
Oryza memperhatikan segalanya dari kejauhan. Memperhatikan segala hal yang dilakukan oleh Rosa dan Alan dari kejauhan. Hingga akhirnya Alan berlari masuk kedalam rumah sakit dan meninggalkan Rosa sendiri di taman, dan akhirnya berjalan ke arah kursi dibawah pohon rindang untuk duduk.
"Apa mungkin pacarnya itu sedang ada panggilan mendadak ya? Mungkin sih, because he is a doctor. Impossible he leave a girlfriend that is so beautiful like that. But, may be too. Nothing impossible in this life. Apalagi ceweknya kelihatan sedih gitu, kan? Ahhh, apa urusannya sih sama aku. Kok aku jadi ribet gini sih orangnya."
Oryza segera beranjak hendak masuk ke rumah sakit, menyusul asistennya masuk ke dalam rumah sakit untuk mengambil obat kakaknya yang sedang kurang nak badan karena perjalanan jauhnya kemaren.
"Nyusul si Erik aja dulu deh. Ketimbang itu mulut ember malah ngadu lagi sama kakak Julian. Kan jadi brabe urusannya, apalagi itu cewek juga nggak ada urusannya juga sama aku." Omel Oryza pada dirinya sendiri.
Oryza langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit mencari Erika. Tapi dia tak kunjung menemukan Erik didalamnya dan justru malah tersesat di antara orang-orang yang berlalu lalang didalam rumah sakit.
"Mana sih si Erik ini lagi? Jalannya aja so fast. Kayak mana mau nyusul coba?" Oryza terengah-engah mencari Erik, namun tak kunjung ketemu juga, dan dia pun terus mencari lagi.
"Apa aku cari orang yang pake setelan jas hitam kantoran gitu aja, ya? Kan makin simpel dan memperkecil jangkauan pencarian ku. Ya, itu dia. Aku memang sangat brilian." Pikir Oryza dan merasa bangga dengan dirinya itu. "Let's try it." Seru Oryza bersemangat.
Oryza akhirnya mencari orang dengan setelan jas hitam di seluruh rumah sakit. Namun naas, bukan Erik yang ditemuinya, justru malah orang berbadan kekar yang sangat seram. Sudah beberapa kali dia sudah salah mengenal orang dan malah berakhir dengan orang yang berbadan besar seakan mau makan orang. Apalagi orang itu langsung melakukan melakukan peregangan tangan bergaya memukulnya.
"Hei, hei, ini rumah sakit lho. Tempat umum, jangan berpikir untuk melakukan kekerasan disini. Emang kamu nggak takut apa?" Oryza menunjuk ke arah laki-laki kekar yang dikira sebagai Erik oleh Oryza.
"Heehhhh, hemm." Laki-laki kekar itu terus melakukan peregangan tangan dan terus maju ke arah Oryza.
Oryza juga terus mundur kebelakang senada dengan laki-laki kekar itu maju kearahnya. Selangkah laki-laki itu maju ke arah Oryza, maka tiga langkah Oryza mundur kebelakang. Hingga akhirnya Oryza terpojok sendiri di dinding dan tak ada ruang untuk mundur lagi.
"Hei, kamu kira aku takut melawan mu, because you have gig body huh? I don't afraid with you. You know? Bahkan aku pernah mengalahkannya sepuluh orang gulat secara bersamaan yang badannya melebihi badanmu itu. Kamu itu hanya kecil bagiku." Akhirnya Oryza bertingkah cool dan mencoba untuk tenang sambil bersandar di dinding dengan merangkul tangannya.
"Ohh? Begitukah?" Laki-laki bertubuh kekar itu berdiri tepat di hadapan Oryza.
"Emmmm. Kaget kan? Jadi sebaiknya kamu biarkan aku pergi, ehem, maksudku, kamu minggir saja dari hadapan ku sebelum aku benar-benar marah dan melumatmu sampai habis."
"Oh ya? Melumatmu sampai habis ya? Wahhh, aku sangat takut."
"Ya, emang itu yang harus kamu lakukan. Kamu memang harus merasa takut." Ucap Oryza sambil merem supaya makin kelihatan lebih pro gitu.
"Ini nggak salah kan? Biasanya klo di drama, tokoh utamanya pasti melakukan seperti ini." Oryza tersenyum tersendiri memikirkan klo laki-laki kekar itu akan takut dan memohon ampun padanya sambil bersujud untuk dimaafkan.
