Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 46 : Telepon Balik


__ADS_3

Rosa yang sedang membaca ribuan pesan dari group kuliahnya itu pun masuk sebuah panggilan masuk. Dan itu adalah dari Alan. Stev juga membaca nama kontak yang mengontak Rosa, sudut bibirnya yang tadinya tertarik begitu lebar karena senang bercanda dengan adiknya kembali lagi seperti semula. Nggak ada senyum yang terukir.


"F*ck. See. Bahkan honey memberi nama si Alan amnesia itu dengan kontak Kak Alan pakai emot love lagi. Padahal klo kontak aku saja dikasih nama "kakak siscon", walaupun ditambah dua emot love lagi sih.Sial, makin diliat dan dipikirkan makin membuat darahku mendidih ingin memukulinya sebanyak mulut itu menghina honey. Dia pikir sekali aku nggak mendengarnya, dia pikir aku nggak tau klo dia menghina honey." Stev sangat marah, namun dia tidak menampakkannya didepan Rosa.


Bagaimana pun selama ini dia sudah mencoba yang terbaik untuk mencoba menahannya. Bahkan saat di rumah sakit pun juga begitu. Tiap kali bertemu dengan Alan itu membuatnya sarafan, Stev gila jika bertemu dengan Alan, karena keingat semua makian dan hinaan Alan kepada Rosa.


Dan kenapa Stev bisa tau, tentu saja dia punya pelapor kepadanya, yaitu Aldi. Klo Aldi tidak memberi tahunya, maka tidak ada ketemu dengan Rosa. Dan tentu saja ancaman itu sangat bekerja dan ampuh bagi Aldi.


"Ini dia orang pertama yang harus ku urusin." Kata Stev sambil menyeringai.


Rosa juga mendengar kata-kata kakaknya itu, namun dia nggak terlalu memperdulikannya. Karena dati tadi kakaknya terus saj bicara tentang memberesin atau akan mengurusi. Dan Rosa sudah lelah mendengarnya. Rosa pun langsung mengangkat telepon dari Alan sesudah sekian lama handphone berdering.


"Iya, hello?" Rosa mengangkat dan menyapa orang yang menelponnya.


"Halo. Gimana? Apakah paman sudah sampai di rumah. Maaf, tadi nggak bisa mengantar kalian, karena ada pasien operasi yang harus ku tangani." Jawab Alan yang langsung memulai basa-basinya.


"See! Berani-beraninya dia bertanya tentang papa. Apa dia polisi yang menginterogasi penjahat? Dia pikir honey itu seorang penjahat. Emang bastard kau Alan. Bisa-bisanya honey buta mata dengan dia dulu. Ganteng juga gantengan aku sama dia." Batin Alan lagi yang merasa jijik mendengar pembicaraan Alan yang sok akrab dengan Rosa dan sok perhatian sekarang.


Serena melihat kearah Stev yang menggepal tangannya menahan dirinya untuk tidak menyambar mengambil handphone Rosa untuk berbicara baik-baik dengan Alan, dengan sedikit caci makian mungkin.


"Benar kan yang mama bilang, klo dia mencoba merayu Rosa, padahal dia sudah punya tunangan. Begitu juga dengan Rosa. Apalagi klo bukan untuk bermain-main, karena dia tau Rosa punya rasa padanya dan ingin memanfaatkannya." Bagi Serena. Da seakan dapat mendengarnya, Stev mengangguk-angguk sambil melihat Serena juga.


Tentu saja Raymond yang melihatnya juga tau apa yang sedang terjadi antara dua orang itu. Bahkan tadi di rumah sakit saat Serena mendengar Alan dengan tidak tau malunya menggoda Rosa, bahkan memojoknya ke pintu, sehingga Rosa nggak bisa bergerak sama sekali. Dan itu sontak membuat darah Yakuza yang ada pada Serena seolah bangkit, bahkan Raymond sendiri kesulitan untuk menghentikannya.


"Ya, kami sudah sampai di rumah dengan selamat semuanya. Dan papa juga baik-baik saja, sekarang lagi duduk di ruang tamu berbincang-bincang." Jawab Rosa menjawab jujur.


"Oh baguslah klo emang gitu. Tolong bilang sama paman supaya jangan terlalu kelelahan terlebih dahulu dan jangan memaksakan diri juga untuk bekerja dengan keras."


"Hemmm, ok. Nanti Rosa sampaikan pada papa. By the way, why Alan brother calling me? Have some business with me?" Tanya Rosa blak-blakan kepada Alan.


Namun orang yang ditanya hanya diam saja, baru sesaat kemudian baru bicara lagi.


