
"Kamu baru nyampe, Yan. Malam ini akan nyanyi, kan?"
Rosa sentak terkejut mendengar sebuah suara berat menyapa mereka dari belakang, bukan mereka sih, hanya Dian saja. Rosa masih enggan untuk balik badan takut itu yang menyapa adalah seorang paman paman yang berbadan besar dan tinggi.
Rosa tiba-tiba ingat akan drama yang di nontonnya, dimana klo di bar itu pasti ada orang yang seperti itu yang suka mencari masalah dengan protagonis wanita. Bukan Rosa menganggap dirinya sebagai protagonis, hanya saja dalam hidup ini semua orang pasti beranggapan klo dirinya adalah protagonis Tak kecuali itu tokoh antagonis, mereka tetap mengaku diri mereka sebagai protagonis, terlepas dari sikap baik buruk yang dipandang orang, tapi bagi dirinya dia tetaplah protagonis.
Dian yang sadar klo yang menyapa itu adalah kakaknya segera berbalik badan. Dia nggak mungkin salah akan suara kakaknya itu, meskipun dia jarang tinggal di rumah, dan lebih suka tinggal di kos-kosan.
"Ah Kak, kakak datang juga, ya?" Tanya Dian menyapa kakaknya.
"Kakak?" Tanya Rosa pada dirinya sendiri. Ternyata dia sudah salah beranggapan klo suara itu adalah paman berotot, padahal itu kakaknya Dian. Rosa langsung balik badan melihat kakaknya Dian untuk menjaga sopan santunnya.
"Ternyata kakaknya Dian ganteng juga, ya?" Pikir Rosa lagi saat melihat penampilan kakaknya Dian. "Pakaian kasual yang sangat keren dan itu pas di badan bagusnya itu. Perpaduan jaket kanvas juga jins, ternyata dia seorang yang feshoneble juga, ya?"
"Tentunya kakak mesti datang dong, kan malam ini kamu yang manggung." Jawab kakaknya Dian merangkul bahunya Dian.
"Apaan sih kakak ini? Kayak nggak pernah liat aku manggung aja. Ini kan bukan kali pertama aku manggung, kenapa kakak sangat heboh?" Tanya Dian melepaskan rangkulan tangan kakaknya itu.
"Haah, kamu ini masih aja seperti ini, ya? Apakah kamu marah sama kakak?" Tanya Andre membuang nafasnya ringan yang seakan-akan dia sedang frustasi.
"Marah? Buat apa aku marah sama kakak? Buang-buang tenaga aja aku sama kakak, lagipula itu bukan masalah besar, kan?" Balas Dian balik bertanya sebagai balasan dari pertanyaan kakaknya itu.
"Aduh kamu ini ya, selama nggak pulang ke rumah kamu makin cuek aja sama kakak."
"Nggak juga, kok. Aku masihlah Dian yang seperti biasa. Ah, kakak membuang waktuku. Minggir! Aku mau manggung bentar lagi." Ucap Dian mendorong ringan bahu kakaknya supaya memberinya jalan. "Ayo, Shak!" Ajak Dian memegang lengannya Rosa.
"Apakah kamu nggak berencana memperkenalkan temanmu itu padaku?" Tanya kakak Dian saat melihat klo adiknya itu datang bersamaan dengan seorang teman.
Rosa tersentak diam ditempatnya, saat kakaknya Dian mempertanyakan dirinya. "Gimana ni, Yan? Bakalan ketahuan kakak kamu nggak sih?" Tanya Rosa berbicara pelan pada Dian.
Dian juga setengah kaget saat kakaknya menanyakan tentang Rosa, tapi dia dengan cepat mengontrol dan memperbaiki mimik wajahnya kembali. "Kamu tenang aja, kamu nggak bakal ketahuan kok. Kita hadapi dengan tenang. Lagipula penampilan kamu itu nggak ada celahnya kok." Kata Dian menenangkan Rosa.
Dian berbalik menghadap kakaknya lagi, begitu juga dengan Rosa. Mau gimana pun, dia kakaknya Dian. Mungkin di masa depan akan sering bertemu lagi, dan tentunya dengan identitas sebagai Shaka, jadi lebih baik menghindari kecurigaannya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ah, aku lupa mengenalkan temanku pada kakak. Baiklah kakak, kenalkan ini temanku, namanya Shaka. Dan Shaka ini kakakku, Andrea Rocher, anak sulung dalam keluargaku.Lo bisa memanggilnya Andre, tapi akan lebih baik juga klo lo memanggil dia buaya, gue nggak keberatan kok."
"Tapi kakakmu itu akan keberatan!!! Kenapa kamu yang bilang nggak keberatan!??" Protes Rosa dalam hatinya akan kata-kata Dian.