"Takut? Seharusnya kamu yang takut, karena gue nggak sendirian bro." Lelaki kekar itu kembali bersuara hingga membuyarkan lamunan Oryza yang membayangkan si lelaki kekar itu memohon ampun padanya.
Dari belakang laki-laki kekar itu muncullah empat orang laki-laki bertubuh kekar lainnya. Dan itu sontak membuat Oryza kaget membelalakkan matanya saking luar biasanya pemandangan yang disajikan kepadanya.
"Kenapa? Kaget? Bukankah kamu pernah mengalahkan sepuluh orang pegulat secara bersamaan? Jadi jumlah dari kami semua hanya setengah dari pegulat yang kamu kalahkan itu?" Sarkas laki-laki bertubuh kekar mengejek Oryza karena dia kelihatan sangat ketakutan.
Oryza memang takut, namun dia segera mengubah mimik wajahnya itu, kembali cool seolah mereka semua bukan tandingan untuknya. "Apanya yang istilah like drama like real life. Ini sama sekali penipuan. Mana ada tokoh protagonisnya dihadapi dengan cobaan ini. Ini bukan syuting dramaaaaaa!!!" Oryza menangis dalam hatinya sendiri mengingat nasib tragis dirinya beberapa menit kemudian.
"Nggak apa Oryza. Ini rumah sakit. Jika kamu tumbang tinggal masuk UGD aja." Oryza meyakinkan dirinya sendiri dengan suara lirih.
"Hey bro, anggap aja diantara kita nggak terjadi apa-apa. Lagipula aku nggak rugi kamu juga nggak rugi. Aku hanya lagi bermurah hati saja sama kalian, jadi aku pergi dulu." Oryza segera berbalik dan melangkah pergi.
Namun hal yang tak disangka oleh Oryza, lelaki yang bertubuh kekar itu malah mengkabedon dirinya dan memojoknya ke arah dinding. Dan itu semakin membuat Oryza berkeringat dingin mengingat nasibnya.
"Ingin kabur, huh?" Tanya lelaki tubuh kekar itu tersenyum. Namun senyum itu nggak ramah ramah bagi Oryza, itu seperti senyumnya malaikat maut baginya.
"Bagaimana ini? Habislah aku? Bagaimana ini? Orang Amerika aja nggak semengerikan ini." Batin Oryza kalang kalut.
Laki-laki itu semakin mendekat ke arah wajah Oryza dan semakin dekat. Dan itu sontak membuat Oryza membuang mukanya dan laki-laki yang bertubuh kekar itu. Namun tak berhasil dengan itu, karena wajah Oryza kembali dihadapkan kembali dengan wajahnya si laki-laki bertubuh kekar itu.
Laki-laki kekar itu tersenyum puas karena Oryza yang semakin takut. Pikiran aneh dan delapan belas plus, dua puluh satu plus mulai terbayang dalam pikiran kotor Oryza. Apalagi saat Oryza melihat teman-temannya si lelaki bertubuh kekar itu yang tersenyum aneh kepadanya.
"No, no, my virgin. Aku nggak mau melakukan hal pertama bagiku dengan sesama laki-laki. Apalagi dia tubuh sekekar dan segede ini. Pasti anunya sangat besar, kan? Aku nggak mau, apalagi satu vs lima orang. No, my virgin." Oryza menutup mulutnya sendiri karena dia membayangkan klo dia tidak sanggup untuk menerimanya.
__ADS_1
"Noooo!!!! Tidaaakkk!!!" Teriak Oryza kencang dan langsung berlari tak menentu arah. Dan itu justru membuat para lelaki bertubuh kekar itu tambah aneh.
Para laki-laki bertubuh kekar itu melihat Oryza yang lari terbirit-birit jadi bertanya-tanya, apakah mereka melakukan kesalahan? Mereka hanya bisa saling membuang pandangan pada satu sama lain.
"Apakah aku terlalu menakutinya? Padahal aku hanya bermaksud untuk menanyakan apakah dia memerlukan bantuan ku?" Tanya si lelaki bertubuh kekar yang tadi mengkabedon Oryza.
"Entahlah, mari kita lanjutkan untuk bertugas. Kita harus berkeliling, kan?" Jawab salah satu dari mereka.
Ternyata yang disangka sebagai bodyguard menakutkan oleh Oryza adalah satpam rumah sakit yang bertugas berkeliling untuk menjaga dirumah sakit itu. Hanya saja, ada hari-hari tertentu yang membuat mereka kadang-kadang memakai jas. Karena itu sudah mereka setuju diantara mereka.
