
Oryza memperhatikan coklat yang diberikan Rosa padanya. Meskipun dia belum kenal ataupun belum tau nama Rosa, namun dua sudah tertarik padanya. Oryza tersenyum-senyum sendiri saat memikirkan Rosa sambil membolak-balikkan coklat pemberian Rosa.
"Hadiah perjumpaan, ya? Emang ada orang yang memberikan coklat sebagai hadiah perjumpaan. Yang ada orang akan memperkenalkan namanya terlebih dahulu sebelum memberikan sesuatu yang lain kepada orang yang baru ditemuinya." Oryza terus tersenyum memperhatikan coklat yang lupa diambilnya, karena malas mengambilnya kembali langsung beralasan sebagai hadiah perjumpaan.
"Tapi, ini bukannya aneh, ya? Kenapa dia malah lari saat aku mau memperkenalkan namaku. Apa dia malu karena namanya itu jelek. Mana mungkin sih jelek, nama itu pasti punya keunikan dan makna tersendiri dari balik namanya itu. Benar-benar aneh." Pikir Oryza menopang kepalanya di kursi taman sambil memperhatikan langit yang cerah.
"Nama siapa? Aneh kenapa, tuan muda?" Erik tiba-tiba datang dan berbicara di dekat wajahnya Oryza.
"Aaaaahhh!!! Bapakmu anjing!!!" Teriak Oryza karena dia sangat terkejut.
Dan suaranya tentu saja bukan main, satu taman memperhatikan mereka berdua, karena Oryza mengatakan kata-kata kasar di tempat umum. Memperhatikan klo kehormatan, martabat tuannya yang dipertaruhkan, Erik langsung membungkuk pada setiap arah orang yang memperhatikan mereka dan langsung menarik Oryza dari sana.
Erik membawa kabur tuan mudanya itu ke tempat parkiran mobil, dikarenakan mereka juga harus cepat untuk membawa obat untuk kakaknya Erik yang mabuk perjalanan.
"Tuan, klo mau mengupat tu, lain kali tuan muda pastikan dulu the conditional and the place. There is Indonesian, it not same in America. Tuan liat tadi, bagaimana reaksi orang-orang disana." Omel Erik saat mereka sudah duduk dalam mobil dan dia langsung memutar balik untuk pulang.
"Maaf, tapi disini tuh aku nggak salah, yan Kamu aja yang datang kayak jelangkung tiba-tiba gitu dan ngagetin aku." Protes Oryza tak terima karena serasa Erik menuduhnya gitu.
"Terserah tuan muda deh. Tapi tuan, ayah saya bukan anjing." Kata Erik sambil melihat Oryza sesekali lewat kaca depan mobil. Dia memperhatikan tuannya sedang dalam mood kurang baik sesudah dia terkejut.
"Emang kapan aku bilang ayahmu anjing?" Oryza bertanya judes pada Erik, karena tadi dia sudah mengganggu kesenangannya.
"Tadi tuan bilang gitu saat tuan terkejut."
"Ohhh, gitu. Mungkin kamu salah denger aja, aku mau bilangnya, kamu ya yang anjing."
"Tuan, seharusnya itu adalah teks saya. Masa tuan korupsi gitu sih." Erik mencoba untuk bercanda dengan tuan mudanya itu karena dia kelihatan ngambek dan kesal sesudah kejadian di taman.
"Bodo amat." Ketus Oryza tambah kesal.
Erik hanya busa diam saja saat mendapatkan jawaban seperti itu dari tuan mudanya itu. Karena dia juga sadar, karena ulahnya juga Oryza bisa sekesel itu."Mungkin tuan malu saat insiden tadi di taman kali, ya?" Pikir Erik dengan polos.
Keadaan menjadi hening, karena tidak ada pembicaraan antara kedua insan itu. Erik paham betul bagaimana sikap Oryza, karena dia sudah kenal dekat selagi Oryza masih kecil. Dan Oryza bisa dikatakan sangat lengket dengan Erik.
Selain menempel dengan Erik, Oryza juga mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tua dan kakaknya. Dan sebagai anak bungsu, semua kebutuhan Oryza pasti bakal di penuhi. Bisa dikatakan Oryza adalah matahari dari keluarga itu.
Soal kedekatan Oryza dengan Erik, itu sudah seperti kakak beradik pada umumnya. Meskipun Erik adalah anak yang dibawa oleh orang tua Oryza dari panti asuhan, dan Erik disponsori oleh keluarga Oryza sehingga dia bisa menjadi tangan kanan dari kakak Oryza yang menjabat sebagai CEO. Selain itu kakak Oryza juga mempercayakan Oryza kepada Erik, karena mereka sudah mengenal Erik dari kecil.
