
Rosa memperhatikan pesan yang masuk kepadanya dengan seksama. Dia terus mencoba membandingkan setiap kata-kata dari pengirim dengan baik, siapa tau aja klo itu adalah orang yang Rosa kenal dengan nomor baru mengirim pesan kepadanya. Tapi siapapun diantara semua temannya nggak ada yang tau nama samarannya saat pergi ke bar, apalagi tentang kebenaran bahwa dia seorang cross dressing.
Rosa terus mengingatnya dengan teliti, sesudah dia ingat-ingat dan pikirkan lagi, hanya ada dua orang yang mengetahui identitas palsunya sebagai "Shaka".
"Setelah dipikir-pikirkan lagi sih, hanya dua orang yang muncul di kepala ini, Adelia atau Leon dan Dian Rocher. Jadi mari kita coba, kecualikan dulu Adel, karena dia nggak mungkin ngajak aku untuk manggung dengannya. Dia pasti akan berkata begini, 'Sayang, kita keluar bersenang-senang yuk' atau nggak dia akan bilang begini, 'Kak, kita keluar yuk, kita cross dressing bersama', dia pasti akan bilang begini. Berarti tinggal dia." Kata Rosa pada dirinya sendiri terus mencoba menganalisa.
"Tapi klo dipikirkan lagi, selama habis dari bar itu Adel juga bicara seenaknya dengan aku." Pikir Rosa lagi, yang mana makin dipikirkan dia makin bingung.
"Ok, jangan jadi orang yang bimbang Rosa, putuskan salah satunya, Adel atau Dian. Lagipula klo pun kamu salah, nggak akan ngurangin nilai kamu, buat apa kamu terlalu memikirkannya, ini bukanlah soal UAS yang harus kamu pusingkan." Ucap Rosa pada dirinya sendiri.
Rosa mengambil cara duduk dengan nyaman, lalu menarik sebuah bantal dan diletakkannya di dalam pangkuannya. "Ok, mari kita kuak siapa orang misterius ini, detektif Rosalyn."
"Siapa?"
"Dian???"
Tanya Rosa membalas chat dari pesan misterius tanpa nama itu. Rosa mengirim pesannya, langsung dua centang biru. Berarti orang itu sedang online. Lalu muncul juga notif klo orang diseberang itu sedang mengetik.
"Oh, ku pikir kau nggak akan membalasnya dan membuatku menunggu." Ucap Rosa pada dirinya sendiri yang ditujukan untuk orang diseberang pesan chat-nya itu.
Rosa mengatakan itu semua bukan tanpa dasar. Banyak orang sekarang yang mengubah dua centang biru klo pesannya sudah terbaca menjadi dua centang abu-abu saja. Dan alasannya, tentu saja beda orang beda juga alasannya. Diantaranya adalah malas membalas chat klo udah dibaca. Makanya diatur begitu, supaya orang yang mengirim chat kepada mereka nggak tau klo bahwasanya mereka sudah membaca pesannya.
Lalu sebuah pesan baru saja terkirim kepada Rosa dari nomor yang nggak dikenal itu. Rosa segera mengetuk layar pada nomor misterius itu dan membaca pesannya.
"Iya, gue Dian. Kok lo tau sih ini gue?"
"Btw, di save ya nomornya."
"Lo jangan mikir yang nggak-nggak ya, gue dapetin nomor lo itu secara halal kok😅😅, jadi gue nggak cari tau tentang lo kok, apalagi jadi stalker."
"Ada-ada saja si Dian ini, ya. Dapetin nomornya dengan cara halal. Ok, balas, balas, balas pesannya." Ucap Rosa pada dirinya sendiri.
Rosa mulai tertarik dengan cara Dian membalas pesannya. Rosa sangat bersemangat saat mendapatkan pesan seperti itu, apalagi klo Dian mengajaknya untuk manggung lagi. Klo dipikir-pikirkan lagi, hasil kemarin juga nggak terlalu buruk untuk dinikmati, itu lebih bagus untuk percobaan pertama mereka.
"Hahaha, ada-ada ajalah kau ni, cara halal apa yang kamu gunakan untuk mendapatkan nomor aku ini?"
"Iya, ni udah aku save kok." Rosa membalas pesan dari Dian memberi reaksi pada pesan yang menyuruhnya untuk menyimpan nomornya.
"Iya, cara halalnya gue minta nomor lo sama si Adel lah. Klo bukan sama Adel, sama siapa lagi coba? Orang kenal sama lo aja lewat Adel, kan?"
