Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 1 : Namaku Rosalyn Saputri Vogart


__ADS_3

Rosalyn POV


Kriiingg....


Alarm berbunyi nyaring membangunkan ku yang sedang terlelap dalam buaian mimpi indah. Gorden yang sudah terbuka membuat sinar matahari menyeruak masuk menembus dalam kamarku. Aku mengernyitkan alisku dan membiasakan cahaya memasuki retina mataku.


Ku bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi, membasuh muka dan menggosok gigi. Lalu ku lihat pantulan diriku dalam cermin, mata coklat terang dengan rambut yang sedikit pirang, itu adalah sifat dominan yang ku warisi dari sang Mama tercinta.


"Hemmm... Rosalyn, Rosalyn. Kamu ini kenapa sih? Bangun tidur aja cantik banget. Apa lagi seperti ini." Kataku sambil bergaya dan berpose di depan cermin. "Perfect!"


Aku keluar dari kamar mandi dan merapikan tempat tidurku, hingga semuanya tertata rapi. Kerja kerasku merapikan kamar untuk pagi ini, checklist, seratus poin.


Aku adalah tipikal orang yang menginginkan segalanya perfect. Termasuk kamarku, aku sendiri yang mendekornya dengan nuansa putih-putih, dan langit-langit yang bertemakan astronomi. Meskipun seorang perfeksionis, aku tidak pernah membiarkan orang lain membereskan kamarku. Karena bagiku, kamarku adalah tempat pribadiku. Tempat yang tidak bisa dijarah oleh orang lain tanpa seizin ku.


Semuanya siap, dan saatnya turun untuk sarapan. Kuturuni tangga lantai dua dengan semangat pagi yang membara, bahkan aku melewati dua anak tangga sekaligus. Papa dan Kakak sudah stay duduk di kursi meja makan menunggu sarapan siap, sarapan sehat dan enak yang disajikan oleh Mama dan Bibi Salma, Asisten Rumah Tangga kami.


"Selamat pagi semuanya...."


"Rosa, kamu ini bukan anak kecil lagi. Masa turun tangga aja loncat-loncat gitu. Gimana nanti klo kamu terpeleset dan jatuh, hah?" Kritik Papa yang sedang membaca koran. Lalu dia melepaskan kacamatanya dan meletakkan koran yang baru saja dibacanya dengan khidmat itu.


"Yah... Papa kok jahat gitu sih. Ya jangan dong. Masa Papa doain Rosa kayak gitu." Protes ku tidak terima pada Papa.


"Makanya jangan gitu dong, honey. Nanti klo kamu sakit, kakak kan jadi sakit hati juga." Tambah Kak Stev ngebantu Papa buat ngengomelin aku. Walaupun rada nggak jelas sih, apa kaitannya aku sakit dengan dia yang sakit hati? Sejak kapan aku PHP-in Kak Stev?


"Yayaya, Rosa perbaiki deh salamnya." Aku membungkuk ala Eropa abad pertengahan dan mengucapkan salam. "Ananda Putri, Rosalyn Saputri Vogart memberi salam kepada kepala keluarga, Reymond Vogart, matahari yang selalu bersinar. Juga kepada Putra Mahkota matahari kecil, Steven Saputra Vogart. Maafkan Ananda Putri atas ketidaksopanannya, Ananda berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


Aku sudah menyelesaikan salam ku dan langsung bangkit berdiri lagi. Mama yang mendengar salam pagi ku yang sangat panjang pun terkekeh geli.


"Selamat pagi, sayang. Apakah tidurmu nyenyak?" Sapa Mama dari dapur yang sedang menyajikan sarapan.


"Pagi Mama ku sayang." Sapa Mama dari dapur yang sedang menata sarapan.


Aku segera berlari ke arah Mama dan memberinya kecupan pagi."Selamat Pagi, Mamaku sayang. Mama rasanya makin cantik aja deh, kok bisa sih, Mam?" Godaku sambil memeluk Mama dari belakang.