"Bukan apa-apa sih, hanya saja apa kamu lupa dengan makan malam yang kamu janjikan tadi di rumah sakit? Jangan bilang klo kamu melupakannya begitu saja sesudah berjanji. Nggak mungkin juga kamu hanyalah tipe orang yang mengumbar janji saja tanpa bertanggung jawab, kan?"


Perkataan Alan itu langsung membuat Rosa sontak terdiam, dia ingat emang benar klo dia yang menjanjikan itu. Tapi Rosa tadi hanya berpikir bagaimana bisa lepas dari Alan.


Stev mendengar tentang makan malam itu sontak membuang pandangannya kepada Serena seakan bertanya, apakah bagian itu juga ada? Dan Serena hanya mengangguk klo itu emang benar. Rosa menjanjikan makan malam untuk bisa lepas dari Alan yang tiba-tiba menggila menggoda Rosa.


"Maaf, kak. Sepertinya nggak bisa malam ini. Rosa lagi sibuk soalnya. Tadi ada pemberitahuan di group kuliah katanya sudah bisa daftar KRS, jadi harus gercep gitu, biar cepat kelarnya." Alasan Rosa yang emang itu bukan alasan yang dibuat-buatnya.


"Oh nggak bisa, ya. Nggak apa juga. Kuliah kamu lebih penting dan soal makan malam bisa kapan-kapan. Ya, kan?"

__ADS_1


"Ya, emang kakak yang paling ngerti deh. Thanks ya, kak. Klo gitu Rosa langsung tutup aja. Bye." Rosa langsung memutuskan pembicaraannya secara sepihak sepihak tanpa menunggu jawaban dari Alan, karena klo Rosa mendengarnya pasti akan lama lagi jadinya.


Rosa menghela nafas panjang saat sesudah memutuskan panggilan dengan Alan. Stev yang duduk di samping Rosa tau-taunya sedang melihatnya dengan mata berbinar.


"Kenapa kakak ngeliat Rosa gitu amat?" Tanya Rosa kepada Stev.


"Honey, kamu sangat keren saat memutuskan panggilan secara sepihak tadi. Benar-benar keren, hingga membuat kakak terpana terpesona akan kamu." Jawab Stev dengan jujur dan tak menghentikan menatap Rosa dengan mata sparkle-nya.


"Benar-benar selera yang aneh." Batin Rosa memikirkan kakaknya yang ternyata suka digituin. "Hemmm, ok lah. Klo emang kakak suka, nanti kapan-kapan klo kakak nelpon Rosa, juga akan matiin secara sepihak."


"Ehhh, jangan gitu lah, honey. Masa gitu, sih?" Protes Stev yang terkejut mendengar kata-kata adiknya.


"Tapi bukannya tadi kakak bilang suka? Bukankah itu keren?"


"Itu beda konsepnya, honey. Tapi by the way honey, kapan kamu janjian sama Alan si bre... dokter itu bukan makan malah." Ralat Stev sebelum kata-kata itu benar-benar terwujud.


"Tadi siang pas di rumah sakit. Nggak siang juga sih, pas Rosa masuk waktu kakak berangkat ngantor pagi tadi. Jadi pas Rosa hendak masuk, pas juga ketemu sama Kak Alan. Dia menahan Rosa untuk masuk, maksudnya menghentikan Rosa untuk masuk. Jadinya Rosa janjiin deh buat makan malam supaya Kak Alan melepaskan Rosa." Terang Rosa yang nggak mengatakan bagaimana cerita sebenarnya terjadi.


"Lhah trus kenapa ditolak? Bukannya bagus kamu nggak menelpon Nak Alan lagi buat kamu kabarin?" Tanya Serena juga ikut nimbrung.


"Nggak deh, ma. Lagi malas juga Rosa hari ini, lagi mager. Lagipula juga harus daftar KRS itu, banyak kali biodata yang harus di upload, kena scan lagi, biar jelas nampaknya." Tutur Rosa mencari alasan. Padahal ada tidak adanya pengisian KRS itu, Rosa juga nggak berencana untuk makan malam dengan Alan malam ini.


"Tapi, sayang. Bukannya kamu suka ya keluar malam-malam? Sampai-sampai kamu mendesak kakak kamu hampir tiap malam untuk jajanan gitu." Kata Raymond yang juga ikut menyahut.


"Si non mah kenapa males? Nggak biasanya. Ada apa ini emangnya?" Tanya bibi yang sampai dengan nampan yang berisi kopi, teh dan juga susu coklat.


"Ini bi, Rosa tadi dapat telepon dari Alan, ngajak makan malam. Tapi Rosa-nya nolak karena lagi malas katanya." Jawab Serena sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Bibi Salma.


Bibi Salma yang paham akan situasinya dan juga mengetahui kebenaran yang dahulu itu mengangguk. Sesudah meletakkan kopi dan yang lainnya pun Bibi Salma berpendapat.


