
Flashback
Sebelum kepulangan Rosa dari pameran, suasana rumah di ruang keluarga sangatlah tidak mengenakkan. Stev yang sudah emosi terpampang jelas dari raut wajahnya itu. Dia bukanlah orang yang bisa mengendalikan emosinya. Dia begitu jujur dalam mengekspresikan emosinya. Apapun itu, semuanya pasti akan sangat jelas terbaca dari wajah blasteran Indonesia Jepang itu.
"Pa! Papa ini apa-apaan sih? Yang benar saja Papa mau ngejual Rosa. Pokoknya Stev nggak setuju ya, Pa! Nggak akan pernah! Rosa itu masih punya kita sebagai walinya, Pa, keluarganya! Klo emang Papa udah nggak sanggup lagi buat ngebiayain Rosa, Papa bilang aja sama Stev. Stev masih sanggup kok buat memenuhi segalanya kebutuhan Rosa. Lagipula Rosa itu anaknya juga nggak rakus-rakus amat, nggak boros, juga nggak serakah." Protes Stev akan sesuatu yang menjadi masalah perbincangan mereka.
"Ini bukan masalah sanggup atau nggak sanggupnya, Stev. Ini masalah janji! Masalah ikatan yang sudah lalu itu. Nggak ada salahnya kan jika kita memenuhi janji kita? Juga nggak salahnya juga bagi kita buat melanjutkan hubungan ini, kan?" Balas Raymond, sang Papa memberi pengertian kepada Stev.
"Masalahnya bukan itu, Pa? Kenapa Papa ini sangat sulit dibilangin, hah? Sekarang ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya, Pa. Udah nggak ada lagi yang namanya jodoh perjodohan." Debat Stev terus mencoba merubah pikiran Raymond. Karena bagi Stev, Rosa tetaplah seorang adik yang bagaikan bunga dalam rumah kaca yang harus dijaga dan dirawatnya dengan sangat hati-hati.
"Stev! Cukup! Sampai kapan kamu akan berdebat dengan Papa tentang masalah ini? Papa paham apa yang kamu khawatirkan itu. Rosa itu juga anak Papa, Stev. Nggak mungkin Papa tega mau ngejual anak Papa sendiri, anak yang sudah dalam buaian kasih sayang Papa selama ini." Jawab Raymond yang juga merasa frustasi.
"Pokoknya nggak, Pa. Let's we mind another method! Pokoknya Rosa nggak bisa kita kirim ke rumah orang lain. Papa pernah denger pepatah ini nggak? Sebagus-bagus rumah orang lain, Senyaman-nyaman rumah orang lain, tetap masih enak dan nyaman rumah sendiri, Pa." Bantah Stev terus-menerus.
Baginya Rosa harus bisa dipertahankan di rumah sendiri, sampai Rosa menemukan belahan jiwanya yang lain dan merupakan orang yang dapat mencintainya apa adanya Rosa, seorang Rosalyn Saputri dan bukan sebagai seorang dari Vogart.
Serena yang duduk diantara kedua orang yang disayanginya itu hanya bisa diam saja. Hanya bisa melihat perdebatan itu tanpa bisa berkutat sedikit pun, dia seakan mati kutu. Siapa dia? Kenapa dia ada diantara kedua orang ini? Apa yang harus diperbuatnya? Apa yang harus dilakukan agar suasana ini bisa terpecahkan?
Di satu sisi adalah suaminya, orang yang harus dipatuhi dan didukungnya, baik dalam keadaan suka maupun duka. Namun disisi lainnya ada anak-anaknya, darah daging yang dikandung dan dibawa-bawanya selama 9 bulan. Mereka yang harus disayanginya dan dilindungi hak-haknya dengan baik.
"Kenapa pilihan ini begitu sulit? Apakah tidak jalan tengah bagiku untuk permasalahan ini? Kenapa ini bagaikan buah simalakama? Pihak mana yang harus ku bela? Kedua-duanya sama penting bagiku." Serena terus bertanya-tanya. Hatinya terus bermonolog, pihak mana yang harus dia dukung? Sang suami, kah? Ataukah sang anak?
"Pa, Stev, udah... Jangan pada ribot trus. Kagak enak kedengeran sama tetangga nanti." Ucap Serena menengahi mereka. Karena dia sadar, dia nggak bisa memilih antara salah satunya, keduanya merupakan orang penting baginya.