"Ah... Sayang, kamu nih bisa aja sih godain Mama pagi-pagi gini. Kan Mama jadi grogi dibuatnya."


"Emang Mama bisa grogi, ya?" Tanyaku dengan muka polos yang ku buat-buat


"Sayang, kamu nakal, ya?" Kata Mama sambil menggelitik ku habis-habisan.


"Hahaha... Ampun Ma, ampun. Rosa janji nggak akan ngulang lagi, swear!" Tutur ku sambil mengangkat kedua tanganku, tanda bahwa aku nyerah, nggak sanggup lagi. Karena memang, jika itu urusan menggelitik, aku yang paling sensitif dalam keluarga ini. Jadinya kadang kala aku jadi sarang empuk kakak dan si kembar deh.


"Hemmm... Bau-bau mencurigakan, nih." Kata Mama sambil memicingkan matanya tak percaya.


"Nggak, Mam. Swear! Mama pegang deh janji, Rosa." Mama melepaskan ku, aku langsung berlari ke meja makan. "Emang Mama bisa grogi, ya?" Kata ku lagi sambil tertawa lepas. Dan Mama pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahku yang kekanak-kanakan, padahal klo dihitung-hitung umurku hampir mencapai 18 tahun.


"Pa, nengok Mama dapat ciuman selamat pagi tuh dari honey. Aku kan juga mau, Papa sih buat honey nggak mau nyium aku." Protes Kakak yang tidak terima.

__ADS_1


"Kok gara-gara Papa, sih? Papa kan juga kagak dapat juga." Protes Papa balik. Aku masa bodoh dan langsung duduk diseberang kak Stev, dan menyisakan kursi dekat Papa untuk Mama.


"Gara-gara Papa lah, Papa tadi ngomongnya kayak gitu sih, jadinya kan aku ikutan ngebelain Papa."


"Salah sendiri, siapa suruh kamu belain Papa. Emang Papa ada suruh kamu buat ngebelain Papa, nggak kan?"


"Sudah, sudah, kita sarapan dulu, nanti disambung lagi, ya?" Bujuk Mama, karena sarapannya sudah disajikan semua. "Nengok tuh, Rosa pada kelaparan, gara-gara nunggu Papa dan Stev berantem mulu. Ya kan, sayang?"


"Kok Mama bawa-bawa Rosa, sih?"


" Tapi ya, kan? kamu pada ngiler tuh."


"Ya sih. Hehehe. Klo masalah gini mah, nggak bisa dibantah. Pokoknya klo Mama yang masak sama Bibi, hadeh top banget dah. Kalah sama hotel bintang lima diluar sana dah."


"Ya udah, kita makan aja dulu. Sayang kamu makan yang banyak, ya?" Kata Mama memberikan nasi di piringku.


"Iya, honey. Kamu makan yang banyak, jangan pada kayak semut, kurus banget. Papa masih sanggup kok ngasih kamu makan yang banyak. Ya kan, Pa?" Tanya Kak Stev pada Papa. Yah, klo masalah gitu sih nggak usah dibilang pun aku tau sendiri. Orang Papa beli punya barang mewah aja kayak nggak ada beban gitu, apalagi klo makanan.


"Hem, ehem, ya kok sayang. Kamu makan aja yang banyak. Nggak usah nahan diri. Selagi masih bisa makan, makan aja. Klo nanti nggak bisa makan, ya kita udah nyoba, jadinya nggak penasaran lagi." Nasehat Papa padaku. Mungkin maksudnya itu, klo udah tua nanti nggak bisa makan lagi. Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Itu semua karena alasan kesehatan.


"Ya, Pa. Rosa nggak pernah nahan diri kok klo masalah makan gini."


"Yayaya, jangan pada ngobrol lagi. Ayo makan, Papa harus ke kantor lho!" Kata Mama memotong pembicaraan kami.


