
Setelah kepergian Rosa, Alan masih saja terdiam terpaku menerima undangan dari Rosa tersebut. Tak disangkanya klo hari itu ternyata datang juga, hari yang emang Alan sendiri klo itu akan datang. Hanya saja Alan tak menyangka klo caranya akan seperti ini dan secepat ini. Cara yang paling menyakitkan, yaitu dengan alasan makan malam dan juga undangan ekslusif dari sang empu sendiri.
Pandangan Alan menjadi kosong, berbagai slide tentang masa lalu yang indah kenangan mereka terlampirkan dalam otaknya, bahkan sampai akhirnya bayangan tentang bagaimana dia menghina Rosa juga terlintas dalam pikirannya, dan sungguh, mengingatnya sekarang, itu membuatnya sesak.
Kenapa dia bisa salah menganggap Rosa sebagai seorang penggoda? Hal yang pada akhirnya keluarlah berbagai lontaran makian dan hinaan dia tambatkan pada Rosa, dan kini Alan menyayangkan kebodohannya itu, meskipun pada dasarnya dia amnesia.
“Ya, penyesalan itu selalu datang terlambat, dan itu sudah menjadi kodrat alam seperti itu. Hemph, mana mungkin penyesalan datangnya diawal, klo diawal pasti pendaftaran namanya." Alan tersenyum meremehkan pada dirinya sendiri, mengingat dirinya yang begitu bodoh itu. "Salahku sendiri juga yang tak bisa mengenal orang yang ku cintai, padahal dia sudah berusaha untuk memperkecil jarak diantara kami, tapi justru aku yang mendorongnya menjauh dariku, bahkan aku membangun tembok besar Cina diantara kami. Ya, kini aku menyesalinya, Rosa. Sayang sekali meskipun aku seorang dokter bedah termuda di departemen ku, dan bahkan paling hebat, tetap saja, aku nggak bisa menyembuhkan penyakit penyesalan ini. Andai waktu bisa ku putar dan ku ulang kembali, akan ku pastikan aku nggak mungkin salah mengenalmu, Rosa.” Ucap Alan sambil memperhatikan undangan pemberian Rosa padanya.
Alan terus memperhatikan undangan itu, andai jika kecelakaan itu tidak terjadi dan dia tidak hilang ingatan. Tidak, bukan itu. Andai saja Alan tidak salah dalam mengenali orang yang dicintainya, mestinya namanya sekarang yang menjadi sandingan nama Rosa di undangan itu. Begitulah pikiran Alan saat ini yang sedang berkecamuk dalam dirinya.
“Betapa, membayangkannya saja sudah indah. Namun takdir malah berkata lain. Tidak, haruskah aku menyalahkan takdir yang kejam akan hubungan kami atau semua ini karena diriku yang tidak menghargainya dulu? Siapa yang harus ku salahkan? Takdirkah? Atau diriku yang kurang beruntung dan juga bodoh?” Tanya-tanya batin Alan frustasi, bahkan makanan enak saja menjadi tak enak untuknya sekarang ini.
Namun sesaat kemudian Alan ingat, tujuan awalnya mengajak Rosa untuk makan malam dan ketemuan, bahkan dia menyetujui untuk datang ke tempat yang mewah seperti ini, hanya karena Alan ingin memberi sebuah kabar gembira pada Rosa, tapi malah didahului oleh Rosa terlebih dahulu, dan memanfaatkan momentum itu.
Alan datang karena dia ingin memberi tau Rosa tentang sebuah kabar gembira. Alan ingin mengatakan pada Rosa klo dirinya sekarang sudah ingat semuanya, segalanya tentang mereka. Alan ingin membagikan kabar gembira itu pada Rosa. Meskipun dia merasa tebal muka dan tak tau malu padahal dulunya dia menghina dan memaki Rosa karena Rosa hanya ingin Alan ingat akan masa lalu mereka. Tapi dia tetap mau memberitahu Rosa akan hal itu.