"Iya sih, klo kita tuh kenalnya melalui Adel."
"Jadi kenapa bukan Adel yang nge-chat aku buat keluar, biasanya Adel yang ngajak sih."
"Oh, si Adel katanya nggak mau bilang katanya gue yang perlu sama lo, bukan dia."
"Ada juga gue bilang supaya dia aja yang bilang sama lo, tapi dia tetep ngotot nggak mau."
"Tapi berkat ini juga gue dapet nomor lo, kan bagus juga."
"Iya sih bagus, bisa nambah teman. Hanya saja aku heran, biasanya Adel yang antusias buat ngajak keluar."
"Oh, mungkin lagi stress dia akibat ujian didepan mata, jadinya sibuk deh dengan segala persiapan buat ujian itu."
"Ya, juga ya. Dia masih stress akibat ujiannya itu."
"Tapi, btw dia tetap ikot sama kita malam ni." "Katanya malam ni malam minggu jadi bisa ikot. Sedangkan ujiannya hari senin besoknya lagi."
"Buat apa bikin stress, lebih baik hangout."
"Klo gue mikirnya juga gitu. Untung gue nggak ada ujian lagi kedepannya, karena udah tamat kemaren, tinggal nunggu ijazahnya doang."
"What??? Ini bocah berani kali, ya?" Balas Rosa memberi reaksi pada pesan klo Adel akan ikut bersama malam ini.
"Pasti metode kebut semalam ni belajar buat ujiannya, kan?" Rosa juga memberi reaksi pada pesan klo Adel bakalan ada ujian.
"Ampun dah pemikiran anak edan nih, berani betul lah kalian ni!" Jawab Rosa juga memberi reaksi pada pesan ketika Dian.
__ADS_1
"Jadi kamu juga lulusan tahun ini, ya? Berarti kita sama dong. Jadi mau milih Univ mana nih?"
"Oh, aku udah daftar di Universitas Direction, Jakarta Pusat. Jurusan seni musik."
"Wow, daebak. Berarti kita satu univ dong, hanya saja beda jurusan, aku di jurusan Psikologi."
"Berarti kita bakalan sering ketemu dong. Hebat, hebat."
"Tapi, jadi ni kan nemenin gue manggung."
"Bukan sekedar manggung sih, klo bisa nemenin gue sekalian naik panggungnya, nanti lo yang nyanyi. Eh nggak, kali ini kita duet, nanti gue iringi juga dengan gitar gue."
"Akunya sih mau, boleh boleh aja. Tapi aku nggak ada kawan pigi, klo nggak dijemput sama Adel."
"Sans aja tu, gue jemput lo, ntar malam jam setengah sebelas ya, soalnya kita nanti manggungnya sekitaran jam sebelas gitu lah."
"Jangan lupa share lock, ya! Biar gue tau mau jemput lo kat mana."
"Ok, dimengerti."
"Btw, akunya tetep cross dressing ya, aku nggak mau identitas aku kebongkar, apalagi aku ketahuan sama ortu, bakal ribet urusannya mereka tau aku asyik keluyuran malam-malam."
"Nggak apa kok, malahan itu bagus buat lo."
"Lagipula lo kan anak dari keluarga baik-baik, cewek lagi, nggak bagus reputasi lo. Dikiranya nanti kamu cewek itu lagi. Alah, lo tau sendiri lah, kayak mana mulut orang zaman sekarang. Suka melebih-lebihkan."
"Ada-ada aja kamu nih ya."
"Tapi emang iya sih, aku nggak bisa nyangkal itu juga. Soalnya banyak kasus yang kayak begituan."
"Pokonya nanti kamu datang aja ke alamat Jln. Zinnia No.1 kompleks A, rumah nomor 5."
Nanti aku nunggunya di depan pagar rumah. Lagi aman soalnya, nggak ada yang jaga, satpamnya lagi sakit."
"Ok, jalan persahabatan abadi, kan?"
"Yes, I know. I'am so clever. Jadi jangan dipuji lagi, terbang gue nantinya."
"Baru aja dipuji dikit, itupun udah terbang? Dasar sombong."
"Udahan ya, bye nanti malam."
"Ok."