"Ma, nggak bisa gini dong. Ini tuh bukan masalah sepele. Ini masalah pernikahan, Ma. Stev pikir, klo masalah beginian sesama seorang wanita, pasti Mama yang lebih memahaminya, bukan?" Tanya Stev menyerang balik Serena.
Serena terhentak diam. Yang dibilang oleh putra sulungnya memang benar, nggak melenceng sedikit pun. Seorang wanita hanya bia dipahami oleh seorang wanita juga.
Seorang wanita pasti lebih mengenal sesama wanita. Segala keluh kesah, dalam segala hal, begitu pula dalam rumah tangga. Apalagi itu pernikahan di usia dini. Nggak banyak yang berhasil. Bisa dibilang 75 persen bakal gagal dalam hubungannya dan 25 persen lagi nggak berhasil.
"Kenapa diam? Kalian mesti tau berapa banyak kasus yang terus bermunculan di media sosial, bukan? Semua itu disebabkan oleh apa? Pernikahan dini Pa, Ma. Jadi, Pa, Ma. Tolong, mengertilah!" Tanya Stev sarkas yang diakhiri dengan permohonan yang tulus.
"Tapi Stev, nggak semua orang itu seperti yang kamu bayangkan. Kita nggak boleh berburuk sangka sama orang lain. Lagipula, kita juga tau bagaimana sifat dari anak teman Papa ini, kan? Dia orang baik-baik juga dari keluarga baik-baik pula." Bela Raymond yang memuji-muji sifat baik dari anak temannya itu.
"Terserah, Pa. Susah Stev ngomongnya. Percuma saja, Papa juga kan terus kekeh pada pilihan Papa itu, kan? Jadi, bagi Papa itu pendapat Stev dan Mama itu nggak penting, kan? Papa cuma sekedar mau memberi tahu kami, kan?" Tebak Stev mencoba menerka-nerka.
"Stev, bukan gitu maksud, Papa. Ma, tolong dong, Mama bilangin sama Stev. Buat dia mengerti."
"Maaf, Pa. Tapi kali ini Mama juga sependapat dengan Stev. Mama merasa ada sesuatu yang mengganjal, Pa. Mama nggak tau, atau ini memang perasaan Mama aja. Apapun keputusan nantinya, cuma Rosa sendiri yang bisa nentuin pilihannya sendiri. Jika Rosa menolak, Papa jangan pernah memaksakan kehendak itu pada Rosa, atau Mama nggak bakalan diam, Pa." Jawab Serena tegas, kini dia sudah pasrah. Dia hanya bisa menyerahkan keputusan akhirnya pada putri bungsunya itu. Karena dialah yang akan menjalaninya
"Iya, Stev juga setuju dengan pendapat Mama. Jadi Pa, nggak ada yang akan memaksakan pendapat pada Rosa nantinya. Papa cukup mengatakan keadaannya saja." Putus Stev final pada akhirnya.
"Baiklah. Papa setuju. Biar Rosa sendiri yang mengambil keputusannya." Jawab Raymond juga pasrah, karena dia juga nggak bisa memaksakan kehendaknya untuk menjodohkan Rosa. Dia nggak bisa mempertaruhkan kebahagiaan Rosa dengan harga perjodohan ini.
"Pa, satu hal yang mau Stev ingatkan lagi pada Papa dan Mama. Rosa itu sudah cukup menderita, Pa. Stev nggak ingin masa depan Rosa jadi hancur. Cintanya kandas sama halnya dengan kejadian Alan. Stev nggak mau itu terulang lagi. Mungkin Rosa nggak pernah cerita, tapi sebagai seorang kakak, Stev tau segala yang terjadi pada Rosa. Rasa sakit yang terpampang dalam topeng wajah ceria yang selalu ditampilkannya pada kita, Stev tau rasa sakitnya, Pa. Meski Stev nggak ngerasain, tapi rasa sakit itu terbagi pada Stev, Pa. Tiap kali Stev lihat Rosa memandang sosok Alan dari kejauhan, rasa sakit, sedih, sesak, itu teringat jelas dalam dopamin memorial Stev, Pa. Mungkin ini memang merupakan langkah yang tepat untuk membuat Rosa move on akan cinta pertamanya, tapi jika ini gagal, ini akan berakibat fatal bagi Rosa, Pa. Rosa adalah anak yang menjunjung tinggi satu untuk selamanya dalam masalah cinta. Jika ini gagal, mungkin Rosa akan lelah dalam mencintai, sama sekali tidak punya harapan lagi dalam... Cinta atau mencintai." Kata Stev serius.