"Datang aja non, bukannya non bisa bersenang-senang? Lagipula si bibi liat si non mah sedang nggak mood sekarang. Jalan-jalan dan makan-makan bagus lho buat memperbaiki mood, non. Coba aja non." Bujuk Bibi Salma kelada Rosa, dan sepertinya itu berpengaruh.


"Iya, honey. Dilansir dari ensiklopedia jalan-jalan dan makan itu efektif untuk memperbaiki mood. Jadi sekarang kamu telepon balik si Alan bre... itu, bilang klo kamu bisa makan malam hari ini. Ayo cepat, nunggu apa lagi, cepat telepon balik." Bujuk Stev juga yang ngedukung Rosa untuk makan malam dengan Alan.


"Aneh." Satu kata keluar dari mulut Rosa sambil memicingkan matanya menatap kakaknya. Entah kenapa kakaknya seakan punya niat tersembunyi. "Nggak panas." Kata Rosa sambil menempelkan tangannya di dahi Stev.


"Iya emang nggak panas lah, honey. Kan kakak nggak sakit." Ujar Stev yang memindahkan tangan Rosa dari dahinya.


"Iya, telepon balik aja, sayang." Jawab Raymond saat Rosa melihat kearahnya.


"Telepon balik honey."

__ADS_1


"Non, telepon balik aja non. Masa si non yang biasanya pemberani jadi ciut gitu." Provokasi Bibi Salma dengan sangat natural.


"Iya, kamu kan juga bisa kasih undangan secara langsung buat Nak Alan?" Tambah Serena yang mengingatkan Rosa tentang undangan pernikahannya itu. Yang dalam tasnya masih kesisa 2 undangan lagi.


"Undangan apa, ma?" Tanya Stev bingung.


"Undangan pernikahan lho, Stev. Klo nggak ada undangan gimana berani orang datang ke pernikahan kita." Jawab Serena mengangguk-angguk pada Stev.


"Ahhh iya honey. Sekalian kasih undangan juga. Bukankah itu momentum yang bagus?"


"Iya sih itu emang momentum yang bagus. Hanya saja..."


"Udah, emang udah pas itu. Sini telepon kamu biar kakak yang telepon sekalian kakak bilang klo kamu bisa." Potong Stev yang langsung mengambil handphone Rosa dati tangannya dan mengontak Alan.


"Jangan gitu lah kak. Masa kakak mengganggu privasi orang." Protes Rosa hendak mengambil balik handphonenya dan memutuskan sambungan, namun Alan sudah keburu menjawabnya.


"Halo, Rosa. Ada apa lagi?" Tanya Alan dari balik telepon.


"Jawab! Jawab, honey. Bilang klo kamu bisa." Bisik Stev terus mendesak Rosa.


"Halo..., halo Rosa. Kamu disana?" Alan kembali bertanya karena Rosa nggak menjawab-jawab juga.


"Gini..." Suara Stev, namun Rosa langsung membungkam mulut Stev.


"Rosa bisa sendiri, kak. Kakak diam dan jadi pengamat aja." Bisik Rosa pada Stev sambil mengencangkan cengkraman di mulutnya Stev. Baru setelah Stev mengangguk Rosa melepaskannya.


"Gini, kak. Jadi ya kita makan malam untuk malam ini. Setelah Rosa pikirin lagi, nggak lama juga buat ngedaftar KRS itu. Palingan juga bentar aja. Jadi lebih baik nggak tunda lagi untuk makan malam bersama kakak. Lagipula udah beberapa kali Rosa nggak jadi-jadi buat makan malamnya, cuma plan doang." Bohong Rosa dengan sangat natural.


"Mantap honey, kamu emang ratu akting yang sangat menjanjikan." Bangga Stev dalam hatinya.


"Benarkah kamu bisa malam ini? Tapi kamu udah bilang sama orang tua kamu juga sama kakak kamu, kan? Jangan nanti mereka nggak tau pula."


"Udah kak. Aman itu."


"Hemm, ok. Kamu siap-siap aja, nanti kakak jemput bentaran lagi. Kakak juga akan siap-siap dulu. Bye."


"Bye juga. Sampai ketemu nanti di rumah Rosa."


"Ok, bye."


Rosa langsung mematikan teleponnya. Klo tadi Rosa mendapat mata sparkle dati Stev. Kini dia dapat pelukan yang mencekik lehernya dati Stev.

__ADS_1


"Kak, kakak ini apa-apaan sih? Bisa mati tercekik Rosa klo kayak gini." Kata Rosa sambil mencoba melepaskan pelukan mematikan Stev.


Stev melepaskan pelukannya dn memuji Rosa. "Honey, kamu sangat hebat, sangat keren. Berbohong aja sangat natural kamu honey, sangat elegan. Pokoknya keren abis."


__ADS_2