Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 34 : Handphonenya Lowbat


__ADS_3

Rosalyn POV


Aku menikmati makanan angkringan dengan sangat nikmat dengan ditemani oleh Dian. Aku paling suka dengan sosis bakar, jadi aku bahkan memesannya langsung lima tusuk. Dan untuk minumnya aku dengan sengaja beli susu coklat dulu sebelum pesanan ku selesai.


Aku makan dengan sangat lahap dan itu mengundang perhatian dari Dian yang sedang duduk di depanku yang juga memesan sosis bakar. Sebenarnya aku adalah tipe orang yang nggak bisa makan makanan panas juga masakan pedas.


Tapi untuk hari ini aku tetap ngeyel mau ngetes diri dan memesan sosis level pedas. Karena pedasnya itu bisa diatur sesuai dengan keinginan pembeli, dan penjualnya jiga sebelum akan membakar sosisnya lebih dahulu menanyakan kepada pembelinya mau yang pedas, pedas bingit, yang biasa atau luar biasa.


Asli, walaupun sudah beberapa kali aku mendengar kakak penjual itu bertanya padaku aku tetap nggak bisa menahan senyumku, karena itu terkesan lucu bagiku.


Aku mengibas-ngibas tanganku untuk meringankan pedas di mulutku. Apalagi aku memakannya lagi panas-panas, jadi bagaimanapun itu yang pedas semakin bertambah dan menyengat bibirku.


"Huuush, huaaahhh.... Enak banget." Kataku sambil mengibas mulutku karena kepedasan. Namun walaupun pedas, itu tak menyurutkan semangat ku buat terus memasukkan sosis bakar ke dalam mulutku. "Kak, enak banget. Tambah lagi ya, 5 tusuk lagi." Seruku pada kakak penjual yang sedang mengipasi sosisnya.


"Ok, neng. Mau yang gimana neng. Yang biasa, yang luar biasa, yang pedas, pedas gila. Atau mau sama aku aja neng. Jadi gimana neng?" Tanya kakak penjual itu menanyaiku.


"Yang pedas gila, kak. Aku mau ngenyobain itu gimana rasanya sih. Penasaran soalnya."


"Ok, klo begitu aku akan memenuhi rasa penasaran mu itu neng penyanyi..."


"Diam!!!" Seruku menghentikan Kak Farhan untuk tidak mengungkit-ungkit aibku, apalagi ini didepan Dian. Klo Dian tau, aku pasti nggak tau mau dikemanain wajahku ini lagi.


Aku berteriak terlalu keras hanya sekedar untuk menghentikan Kak Farhan yang jaraknya hanya sekedar dua meter dari tempat duduk kami. Hingga beberapa pelanggan Kak Farhan menatap kearah ku. Tak sampai disitu saja, bahkan orang yang hendak masuk ke indomaret buat belanja, tiba-tiba saja jadi berhenti karena mendengar teriakan ku.


Aku sadar klo pandangan orang-orang sedang menuju kearah ku, apalagi ekspresi Dian yang tiba-tiba saja kaget dengan teriakan ku.


"Ahhhh, banyak kali lah nyamuk disini, mana ribut lagi. Diamlah, jangan pada berisik! Ngeganggu orang makan aja." Aku mengalihkan rasa maluku dengan berpura-pura mengusir nyamuk yang ada di sekitar ku.


Baru setelah aku berpura-pura mengusir nyamuk, orang-orang yang melihat ku dengan aneh melanjutkan kegiatannya lagi. Aku juga bernafas lega, klo nggak orang-orang pasti akan menganggap ku ada yang nggak beres dengan LCD otakku.


Kak Farhan yang melihatku seperti itu, dia menikmati pemandangannya dengan puas, bahkan tak bisa menahan tawanya. Namun dia tetap dengan sangat sangat berusaha tetap menahan senyumnya, karena dia sedang berhadapan dengan pelanggan lainnya. Mungkin Kak Farhan menikmatinya, tapi itu merupakan aib bagiku.


Mungkin muncul pertanyaan, kenapa aku memanggil orang yang menjual itu dengan sebutan kakak? Itu dikarenakan dia adalah kakak seniorku dulu saat di SMA. Dan saat aku masuk kelas 1 SMA, kakak seniorku itu kelas 3. Dan aku kenal akrab dengan kakak Farhan itu karena saat mos dulu, Kak Farhan itu yang menjadi ketua kelompok ku.