Panjang lebar sudah dia menjelaskannya, dan dia harap Rosa akan baik-baik saja. Dan Papanya juga mau mengerti apapun pilihan Rosa nantinya. Karena dia paham betul akan sifat saudarinya itu, sifat nggak mau dikekang dan punya kehidupan yang bebas. Kehidupan kemana kakinya membawanya melangkah dan kemana sayapnya membawanya terbang.
__ADS_1
"Iya, Papa paham. Papa juga nggak mau itu terjadi pada Rosa."
"Baguslah jika Papa paham. Hanya saja Papa harus tau. Masalah Rosa pacaran dengan Alan saja Rosa nggak pernah membicarakannya dengan kita, apalagi masalah putusnya dan penghinaan yang Rosa terima. Satu hal lagi yang harus Papa tau, Rosa itu adalah tipe orang yang memendam segalanya itu seorang diri, jadi besar kemungkinan hal yang tak diinginkan bisa saja terjadi. Hanya itu saja dari Stev. And now, let's listens Rosa opinion, Dad. No one can changes the Rosa mind. Are you understand, Dad?" Kata Stev penuh penekan pada akhir pembicaraannya.
"Baiklah, apapun itu jangan sampai Rosa tau Papa dan Stev berdebat akan masalah ini. Atau Rosa akan semakin bimbang nantinya, biar Rosa sendiri yang memutuskannya." Ucap Serena kemudian, dan itu disepakati oleh semuanya.
...***...
Rosalyn POV
Seperti biasa pertemuan antara orang tua, mereka akan saling berjabat tangan pertama dan kemudian saling bertegur sapa dan bertukar salam satu sama lain. Sama halnya dengan mitra dalam bisnis. Apalah dayaku orang yang tak bakalan bisa masuk dalam lingkaran mereka, karena aku tidak tau apa-apa tentang dasar-dasar bisnis, apalagi pertemuan seperti ini, yang memainkan perang kepala seperti ini.
Aku sebaik mungkin memasang senyumku, harus menjaga image. Apalagi didepan calon suami dan juga kakek mertua. Dan seperti yang sudah dinasehatin Papa, aku nggak boleh menyinggung pembicaraan tentang orang tuannya Reyhandra. Dan diam adalah pilihan yang bagus.
"Jadi ini yang namanya Rosa, ya?" Tanya kakek saat aku mensalaminya. "Dia cantik, persis sama dengan Nyonya Serena. Reyhan sungguh beruntung punya calon istri secantik Rosa." Puji kakek saat melihatku.
"Anda bisa saja Tuan William, putri kami juga sungguh beruntung punya suami yang sebaik dan secakap Reyhan." Balas Papa memuji Reyhandra.
Memang perkumpulan orang-orang pebisnis, klo sudah beginian pasti bakal terus saling memuji satu sama lain. Aku masih tetap stay didekat kakak, dan hanya mengamati bagaimana alur ini akan berjalan.
Tapi laki-laki yang akan menjadi suamiku itu tetap diam dan sedingin es, walaupun tampan dan nilai untuk kharismanya seratus. Dia memenuhi tipeku, tipe yang dingin yang pengen ku taklukkan apapun yang terjadi.
Sekedar informasi, aku baru saja mengubah tipe idealku. Aku nggak mau lagi bayang-bayangan Kak Alan kembali, aku nggak akan mengganggu dia lagi. Dulu-dulunya aku punya alasan untuk mendekatinya, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Aku bukanlah perebut suami orang, meskipun orang itu adalah orang yang ku cintai. Akan ku buktikan klo aku juga bisa hidup bahagia, tanpanya ataupun bayangannya.
Tapi, apaan ini? Ada apa dengan laki-laki balok es didepan ku ini? Masa nggak ada yang namanya formalitas, sih? Apakah nggak ada yang namanya tegur sapa? Aishhhh, keselnya. Apakah dulu saat Mamanya mengandung dia ngidamnya es batu dan triplek? Udah orangnya dingin, datar lagi. Hidupku yang biasanya seperti burung berkicau, hilanglah sudah.
Ternyata Reyhandra memang orang yang dingin, bahkan terhadap kakeknya sendiri. Tapi, apa aku tidak salah dengar? Aku dengannya terpaut 10 tahun bedanya. Oh god, sugar daddy. Yeah, the real sugar daddy, kayak di gambarkan di novel-novel romansa.