Erik dibawa oleh orang tua Oryza saat dia berumur 12 tahun. Melihat kemampuan Erik yang jauh berada pada anak sebayanya yang kurang mendapatkan pendidikan, hal itu membuat orang tua Oryza tertarik untuk membawa Erik dan mensponsorinya.
Erik menganggap keluarga itu seperti segalanya baginya, karena itu dianggap oleh Erik sebagai balas budi dan baktinya karena sudah menjaganya dengan baik. Selain itu, Oryza juga pernah mengatakan pada Erik, klo mereka bisa menjadi adik-kakak dan memanggilnya dengan santai, namun Oryza tetap menolak karena dia sadar pada tempatnya. Dan mana mungkin mereka bisa setara dan menjadi kakak beradik.
__ADS_1
Namun, meski bagaimana pun Erik menangkisnya. Dia tetap nggak bisa, dia sudah terlanjur menganggap Oryza sebagai adik kecilnya, makanya dia kadang sering suka bercanda dengan Oryza. Selain itu Erik berani melakukannya, karena tipe sikap Oryza yang gampang ngambek, dan itu membuat Erik semakin menyukainya, because he think that is so cute.
"Tapi tuan muda, saya perhatian tadi tuan sedang melamunkan sesuatu dan senyam-senyum sendiri sambil memperhatikan coklat itu. Emang ada apa dengan coklat itu, tuan?" Erik kembali bertanya pada Oryza karena setiap Erik melihat Oryza dibelakang, dia pasti sedang memperhatikan coklat yang sedang di pegangnya.
"Ini hadiah pertemuan, jadi aku sayang untuk memakannya."
"Hadiah pertemuan? Dengan cewek, kah?" Tebak Erik lagi mencoba memastikan.
"Iya." Jawab Oryza singkat dan memperhatikan coklat itu kembali.
"Wah, sepertinya tuan muda kita sedang jatuh cinta pada pandangan pertama ya. Pantesan saja, saya tidak melihat tuan dibelakang saya, ternyata sedang jatuh cinta rupanya." Erik melihat ke belakang kearah Oryza dan tersenyum.
Oryza yang sedang merem merasa klo ada orang yang sedang melihatnya lalu membuka matanya. Dan benar saja Erik sedang melihat kearahnya. "Menyetir yang benar sana. Aku nggak mau masuk kantor polisi gara-gara kamu nabrak tiang, apalagi masuk rumah sakit, ya?"
"Emang ada apa dengan rumah sakit? Bukannya itu bagus? Tuan juga bisa ketemu samma gadis itu lagi, kan?"
"Diam! Aku nggak mau denger kamu sebut rumah sakit lagi. Bikin nambah bad mood aja."
"Emang ada kejadian apa sih dirumah sakit sampai tuan segitunya."
"Aahh, kubilang kamu diam aja. Nanti pas sampai rumah aku cerita, sekalian aku mau protes sama kakak. Kali ini aku benar-benar harus mengibarkan bendera rebellion."
...***...
Rosalyn POV
Aku masuk ke rumah sakit dan berjalan santai menuku ke ruang inap papa. Tapi, kenapa harus kebetulan sekali aku harus berpapasan dengan Kak Alan. Aku merasa nggak enak dengannya. Bisa dikatakan, untuk sekarang Kak Alan adalah orang yang paling ingin aku hindari untuk saat ini. Sama seperti kita yang akan menjauhi wabah. Like someone yang ingin menghindari mantannya, itu adalah kondisi ku saat ini.
Aku ingin menghindari Kak Alan karena aku nggak ingin kecewa lagi, karena aku nggak ingin nostalgia lagi dengannya, mengingat masa laluku dengannya. Karena aku sudah bertekad klo masa lalu biarlah berlalu, karena aku hidup dimasa sekarang dan masa depan. Berarti aku harus tepat dalam memutuskan, mmsa laluku adalah Kak Alan, dan masa sekarang dan masa depanku adalah suamiku, Reyhandra Kedrey.
"Ehh, Rosa. Kamu udah datang ya. Maaf kakak nggak bisa langsung nyusul ke taman buat nemanin kamu soalnya banyak pasien yang harus kakak tangani. Maaf, padahal kakak sudah berjanji dengan kamu." Tutur Kak Alan yang memang Dari raut wajahnya dia sangat menyesal.
"Nggak apa kok kak, Rosa paham. Mau giman lagi kan, tugas dan kewajiban kakak itu adalah merawat pasien, bukan untuk menemani ku untuk duduk ditaman." Jawabku dengan nada datar tapi dengan senyum yang tulus juga ku berikan pada Kak Alan.
