini. Tapi aku malah makai jas mahal dari Amerika ini hanya untuk makan malam dengan Angel. Benar-benar sangat disayangkan. Yah, namun apa boleh buat. Aku pengen segalanya itu tetap dalam kendaliku, dan kuncinya adalah akting yang sempurna untuk hasil yang sempurna." Kata Reyhandra terus memperhatikan jasnya itu.


Lalu melirik lagi ke dalam lemari, mungkin ada jas yang emang cocok untuk dia gunakan selain jas barunya. Namun, finally, mau gimanapun Reyhandra mencoba menghipnotis dirinya untuk memakai jas yang lain, namun karena segala kemungkinan hal yang bakal terjadi, maka akhirnya Reyhandra memakai jas barunya itu.


"Ahhh, benar-benar... What the hell with this??" Reyhandra tak habis pikir antara dia mau melanjutkan untuk memakainya atau melepaskannya. "Ahhhh, pakai. Kata orang, busana baru, gaya baru, orang baru maka mood baru. Moga aja jaya, dan pulang membawa hasil yang memuaskan." Putus Reyhandra tetap memakai jasnya itu.


Sebenarnya itu bukanlah jas yang terlalu istimewa. Hanya jas hitam biasa saja. Namun karena jas itu merupakan produk luar negeri makanya Reyhandra sangat menyayangkannya klo dia harus memakainya hanya untuk makan malam dengan Angel.


Reyhandra memperbaiki kancing lengan bajunya dan memakainya dengan baik di depan cermin. Kemudian memeriksa barang bawaannya, kartu kreditnya jangan lupa, kartu nama juga. Nanti kan siapa tau klo Reyhandra bakal ketemu dengan mitra bisnis yang bagus dan cocok untuk dikerja sama. Kemudian satu lagi, kartu akses VIP hotel De. Dream Roza.


Dan kemungkinan probabilitas untuk ketemu mitra bisnis di sana, tempat yang akan Reyhandra pergi emang tinggi untuk mendapatkan mitra bisnis yang bagus. Karena restoran yang akan dikunjunginya kali ini adalah restoran milik orang Amerika. Tak hanya restoran, mereka juga langsung menyedia hotel, dan restoran adalah akal-akalan mereka supaya meningkatkan rasa tertarik orang.


Apalagi sistem restorannya itu ada dua macam. Yang pertama ada di lantai awal bisa untuk tamu biasa saja, dan pada lantai kedua ada restoran dengan koki dan juga hidangan manca negara, sesuai keinginan pengunjung untuk mencoba yang mana. Dan tipe yang kedua inilah yang namanya tamu VIP, yang kartu keanggotaannya hanya ada 100 lembar.


Saat Reyhandra sedang mengecek barangnya kembali, Hans datang mengetuk pintu kamar dalam ruangan kerja Reyhandra dan langsung masuk ke dalam.


Hans tak percaya akan pemandangan yang tersaji didepan pandangannya itu. Tuannya yang terkenal nggak mau repot itu ternyata berdandan? Dan anehnya itu bukan untuk sang calon istri, namun untuk ekor yang sangat dibenci olehnya.


"Tuan, Anda yakin untuk menggunakan jas yang itu?" Tanya Hans yang tak percaya klo jas itu ternyata suatu hari terpakai juga, karena selama ini jas itu hanya menggantung di sangkutan dalam lemari. Sampai-sampai Hans berpikir klo itu akan Reyhandra buat menjadi barang antik untuk dipamerkan pada anak cucunya.


Yah meskipun Hans tau klo tuannya itu nggak ada rencana buat menikah dan berkeluarga, namun siapa tau klo hubungan tuannya itu dan calon nyonya mudanya itu akan langgeng kedepannya, hingga mereka punya anak cucu hingga cicit nantinya.


"Cih, kamu ini? Apakah kamu menertawakan ku, Hans?" Reyhandra balik bertanya sambil berdecih nggak suka dan juga membuang pandangan mematikan pada Hans.


"Maaf, tuan. Saya nggak berani." Jawab Hans yang berkeringat dingin.

__ADS_1


Meskipun sekarang bukan lagi negara adidaya, yang bisa bunuh maka langsung bunuh. Reyhandra tetaplah menakutkan bagi Hans, karena kelangsungan pekerjaannya dan juga gajinya itu di pertaruhkan di tangan Reyhandra.


"Bagaimana yang ku suruh untuk kamu lakukan? Apakah sudah siap?" Tanya Reyhandra lagi yang mengambil handphonenya di atas nakas dan langsung keluar dari kamar ruang kerjanya, menuju ke tempat syutingnya.