"Reyhandra Kedrey." Katanya sambil menyodorkan tangan kepadaku.
"Rosalyn Saputri Vogart." Aku menyambut uluran tangannya. Oh my god, tangannya itu, sangat lebar dan hangat.
Tapi ini, apakah aku bisa berbohong pada perasaan ku? Ini bukanlah sesuatu yang mudah. Bayangan Kak Alan dan cinta Kak Alan masih ada di sebuah bilik paling dalam di hatiku. Dia masih hidup, aku hanya bisa membohongi perasaan ku. Meskipun rasa aku terhadap Reyhandra adalah asli, tapi itu karena dia memenuhi tipe idealku. Ku harap aku benar-benar bisa mencintai Reyhandra kedepannya, calon suami yang sudah ditentukan oleh orang tuaku. Dan melupakan 'dia'.
Kami duduk makan bersama. Dan para orang tua yang membahas tentang lanjutan dari perjodohan ini. Aku tidak berani bicara, hanya tersenyum dan menjawab saat ditanya. Aku sebisa mungkin menjaga tata krama makan, dan sesekali melirik Reyhan.
Bisa dibilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Tapi aku juga nggak bisa menyebutnya cinta pertama, melainkan sebuah pelarian. Kuharap waktu yang ku habiskan kedepannya benar-benar bisa mengubah pandangan ku, melepaskan Kak Alan dan mencintai Reyhandra. Tapi, Reyhandra malah memorgokiku saat diam-diam aku meliriknya, dan membuatku tersedak.
"Honey, kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Makan aja kok bisa tersedak, sih?" Kata kakak sambil memberi minum kepadaku.
"Kak... Masa manggil aku honey sih? Malu tau." Kataku tersenyum jengkel dan berbicara sambil menggerakkan gigiku.
Melihat kelakuanku begitu juga gara-gara kakak, aku menjadi bawan tertawaan deh. Dan yang tak disangka, seorang Reyhandra juga bisa tersenyum. "Manisnya..." Batinku saat melihat dia tersenyum. Walaupun itu hanya sebentar. Tapi senyum itu nyata. Dan harapan ku untuk jatuh cinta padanya semakin besar.
Makan malam pertemuan perjodohan akhirnya selesai juga. Aku terus berpikir bagaimana akhirnya dalam setengan bulan kedepan, aku akan naik pangkat yang sangat penting dalam hidup seorang wanita. Yaitu menjadi seorang istri dari orang yang bernama Reyhandra Kedrey, anak sahabat Papaku.
Sesuai hasil keputusan yang diambil bersama, pertunangan akan dilakukan bertepatan dengan perayaan ulang tahunku. Pernikahan akan dilangsungkan seminggu setelahnya. Dan akan diadakan secara diam-diam, hanya mengundang kerabat terdekat saja.
__ADS_1
"Honey, kamu sedang mikir apaan, sih? Sedari tadi asyik ngelamun melulu." Tanya kakak membuyar lamunanku.
Aku hanya diam, memperhatikan kakak yang duduk di sampingku. Ternyata hari bisa dihitung jari, hingga aku akan berpisah dari kakak. Takkan ada lagi yang namanya overprotektif dari seorang kakak yang siscon. Aku pasti bakal merindukannya.
"Jadi, gimana sayang. Apakah Reyhandra cocok dengan seleramu?" Tanya Papa yang sedang nyetir.
"Ya iyalah, Pa. Sampe-sampe Rosa tersedak makanan keciduk sama Reyhan karena diam-diam curi-curi liat." Tambah Mama menggodaku.
"Apaan sih, Ma? Orang biasa aja, kok." Jawabku menangkis godaan Mama.
Ternyata malam begitu cepat berlalu. Pagi-pagi aku bangun dan semua anggota lain pada sibuk dengan segala persiapan ulang tahunku yang ke 18 sekaligus panggung pertunangan ku.
Aku menuju ke dapur untuk mendapatkan sarapan. Roti lapis bakar dan susu coklat. Memang sarapan yang paling simpel, tapi sempurna.
"Baby....!"
Aku terkejut karena tiba-tiba saja ada orang yang meneriaki namaku pagi-pagi begini. Hampir saja gelas susu yang kupegang jatuh. Siapa lagi ini, klo bukan si kembar. Pasti akan ada aksi demo ini.