Dia adalah orang yang sangat ramah, ceria, duka mencerita cerita yang nggak masuk akal, walau kadang lucu hingga sampai bengek, kadang sendiri dan kadang juga, gara-gara dia kemudian sampai nular ke semua orang yang melihat tingkah konyolnya itu.


Dan aku adalah orang yang dikenalnya, karena dulu kalah main sambung kata karena sedikit ngeleg jadi di hukum untuk nyanyi didepan teman kelompok. Mungkin Kak Farhan entah sengaja atau nggak menghukum ku dengan sengaja, karena dia nggak nyangka aku bisa nyanyi dengan baik. Hingga aku mendapat gelar penyanyi berkah ngeleg darinya. Dan cerita pun berakhir.


Aku nggak mau mengingat lagi, bagaimana dia merayu ku dulu tiap datang ke kantin, dan itu membuatku sangat malu sampai tiap kali aku pergi ke kantin aku akan selalu membawa sebuah buku. Dan bila berpapasan dengannya, maka buki itu yang menjadi tameng ku. Aku nggak ingin mengingat masa-masa itu lagi, dan aku hanya mau fokus makan sosis bakar saja.


Aku terus-menerus menjejalkan sosis ke dalam mulutku. Dan karena terlalu kepedasan, aku dengan gercep membukakan botol susu coklat ku dan menegaknya dengan rakus.


"Arrrggghhh..., akhirnya bisa bernafas juga. Emang susu paling nikmat klo makan yang pedas seperti ini. Aku terlalu banyak makan capsaicin malam-malam gini, moga aja aman ini perut." Aku menepuk-nepuk perutku dan berharap klo perutku akan bekerja sama denganku malam ini. "Ayo, mari kita lanjut lagi!" Seruku bersemangat.


"Wahhh..., nggak nyangka gue, ya. Lo itu doyan atau apa sih, hingga makannya aja sampai segitunya?" Komentar Dian saat melihatmu makan.


"Segitunya gimana sih maksudnya?" Tanyaku pada Dian sambil terus memakan sosis ku.


"Udah kayak orang nggak makan sebulan tau, nggak?"


Perkataan Dian itu otomatis kena pas di jantungku, karena perkataannya itu. Aku lupa menjaga cara bagaimana aku makan, karena nggak ada kakak di sampingku, jadi aku serasa merasa bebas gitu. "Kamu...." Aku menunjuk Dian dengan sosis yang sedang ku pegang ke wajah Dian.


Dian langsung memakan sosis yang ku gunakan untuk menunjuk ke wajahnya. "Apa kamu? Lo ngerasa gitu kan makanya lo bereaksi. Klo emang lo nggak gitu, lo pasti nggak akan bereaksi seperti itu."


Aku menyerahkan sosis yang dimakan setengahnya oleh Dian kepadanya. "Bukan gitu juga. Kamu nggak tau aja gimana my condition. Mungkin aku sering keluar malam buat jajan kayak gini, namun aku nggak sebebas ini tau."


"Kok bisa sih lo merasa nggak bebas. Nggak percaya gue dah klo gue liat dari cara lo makan yang begitu. Mana mungkin nggak puas."

__ADS_1


"Kamu nggak tau aja gimana kakak siacon ku, dia..." Aku menghentikan kata-kata ku karena orang yang baru saja ku singgung, ternyata menelpon ku.


Aku meminta izin pada Dian untuk mengangkat telepon. Sebenarnya bukan masalah untuk menjawab telepon didepan seorang teman, karena itu bukan masalah bisnis atau sesuatu yang harus dirahasiakan. Namun aku sengaja buat ngejauh demi citra aku dan juga wibawa ku. Supaya nggak jatuh didepan temanku sendiri, karena mengingat kakak yang biasanya heboh manggil honey, baby, my love gitu padaku. Jadi, makanya aku menjauh.


"Ya, halo kak. Ada apa, kak?" Tanyaku menjawab telepon.


"Honey, honey, my honey. Kamu dimana sekarang."


"Tempat biasa kita cari jajan malam, emang ada apa kak?"


"Honey, kamu jangan buka pesan WA ya. Ok, you hear me, kan?" Heboh kakak dibalik telepon.