Oryza yang berlari tanpa tau arah akhirnya malah berakhir di kamar mandi. Dia akhirnya dapat bernafas lega karena sudah sejak dari tadi dia seakan habis nafas saking takutnya. Dia melihat wastafel dan akhirnya mencuci muka di sana.
"Haaah, sangat menakutkan. Seumur hidup aku nggak mau ketemu sama mereka lagi. Tidak, seumur hidup aku nggak mau pergi ke rumah sakit ini." Rutuk Oryza pada dirinya sendiri sambil melihat kearah cermin, dan mengambil tisu yang sudah disediakan didekat wastafel untuk mengelap mukanya.
Pintu toilet tiba-tiba terbuka, dan keluarlah seorang suster wanita ari dalamnya. Suster itu merapikan roknya dan segera keluar menuju wastafel. Namun dia sangat terkejut karena dia mendapati seorang laki-laki berada di wastafel, yang merupakan kamar mandi, toilet wanita.
"Aaaaaaaaa!!! Kenapa kamu disini huh? Dasar mesummmmmm!!!!" Teriak si suster itu yang membuat yang lainnya juga ikutan panik termasuk Oryza sendiri, sekaligus dia juga terkejut karena dia salah masuk toilet.
"You, hei, you. Bisakah kamu berhenti berteriak?" Tanya Oryza mendekati si suster itu pelan-pelan.
"Apa yang mau kamu lakukan, huh? Jangan mendekat, jangan mendekat." Si suster itu mundur kebelakang saat Oryza mendekat.
"Ok, nggak mendekat. Tapi bisakah kamu diam? Berhenti teriak, ok?" Oryza menenangkan suster tersebut dan mencoba membuatnya tenang.
Namun belum sempat juga Oryza menenangkan suster tersebut, penghuni yang lainnya juga ikutan keluar dari kamar toilet karena suara pekikan dari wanita yang begitu kencang.
"Ada apa ini? Siapa yang berteriak?"
"Ada apa? kenapa?"
"Apa yang terjadi? Kenapa ada yang berteriak sih di toilet umum seperti ini? Siapa yang beteriak." Keluar cewek tomboi dari kamar toiletnya.
"Itu...." Kata si suster wanita menunjuk ke arah Oryza.
"Apa?!" Tanya para wanita bersamaan. Dan akhirnya mereka melihat kearah yang ditunjuk oleh suster wanita. Dan ternyata itu adalah seorang laki-laki.
"Apa? Kenapa ada laki-laki di toilet wanita?"
"Aaaaaa......" "Kyaaaaa...."
Para wanita menjadi sangat histeris karena ada laki-laki yang memasuki toilet wanita. Berarti otomatis itu adalah lelaki mesum buaya darat mata keranjang yang harus diberantas.
"Bukan begitu, aku hanya salah masuk toilet saja." Oryza membela diri.
"Salah masuk? Jelas-jelas disana tertulis 'toilet wanita'. Apakah kamu buta huruf huh?"
"Tunggu apa lagi kawan-kawan kita gebukin dia."
"Ya, habisin dia."
"Habisin dia!!"
"Tunggu dulu, kalian dengerkan penjelasan aku dulu." Oryza terus mundur, tapi dia di kepung.
"Ahhh, nggak ada alasan."
"Habisin aja dia. Dia itu sampah masyarakat, emang harus dihabisi."
__ADS_1
Oryza nggak tau harus membela diri gimana lagi, dan dia langsung memutar tubuh untuk lari keluar dari masalah ini. Namun sayang, Alyana Mulya, cewek tomboi tadi langsung menerjang ke arahnya dan mengunci pergerakannya. Dia mengunci tangannya dan merebahkannya di lantai.
"Wah, bagus, bagus."
"Kita bawa dia ke pos satpam disini, biar ditindaklanjuti."
"Ya, kita bawa dia."
"Ahhh ahhhh, aduddududuh, hurt, hurt. Lepasin, lepasin dong. You, lepasin. Ini hampir patah. That is hurt, you know girl?" Oryza mengaduhkan sakitnya. Apalagi Alyana duduk di atas punggungnya Oryza untuk mengunci tangannya kebelakang.
"Lepasin lo? Mimpi aja sana. Gue nggak tau kenapa bisa si banget sih dalam bulan ni. Selalu aja berhadapan dengan orang kaya sampah masyarakat seperti kalian." Rutuk Alyana dengan segala kesialan yang dialaminya.