Alan tau klo dirinya itu egois, namun Alan tetap mau bertaruh pada sisa waktu yang begitu mepet itu. Sebelum janur kuning melengkung, maka dia masih punya hak untuk mengejar Rosa. Bahkan Alan tak takut dan tak gentar meski harus melawan orang tua Rosa, asal Rosa sendiri setuju akan hal itu. Orang tua saja tak takut untuk Alan lawan dan bantah, apalagi Reyhandra yang masih bernotabene sebagai tunangan, merupakan kekasih yang akan menjadi suaminya Rosa, orang yang Rosa temui di meja perjodohan itu.
Alan segera bangkit dari kursi duduknya dan menyambar jasnya yang dilepaskan kemudian langsung berlari kearah lift untuk mengejar Rosa. Dengan secercah harapan dan juga rasa percaya diri yang tinggi terpampang di wajahnya, Alan bertekad klo dia harus memberi tau Rosa akan hal itu.
Sesampai didepan lift, Alan dengan tak sabarannya menekan angka di lift, dia harus turun ke lantai satu untuk mengejar Rosa, namun lift juga tak kunjung terbuka di depan dirinya.
“Sepertinya lift sedang beroperasi di lantai lain, ya?” Batin Alan sambal memperhatikan jam tangannya. “Aku tidak bisa terus menunggu seperti ini, setiap detik itu berharga sekarang.”
Alan beralih ke opsi yang lain, dia mendekati pelayan yang ada disana dan menanyakan apakah liftnya masih lama. Dan si pelayan menjawab ya, klo lift ke lantai satu masih lama, karena barusan ada pemilik hotel datang dan dia ingin meninjau hingga ke seluruh lantai, dan sekarang lift sedang beroperasi di lantai paling atas.
“Apakah itu masih lama untuk kembali turun ke lantai satu?” Tanya Alan lagi pada si pelayan dengan tergesa-gesa.
“Ya, ini masih lama. Jika emang lagi penuh orang ini mungkin butuh waktu sampai 3 menit, karena para staff dari dapur kami di lantai lain juga beroperasi melalui lift untuk mengantarkan segala keperluan pelanggan kami. Dan jika emang Anda beruntung mungkin ini akan datang sesaat lagi.” Jelas si pelayan lagi.
“Tapi bukankah ini adalah hotel mewah? Kenapa bisa-bisanya kalian kekurangan fasilitas seperti lift ini sih?” Tanya Alan dengan sedikit ngengas.
“Maaf, tuan. Tapi begitulah adanya struktur dari hotel kami. Mungkin klo dilantai lain, bisa memiliki dua sampai tiga lift, namun dilantai 2 untuk turun ke lantai satu kami hanya punya satu lift ini saja. Karena mengingat nggak begitu banyak pelanggan. Dan kebetulan bos kami yang baru datang meninjau restoran lantai dua kami alias area VIP, dan kemudian dia ingin meninjau lantai lainnya juga, dan satu-satunya jalan untuk mengaksesnya adalah melalui lift ini.” Terang si pelayan itu tetap tenang.
“Sial! Tapi aku harus cepat, sebelum Rosa benar-benar pergi.” Batin Alan yang jelas-jelas dari raut wajahnya itu menyuratkan kepanikan yang tiada tara. Dan sesekali Alan melihat jam tangannya.
Kaki yang bergerak-gerak seakan-akan langsung ingin berjalan lari begitu lift terbuka, tidak kasih kesempatan untuk orang lain terlebih dahulu, karena urusannya begitu mendadak. Ini adalah urusan hidup dan mati, urusan yang berkenaan dengan orang yang akan menemanimu hingga akhir hayat. Alan Kembali melihat jam tangannya, padahal batu beberapa detik yang lalu Alan menatapnya, namun bagi Alan itu sudah berlalu seakan-akan beberapa menit.