"Kamu kok ngomong gitu, sih? Karena kakak sudah janji sama kamu, jadi kakak pasti akan menepatinya. Ya, kakak pasti akan menepatinya. Kakak akan ganti untuk mengundang kamu makan enak deh. Kakak janji." Kak Alan mengangkat tiga jarinya tanda dia berjanji padaku.
Aku hanya tersenyum padanya melihat tingkah kekanakannya. Itu berbeda saat dia memarahiku dan mengataiku. Kenmana sikap itu sekarang? Kenapa Kak Alan tiba-tiba menjadi baik? Dan perhatian kepadaku seperti dulu.
"Kakak klo memang nggak bisa menepatinya seharusnya kakak nggak usah berjanji seperti ini." Batinku menjerit mengatakan itu pada Kak Alan, namun aku nggak akan mengeluarkannya, apapun yang terjadi. "Baik, baiklah. Terserah kakak deh, aku ikut kakak aja. Lagian kan kakak yang bakalan traktir aku. Klo dipikir-pikirkan lagi, kakak nggak mentraktir aku juga nggak apa, anggapa aja utang aku sama kakak lunas."
"Utang yang mana?" Tanya Kak Alan bingung.
__ADS_1
"Alah kakak ini. Apa terlalu banyak kerja makanya makin pikin ya?" Becandaku sama Kak Alan. "Ada kok yang kakak bilang, klo kakak akan menutup mulut sial aku itu lho..., asal aku traktir kakak makan."
Kak Alan nampak berpikir sebantat, lalu menjentikkan jarinya klo dia ingat. "Oh..., yang itu."
"Ya, yang itu."
"Kamu lupakan saja."
"Lhah, kenapa pula kak.Apa kakak bernacana buat ngebongkarnya sama ortu aku ya?" Tanyaku menatap mata Kak Alan curiga.
Melihat ku yang menatapnya begitu, Kak Alan menjadu tertawa. Dan itu sontak membuatku kesal, karena aku seolah dipermainkankannya. Kak Alan masih saja tertawa, baru sesaat kemudian dia berhenti ketawa.
"Haah, kamu ini. Yang itu kakak cuma bercanda aja sama kamu kok. Masa kakak minta ditraktir sama anak yang belum kerja. Nanti klo kamu udah ada kerja dan banyak duit, baru deh traktir kakak makan, karena kakak nggak ingin kamu traktir kakak makanan jajanan nggak sehat."
"What? Jangan bilang kakak merendahkan jajanan kaki lima sekarang, padahal dulu kakak doyan sekali." Aku langsung diam, karena aku salah kata, saking bersemangatnya. Itu adalah kenangan kami dulu, Kak Alan pasti nggak mau mengingatnya.
Suasana jadi canggung karena aku yang salah ngomong. Tadi aku memang terlalu bersemangat, hingga nggak sadar klo aku sudah melewati bayas yang nggak disukai oleh Kak Alan. Aku diam dan nggak bicara lagi, aku nggak berani, takut aku salah bicara lagi.
"Kakak akan terap traktir kamu makan enak, bisa jadi makan malam mewah." Ucap Kak Alan memecahkan kecanggungan kami.
"Nggak usah aja kak, lagipula kan kakak orangny super duper sibuk. Mana sempat free, sampe makan makan segala. Ya, kan? Klo pun free, lebih baik kakak gunakan waktu itu untuk istirahat." Ujarku yang juga serius terhadap ajakan Kak Alan.
"Nggak apa kok. Soalnya ada yang mau kakak omongin sama kamu juga."
"Oh baiklah. Tapi jangan sekarang ya kak. Soalnya banyak kali pekerjaan Rosa, ok?"
Kak Alan sempat berpikir sebentar, baru kemudian menjawab perkataan ku. "Ok, Baik kak. Kita atur nanti, lagipula kakak sekarang juga masa sibuk-sibuknya."
"Ok."
"Oh ya, kakak hampir lupa lagi. Ada kawan kamu yang jenguk paman, jadi sebaiknya kamu bergegas kesana."
"Apa? Kawan aku? Siapa kak?" Tanyaku balik. Karena aku nggak memberitahu kepada satu pun temanku, klo papa sedang dirawat.
"Yang tomboy itu lho."
"Alyana, maksud kakak." Aku menebak kawan yang dimaksud oleh Kak Alan itu.
"Ya, dia."
"Klo Alyana, pasti tau lah dia. Toh kakaknya juga kerja di rumah sakit ini. Pasti kabarnya itu dari kakaknya." "Ok kak, thanks atas infonya. Aku harus segera nyusul ke sana ya. Bye...." Aku melambai pada Kak Alan dan langsung berlari menuju ruang inap papa. Kan nggak mungkin klo aku nggak ada, padahal itu adalah teman sekaligus sahabat aku, walaupun dia mau menjenguk papa sakit.
__ADS_1