Rosa menyimpan handphonenya di atas meja rias. Kemudian dia membuka laci rahasianya. Yaitu laci meja rias yang paling bawah, laci yang berisikan segala hal yang menjadi rahasia Rosa, bahkan surat cintanya juga Rosa simpan disana. Surat cintanya dengan Kak Alan, saat dulu mereka lagi bucin-bucinnya.
Rosa selalu mengunci laci rahasianya itu, bahkan kuncinya saja Rosa sembunyikan di dalam lemari, Rosa buat seperti kalung dan digantungnya disana.
Rosa nggak menyimpan pakaiannya disana, karena dia harus mencucinya sehabis pulang dari bar semalam sebelum ulang tahun keesokan harinya. Rosa hanya menyimpan wig disana, jadi untuk itu terhitung aman, klo hanya wig saya yang disembunyikannya. Tapi Rosa tetap nggak mau orang tua dan kakaknya tau klo di pacaran dengan Alan, hanya itu saja.
Soal siapa yang mencuci baju penyamarannya Rosa, tentulah rosa sendiri yang menyucinya. Dia nggak mungkin menyuruh Bi Salma untuk menyucinya, karena Bi Salma itu sangat setia dengan mamanya, bisa-bisanya rosa bakalan di aduin ke mamanya oleh Bi Salma.
Dan soal dimana Rosa harus menjemurnya, itu juga bukan masalah besar, karena kamar Rosa ada di lantai dan juga ada terasnya, jadi Rosa menjemurnya di pagar terasnya itu. Soal dekor kamar Rosa yang lain itu juga karena Rosa sendiri yang menyarankannya, dikarenakan Rosa sangat suka dengan bunga dan pepohonan segar, jadi teras di kamar Rosa langsung menghadap ke arah taman.
Rosa biasanya menggunakan teras itu untuk membaca buku di siang atau di sore harinya. Dan pada pagi harinya Rosa gunakan untuk menikmati pemandangan di taman, pemandangan hijau dengan titik berwarna di pagi hari yang menyegarkan mata.
Malam harinya saat semua orang sudah terlelap dalam buaian mimpi, Rosa segera melancarkan aksinya. Dia mulai berpakaian untuk pergi manggung seperti yang sudah dibicarakannya dengan Dian di siang harinya.
Rosa menggunakan celana pendek abu-abu pekat sebatas betis untuk bawahannya. Dan untuk kainnya sendiri rosa memilih yang berbahan kanvas, selain bahannya yang kuat dan tebal, Rosa punya alasan lain, kenapa memilih yang berbahan kanvas. Karena dia keluarnya pada malam hari ini akan membantu Rosa tetap sedikit hangat. Rosa memilih celana sebatas betis itu juga karena Rosa punya alasan. Itu dilakukannya supaya dia tidak kelihatan terlalu pendek diantara laki-laki pada umumnya, makanya Rosa memilih yang kayak begitu.
Dan untuk atasan, Rosa menggunakan kaos putih juga jaket hoodie hitam yang tebal sebagai pelengkapnya. Rosa juga menggunakan sedikit make-up bagian mata untuk mempertajam sudut matanya. Rosa mengambil wig dalam laci, dan kemudian menguncikannya kembali.
Rosa lebih memilih untuk menggunakan wig dengan kesan laki-laki remaja yang polos, bukan tipe cowok cool, karena disini Rosa akan menggunakan kacamata. Rosa juga membuat tahi lalat kecil diatas sudut bibir untuk memberi kesan manis.
Rosa menggunakan kaos kaki putih juga dengan sepatu sport putih. Lalu dia mengambil topi hitam yang sudah dikeluarkannya bersaan dengan wig di laci tadi diatas meja dan memakainya. Dan sentuhan terakhirnya yaitu jam tangan, tentunya itu adalah aksesoris yang bisa ketinggalan dari seorang remaja laki-laki, biar nampak makin keren. Dan untuk setelan outfit malam keluar gaya Rosa malam ini, ready.
Rosa memperhatikan dirinya dari pantulan cermin. Dia sedikit bergaya kanan kiri untuk memastikan apakah ada yang kurang dari dandanannya itu. Walaupun tidak 100 persen mirip laki-laki, tapi dandanannya itu sudah cukup baginya untuk mendapatkan julukan laki-laki cantik yang imut bagi Rosa. Begitulah yang Rosa pikirkan saat dia melihat pantulan dirinya dari balik cermin. Dan kenapa dia bisa sepercaya diri itu untuk mengatakannya? Karena dia biasa melihatnya di Drakor ataupun Dracin yang di nontonnya.