Suara dentingan sendok beradu dengan piring terdengar di ruang makan. Tidak ada yang berbicara, karena memang inilah tata krama dalam keluarga kami. Hingga sarapan pun selesai.


"Honey, kamu nggak marah sama kakak? Pa, Pa! Liat, honey nggak marah, Pa. Ohoho... Kupikir kamu marah tadi, honey."


"Karena nggak ada ciuman selamat pagi? Masa gara-gara itu Rosa marah ke kakak sih. Rosa juga tau, yang kakak dan Papa omongin itu juga untuk kebaikan Rosa sendiri. Rosa dah gede kali, Kak. Masa main cium-cium gitu, sih. Walaupun kakak adalah kakak Rosa, kakak tu tetap dalam kategori cowok. Kan kakak sendiri yang bilang jangan main nyosor cium-cium gitu klo cowok."


" Honeyyyy..."


"Nah, kena batunya kan, Stev." Ledek Papa pada kakak saat mendengar alasanku.


"Apaan sih, Pa. Orang maksudnya supaya honey nggak nyium laki-laki lain selain orang terdekatnya saja. Stev kan orang terdekatnya honey, kakaknya sendiri." Bela kakak nggak mau kalah juga.


"Udah cukup, jangan pada debat. Jadi kakak ada waktu, nggak? Klo nggak, Rosa ajak pak tua Di aja deh."


"Eh... Tunggu dulu dong, honey." Sentak kakak saat mendengar aku nyebut nama si kembar.


Kakak melihat kearah Papa, sepertinya kakak minta persetujuan Papa. Tapi klo itu Papa pasti bakal diizinin, apalagi itu menyangkut tentang aku. Papa kan sangat overprotektif orangnya. Pasti bakal menyuruh kakak buat nemenin aku. Apalagi masalah keluar-keluar kayak gini, bakalan heboh ini urusan. Apalagi kakak kan siscon orangnya.


"Pa, Rosa boleh pinjam kakak Stev nggak seharian ini? Tapi klo Papa dan kakak sibuk sih nggak apa juga. Nanti Rosa ajak si kembar aja buat nemenin Rosa."


"Nggak boleh gitu dong, honey. Kok si kembar, sih?" Komentar kakak nggak terima. "Ayolah, Pa. Masak honey perginya sama si bocah mata keranjang Pak Tua Di itu? Klo Aldo bisalah karena dia nggak bakal macem-macem sama honey. Tapi klo Aldi, Papa kan tau sendiri kayak mana itu bocah." Mohon kakak pada Papa. Bener, kan? Jadinya bakal gini. Aduh... Entah apa-apalah jadinya nanti.


"Tapi tetap nggak boleh. Bagaimana nanti klo kesayangan Papa dibikin bosan sama si Aldo. Ini nggak boleh jadi. Stev, hari ini kita punya misi penting dan mendadak rank SSS nih." Tambah Papa. Pasti mulai deh ini.

__ADS_1


"Ya, Pa. Demi keselamatan dan kenyamanan honey. We are should save honey, Dad. Apalagi aku nggak bisa biarin honey terjatuh lagi dari sepeda seperti dulu, gara-gara bocah kembar kempret yang nggak bisa diandalin itu. Nggak boleh jadi, nggak!" Seru Kakak yang sudah berkoar-koar.


"Ma, tolong handle bagian ini, ya? Jangan biarkan Papa sampai cuti kerja gara-gara terlalu semangat. Aku harap cukup kakak yang bikin aku sakit kepala nantinya." Kataku pada Mama. Karena aku tau, drama ini nggak akan bakalan kelar.


"Ya, sayang. Mama pastikan beres. Kamu mandi saja sana dan siap-siap."


"Oke, Mom. Love you." Aku mencium Mama, dan langsung naik ke lantai atas.


"Love you too, honey."


...***...