"Emang ada apa sih, kak? Kok jangan liat pesan WA sih kak?"


"Pokoknya jangan liat, jangan buka." Tegas kakak menekannya lagi.


Karena kakak yang dengan gigih melarang ku untuk melihat pesan WA, itu malah membuatku semakin penasaran dan membuka pesan WA. Nggak ada yang penting, hanya ada Reyhandra, yang menanyakan keberadaan ku.


"Honey, kok diam aja? Honey, are you in there, honey?"


"Ah, ya. Nggak ada pesan apa-apa kok kak. Cuma dari Reyhandra doang yang nanya keberadaan ku aja."


"Aduhhh, honey. Kamu nggak dengar apa yang barusan kakak bilang ya. Dibilangin jangan buka pesan chat, malah dibuka. Aiiiishhh, kacau sekali."


"Ah, hehehe, udah keburu keliat kak. Kakak sih bilangnya jangan liat, kan makin penasaran kita."


"Hahhh, nggak apa, ya udah. Udah berlalu juga. Oh ya, habis telepon dengan kakak ini, kamu langsung matiin handphonenya ya." Pesan kakak padaku, namun itu terasa ambigu bagiku.


"Ya lah dimatiin, klo nggak dimatiin mau digimain apa lagi coba. Kan nggak mungkin kita tersambung terus."


"Emang kenapa, kak? Kakak napa sih, misterius kali malam ini."


"Lakuin apa yang kakak bilang aja. Habis telepon sam kakak ini langsung matiin ya. Nah trus, ini hampir jam setengah sebelas, kamu harus sesuai janji dong honey. Klo nggak, jangan berharap bisa keluar malam lagi."


"Mana bisa gitu sih, kak! Kan kakak yang nelpon Rosa duluan, makanya kepotong waktu Rosa buat ngejawab telepon kakak."


"Jangan ngebantah honey. Kamu itu anak perempuan yang akan punya suami lho. Oh ya, jangan sampe lupa pesan kakak ya, langsung di shutdown. Pas pagi baru kamu hidupin lagi, ya. Oh ya, jangan lupa mampir ke rumah sakit besok ya. Yang cepat, pagi-pagi harus sampai disini, jangan lupa juga bawa sarapan ya. Biar kamu nemenin mama sama papa sehari lagi, gantiin kakak karena kakak harus berangkat kantor juga."


"Emang papa udah bisa pulang, kak?"


"Udah, besok malam udah bisa chek-out, papa hanya di infus, habisin infus ni dulu, kemudian satu lagi. Biar nambah cairan gitu katanya."


"Ouh ya. Tapi..., kak. Aneh aja, kenapa harus di shutdown sih, kak."


"Jangan banyak nanya honey, kamu tinggal lakuin ini aja. Kan besok pagi baru kamu hidupin lagi kan ponselnya, nah klo Reyhandra tanya kenapa nggak jawab telepon dia, jawab aja klo handphonenya lowbat, dan klo dia tanya kenapa nggak balas chat padahal udah dibaca, bilang aja klo udah dibalas dalam hati, ok?" Kata kakak selesai menjelaskan.


"Tapi..."


"Nggak ada tapi honey. Lakuin aja apa yang kakak bilang. Ini semua demi kebaikan. Oh ya, jangan makan lagi, langsung gas pulang itu, 20 menit lagi, kakak telepon rumah. Dan kamu sudah harus ada di rumah."


" Tapi kak..."


"Udah ya my honey, my lovely. Met malam, moga mimpi indah."


"Kak...."


Kakak langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja. Padahal biasa aku yang biasanya melakukan itu, bahkan dia nggak mau klo aku nutup sepihak gitu, sampai nelpon lagi hingga panas kuping dengar kakak bicara. Padahal dia hanya di liat kota aja, bukan diluar negeri.

__ADS_1


"Nah, ini bagaimana mau telepon balik. Handphonenya aja disuruh langsung shutdown tanpa alasan yang jelas dan aneh. Entah apa yang merasukinya, atau emang dia mungkin baru bangun dari mimpi buruk.


Aku langsung mematikan handphone, dan kembali lagi ke Dian yang pasti udah kelamaan menungguku, padahal hanya buat ngejawab telepon doang.


"Ah, Yan. Maaf ya nunggu lama, soalnya kakak yang nelpon."


"Oh nggak apa-apa kok. Sans aja sama gue lo."