__ADS_1
Rosa mengambil uang dari dalam tasnya dan keluar dari kamar dengan super hati-hati. Dia mengunci pintu kamarnya kembali dan sebisa mungkin berusaha untuk tidak membuat suara. Kunci kamar dijadikan Rosa sebagai kalung dan dia memakainya dan dimasukkan dalam baju.
Rosa turun tangga dengan hati-hati, rintangan selanjutnya adalah pintu keluar. Untuk itu Rosa juga punya jalan keluar, dia sudah menyimpan satu buah kunci dan menyembunyikannya untuk dirinya sendiri.
Sebenarnya semua akses pintu keluar ada sama Rosa, dikarenakan hobinya itu. Pintu depan, pintu belakang, Rosa punya semua akses kunci pintu itu. Rosa membuka pintu keluar dan menguncinya kembali. Rosa berhasil keluar dengan aman, dan untuk semua kunci pintunya Rosa bawa dalam bentuk kalung dan dipakainya, termasuk kunci pintu belakang juga dia bawa. Jadi Rosa membawa empat kunci, yaitu kunci laci rahasia, kunci kamar, kunci pintu depan dan juga kunci pintu belakang.
Rosa menuju pagar dan keluar dengan hati-hati. Pagar tidak dikunci, cukup dibuka seperti biasa. Pagar Rosa ada dua jenis, pagar untuk masuk keluar mobil juga ada pagar untuk digunakan Rosa dan kakaknya untuk keluar cari angin malam sampai indomaret.
Rosa berhasil keluar dan menunggu didepan pagar, lalu dia mengirim pesan pada Dian, klo dia sudah ada didepan pagar menunggunya.
"Yan, dimana? Aku udah didepan pagar tumah ni. Cepat ya." Rosa mengirim pesan untuk Dian, dua centang abu-abu. Pesan sudah masuk, bisa jadi Dian lagi dalam perjalanan. Pikir Rosa tersendiri.
"Haaah, ini sangat menegangkan. Lebih menegangkan dari biasanya. Apa mungkin karena aku keluarnya melalui pintu depan, ya?" Tanya Rosa pada dirinya sendiri, dia juga menghela nagas lega.
Rosa terus memperhatikan handphonenya dan melihat jam. "Juga untuk berjaga-jaga, aku sudah mengatur guling dan ku selimuti, jaga-jaga klo mama nanti memeriksa kamar, moga aja nggak ketahuan." Batin rosa pada dirinya sendiri.
Dari kejauhan seorang laki-laki mendapati Rosa keluar dari pagar rumahnya itu. Laki-laki itu keluar dari rumah si kembar, rumah yang keberadaannya satu petak selang. Rumah nomor 7 dari awal komplek.
Laki-laki itu berlari kencang dan meringankan suara langkah kakinya, dan laki-laki itu langsung memblokir tangan Rosa dan menahannya dibelakang.
"Ngapain kamu keluar dari rumah ini? Mau nyuri, ya?" Tanya laki-laki itu langsung setelah berhasil memblokir tangan Rosa.
"Gawat, suara Kak Alan. Gimana caranya mau lepas dari dia nih. Nggak mungkin aku bilang temennya Rosa, karena yang dia tau temen cowokku hanya si kembar. Bahkan untuk temen cewek aja aku kurang dari lima, dan juga jarang dibawa kerumah. Lagipula aku Kak Alan kenal semua temenku itu, karena itu juga berarti temennya si kembar. Harus jawab apa ini?" Batin Rosa yang kalang kabut mau cari alasan apa untuk diberikan pada Alan.
"Kenapa diam? Kamu mau nyolong ya dirumah ini? Cepet jawab, atau mau aku bawa ke pemilik rumah ini biar mereka yang memutuskan akan berbuat apa pada kamu? Atau kamu mau aku bawakan langsung ke kantor polisi? Ayo cepetan jawab!!!" Tanya Alan makin memperkuat blokirannya itu.
"Aduhhhh..., sakit banget. Untung aku pernah belajar taekwondo, jadi ini tak seberapa sakit. Tapi walaupun tak seberapa, ini tetaplah sakittt!!!" Rosa menjerit dalam hatinya. Tapi dia tak berani buka mulut, karena dia belum mendapat alasan yang bagus untuk diberikan pada Alan.
"Kenapa diam? Cepetan jawab! Atau kamu mau aku teriak biar orang-orang pada keluar, dan gebukin kamu." Ancam Alan terus memperkuat menekankan tangan Rosa.
