Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 43 : One by One


__ADS_3

Rosa berjalan dengan semangat sambil menenteng bekal makan siang buat kakaknya, Stev. Namun ditengah jalan, ditempat parkiran bawah Rosa malah ketemuan sama Alyana yang sedang menyalakan motornya.


"Alyana! Yana!!!" Panggil Rosa menghentikan Alyana yang sedang memakai helmnya. Alyana menoleh ke belakang dan itu adalah Rosa.


"Rosa, lo disini juga." Kata Alyana kepada Rosa, karena Rosa langsung berlari ke tempat Alyana, sesudah melihat klo itu adalah benar-benar Alyana, dan nggak salah orang.


"Iya, mau nganterin Kak Stev bekal makan siang. Kamu sendiri ngapain di sini?" Tanya Rosa balik kepada Alyana.


"Biasa, anak rantau kayak gue ini, yang demi bisa makan hidup sehari-hari, jadi gue kerja paruh waktu deh di tempat ayam geprek. Kan gue juga nggak bisa terus dan segalanya mengharapkan sama uang beasiswa kuliah. Bisa-bisa putus kuliah gue klo kayak gitu."


"Ya, aku paham kok. Kamu bela-belain datang ke Jakarta buat jadi dokter psikolog yang sukses. Jadi lo harus sukses, kan? Jadi gue paham klo lo bekerja kayak gini, untuk meringankan beban orang tua kamu di Medan, kan? Apalagi orang tua mu juga harus menanggung biaya adik-adikmu juga." Tutur Rosa dengan lembut menepuk-nepuk bahu Rosa.


"Gue pikir, lo bakal malu gitu karena bersahabat orang kayak gue ini." Imbuh Alyana lagi yang berakting pura-pura sedih, dan soal Alyana di terharu akan perkataan Rosa itu adalah sungguhan.


"Nggak lah, aku malah suka bisa bersahabat dengan orang yang bekerja keras kayak kamu. Aku salut sama kamu bisa sekolah SMA dengan beasiswa di Jakarta, bahkan kuliah juga di Universitas ternama lho. Benar-benar salut akunya, emang sahabat aku." Rosa mengacungkan jempolnya kepada Alyana sambil tersenyum tulus.


"Apaan sih lo? Tapi gue tetap aja kalah saing sama lo ma sama si kembar juga pas dikelas. Nggak pernah gie dapat peringkat 3 besar, selalu aja 4 besar. Emang ya si Einstein jenius gue ini. Encer banget otaknya." Kata Alyana dengan julid kepada Rosa.


"Nggak ah, ketimbang jadi Einstein, aku jadi kayak Habibie aja, lebih tinggi iq-nya dia lho ketimbang Einstein." Bantah Rosa yang membenarkan perkataan Rosa.


"Tapi tetap kan Einstein itu yang terpintar pada masanya. Tapi pas kuliah nanti, kamu ngalah lah dikit sama sahabatmu ini, biar beasiswa aku nggak dicabut nanti. Nggak kasihan lo liat gue kayak gini?" Bujuk Alyana pada Rosa.


"Bisa dipertimbangkan."


"Nggak usah dipertimbangkan lagi itu. Udah emang pas kali itu. Klo soal si Lilis, aku nggak terlalu khawatir gitu, dia mah cewek putri, beda gitu, kan?" Tutur Alyana yang mengejek sahabatnya itu karena kebiasaan Lilis yang suka dandan ala tuan-tuan putri panjang rambut gitu.


"Hemmm, ya lah tu." Jawab Rosa nggak tau berkata apa-apa. Mau gimana pun keduanya adalah sahabatnya, jadi lebih baik Rosa diam saja. Biar dia yang jadi tengahnya saja, ketimbang malah berat sebelah.


Oh ya, Sa. Gue nggak bisa lama-lama nih ngobrolnya. Bisa-bisanya nanti aku malah kena marah nanti karena terlalu lemot.Tapi btw, karena lo udah disini ketemu sama gue nih kan. Mungkin kita cukup berjodoh kan gitu, ya. Jadi gue mau promosiin nih, tempat warung ayam geprek gue kerja. Namanya tu 'ayam geprek cerita kita', jangan lupa mampir, ya. Untuk lo gue kasih pelayanan khusus, tapi ininya juga harus khusus, ya?" Kata Alyana sambil memperagakan uang dengan tangannya.