Rosa memperhatikan wajah kakaknya Dian, Andre, dia cuma tersenyum tidak kelihatan marah sama sekali saat Dian memperkenalkannya sebagai buaya. Justru dia kelihatan santai saja seakan dia sudah terbiasa mendengar yang lebih menusuk daripada itu, atau memang dia sadar diri akan sikapnya itu. "Apa??? Kamu juga nggak keberatan klo aku manggil buaya? Sangat hebat, kamu orang pertama yang kukenal nggak keberatan jika ada orang yang memanggilnya buaya. Sangat hebat." Puji Rosa dalam hatinya kepada Andre.
"Umurnya dua puluh delapan tahun dan dua tahun lagi akan memasuki kepala tiga. Dan sayangnya sampe sekarang masih belum punya istri, apalagi anak. Tapi klo ditanya tentang cewek, dia punya banyak. Bahkan dia mengganti cewek seperti dia mengganti pakaiannya tiap hari. Jadi Shaka, lo nggak boleh belajar buaya darat ini. Jadilah pria yang lurus and gentle. Ok?" Kata Dian mengakhiri kata-katanya, memperkenalkan kakaknya itu pada Rosa.
"Wahhh, sangat lengkap. Bahkan sampai informasi umur dan cewek kakaknya juga dikasih tau, kamu sangat murah hati Dian Rocher." Kagum Rosa pada Dian.
Andre masih saja tersenyum ringan kepada Rosa dan Dian, nggak ada tanda-tanda klo dia bakal marah sama sekali. "Sepertinya dia baik-baik saja kan itu." Pikir Rosa lagi tentang seorang Andre.
"Halo, saya Shaka, temannya Dian. Senang berkenalan dengan Anda." Ucap Rosa memperkenalkan dirinya sambil menundukkan kepalanya sebagai wujud sopan santunnya.
"Sepertinya gadis ini bukan orang biasa. Dia pasti anak dari seorang pengusaha yang mencoba mencari kesenangan. Penampilannya itu..., bukankah bisa dibilang sangat sempurna. Dia bahkan bisa menipu Dian. Tapi sayangnya, aku bukanlah tipe orang yang mudah tertipu klo masalah cewek. Baiklah, anggap saja kakak ini sedang berbaik hati padamu, kakak bantu kamu untuk bersenang-senang." Ucap Andre dalam batinnya yang terus bermonolog.
"Bakalan ketahuan nggak ni ya? Kenapa dia merhatiin aku lengket banget gitu. Bikin merinding aja, dia melihat ke arahku tanpa melewatkan seinchi pun, apa dia pikir dia itu cahaya rontgen X-ray apa?" Batin Rosa yang risih akan pandangan Andre itu terhadapnya.
Dian yang sadar klo kakaknya terus menatap Rosa dengan mata yang jelalatan baginya hingga membuat Rosa risih pun akhirnya menegurnya. "Kak...." Panggil Dian menyadarkan kakaknya.
"Whatt??? Gege? Xiao xiao? Nggak waras apa dia? Atau emang demam bahasa Cina? Jangan main ambil keputusan seenaknya sendiri dulu dong, aku masih belum setuju nih, lho! Dasar, orang yang mau seenaknya sendiri! Dia pikir aku ini anak bodoh yang nggak tau makna dua Hanzi itu? Sungguh naif." Pikir rosa terus memasang senyum sopan kepada Andre. Rosa terus menjaga sopan santunnya dengan baik. Dai kan nggak mungkin langsung berteriak dan bertanya 'gege palamu?' kepada Andre.
"Ah, makasih kak atas tawarannya, tapi akan lebih baik jika saya memanggil kakak dengan sebuah Kak Andre aja." Jawab Rosa menolak dengan sopan.
"Aduh, xiao xiao..., kamu ini nggak usah terlalu sopan sama kakak. Nggak usah segan. Kamu bisa menjadi diri kamu disini, kamu bisa meluapkan segala emosimu disini."
"Meluapkan emosi? Lalu apakah aku bisa memukul kepala begomu itu. Aku bukannya sopan, tapi aku esmosi dengan sikapmu itu. Esmosi, tau esmosi nggak sih? Bener-bener bikin emosi aja." Batin Rosa yang terus menjawab setiap kalimat dari Andre.
Rosa sebisa mungkin menjaga senyum diwajahnya itu dengan baik. Padahal dia sudah emosian sejak tadi, dan marahnya itu sudah sampai ke ubun-ubun. Mungkin sebentar lagi akan meledak.
Andre maju mendekati Rosa, dan kemudian merangkul bajunya. "Ini apaan lagi, pake sok bersahabat segala lagi." Tanya Rosa yang merasa risih dengan sikap Andre.