"Nggak ada cara lain aku harus menggunakan cara itu." Batin Rosa yang akhirnya menyerah.
"Ayo cepetan jawab!!" Desak Alan untuk mendapatkan jawaban dari Rosa yang disangkanya sebagai pencuri yang mau nyolong di rumah itu.
"Kak Alan, lepasin, Kak! Ni aku." Jawab Rosa memberikan jawabannya.
"Rosa??" Alan bertanya-tanya dalam hatinya saat mendengar suara yang akrab itu.
"Rosa? Itu kamu?"
"Ya, Kak. Ini aku. Tolong lepasin dulu, kak!" Pinta Rosa pada Alan. Akhirnya Alan melepaskan blokirannya itu, dan Rosa langsung mengipas-ngipaskan tangannya karena kesemutan, juga sedikit sakit.
"Ini beneran kamu Rosa, kan?" Tanya Alan sekali lagi untuk memastikan.
"Ya, ni aku, Rosa."
Rosa membuka kacamata serta topinya dan memperlihatkan pada Alan. Alan sontak kaget melihat Rosa. Dia terdiam saat melihat Rosa melakukan cross dressing beneran. Bukan hanya memakai pakaian laki-laki pada umumnya, tapi bener-bener cross dressing.
"Rosa, kamu...."
"Kenapa Rosa, Kak?" Tanya Rosa langsung memotong pembicaraan Alan, sebelum Alan melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa kamu melakukan ini?" Tanya Alan nggak percaya dengan pemandangan yang disungguhkan didepan matanya.
"Kenapa? Tentu saja Rosa akan keluar buat bersenang-senang." Jawab Rosa jujur, tapi juga terkesan dingin. Meskipun Rosa nggak marah pada Alan akan insiden dia selalu direndahkan oleh Alan, tapi yang rasa sakit hati pasti ada terbesit dalam hati kecil itu.
"Kamu nggak melakukan ini sebagai pemberontakan, kan?" Tanya Alan menggoyangkan dan mengguncangkan bahu Rosa.
Rosa bereaksi malas akan pertanyaan Alan itu, lalu dia menampik tangan Alan dari bahunya. "Kenapa orang dewasa selalu berpikir klo Rosa itu mengibarkan bendera rebellion, hah?" Tanya Rosa sedikit emosi, karena Alan berpikir Rosa berubah karena dirinya yang terus mendorong Rosa untuk menjauh darinya.
Alan sontak terdiam. Rosa melihat langsung kearah matanya yang nggak pernah Rosa lakukan selama ini? Alan mematung terdiam ditempatnya itu. Dia nggak pernah mendengar Rosa menaikkan nada suaranya terhadap dirinya, walaupun itu hanya sedikit. Alan juga melihat sorot mata Rosa, itu adalah mata yang tajam, begitulah Alan melihat mata Rosa.
Rosa dengan segera memakai kacamatanya lagi, "Kak Alan nggak tau kan, klo aku menggunakan sedikit make-up untuk mempertajam sudut mataku? Biarkan dia merasakan kesan, klo seolah-olah aku sudah bisa move-on darinya, biar dia nggak makin benci padaku." Rosa bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan membuang pandangannya dari Alan.
Alan yang melihat Rosa membuang pandangannya darinya membuat Alan berpikir klo Rosa marah padanya. Mungkin kata-katanya terlalu menyakiti perasaan Rosa. Alan yang bisa menampik kenyataan itu, itu memang nyata terjadi dan ada saksi mata yang memenuhi. Dia menghina Rosa terus mencoba untuk menempel padanya dan menganggap Rosa sebagai gadis gampangan. Itu nyata terjadi.
Demi membela tunangan yang menolongnya pada masa dia sedang kecelakaan itu membuatnya kalap dan mengatai Rosa dengan perkataan yang hina dan merendahkan. Alan merasa sedih sesudah melakukan itu, tapi dia tidak tau mengapa? Hatinya sakit saat dia melakukan itu, tapi dia harus mendorong Rosa menjauh karena dia sudah punya tunangan.
__ADS_1
Alan melihat sosok Rosa yang terus memperhatikan jam tangannya, dan sesaat kemudian melihat kearah jalan, awal masuk komplek. "Dia pasti menunggu seseorang, mungkin itu tunangannya." Pikir Alan membatin tersendiri.