Si pelayan yang melihat Alan terus memperhatiakan jam tangannya, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan pada Alan. “Maaf tuan, saya lancang untuk bertanya pada tuan. Saya perhatikan tuan terlihat sedikit terburu-buru, karena Anda terus memperhatikan jam Anda. Apakah saya benar, tuan?”
“Ya, aku memang sedang terburu-buru. Dan sialnya lift sialan ini sedang nggak bisa berfungsi seperti yang diharapkan.” Maki Alan dua kata makian sekaligus. Hal yang merupakan barang yang super langka untuk di dengarkan dan didapati dari seorang Alandri Wijaya.
Si pelayan tetap tersenyum ramah meskipun dalam hatinya dia hanya bisa terbengong-bengong. “Tuan ini sangat pandai mengupat dan berbicara toxic, bahakan dua kata sekaligus dalam satu kalimat.” Batin si pelayan itu berkeringat dingin, karena mengingat posisi Alan sekarang adalah sebagai salah seorang tamu VIP mereka, bisa-bisanya mereka mendapatkan rating jelek dalam masalah bidang pelayanan, dan itu imbasnya untuk mereka yang bekerja sebagai pelayan yang memenuhi kebutuhan sang pelanggan.
“Tuan, jika Anda tak keberatan saya kasih saran, klo emang Anda emang terburu-buru sekali, Anda bisa menggunakan tangga disebelah sana untuk mempercepat gerakan Anda ketimbang Anda menunggu lift ini datang.” Aju si pelayan memberikan saran pada Alan sambal menunjukkan arah dimana tangga itu berada.
“Ah, iya juga, ya. Kenapa aku nggak kepikiran dari tadi. Nggak ada lift tangga pun jadilah. Yang penting urusan mendadak terlebih dahulu. Terima kasih ya, atas sarannya.” Ucap Alan yang langsung berlari kearah tangga yang ditunjukkan oleh si pelayan.
__ADS_1
“Sama-sama tuan. Tuan, jangan lupa memberikan rating Bintang lima untuk pelayanan kami, ya.” Kata pelayan pada akhirnya tetap pada pekerjaannya, namun orang yang dimintainya itu malah tidak mendengarnya, karena keburu lari dengan semangatnya.
Si pelayan hanya bisa menghela nafas capek, karena mendapatkan seorang pelanggan seperti itu. Meskipun itu sudah biasa dia mendapati hal seperti itu bahkan ada yang lebih parah dari itu, tapi baru kali ini si pelayan mendapatkan orang yang bisa sepanik itu, bahkan seterburu-buru itu, bahkan hanya karena hal sepele itu saja membuatnya sulit untuk bernafas mengambil oksigen yang sama, apalagi itu adalah seorang tamu VIP, yang dijunjung tinggi martabat dan uangnya, maksudnya adalah jabatan yang dimilikinya.
Alan langsung menuju ke tempat parkiran, tempat dia memarkirkan mobilnya. Namun di teringat nggak mungkin juga Rosa ke tempat parkiran karena dia nggak membawa mobil. Lalu Alan mengubah tujuannya menuju jalanan, karena opsi Rosa dia pasti akan mencari taksi untuk pulang.
Alan membuang pandangannya ke setiap pejalan kaki yang ada di sekitar jalanan. Dia menyapu bersih setiap wanita yang lewat, dia terus mencari wanita yang berpakaian merah dengan jas hitam, karena itu adalah dresscode Rosa mala mini. Namun sayang orang yang dicarinya tetap nggak dia temui. Alan terus berjalan dan mencari, tapi yang seorang Rosa dia tetap tidak mendapatinya.
“Sebenarnya kemana kamu, Rosa? Kumohon, dimana kamu sekarang? Apakah sudah terlambat bagiku untuk tetap denganmu? Bahkan tidak adakah kesempatan bagiku untuk menyampaikan ini lagi padamu?” Keluh Alan pada dirinya sendiri, tapi dia seakan sedang berbicara dengan Rosa.