Reyhandra berjalan ke bawah menuju ke tempat parkir dimana mobilnya diparkir, dan Hans mengikuti Reyhandra dari belakang. Hans membuka pintu untuk Reyhandra, dan sebuket bunga sudah ada di kursi penumpangnya, juga dengan sebuah undangan pernikahan dirinya dengan Rosa yang diinginkan oleh Reyhandra.


Reyhandra nggak perlu bilang lagi pada Hans kemana mereka akan menuju, karena emang semua bagian ataupun hal sepele seperti itu pasti Hans yang bersusah payah mengurusnya juga membersihkan kekacauan yang diakibatkan oleh Reyhandra.


"Buket yang sangat bagus? Dimana kamu membelinya? Bukankah sekarang udah malam, emang ada ya yang masih ngejual buket bunga malam-malam gini?" Tanya Reyhandra membolak-balikkan buket bunga mawar merah itu.


"Saya sedang Anda menanyakan pertanyaan yang satu ini tuan? Itu membuat saya lebih terharu dari apapun insiden yang terjadi pada hari ini?"


"Terlalu banyak drama kamu. Emang dapat darimana ini buket?" Tanya Reyhandra lagi yang nggak mau sama sekali mendengar candaan Hans, apalagi dramanya itu.


"Saya harus pulang ke rumah taun besar terlebih dahulu, dan memotong bunga tuan besar. Untung tuan besar nggak tau dan juga nggak ada saksi mata. Klo emang itu ketahuan, saya harap tuan bisa menjadi tameng saya, itu juga mempertimbangkan klo saya melakukan ini semua atas perintah dari Anda."


"Hemmmm, akan ku pertimbangan nantinya. Tergantung malam ini, apakah akan berjalan lancar atau nggak? Mau bagaimanapun kamu bekerja keras, yang progres dan hasil kerja keras kamu ini juga harus dipertimbangkan lagi." Jawab Reyhandra dengan nada yang malas. Nggak tau asal harus terlibat dengan yang namanya Angel itu membuat mood Reyhandra menjadi bad.


Namun kali ini dia terpaksa karena dia butuh menyenangkan Angel bagaimana pun itu. Klo nggak Reyhandra lebih memilih memberikan kartu kreditnya buat Angel belanjain, ketimbang Reyhandra harus menemaninya seperti makan malam ini.


Karena Angel punya dendam dan juga rasa cemburu dan iri yang tinggi pada Rosa, itu pasti akan membuat Angel tak segan-segan untuk menyakiti Rosa. Apalagi konflik antara kakak beradik Raymond dan Reynold itu, pasti Angel dibesarkan dengan ditanamkan kebencian pada keluarga Rosa. Bisa meminjam tangan Angel untuk menyakiti Rosa, dan Angel masih tetap bertahan sebagai pionnya, bukankah itu namanya membunuh dua burung dalam satu batu?


Reyhandra memperhatikan lagi buket bunganya dan itu juga sontak membuatnya makin kesal juga pada Hans.


"Hans, kenapa kau bisa-bisanya sih haus membuat buket bunga mawar? Mana merah lagi. Dia pasti bakal berpikir klo aku itu cinta mati sama dia?"


"Tapi bukannya itu ya yang tuan harapkan. Bukannya tuan biasanya terlalu terobsesi untuk melakukan sesuatu dengan sempurna. Makanya Anda selalu berkoar-koar mengatakan akting yang sempurna terus menerus. Entah sudah berapa puluh kali Anda mengatakan itu terus-menerus pada saya, makanya itu sudah ditanam di otak dopamin saya, bahkan sampai tidurpun saya mengingatnya. Jadi saya nggak berani untuk membawa yang tidak sempurna pada Anda." Alibi Hans dengan sempurna yang kata-katanya itu tak bisa membuat Reyhandra untuk membantah lagi dan hanya bisa berdecih saja.


"Ya udah, terserah. Mau gimana lagi. Nanti tinggal ku peyotkan aja sedikit ini bunga. Kan nggak apa juga, tinggal bilang klo ini bunga punya tadi siang. Kelar. Bukankah itu sangat sempurna, Hans?" Tutur Reyhandra dengan ide kekanak-kanakannya.


"Gini amat sih pemikirannya. Haahh, apalah, dia bosnya." Batin Hans yang nggak habis pikir. "Ya, tuan. Itu sangat sempurna. Tapi saya nggak tau klo tuan nggak suka bunga yang sempurna itu. Klo saya tau, saya pasti akan membawa bunga liar di luar pagar saja untuk tuan."