"Xiao xiao, kamu tau nggak, klo cara berpakaian mu itu sangat keren, so feshoneble and gentlemen. Kamu itu tiada duanya disini, kamu adalah cowok cantik pertama yang pernah gege temui. Kau tau, disini memang panas, penuh desakan orang-orang. Tapi kehadiran mu disini lebih panas dan panas lagi. Lihat cewek-cewek disudut sana, bahkan dari kejauhan sini gege bisa melihat pandangan membara mereka untuk mu, xiao xiao ku yang cantik dan imut." Ucap Andre membelai wajah Rosa dan memperbaiki letak kacamatanya.
__ADS_1
"Ini orang klo ku sleding mati, nggak ya?" Tanya Rosa pada dirinya sendiri sambil menggenggam erat tinjunya, menahan dirinya dengan baik supaya nggak meninju Andre. Karena Rosa nggak mau besok akan keluar artikel di koran klo seorang laki-laki meninggal di sebuah bar karena ditinju oleh seorang gadis cross dressing.
Dian yang melihat kakaknya sudah keterlaluan pada Rosa nggak bisa diam saja. Dia tau klo kakaknya memang gitu diri orangnya, tapi kali ini dia sudah keterlaluan dengan orang yang baru saja dikenalnya, terlepas dari Rosa seorang cewek yang melakukan cross dressing.
"Kak, kakak datangnya dengan siapa kesini? Masa sendirian aja?" Tanya Dian kepada Andre dan melepaskan tangannya dari rangkulan bahu Rosa.
"Oh ya, kakak datangnya dengan si 'wolf of ice', kakak lupa lagi pada dia." Jawab Andre yang baru sadar klo dia datang dengan seseorang.
"Nah, kan? Makanya jangan asyik bicara (godain) dengan temanku aja. Kan Kak Reyhandra nya jadi kelupaan." Kata Dian menarik tanggan Rosa menjauh dari kakaknya itu saat dia sedang lengah. "Ayo, Shak!" Bisik Dian pelan kepada Rosa.
Andre sadar klo Dian dan Rosa sudah menjauh darinya, ternyata Dian menipu dirinya. "Hei...., kalian mau kemana?"
"Maaf kak, tapi kami harus manggung sekarang." Jawab Dian setengah berteriak.
Andre hendak mengejar Dian an Rosa kembali, tapi saat dia lihat pintu masuk, ternyata Reyhandra sudah sampai. Andre langsung mengangkat tangannya dan melambaikan tangannya agar Reyhandra tau dimana posisinya.
"Rey!! Disini." Teriak Andre.
Reyhandra yang melihat keberadaan Andre langsung menyapanya, "Sendirian saja? Adek lo mana?" Tanya Reyhandra kepada Andre.
"Lo dateng-dateng bukannya nyapa gue dulu, malah nanyain adek gue lo. Demen lo sama dia. Gue kasih tau ya sama lo, adik gue itu cowok dan dia masih lurus, sama kayak gue. Jadi lo buang aja jauh-jauh pikiran lo itu."
"Lhah? Kok jadinya gitu? Gue kan kesini nggak untuk nyapa lo, tiap hari gue liat wajah lo di kantor, tau nggak? Sampe bosen gue. Gue kesini hari ni karena lo bilang adek lo mau manggung, makanya gue dateng, klo nggak buat apa? Nemenin lo main-main cewek disini? Lebih baik gue berjamur aja di kantor ketimbang gue temenin lo." Jawab Reyhandra menusuk.
"Bro, kata-kata lo itu tetap aja menusuk ya, dan paling parah plus pedih plus beracun banget lagi." Ucap Andre yang merasa hati batinnya tertohok, karena semua yang dikatakan oleh Reyhandra itu memang benar adanya.
"Banyak drama lo? Adek lo mana?"
"Noh tu disana, atas panggung. Lagi ngetes microphone-nya." Jawab Andre menunjuk malas kearah panggung dengan dagunya.
"Ok, kita cari tempat duduk yang nyaman." Ucap Reyhandra segera mencari meja yang nyaman untuk diduduki dan pas untuk melihat kearah panggung.
Andre mengikuti Reyhandra dari belakang dan duduk dimeja yang sama. Musik petikan gitar oleh Dian mulai mengalun. Musik DJ yang sudah berhenti membuat fokus pengunjung tertuju ke arah panggung.
__ADS_1
Rosa yang menjadi vokalis utama duduk di atas kursi yang tingginya sebatas pinggang iyu dengan elegan. Microphone yang didepannya menandakan klo dia yang akan bernyanyi, itu nyata. Hal baru bagi Rosa, dia cukup menikmatinya, suasana musik petikan gitar yang dimainkan oleh Dian serta bantuan musik DJ yang sedikit ringan ketimbang saat awal dia memasuki bar. Inilah kesenangan yang nggak bisa Rosa dapatkan, tapi dia akan terus menggapainya.