"Bisa aja kamu ini, yah? Ku kira bakalan ada diskon, ehhhh, taunya malah harga khusus mencekik kawan, bukan membantu kawan."


"Ya kan secara gue udah layaninya secara khusus. Jadi wajar ding klo harganya juga khusus. Gue langsung cabut, ya? Banyak lagi ini pesenan, karena emang orang kantoran tu lagi sedang memasuki ham makan siang." Kata Alyana yang hendak memutar balik motornya, karena dia memang sedang terburu-buru.


Saat Alyana sedang memutar balik motornya, Rosa pun keingat soal undangan pernikahannya yang ada di tangannya. Orang yang ingin Rosa undang secara khusus.


"Al, tunggu dulu. Ada yang mau ku kasih." Seru Rosa menghentikan Alyana.


"Lupa kasih gue duit, ya? Oh...siniin aja, cepetan. Klo duit mah gue terima dengan senang hati."


"Bukan duit. Apaan sih kamu ini? Asyik duit aja mulu dalam pikiranmu itu."


"Kan klo sekarang klo nggak da duit kagak bisa hidup kita. Kayak nggak tau aja sih, lo." Kata Alyana si paling paham tentang ekonomi, karena secara dia adalah anak dalam rantauan kota orang. Jadi secara otomatis dia butuh banyak uang, apalagi karena kondisi ekonomi keluarganya Alyana.

__ADS_1


Rosa merongoh tas selempangnya dan mengeluarkan undangan pernikahannya dan memberikan kepada Alyana.


"Jangan lupa datang, ya." Pinta Rosa dengan tulus. "Kamu orang penting bagi aku, karena kamu sahabat aku."


"Datang apaan sih lo? Kagak jelas amat. Oh..., makan malam gratis, ya? Tau aja lo klo gue suka tempat kayak ginian." Tutur Alyana dengan wajah yang berseri senang.


"Baca dulu, Al. Baru ngambil kesimpulan."


Alyana membaca undangan yang diberikan oleh Rosa. Namun Alyana nggak nyangka, klo yang diterimanya itu adalah undangan pernikahan, bahkan itu milik Rosa sendiri.


"What? Wedding??! You?" Kaget Alyana tak percaya akan yang sedang dipegangnya itu.


Secara Rosa baru aja lulus SMA kemaren berbarengan dengannya, bahkan Rosa adalah si bunny di kelas mereka. Kan seharusnya juga, kakaknya Rosa terlebih dahulu, baru kemudian sesudah sukses dengan karirnya Rosa baru menikah.


"Iya, jangan lupa dateng, ya. Oh ya, aku juga berencana mengundang Lilis secara ekslusif, kira-kira dia sudah pulang belum, ya?"


"Nggak, Lilis nggak pulang sampe belum masuk kuliah. Kemaren aku telepon, jadi katanya gitu. Dia tuh butuh waktu buat refreshing sebelum benar-benar masuk kuliah. Cewek cantik mah beda." Kata Alyana kembali julitin Lilis. "Tapi ini nggak bisa mengalihkan perhatian gue lhoh, Sa. Kita harus bicara serius nih, empat mata sama gue. Banyak yang nggak lo ceritain ke gue. Tapi karena gue juga sedang sibuk sekarang, jadi gue akan dengar cerita lo kapan-kapan." Alyana bicara serius, bahkan Alyana menunjuk ke arah mata Rosa.


"Iya, iya deh. Kamu bosnya. Tapi, sayang juga mubazir satu undangan lagi ini." Kata Rosa yang memegang dua undangan lagi.


"Nah, itu kan sisa dua. Kenapa malah satu?" Tanya Alyana heran, nggak biasanya Rosa bisa salah mata dalam ngehitung.


"Satu lagi ini buat Kak Alan. Dia juga harus dapat secara ekslusif juga."


"Nah gitu dong baru good girl. Gue bangga lo udah tau yang namanya balas dendam. Gue senang akhirnya lo belajar juga dari gue sesudah sekian lama kita bersahabat. Biar tau itu orang, klo lo juga bisa move on. Tapi udah dulu, ya. Kagak jadi-jadi gue dari tadi hendak pergi. Auto kena pecat ini klo kayak gini. Klo gue dipecat, lo harus jadi sugar daddy gue, ya!!!!" Teriak Alyana yang langsung menancap gas motornya meluncur ke jalan.