"Baby, kamu minum susu, ya? Oh ya! Susu kan bagus untuk pertumbuhan supaya makin tinggi, jangan kayak kurcaci." Kata Aldi tanpa memfilter kosakatanya terlebih dahulu.
"Berenang." Ucap Aldo.
"Nah yang ini bener juga. Berenang kan bagus untuk menambah tinggi badan. Jadi baby, kapan kita akan ke kolam renang bareng lagi?" Tanya Aldi antusias didepan wajahku.
Aku mendorong wajah Aldi menjauh dari wajahku dengan teruntuk. "Kalian! Pagi-pagi buta kesini hanya mau ngajak aku renang supaya makin tinggi? Asal kalian tau ya, ubur-ubur aja yang tiap hari berenang, kagak juga nambah tinggi. Jadi kalian ni jangan ngaco deh. Mau ngajak berenang. Pagi-pagi pula tuh. Mau ngebunuh aku, ya? Udah tau orang nggak bisa berenang juga." Bentak ku merasa jengkel akan kelakuan dua manusia ini.
Kenapa sih mereka jauh beda amat sama Kak Alan? Klo orang yang nggak tau, pasti mereka akan berpikir klo mereka itu buka saudara. Untung aku tau baik bagaimana sifat mereka, udah dari kecil temenan sama mereka, jadi lumayan bisa beradaptasilah dengan tingkah laku mereka, walau kadang rada jengkel juga. Juga kadang terlihat...bayangan Kak Alan dari mereka. Tapi mulai sekarang, aku harus membuang jauh-jauh pikiran jelek itu, sekarang calonku adalah Reyhandra Kedrey, bukan Alandri Wijaya.
"Sorry, aku lupa baby. Jangan marah, ya? Nanti kado ultah kamu kuisi dengan coklat yang banyak, ok?" Bujuk Aldi padaku. Dasar si Aldi fakeboy, memang sangat pandai dalam membujuk gadis. Pantesan banyak gadis yang jatu kepincut sama dia.
"Sorry. Marah. Kado." Aldo juga minta maaf, tapi paling nggak jelas sedunia.
"Kau ngomong apa sih, Do. Kagak jelas amat." Tanya Aldi blak-blakan. Padahal mereka saudara kembar, kenapa sikapnya itu beda jauh. Yang satu pendiam juga terlalu pendiam, dan yang satu lagi ceria, kadang kala mulutnya itu udah kagak ada remnya.
"Rosa." Jawab Aldo singkat, padat dan nggak jelas.
"Arrghh... Ngomong apa sih, Do. Nggak paham aku. Susah banget sih ini hidup, punya saudara kembar kosakatanya irit banget." Teriak Aldi frustasi.
"Eh... ini nggak kebalik? Seharusnya kan aku yang teriak frustasi gitu. Pagi-pagi buta gini udah ngeganggu dan ngerusak mood aja." Kata batinku yang merasa diperlakukan nggak adil.
"Maksudnya perkataan Aldo tuh ada yang mau kalian omongin ke aku, ya? Apa itu?" Jelas ku menafsirkan makna 'Rosa' yang diucapkan oleh Aldo. Dan Aldo mengangguk membenarkannya.
"Oh ya! Hampir aja lupa." Teriak Aldi yang baru sadar akan tujuannya. "Baby, jangan nikah dong. Jangan tinggalin kami. Kamu udah nggak mau kami lagi, ya?" Tanya Aldi dengan pertanyaan anehnya itu. Klo orang lain yang dengar pasti sudah salah paham. "Kamu jangan nikah sama laki-laki yang nggak kamu kenal dong. Ngapain sih jauh-jauh cari jodoh? Kan kamu nggak kenal akrab sama dia. Padahal aku kan ada, udah kenal, akrab, bisa diandelin, baik, yang pastinya tampan. Kamu sama aku aja, ya? Klo kamu bilang setuju, hari ini juga aku akan bawa kamu kabur." Cerocos Aldi panjang lebar.
Kali ini apa yang akan dibilang Aldo. Dan Sepertinya dia juga sama, pasti sudah mempersiapkannya kata-katanya dari rumah sebelum menjumpai ku, kan? Sudah kuduga, sampai-sampai dia menarik nafasnya dalam seperti itu.
"Aldi." Ucap Aldo pendek. Ternyata kenyataan tidak selamanya sesuai ekspektasi. Aduh, aku pasrah dah.
__ADS_1