Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 7 : Masa Lalu


__ADS_3

Rosalyn POV


Aku naik ke atas menuju kamar ku untuk beristirahat. Banyak hal yang terjadi hari ini, mulai dari yang mencengangkan, menyenangkan, hingga sampai yang mencengkram.


Aku mengganti pakaianku dan kemudian langsung rebahan. Aku terus memikirkan apakah pilihanku ini benar? Aku memang mau membantu Papa, tapi aku juga tahu, aku nggak bisa mengganti masa depanku dengan hal sebesar pernikahan ini.


Ku perhatikan langit-langit atap sambil mempertimbangkan kembali keputusanku. Hingga aku larut dalam pemikiran ku sendiri. Lalu seseorang mengetuk pintu kamar.


Tok... Tok... Tok....


"Siapa?" Tanyaku dari dalam.


"Honey, boleh kakak masuk?"


Ternyata kakak, "Masuk aja, kak? Nggak Rosa kunci, kok." Jawabku bangun dari rebahan ku dan duduk di kasur sambil memeluk boneka Sasuke-ku.


Gini-gini, aku merupakan seorang penggemar anime. Diantara anime favorit ku adalah Naruto dan Black Clover, juga Demon Slayer. Banyak pelajaran yang kudapatkan dari sana. Walaupun kata orang tua, tontonan itu tidak bagus untuk anak-anak.


Aku mananya yang masih anak-anak. Orang umurnya juga hampir 18 tahun, tinggal hitung hari saja lagi. Tapi bagiku, nggak mesti tontonan itu bisa di tonton sama anak-anak atau nggak, asalkan kita bisa memilah, maka anime itu bisa menjadi pelajaran berharga.


Contohnya saja di anime Naruto itu mengajarkan kita untuk terus mengejar cita-cita yang ingin kita capai, dan kuncinya itu adalah... Kerja keras dan bekerja keras. Tak peduli apa kata dunia, tapi tetaplah pada cita-cita kita. Karena tidak ada hasil yang indah tanpa ada pengorbanan yang berarti.


Kakak masuk dan duduk di sampingku. Kakak memperhatikan ku lekat, terbesit rasa sedih dari rona wajah kakak. Aku pun paham klo kakak sedih karena perjodohan ku, mungkin itu bukan karena kehendak ku sendiri.


"Kakak apaan sih, liat Rosa kayak gitu. Rosa dah bolong nih kakak liat terus lho! Liat, mata kakak udah kayak keluar lasernya tuh." Kataku menunjuk ke mata kakak.


"Honey... Kakak mewek nih."


"Yah... Jangan dong brother. Masa mewek, sih? Sini!" Aku membuka tanganku. Kakak langsung memelukku, dan nangis di pelukanku. Aku terharu dan jadi ikutan sedih. Tapi aku nggak bisa, takut dramanya akan lebih panjang lagi. "Oh.... cup, cup, cup, my big baby Stev, don't cry baby."


"Honey, kakak bukan baby lagi."


"Makanya jangan nangis, dong. Aishhh, habis basah baju Rosa dengan air mata kakak. Tanggung jawab nih!" Kataku pura-pura marah.


"Huhuhu... Sorry..., honey."


"Jadi, ada perlu apa, kak. Tumben kesini. Kakak bukannya mau nangis kesini, kan?" Candaku sambil menghapus air mata kakak. "Udah... Masa anak cowok nangis, sih? Nanti gantengnya hilang lho."


"Honey...."


"Iya, serius. Klo kakak udah nggak ganteng lagi, aku akan pindah hati, ya. Mungkin si kembar juga nggak terlalu buruk deh." Kataku sambil mengusap-usap daguku, juga sambil mengerling kakak. Kira-kira akan seperti apa ya ekspresi kakak?