Alan tak mau dulu berpatah semangat. Karena dia Rosa masih ada di sekitar sini. Feelingnya yang berkata demikian. Namun klo dimasuk akalkan lagi nggak mungkin juga Rosa akan dengan sangat mudah untuk mendapatkan taksi, karena memikirkan malam yang sudah hampir mencapai dini hari. Malam dimana merupakan perbatasan untuk memulai esok hari yang baru.
“Kecuali jika dia memang sudah memesan taksi sebelum-sebelumnya.” Batin Alan pada dirinya sendiri. “Tapi itu tidak mungkin, karena aku selalu memperhatikan Rosa selama dia bersamaku. Rosa nggak pernah memegang handphonenya, bagaimana bisa dia memesan taksi, nggak mungkin juga kan Stev dari rumah yang memesannya untuk menjemput Rosa.” Alan terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, walaupun itu terasa konyol. “Nggak, Rosa masih ada di sekitar sini. Aku yakin itu.” Kata Alan optimis pada dirinya sendiri.
Alan terus mencari Rosa menelusuri sekitar jalan hotel, kemungkinan dimana Rosa bisa menunggu dan mendapatkan taksi. Dan tak ayal pula bagi Alan untuk bertanya pada orang-orang sekitar yang lewat dengan memperlihatkan foto Rosa yang ada dalam ponselnya, foto yang emang Rosa kirim padanya untuk membangkitkan ingatan Alan tentang kenangan mereka berdua.
“Maaf, apakah Anda ada melihat gadis ini yang lewat sekitaran sini? Mungkin barang 10 menit yang lalu?” Tanya Alan pada pejalan kaki yang lewat di depannya.
“Maaf mas, saya nggak ada liat.” Jawab orang yang ditanya Alan itu.
Alan hanya bisa berterima kasih walaupun tanpa informasi yang berarti. Dan kemudian melanjutkan bertanya pada orang berikutnya yang lewat di sekitarnya. Dan kali ini pada sepasang sejoli yang lewat di depannya.
“Maaf, apakah kalian ada melihat gadis ini?” Tanya Alan memperlihatkan foto Rosa.
“Kau ada melihatnya, sayang. Klo aku nggak ada.” Jawab si lelaki dan menanyakan pendapat kekasihnya itu.
“Coba diingat-ingatkan lagi, dia memakai dress warna merah juga pake jas warna hitam. Dia juga dia sangat can….”
“Maaf mas, tapi kami benar-benar tidak melihatnya. Mas ini gimana sih? Pacar aja bisa hilang dari tangan sih mas? Harusnya mas rangkul dia dan genggam dia baik-baik lah mas. Kan nggak kayak gini jadinya mas harus mencari-carinya seperti ini. Ini kota Jakarta mas, penuh dengan lautan manusia, sangat sulit untuk mencarinya. Klo mas mau bilang tadi pacar mas itu cantik, tapi bagi saya pacar saya lah yang paling cantik mas. Baiklah klo gitu mas, mas silakan lanjut mencarinya lagi, karena kami harus melanjutkan kencan kami. Semoga mas segera bertemu dengan pacar mas itu, dan kemudian jangan pernah melepaskan genggamannya itu, atau mas bear-benar akan kehilangannya.”
Nasihat laki-laki itu pada Alan dan itu sontak membuat Alan hanya bisa terpaku dan mendiam, karena ya benar, dia benar-benar kehilangan Rosa karena sudah terlepas genggamannya. Bukan orang lain yang memberaikan mereka namun inisiatif Alan sendiri yang melepaskannya.
“Ahh iya. Makasih ya mas. Maaf mengganggu kencan Anda dan pasangan Anda.” Kata Alan lirih.