Rosa sudah naik ke atas untuk bersiap-siap karena malas untuk menonton dan meladeni drama keoverprotektifan Papanya dan kakaknya yang sedang berlangsung itu. Tinggal Mama Serena yang diandalkan Rosa untuk menyelesaikan semua drama ini. Intinya Mama Serena adalah ending dari drama pagi hari ini.


"Nah, kalian berdua silakan berhenti. Papa nggak capek apa? Drama melulu. Mama dan Rosa aja capek ngelihatnya. Kamu lagi Stev, sangat kekanak-kanakan, memalukan. Kalian nggak mau berhenti juga?" Kata Mama Serena yang masih dalam intonasi baik-baik.


"Bentar lagi kok, Ma. Ini rapat belum juga mencapai kesepakatan. Iya nggak, Pa?" Kata Stev berkilah dan beralasan. Karena memang, polisi nggak akan menangkap seseorang jika kita punya alasan.


"Iya Ma, bentar lagi nih." Tambah Papa Raymond setuju. "Stev, apa Papa libur kerja aja ya hari ini. Kesayangan Papa, Rosalyn Saputri Vogart, tetaplah number one apapun itu."


"Ya, Pa. Papa libur aja hari ini, sekalian kita piknik di luar sekeluarga." Kata Stev memberi saran.


"Ide bagus juga, tuh. Kita nanti harus ke supermarket dulu beli minuman, cemilan, sama coklat kesukaan Rosa." Tambah Reymond yang langsung memikirkan kelanjutan dari rencana piknik keluarga.


"Ehem, hem. Kalian berdua nggak dengar apa kata Mama, ya?" Kata Mama Serena tersenyum jengkel. "Apa kalian berdua ingin Mama jadikan ayam geprek, hah? Pilih salah satunya! Kalian ingin jadi ayam geprek, ayam penyet atau ayam panggang. Yang nggak ada ayam lepas, jangan tanya!"


"Emang apa bedanya? Intinya tetap ayam, kan?" Beo Stev kecil karena nggak berani.


"Iya, ya? Kan tetap ayam juga. Apa bedanya coba?" Tambah Raymond ngebela diri.


"Beda cara pengolahannya kali, Pa. Harganya mungkin juga beda."


"Mungkin...." Jawab Raymond termangut-mangut.


"Ayam, ya?" Tanya Mama serena sambil meregangkan jari-jarinya siap dengan kepalan tinjunya. "Papa, klo Papa nggak mau ke kantor sekarang, lebih baik Papa tidur di luar aja malam ini. Dan kamu Stev, Controller Game Mama sita. Nggak ada main game sama Rosa lagi. Cepat pergi, siap-siap sana! Papa siap-siap ke kantor dan Stev siap-siap buat nemenin Rosa. Itu klo emang kamu mau." Ancam Serena satu per satu. Dan sepertinya itu memang ampuh. Mereka segera meninggalkan meja makan dan pergi ke kamar masing-masing.


"Pa, ngeri-ngeri amat ya perempuan keluarga kita." Bisik Stev pada Papanya.


"Iya, kayak singa betina aja."


"Ehem, kurang kedengaran, Pa. Gedein dikit lagi, Pa." Kata Serena yang mendengar pembicaraan mereka.


"Nggak ada apa-apa kok, Ma!" seru Raymond cepat. "Tajam banget pendengarannya ya, Stev." Bisiknya lagi pada Steven.


"Iya, Pa. Serem banget. Pa, Mama tu indigo nggak, sih?" Tanya Stev menduga-duga.


"Indigo pala mu." Kilah Raymond memukul kepala Stev. "Udah sana, jangan biarkan Mama mu ngamuk lagi, klo nggak Papa bakalan kena tidur diluar dah malam ini. Dan jangan lupa jagain adik kamu tu." Nasehat Papa Raymond pada Stev.

__ADS_1


"Oke, Pa. Aman itu." Jawab Stev sambil mengacungkan jempolnya.


__ADS_2