"Honey, berani-beraninya kamu pindah hati pada si kembar! Awas saja klo kamu berani, akan ku buat si kembar itu jadi waria. Tak hanya si kembar, semua orang akan kakak buat jadi waria, asalkan kamu berani melirik mereka." Ancam kakak dengan wajah kesal. Tapi itu sangat menyenangkan. Ini berbanding terbalik dengan yang tadi, kemana perginya wajah galaknya itu?


"Kak...kak. Walaupun semua laki-laki di dunia ini jadi waria, Rosa juga nggak akan ngelirik kakak. Ketimbang kakak, aku masih suka sama gepeng 2D-ku." Ucapku terus menggoda kakak.


"Honey, beraninya kamu membandingkan kakak dengan si makhluk gepeng 2D itu?"


"Ya sih, kakak emang nggak bisa dibandingkan dengan gepeng 2D, kakak mah terlalu jelek. Tapi si kembar kan bisa."


"Si kembar lagi? Honey kami ini..."


"Tali klo dipikir-pikirkan lagi si kembar juga nggak memasuki kriteria Rosa deh."


"Yayaya, gitu dong. Mereka tuh emang nggak da bagusnya." Jawab kakak bangga sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dasar kakak, kenapa hal sekecil ini saja dipermasalahkan sih? Padahal hanya rasa suka saja.


"Tapi, klo Alan kayaknya ok deh. Lagipula Kak Alan juga memenuhi kriteria Rosa."

__ADS_1


"Honey, kamu masih suka sama si Alan bajingan itu?" Tanya kakak sambil memelototi ku.


"Kak... Siapa sih yang kakak bilang bajingan? Please deh, orang Kak Alan ganteng plus keren gitu kok. Malahan kakak yang kalah keren sama Kak Alan baru merasa iri kan sama Kak Alan? Takut tersaingi. Bilang aja deh, Rosa tau kok." Cerocos ku yang terus mengagung-agungkan Kak Alan.


Tapi meskipun begitu, deskripsi itu sama sekali tidak melenceng dari realita kok.


Kak Alan itu memang tipe ideal ku. Dia memenuhi segala persyaratan untuk menjadi teman semasa hidup ku. Dia memenuhi kriteria ku dari segala aspek. Keterampilan, kewibawaan, pengetahuan, pengertian, penuh kasih sayang dan yang nggak ketinggalan adalah ketampanan. Dia memenuhi segalanya.


Aku dengannya pernah berbagi rasa, namun dia harus keluar negeri untuk mendalami studinya, dan berjanji untuk bersama. Namun realita tak seindah khayalan dan angan-angan. Sekarang sudah nggak bisa, kami hanya bisa jadi orang asing.


Sehabis kecelakaan di luar negeri dan kehilangan ingatannya, memori tentang ku juga ikut terhapus. Kini kami hanyalah teman biasa dengan orang biasa. Tidak ada hubungan yang spesial, melainkan hanya hubungan teman dari adik-adiknya, Aldo dan Aldi. Dan aku..., hubungan kakak dari teman-teman ku. Orang yang sama sekali tidak penting dan berarti dalam hidupnya.


Yah, memang benar. Sekarang aku dengannya menjadi asing satu sama lain. Awal mula hal itu terjadi, aku masih punya alasan untuk datang kepadanya dan mencoba membangkitkan kembali ingatannya akan kenangan masa lalu kami. Tapi sekarang aku sudah tidak punya hak itu lagi, karena dia akan menjadi milik orang lain. Tunangan milik orang lain, calon suami orang lain.


Jadi aku cukup sadar diri untuk mundur. Lagipula, dia membenci ku jika aku terus mengusiknya. Baginya, tunangannya itu lebih penting dariku. Tidak, apakah aku harus menyebutnya penyelamatnya? Ya, tunangannya itu yang menyelamatkannya saat dia hilang ingatan, orang yang merawatnya saat dia sedang dalam masa down di luar negeri, saat kecelakaannya itu.


Yah, jika memang dibandingkan antara superhero dan gadis yang mencoba mengganggu kehidupannya, dia pasti akan lebih memilih si superhero itu, tunangan yang menyelamatkannya. Dan membenciku yang menjadi seorang pengganggu, duri dalam kehidupan nyamannya.