“Ok, sans aja bro. Lo pasti akan segera menemukan dia klo emang dia jodohmu. Semoga berhasil, good luck and fighting!” Kata laki-laki itu menepuk bahu Alan dan kemudian langsung pergi dengan kekasihnya.
Setelah kepergian sejoli itu dan Alan hanya bisa memandang punggung mereka dari belakang, Alan Kembali teringat dengan kata-kata laki-laki itu supaya untuk terus menggenggam tangan pasangannya itu jangan sampai lepas, tapi Alan malah melepaskannya.
Bukan sekedar melepaskannya, namaun dia juga menyakiti perasaan orang yang dicintainya itu dan setelah semua yang terjadi dia menyadarinya dan dia menyesal. Namun apakah dia masih bisa memperbaiki nasi yang hampir menjadi bubur itu? Apakah masih sempat baginya untuk mematikan kompor sebelum bubur itu benar-benar berwujud?
“Ya, tak seharusnya aku melepaskan tangannya yang bahkan dia merespon balik tanganku. Namun sayang, aku dengan bodohnya malah menyentak tangan itu dengan tanganku sendiri.” Kata Alan pada dirinya sendiri dengan suara lirih lalu dia mendongak ke langit malam yang penuh dengan gemerlapan Bintang dan bulang purnama yang terang. “Rembulan, kejora, jawablah. Bukankah kalian menjadi pengahantar rindu? Klo begitu sampaikanlah rinduku ini, klo aku benar-benar merindukannya dan menyayangkan kepergiannya dari sisi hidupku. Aku menginginkan dia, oh kejora. Menginginkan dia Kembali ke sisiku seperti sediakala.” Curhat Alan pada sang langit yang penuh panorama bintang dan rembulan itu.
Lalu Alan kembali memfokuskan dirinya untuk mencari Rosa, karena dia yakin Rosa masih ada di sekitaran sini, hanya saja dia tidak mengetahui lokasinya dimana. Dan Alan kembali lagi bertanya pada orang yang lewat di sana.
“Maaf apakah Anda ada melihat gadis i…”
“Gadis apaan sih lagi? Sudah 2 orang laki-laki yang kehilangan wanitanya sendiri. Emangnya kalian para lelaki nggak becus apa untuk menjaga bini kalian? Bisa-bisanya kalian menghilangkannya. Aiiisssh, benar-benar ya anak laki-laki zaman sekarang ini, nggak ada yang benar satupun. Bisa-bisanya mereka kehilangan tulang rusuknya itu. Aduhhh, benar-benar…” Merepet wanita yang sepertinya berkisar kepala 4 itu langsung memotong pembicaraan Alan, padahal pertanyaanya itu belum lengkap. Dan kemudian wanita itu langsung pergi melewati Alan sambil terus merepet sendiri.
__ADS_1
Itu otomatis membuat Alan bingung, kenapa wanita hampir paruh baya itu langsung merepet, tapi kemudian raut wajah Alan menjadi sendu lagi, karena lagi-lagi yang mereka katakan itu benar. Meskipun Alan nggak sampai hilang tulang rusuknya, tapi Alan telah kehilangan belahan jiwanya. Tidak, dia menghilangkannya, bahkan dia memberikannya pada orang lain meskipun secara tidak langsung.
Tapi itu segera hilang dari pikiran Alan. Fokusnyablebih ke kata-kata wanita barusan itu. Sudah dua orang yang mencari Rosa? Bukan, sudah dua orang kehilangan gadis mereka? Kenapa bisa itu terjadi?
“Kenapa ini begitu bersamaan dengan aku yang mencari Rosa, hanya saja beda periodenya dengan aku yang mencari Rosa. Tapi klo dipikirkan dengan Rosa yang keluar dari restoran, itu begitu pas. Apa mungkin ada orang lain yang mencari Rosa selain aku? Tapi…, siapa?” Pikir Alan bertanya-tanya. Namun sesaat kemudian Alan menangkis pikirannya itu.