"Oh ya, Yan. Kita langsung pulang aja yuk. Soalnya barusan kakak nyuruh pulang."


"Masih awal ini, lhoh. Belum juga jam dua belas malam." Kata Dian yang melihat jam tangannya.


"Nggak bisa, Yan. Soalnya rumah sedang kosong juga, karena papa sedang dirawat di rumah sakit."


"Ok, ya udah. Kita pulang sekarang." Dian segera bergegas menyelesaikan makannya dan hendak mengeluarkan dompet.


Aku langsung menahan Dian buat ngebayar jajanannya. "Nggak apa-apa. Biar aku yang traktir, anggap aja ongkos aku numpang sama kamu, ya."


"Oh, ok. Aku langsung ke motor ya, nanti kamu langsung ke sana klo udah bayar."


"Ok." Dian langsung meninggalkanku. Aku langsung membayar ke Farhan berapa pesanan kami. "Kak, mau bayar."


"Udah langsung mau pulang? Punya yang ini gimana?" Tanya Kak Farhan pada sosis yang sedang dibakarnya.


"Ya kak. Soalnya rumah lagi kosong. Dan klo sosis itu dibungkus aja kak. Nanti biar ku makan pas di jalan."


"Ok, ok. Tunggu bentar ya."


"Ok, kak. Sekalian sama punya teman aku itu ya kak."


"Emm, semuanya 25 ribu."


Aku mengeluarkan uang lembar 10 ribu dan 20 ribu dan ku kasih sama Kak Farhan. "Nih, kak. Kembaliannya buat kakak aja."


"Oh makasih banyak, penyanyi berkah ngeleg-ku. Moga makin lancar rezekinya. Dan ini pesanan kamu."


"Makasih kak. Aku pulang dulu. Tapi kak, lain kali klo mau berterima kasih padaku, cukup jangan manggil aku penyanyi ngeleg itu aja. Bye...." Aku melambaikan tanganku padanya, dan langsung naik ke motor, karena kebetulan Dian juga udah nyampe dari tempat parkiran.


...***...


Reyhandra sedang terus memperhatikan handphonenya menunggu balasan dati Rosa, namun tak kunjung di balas juga. Padahal chat sudah dibaca oleh Rosa.


"Kenapa belum ada balasan juga, sih? Sibuk banget apa di? Sok-sokan sibuk gitu. Aiihh, drama akting sempurna ku, kenapa begitu susah sih?" Keluh Reyhandra yang nggak bisa tenang sama sekali. "Ini nggak mungkin juga dia sudah tidur, kan? Baru juga jam sepuluan." Keluh Reyhandra lagi melihat jamnya.


Reyhandra bangun dari kursi kerjanya dan menuju ke jendela melihat pemandangan malam, lalu sesaat kemudian kembali lagi ke meja kerja melihat handphonenya, namun belum ada juga balasan dari Rosa.


Reyhandra mengambil handphonenya dan berjalan duduk di sofa. Dia juga terus memperhatikan handphonenya itu, belum juga ada balasan. Lalu Reyhandra meletakkan handphonenya di atas meja, dan merebahkan kepalanya buat istirahat.


Sesaat kemudian karena belum ada balasan, akhirnya Reyhandra bertekad menelpon Rosa. Namun nggak dijawab juga karena sedang berlangsung telepon dengan orang lain.


Reyhandra memakluminya mungkin dia sedang berbicara dengan mamanya karena dia cuma di rumah seorang diri sama ART-nya. Lalu kembali diletakkannya telepon nke atas meja.


Reyhandra kembali bangun dan membaca bukunya yang ada di rak. Sepuluh menit kemudian Reyhandra menelpon Rosa lagi. "Ini pasti udah selesai kan dia berbicara sama mamanya." Pikir Reyhandra dan langsung menelpon Rosa lagi.


Namun hal yang nggak diduga Reyhandra, handphone Rosa malah mati dan itu membuat Reyhandra nggak habis pikir. Kenapa bisa kebetulan dengan dirinya yang yang menelpon Rosa, seakan langit nggak merestui gitu.


"Sh**! Kenap bisa kebetulan gini sih. Sialan!!!" Maki Reyhandra melemparkan ponselnya ke sofa dan kembali membaca laporannya dengan hati yang marah.

__ADS_1


__ADS_2