Walaupun kenangan itu tidak bisa ku lupakan dan ku lepaskan, tapi aku akan mencoba untuk mengikhlaskannya. Karena dia pernah berkata kepadaku dan hal itu terus terngiang-ngiang dalam hatiku, terus bermain-main di pikiranku.


"Jika kamu memang mencintaiku, jadi tolong lepaskan aku untuk bahagia. Tolong biarkan aku bahagia. Kamu mencintaiku, kan? Jadi biarkan aku bahagia. Bukan denganmu, tapi orang lain. Dan kumohon, jangan pernah muncul lagi di depanku. Hanga itu yang kuharap dati kamu. Kumohon, kamu lepaskan aku."


Begitulah rentetan kata-kata yang keluar dari mulut Kak Alan. Orang yang kucintai dengan sepenuh hati, bukan dengan segenap hati. Tapi suara yang lembut itu pula yang mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan, sangat susah untuk ditelan. Susah untuk dicerna. Itu semua karena aku mencintainya. Aku telah terjerat oleh cintanya itu yang pernah merangkul ku.


Aku sudah tak ingin lagi untuk mengingat masa lalu kami yang kelam itu. Bukan kami, hanya diriku yang mengerti akan kisah ini, karena akulah yang mengingatnya seorang diri, karena dia sepertinya nggak bakalan ingat akan rajutan kisah ini.


Dan klo dilihat dari tingkahnya sekarang, bahkan dia tidak akan sudi untuk dekat-dekat denganku. Apalagi itu kisah masa lalunya dengan ku. Tapi biarlah, masa lalu biarkan berlalu.


Meskipun aku terus mencoba untuk memasukakalkan melalui pikiranku, tapi hati ini masih tidak bisa memakluminya. Jauh dalam lubuk hatiku, aku berharap dia mengingat kembali kisah kasih kami, dan berharap dia menjadi satu-satunya orang dalam hidupku.


Aku selalu mencoba untuk menghipnotis diriku sendiri. Bahwa masa lalu biarlah berlalu, dan lakukanlah untuk masa depan. Orang di masa lalu nggak akan pernah datang di masa depanmu dan merangkul mu, hanya dirimu yang bisa merangkul mu.


Aku memperhatikan kakak yang sepertinya berat banget akan pembicaraan malam ini. Walaupun sedih sih, karena harus pisah dengan orang yang aku sayang. Karena memang mereka yang selalu mensupport aku, mendukung aku dari garda terdepan. Keluarga yang paling berarti bagiku.


"Kak, Rosa nggak akan kemana-mana, kok. Buktinya, Rosa masih disini, nih!" Tutur Ku menghibur kakak. Aku mengambil tangan kakak dan menggenggamnya sambil menepuk-nepuk punggung tangannya, mencoba menyalurkan ketenangan padanya.


"Honey, kamu yakin nggak akan menyesal kedepannya? Itu bukan sikapmu lho, honey."


"Siapa bilang Rosa setuju nikah dengan laki-laki itu?"


"Trus, bukannya kamu udah..."


"Kak, kak. Rosa kan setuju buat ketemuan dulu. Klo orangnya ok, dompetnya tebel, Rosa sih ok ok aja."


"Dasar kamu." Ucap kakak menjitak dahi ku.


"Aishhh, sakit kak." Decit ku sambil memegang dahi ku yang dijitak kakak. "Dimana-mana tu, orang mesti nengok cover dulu, baru nengok isinya." Tambah ku nggak mau kalah.


"Tapi honey... Kamu jangan menukar kebahagiaanmu dengan perjodohan yang nggak sebanding dengan masa depan kamu itu."


"Nggak kok. Rosa yakin pilihan kalian untuk Rosa pasti yang terbaik. Kalian pasti nggak akan membiarkan Rosa menderita, kan?" Jelas ku meyakinkan kakak.