“Mana mungkin orang itu juga kebetulan mencari Rosa, bisa jadi saja kan mereka juga kehilangan wanita mereka saat mereka sedang kencan. Kau ini mikirin apa sih, Alan? Nggak logis banget, ini tidak seperti dirimu. Jadi, mari kita fokus mencari Rosa saja, karena itu lebih important saat ini.”
Alan langsung melanjutkan langkahnya untuk mencari Rosa, namun suara ponselnya berdering, dan itu merupakan panggilan darurat dari rumah sakit. Karena ada pasien yang tidak bisa ditangani oleh dokter lain, karena ini adalah kasus darurat dan membutuhkan operasi langsung. Yang mana Alan sebagai ketuanya, orang yang lebih memahami tentang hal itu harus ada di sana.
“Baik, aku akan segera kesana sekarang juga. Tolong langsung persiapkan ruangan operasinya dan alat-alatnya. Aku akan segera sampai di sana dalam 10 menit. Karena aku sekarang juga sedang diluar. Oh ya, harap dipercepat, karena sesampainya saya di sana kita akan melangsungkan operasinya.” Perintah Alan pada orang dibalik telepon itu.
Sambungan telepon terputus, Alan langsung menyimpan ponselnya dalam sakunya. Lalu Alan membuang pandangannya ke sekitar lagi, karena dia masih berharap untuk bisa menemui Rosa dan terus mencarinya. Tapi dia nggak bisa, karena mau gimana pun, sebagai seorang dokter, fokus utama Alan itu tetaplah seorang pasien.
“Maaf, Rosa. Sekarang aku harus pergi, karena itu begitu mendesak, mungkin besok, saat kita bertemu lagi, aku akan memberi tahu kabar gembira ini padamu.” Kata Alan lirih, dan kemudian langsung berlari ke tempat dia memarkirkan mobilnya dan kemudian melesat di jalan raya menuju ke rumah sakit.
...***...
Rosalyn POV
Aku keluar dari restoran itu langsung menuju ke tempat pedagang kaki lima, dimana mereka mendirikan gerobak mereka. Jajanan ringan malam hari. Itu seribu kali lebih enak daripada dinner di restoran mewah tadi. Aku menyapu pandanganku, menuju tempat mana yang akan ku tuju, jajanan apa yang harus ku beli, karena hampir semuanya itu menggoda imanku untuk mencicipinya.
Pertama aku menuju ke gerobak pentol telur khas Madura, dan membelinya 10 ribu. Ini benar-benar sangat enak apalagi dipadukan dengan saus manis yang makim menggugah selera, ini lebih baik dari makanan restoran itu yang menguras dompetku. Untung aja laki-laki coklat rumah sakit itu mengaku sebagai manajer restoran itu dan kan membayar tagihannya untukku sebagai wujud ganti rugi keterkejutan mentalku.
“Aku nggak salah bilang, kan? Emang iya, mentalku benar-benar terluka gara-gara laki-laki brengsek tadi. Tapi btw, pentolan ini benar-benar sangat enak. Ini bahkan lebih enak dari steak tadi yang bikin aku sakit perut, walaupun bukan steaknya sih yang bikin sait perut, hanya saja itu canggung sekali, hingga makan pun jadi nggak enak, apalagi pas panel bagian akhir, itu benar-benar bikin deg-degan banget. Tapi syukurlah itu berakhir dengan lancar, meskipun aku lari di bagian terakhirnya.” Batinku memikirkan bagaimana aku pergi dari restoran itu terakhir kali, saat menyerahkan undangan pernikahan itu pada Kak Alan.
Tapi sesaat kemudian aku jadi ingat kata-kata kakak, klo aku harus keluar dengan elegan. Seakan aku yang memutuskan dia, bahkan aku harus menunjukkan wajah yang begitu puas karena aku telah terbebas dari dia. “Tadi…, aku nggak kabur kan sesudah menyerahkan undangan itu?” Tanyaku pada diriku sendiri.