Serta yang paling keren and kece abis adalah dia itu tipe penghajar pria hidung belang yang berani mendekati kedua sahabatnya itu. Dan yang pasti logonya Alyana yang terus diyakininya selama ini adalah lebih baik nggak punya pria hidung belang ketimbang nggak punya uang.


Rosa segera masuk ke dalam perusahaan dan di sapa oleh begitu banyak orang-orang. Rosa membalas sapaan mereka dengan sapaan yang ramah pula bahkan dibumbui dengan senyum cerahnya. Serta tak lupa pula Rosa berterima kasih atas kerja keras mereka, walaupun secara fakta mereka itu adalah para karyawan yang digaji oleh perusahaan.


Rosa segera menuju ke ruangan Stev. Dan ya, Stev sedang bergelut dengan tumpukan laporan yang ada di mejanya. Karena Raymond yang berbaring di rumah sakit. Jadi secara alami, laporan-laporan itu akan menjadi tugas Stev yang harus diselesaikannya.


Rosa membuka pintu ruangan kakaknya dengan begitu hati-hati, hingga Stev nggak sadar akan kehadiran Rosa dalam ruangan itu saking Stev fokus dalam mengerjakan laporannya itu. Sesekali membaca laporan dan sesekali mengetiknya di komputer.


Rosa menutup pintu dengan hati-hati, dan berdiri dengan tenang tanpa memanggil kakaknya itu. Rosa terus memperhatikan sosok Stev yang menggunakan kacamata untuk mengurangi radiasi cahaya komputer.


Wajah asianya berbeda dengan wajah asia yang lain karena mata Stev itu sipit, namun itu juga laksana mata serigala dengan sudut yang tajam. Rahang yang tajam nan tegas itu bahkan membuat Rosa untuk sesaat menjadi terpana dikarenakan terpesona.


"Dia memang kakakku, kakak siscon-ku yang manja kayak big baby dengan adiknya sendiri.


"Siang, Tuan Stev. Anda sangat fokus dengan pekerjaan Anda itu ya sampai-sampai bahkan kehadiran saya pun Anda tidak menyadarinya." Suara Rosa membuyarkan fokus kakaknya itu.


Stev mengarahkan pandangannya itu ke sumber suara, dan mendapati klo itu adalah Rosa. Stev langsung membuka kacamatanya dan meletakkannya.

__ADS_1


"Kak, makan dulu. Rosa bawa bekal hari ini." Tutur Rosa yang segera membawa dan meletakkan bekalnya di meja, dan Rosa duduk di sofa. Stev menyusul adiknya itu dan duduk di sofa dekat Rosa.


"Tumben kamu bawa bekal ke kakak? Ada angin apa ini? Pasti ada sesuatu, kan?" Tanya Stev menggoda Rosa dengan gencar.


Stev sudah tau klo Rosa akan datang mengunjunginya dan membawa bekal padanya karena mama mereka, Serena sudah menelponnya dan memberitahunya.


Bahkan sampai insiden di depan pintu ruangan inap Raymond, kejadian Alan dengan gencar menggoda Rosa juga diberitahu oleh Serena. Hal nggak Rosa dan Alan tau adalah klo Serena tau apa yang terjadi saat itu diantara mereka berdua. Karena Serena mengintipnya melalui celah pintu di tambah pendengaran Serena yang tajam itu membuatnya tau semuanya dan menceritakan kepada suaminya dan juga pada Stev, anak sulungnya.


Namun meskipun Stev terus menggoda adiknya ini itulah, karena Rosa akan datang ke perusahaan lah yang membuat Stev sampai sudah jam makan siang masih di ruangannya itu, menunggu bekal dari sang adik.


"Nggak ada sesuatu yang besar, kok. Hanya saja ini bekal makan siang penuh kasih sayang Rosa buat kakak. Dan..., dan terima kasih untuk segalanya."


"Terima kasih untuk segalanya? That is weird, honey? For what my love younger sister thanks at me, haaah? Let me listen it one by one." Tanya Stev terus. Karena dia ingin Rosa menyebut hal itu, hal yang membuat Rosa berterima kasih padanya.


"Buat kasih sayangnya, buat kesenangan dan kegembiraan yang penuh cinta. Buat kakak yang udah baik sama Rosa, juga..., buat kakak karena sudah mendesain undangan pernikahan Rosa secara pribadi." Ujar Rosa dengan tulus juga penuh kejujuran.