Tapi, rasa sedih itu masih saja terlihat di wajah Kaukasoid itu. Begitu juga denganku, kesedihan ini sama sekali nggak boleh nampak, sama sekali nggak boleh. Atau tidak, aku nggak akan bisa melewati malam yang tenang malam ini.


"Honey, bolehkah kakak minta satu permintaan sederhana?" Tutur kakak yang merubah suasananya menjadi misteri. Aku memiringkan kepalaku teleng. "Mainlah game balap mobil Real Racing sama kakak ya? Minimal sampe kakak menang lah. Ya?"


Bhahh, permintaan jenis apaan ini? Bikin tepuk jidat saja. Macam bukan kakak saja. Dari sekte mana nih orang? Aneh-aneh aja permintaannya. Tapi apapun itu, turuti saja dulu keinginannya.

__ADS_1


"Emang kakak mau main berapa ronde, hemm? Yang Rosa tau, Rosa ngalah tau nggak, hasilnya juga akan selalu sama. Kakak ikhlasin aja, dalam kehidupan ini kakak nggak akan pernah bisa ngalahin Rosa ngegame Real Racing tu." Tutur ku sarkas. "Ah... kakak balik aja, sana! Wush, wush... Rosa mau bobok cantik, besok Mama pasti bakal ngajak Rosa buat belanja seharian penuh."


"Tapi honey... Kakak pengen tidur disini sama kamu." Rengek kakak sambil memelas. Emang agak laen ini bocah.


"Nggak boleh. Masa kakak mau tidur disini sih? Dame, dame!" (Jepang : tidak boleh). Aku bangkit dari kasur dan menarik kakak lalu mendorongnya keluar.


"Honey...." Pinta kakak memasang wajah aegyo-nya, sesuatu yang kakak benci. Seharusnya aku mengabadikan momen terlangka ini.


"Nggak boleh... Sana! Kakak balek kamar sendiri aja sana! Dan untuk Real Racing, akan Rosa usahain. Ayo...sana pergi!"


"Janji ya, honey..."


"Iya, janji. Bye.... Met malam, kakak.


"Met malam juga, honey." Jawab kakak dengan langkah gontai. Namun tiba-tiba kakak balek lagi. "Honey... bolehlah. Semalam aja."


"Nggak boleh kakak. Kakak ku sayang, kakak ku yang ganteng, manis, imut. Nggak boleh! Titik, nggak da koma."


Akhirnya kakak balek juga ke kamarnya sendiri. Kupikir karena tadi di ruang tamu kakak diam saja dan tidak heboh, jadi dia bisa menerima semua itu. Tapi siapa tau, kakakku yang siscon itu ternyata big baby yang cengeng.


Untung aku berhasil mengirimnya tidur di kamarnya sendiri, klo nggak, nggak bakalan ada yang namanya bobok cantik malam ini, pasti sibuk bicara dan mendiamkan baby yang cengeng itu.


Dan sesuai prediksi, pagi-pagi udah ada yang narek-narek buat sarapan dan cepetan siap-siap buat pergi berbelanja. Dan yang langka, kakak juga ikutan. Cuma Papa yang nggak ikot, karena ada meeting dengan klien besar.


Saat berbelanja pun drama kembali dimulai lagi. Jangan yang inilah, jangan itulah. Sampai-sampai mereka melupakan aku yang merupakan tokoh utamanya. Apalagi kakak, saat melihat baju itu cocok untuk ku kenakan, dia tidak ragu bilang 'Dari deret sini sampai ujung sana, bungkus semua', dengan gaya Direktur besar gitu. Oh my god, cobaan apa ini?


Saat malam tiba, Mama menjadi so busy untuk mendandaniku. Kakak berperan sebagai asisten dan Mama sebagai Make-Up Artist-nya. Serta Papa dan Bibi Salma sebagai tim penilai.


Aku memakai gaun dress night dengan tema bintang-bintang berwarna navy blue yang memesona, gaya rambut butterfly haircut dan sepatu hak tinggi sweet star blue.