Jujur aku sudah lupa bagimana kronologinya, karena saat aku akan membayar billnya, begitu banyak rentetan peristiwa sejarah yang terjadi. Jadi aku sudah melupakannya, apalagi sekarang pentolan makanan ini benar-benar enak.
Aku harus pulang, namun belum ada satupu taksi yang lewat. Jadi terpaksa aku harus menunggunya. Namun sebelum taksi benar-benar lewat, aku harus terlebih dulu membeli sate ayam bumbu kacang di seberang. Aku melihatnya barusan, aku nggak boleh sampai melewatkan ini. Karena jarang-jarang aku memakannya sekarang. Klo pun aku mengajak kakak keluar, sekarang dia lagi punya banyak pekerjaan, karena ayah yang harus dirawat inap selama beberapa malam di rumah sakit, jadi itu mengharuskan kakak untuk menghandlenya.
Aku sampai di depan gerobak penjualnya, dan melihat menu yang tertera di gerobaknya. Itu keihatannya semuanya enak. Namu tiada yang lebih enak daripada paket komplit, itu yang paling sempurna, harganya juga terjangkau, yaitu hanya 15 ribuan saja. Paket komplitnya itu adalah sate ayam bumbu kacang lengkap dengan ceker ayan yang sudah diolah dengan bumbu yang segitunya, hingga itu akan sangat enak jika disantap.
“Bang, sate ayamnya yang paket komplitnya dua porsi, ya!” Kataku memesan menunya.
“Mau dibungkus atau makan disini aja, mbak?” Tanya penjual itu lagi.
“Makan disini aja, dan untuk minumnya saya pesan es lemon tea aja. Ok, itu aja.”
“Baik, mbak. Tunggu bentar, ya. Tapi mbak, mbaknya kok makannya banyak banget sih? Mau mukbang ya mbak? Tapi klo pun mau mukbang, biasanya orang-orang juga palingan mesannya hanya satu porsi paket lengkap aja. Saya benar-benar nggak nyangka si mbak meskipun kurus begini badannya tapi makannya banyak juga, ya. Belum lagi makanan yang ada di tangan mbak aja belum habis tu!” Komentar si penjual itu yang seketika itu membuatku terdiam.
“Eee.. ehhh, jangan sembarangan kamu. Mana mungkin aku saggup menghabiskan itu sendiri, aku datangnya sama kawan aku, kok. Mana mungkin gadis seideal aku makannya kayak orang ndut-ndut gitu sih. Ngadi-ngadi aja kamu.” Belaku sendiri dengan gelagapan, walaupun itu tidak terlalu terlihat.
Namun kata-katanya itu benar-benar melukai hati nuraniku, karena itu emang benar adanya klo aku emang banyak makan dan sanggup untuk menghabiskan ini seorang diri. Namun aku nggak berani bilang klo aku lebih dari sanggup untuk menghabiskan ini semua, bahkan kekurangan.
"Kan nggak mungkin banget aku blang gitu, kan?” Aku hanya bisa beralasan seperti itu, nanti klo emang aku sudah menghabiskan satu porsi, aku langsung makan aja lagi. Dan bilang klo kawanku nggak jadi pergi dan sudah pulang karena satu hal dari banyak hal. “Ya, itu alasan yang sempurna.” Angguk ku sambil tersenyum bangga, ternyata aku begitu pintar.
__ADS_1
“Iya, mana mungkin gadis kecil seperti ini mampu mengabiskan dua paket komplit dari sate ayam ini. Benar-benar nggak masuk diakal.” Komentar suara seseorang yang terasa sangat familiar di telingaku dan aku langsung membalikkan badanku untuk memastikannya dan ini benar-benar orang itu. Benar-benar menghantuiku, kenapa dia ada dimana-mana, sih???