Stev yang sedang makan dan terus mengisi mulutnya itu dengan makanan dan mengunyah, berhenti mengunyah mendengar perkataan adiknya itu. Bahkan dia meletakkan sendoknya kembali ke kotak bekal.


"Sepertinya kakak kurang senang." Batin Rosa yang menyadarinya melalui tingkah gerak Stev.


"Honey, kakak senang kamu berterima kasih sama kakak, dan saking nggak bosannya kakak untuk mendengar kamu berterima kasih pada kakak, kakak pengennya kamu tiap hari mengatakan itu pada kakak." Kata Stev yang juga jujur akan perasannya itu.


Namun kejujuran Stev itu malah membuat Rosa jadi semakin bingung kenapa kakaknya punya hobi aneh seperti itu yang mau adiknya mengucap terima kasih tiap hari seperti sepasang sejoli yang terus menyerukan cinta tiap hari.


"Kakak ini ngomong apaan sih? Nggak jelas amat, malah bikin orang salah paham aja, yang mengira dia mau orang ucapkan bisikan cinta tiap hari. Benar-benar bakat yang membuat orang bisa salah paham." Batin Rosa menelengkan kepalanya sebelah.


"Maksud kakak gini lho honey, kakak senang kamu berterima kasih pada kakak sampai-sampai ingin selalu mendengarnya. Tapi satu hal yang membuat kakak kesel tau nggak, apa?" Tanya Stev menyuruh Rosa untuk menebak.


"Apa emangnya?"


"Kamu berterima kasih pada kakak karena sudah mendesain undangan pernikahan kamu, kan? Tapi kakak nggak suka kamu merayakan itu sampai membuat bekal ini secara pribadi untuk berterima kasih. Karena bagi kakak, itu akn sama saja kakak dengan sukarela menyerahkan kamu kepada Reyhandra tengik itu, bahkan merayakannya. Itu satu point besar yang membuat kakak kesal." Jawab Stev memberi tu Rosa dan kemudian melanjutkan kembali makannya.


"Aduhhhh kak...., itu aja di permasalahkan. Kirainnya apa? Kak, kita ini saudara, jadi nggak ada yang bisa mengalahkan hubungan saudara. Klo itu suami masih bisa cerai, sedangkan saudara nggak bisa cerai. Ada yang namanya mantan suami namun nggak ada yang namanya mantan saudara, kak."


Stev yang mendengar penuturan adiknya itu menjadi diam. Ternyata adiknya melalui masa dewasanya dengan cepat. Bahkan sekarang dia nggak membutuhkan Stev untuk mengatakan hal sedewasa itu. Justru Stev lah yang merasa kekanak-kanakan.


Stev melanjutkan makannya, dan bahkan menawari Rosa untuk makan bersama, namun Rosa menolak karena sudah makan di rumah. Dan yang dibawanya sekarang khusus untuk Stev.


Saat Rosa akan bangun untuk pulang karena Stev juga sudah makan, Stev menghentikan Rosa, supaya mereka bisa pulang bersama. Namun Rosa mengatakan dia harus memberi tahu mama terlebih dahulu, karena hari malam ini papa mereka bisa pulang, mungkin ada hal yang harus mereka bereskan, dan dengan Rosa disana, mungkin akan lebih ringan jika dikerjakan oleh mama mereka sendirian.


"Kamu tenang aja, kakak udah beritahu mama, klo kita akan ke rumah sakit nanti sore. Dan mama setuju, lagipula papa pulangnya waktu malam. Jadi kamu lebih baik bantu-bantu kakak aja disini dulu. Nanti siapa tau klo yang kamu pelajari hari ini akan berguna." Kata Stev menghentikan Rosa untuk pulang.


Rosa tampak berpikir namun akhirnya dia setuju dengan yang Stev katakan. Lagipula klo itu emang udah dapat izin dari orang tua mereka, dan nggak mungkin juga Stev akan berbohong dalam hal itu. Karena nggak ada untungnya juga buat Stev.

__ADS_1


"Baiklah klo gitu. Rosa akan bantu kakak mengerjakan beberapa laporan ini. Lagipula Rosa ingin menerapkan ilmu ekonomi yang Rosa pelajari selama ini, kakak tolong arahin nanti, ya?"


"Ok, kamu cukup percayakan itu pada kakak."


__ADS_2