Aku menuruni tangga sambil menggandeng tangan Mama dan kakak. Ku lihat Papa dan Bibi Salma udah stay dibawah menunggu kami turun.


"Woww... You are so beautiful, baby." Puji Papa sambil bangun dari tempat duduknya.


"Thanks, Dad. You are so handsome, too."


"Pa, sepertinya Stev nggak ikhlas biarkan honey buat pergi ke perjodohan malam ini. Honey terlalu cantik, bagaimana klo si Reyhandra itu jatuh cinta nantinya?" Cerocos kakak.


"Yang kamu bilang itu benar juga, Stev. Sebenarnya Papa juga keberatan dengan hal itu." Tambah Papa yang ngedukung rencana konyol kakak.


Mana ada sih orang tua yang mau perjodohan anaknya batal sesudah melalui begitu banyak persiapan? Hanya ada dua orang di dunia ini yang maunya itu kayak begitu, orang dengan label limited edition, hanya ada Papa Raymond-ku yang protektorat beserta kakak ku yang siscon. Itulah mereka orangnya.


"Hahh... Dua orang protektif ini, bukannya itu bagus klo mereka saling mencintai?" Sergah Mama mengakhiri drama tanpa naskah itu.


"Tapi, apapun itu, kita selfie dulu. Cheese...." Kata kakak berpose dan mengambil foto dengan handphonenya, kenangan yang berarti bagi kami. "Hemmm... Masukin ke history, biar si kembar liat."


"Kakak jangan aneh-aneh deh. Rosa masih mau nyembunyiin perjodohan ini. Perjodohan ini bukannya langsung ke pelaminan. Masih lama Kak prosesnya." Tegur ku yang nggak ingin berita tentang perjodohan ku tersebar luas. Karena aku masih mau akan kehidupan ku yang tenang nantinya.


"Iya, iya. Kakak private deh sama orang lain, cuma si kembar doang, juga sama si 'dia'." Jawab kakak yang terus berkutat dengan handphone-nya, dan juga dengan senyuman aneh yang terus mengembang di wajahnya itu. Pasti kakak bikin si kembar cenat cenut tuh.


"Tunggu, apa kakak bilang seseorang tadi selain si kembar? Si 'dia'? Memang siapa 'dia'? Nggak mungkin juga kan kakak tau tentang masa lalu ku yang sudah ku kubur itu? Ah... Udahlah, palingan juga salah denger, kakak lagi menggumamkan apa, dan aku dengernya apa?" Pikirku dalam batinku dan langsung mengikuti langkah Mama menuju ke garasi mobil.


"Wah, Stev. Foto yang bagus. Simpan, simpan!" Ujar Papa saat melihat history sosmed kakak.


"Iya, kan? Siapa dulu dong fotografernya?" Jawab kakak membanggakan dirinya sendiri.


"Dasar kakak ini, sombong banget orangnya. Padahal kamera handphonenya aja yang bagus. Itu pun udah bikin dia sombong sampe hidungnya pun nampak panjang. Aduh... Kakak, kakak. Bikin tepuk jidat ini orang. Untung kakak sendiri, klo nggak udah ku tendang dia dari dulu. Hapus dia dari pandangan." Pikir ku yang merasa kasihan pada diriku sendiri. Kenapa tahan aku sama orang seperti itu? Ini yang menjadi pertanyaannya.

__ADS_1


Kami berangkat dengan kakak yang menyetir. Hingga akhirnya kami sampai di tempat yang sudah di reservasi. Pihak laki-lakinya sudah sampai, hanya dua orang. Seorang kakek-kakek dan seorang lelaki, yang ku yakini itu sebagai jodohku, dan kakek itu adalah kakek mertuaku.


"Ohhh... Jadi ini yang namnya Reyhandra Kedrey? Jodohku itu?" Kataku membatin dalam hatiku sendiri sambil terus menjaga senyum.


__ADS_2