"Aku nggak ada kaitannya dengan kesialan you girl. You should take me go."
"Huh? Take me go?" Alyana meniru perkataan Oryza dengan julid. Lalu mengencangkan tangan Oryza dan membuatnya kembali mengaduh semakin kesakitan. "In your dream!"
"You.... Aduh, sakit tau."
"Ya you, ya you. Gue punya nama kali. Nama gue Alyana Mulya. Camkan itu. Ingat nama gue dengan baik, bukan ya you, ya you. Capek bokap ma nyokap gue ngasih nama gue malah lo panggil ya you, ya you. Lo saba r aja bentar lagi, biar dipanggil satpam, biar kapok lo."
"Oh..., so your name is Alyana Mulya. I will remember you. Liat aja pembalasan aku."
"Hemmm, ditunggu."
Tak lama kemudian, seorang suster membawa orang ke dalam toilet untuk mengurus masalah Oryza yang masuk ke toilet wanita. Dan orang itu adalah Alan.
"Bukankah dia boyfriend dari gadis yang ada di taman tadi ya?" Tanya Oryza tersendiri saat melihat Alan.
"Ada apa ini?" Tanya Alan saat melihat Alyana sudah menguncinya Oryza bahkan duduk di punggungnya.
"Ini Dokter Alan, ada laki-laki mesum yang masuk toilet wanita." Ngadu para wanita kepada Alan.
"Aku bukannya sengaja masuk, tapi aku nggak tau ini toilet wanita." Oryza membela dirinya sendiri, yang karena pada harfiahnya Oryza memang nggak sengaja karena dia terlalu sibuk berlari dari kejaran lelaki kekar itu tadi.
"Apanya yang nggak sengaja? Emang lo buta huruf huh? Bicara aja sok-sokan Inggris, taunya padahal lelaki mesum." Alyana tak mau kalah dan semakin mengeratkan cengkraman tangan Oryza.
Oryza tidak mengaduhkan lagi, karena faktor terbiasa, sudah beberapa menit berlalu dia seperti ini. Dia tak mau mengaduhkan lagi, atau nggak citranya sebagai pria bakal hilang, karena asyik mengaduh seperti cewek. Dia sudah pasrah klo memang dia harus masuk UGD karena di vonis retak tulang.
"Terserah mau kamu mikir gimana. Emang aku bicara Inggris, orang aja penduduk Amerika, gimana nggak bicara Inggris. Untung aja aku pandai, hingga bicaraku Indo-Inggris dengan lancar."
"Huh? Orang Amerika? Jelas-jelas Indonesia nya aja lancar, sok-sokan bilang orang Amerika lagi."
Alan memijit kepalanya pening melihat hal yang terjadi di depannya. "Udah lepasin aja, Alya. Emang dia bukan orang sini kok. Liat pupil coklatnya itu. Emang dia orang barat."
"Nah, dengerin tu. What the doctor said." Oryza kembali memanasi Alyana.
"Diam lo, berisik." Alyana kembali mengertak Oryza dengan tangan tangannya. "Kan siap tau aja dia pake softlens gitu kan?" Bantah Alyana akan perkataan Alan.
"Udah lepasin aja. Aku yang paling tau." Tutur alan finish dengan keputusannya itu.
Akhirnya dengan berat Alyana melepaskan Oryza. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka tidak berani membantah karena itu adalah Alan. Apalagi Alan adalah orang yang dikagumi oleh banyak orang di rumah sakit ini, terkhusus adalah pengagum dari kalangan wanita. Siapa suruh juga tadi salah satu dari mereka membawa Alan kesini.
"Udah semuanya pada bubar, ya!" Alan berbicara pada yang lainnya. Akhirnya semua pun bubar dan kembali ke pekerjaan mereka sendiri ataupun hal yang ingin mereka lakukan. "Kamu kesini mau jenguk papanya Rosa, kan?" Tanya Alan kepada Alyana sambil keluar menuju ruang Raymond.
"Ya, tapi Rosa nya dimana ya. Dari tadi nggak keliatan batang hidungnya."
"Mungkin dia hanya ingin menenangkan diri sejenak." Jawab Alan sesudah berpikir beberapa saat. "Biarkan aja dia sendiri dulu, kamu biar saya yang mengantarkan ke ruangannya Tuan Raymond." Tambah Alan lagi sambil memandu jalan kepada Alyana.
__ADS_1
"Ok, baiklah."