__ADS_1


"Nah, itu dia. Lupa soalnya aku tadi mau beritahu cukup bunga rumput liar saja. Ahhh, barang udah jadi juga. Tapi, mana undangannya? Itu yang nggak boleh ketinggalan. Klo nggak mana bisa aku menikmati pertunjukan utamanya, dan itu akan sia-sia bagiku untuk memakai jas ini."


"Jadi dia memakai jas hanya untuk undangan? Bukan untuk Nona Angel? Tuan, kau sangat luar biasa. Aku tercerahkan melalui mu." Batin Hans lagi yang membuatnya nggak habis pikir dengan ide Reyhandra.


Namun meskipun begitu, dia sangat mengagumi Reyhandra dalam bidang bisnis, dan idenya itu sangat cemerlang! Klo nggak, nggak akan Kedrey Group akan berkembang sampai sebesar ini. Reyhandra itu hanya bodoh dalam bidang cinta saja, dan hanya terobsesi pada dendamnya saja. Jadi Hans akan menghargai keinginan Reyhandra, meskipun Hans nggak setuju pada satu sisi.


Sisi Reyhandra yang membalas dendam pada keluarga Vogart melalui putrinya keluarga itu. Melalui hubungan pernikahan. Yang mana pernikahan itu adalah hal yang paling berarti dalam hidup seorang wanita. Namun Hans nggak peduli akan hal itu, tuannya adalah Reyhandra Kedrey, bukan calon nyonya mudanya itu.


Hans memberikan undangannya pada Reyhandra dan langsung fokus menyetir lagi. Dia nggak akan mengganggu tuannya lagi. Seumurannya yang seorang sekretaris saja, terlalu banyak bicara itu bukanlah hal yang bagus.


Untung Reyhandra menganggapnya sebagai seorang yang dekat dengannya, makanya Hans berani mengatakan beberapa kata untuk menasehati tuannya itu. Tapi diluar dari itu semua, Hans terap nggak mau dia keluar dati kodrat dia yang hanya seorang sekretaris dan asisten yang bekerja untuk Reyhandra.


"Oh ya, Hans. Tadi kamu pulang ke rumah, Adel ada di fumah, nggak? Seukurannya yang masih labil itu, dia sangat pemberontak." Tanya Reyhandra mengingat adik semata wayangnya itu.


"Nona nggak ada di rumah, tuan. Karena saya nggak melihat ada motor nona di garasi luar. Nona pasti di rumah keluarga Rocher dengan Tuan Muda Dian. Lagipula nona sekarang juga sedang ujian akhir semester. Jadi nona pasti sibuk belajar. Dan soal tuan besar, saya nggak menyapanya. Saya takut itu nggak akan bagus saat tuan besar bertanya Anda di mana dan kenapa saya sendiri yang pulang ke rumah."


"Baguslah klo seperti itu. Kau nggak akan sanggup bermain taktik dengan kakek jika dia sempat mengintrogasimu. Jadi lain kali juag, jika kamu akan ketemu kakek, kamu hindari saja."


"Baik, tuan."


...***...


Rosa dan Alan sampai didepan hotel De. Dream Roza. Rosa dengan segera turun sendiri, karena dia nggak akan memberikan kesempatan untuk Alan untuk membukakan pintu untuknya, karena itu pasti akan mengganggu pikirannya yang merasa seolah dia berhutang pada Alan.


Bukankah dia datang kesini untuk melunaskan hutang itu?Jadi buat apa dia menambab hutang lagi. Klo nggak di masa depan nanti, Alan pasti punay alasan lagi untuk mengikatnya. Dan entah mengapa Rosa sekarang juga merasa klo Alan sudah mengingat semuanya. Namun Rosa tak mau ambil pusing untuk memikirkannya.


Rosa berdiri memperhatikan hotel yang super mewah itu, yang biasanya hanya dia lalui saja. Tak disangka klo malam ini dia akan menginjakkan kakinya dia disini.


"Kamu yakin? Mau dinner disini?" Tanya Alan yang juga tau bukan orang sembarangan yang bisa makan direstoran hotel ini.


"Yakin dong." Jawab Rosa sambil sumringahnya.

__ADS_1


"Ya udah, klo gitu kita masuk aja. Buat apa berdiri disini." Tutur Alan pada Rosa. Dan Rosa pun langsung berjalan didepannya. "Nggak apa walau disini itu terkenal sangat mahal karena disini kualitasnya luar negeri semua. Aku rela meskipun harus menghabiskan setengah dari tabunganku, karena itu semua setara, asal dia bahagia saja." Batin Alan lagi yang segera menyusul Rosa.


"Yo, orang kumuh dari mana ini? Datang ketempat mewah seperti ini?" Suara seseorang yang sontak membuat Rosa dan Alan menghentikan langkahnya.


__ADS_2