Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 51 : Dia Sama Seperti Aku


__ADS_3

"Kakak apaan, sih? Kenapa aku harus pergi kesini buat memantau ini hotel? Bukankah ini hotel juga nggak bakalan pergi kemana-mana? Mau survei besok, mau hari ini, mau kemaren, mau lusa, ini hotel juga nggak bakal kemana-mana. Emangnya kakak pikir hotel ini punya kaki apa? Haaah, kakak brengsek. Kakak sialan. Benar-benar f*ck brother. Don't understand about me although jus a little bite. Aaaaaa, go you to hell tomorrow, ok??!" Oryza terus merepet dan memaki kakaknya menyuruhnya untuk mensurvei bagaiman keadaan hotel mereka.


Erik yang berjalan di belakangnya tetap keep calm seperti biasa. Tugasnya hanyalah untuk memantau tuan kecilnya itu sesuai perintah dari tuannya itu. Dan yang terakhir, melaporkan gimana perkembangan Oryza pada tuannya.


"Aaaaaaa, dasar kakak brengsek!!!! Rocky sialan!!! Dasar asu kau. Liat aja ya, kau suruh aku sekali lagi ku buat kau jadi ayam panggang. Emangnya sekali kamu kakak aku nggak bisa apa-apain kamu, huh? Rocky brengsekkk!!!" Teriak Oryza terus memaki dan sesekali menendang batu-batu kerikil di jalan.


"Tuan, kau memaki tuan Rocky seperti itu bukanlah hal yang baik. Bagaimana klo tuan Rocky tau, bisa-bisanya tuan akan lebih menderita lebih dari ini. Contohnya saja sekarang, karena tadi Anda membantah dan beradu mulut dengan kakak Anda, sekarang malah dibekukan ATM, kan? Dan hanya diberikan uang cash aja, kan? Bahkan hingga saat ini saja Anda sudah berhutang sebesar 2 juta pada saya sejak Anda sampai di Indonesia." Jelas Erika kepada Oryza tetap menahan diri, karena dia nggak punya hak untuk komplen akan hal itu.


"Emang kamu nggak ikhlas klo aku ngutang sama kamu? Biar ku bayar kau sekarang. Terus pulang aja kamu ke kakak, laporin sana klo aku memaki-maki dia anjing, sialan, brengsek. Bikin orang bad mood aja. Nggak kakak, nggak asistennya, semua sama saja. Aiiisshh, gini amat sih yang namanya hidup tanpa uang. Bahkan orang yang kau anggap seperti teman aja mengkhianati mu."


"Sejak kapan tuan Oryza menganggap saya sebagai teman Anda? Setau saya Anda selalu menganggap saya sebagai babu Anda, kan? Dan barusan Anda juga tau sendiri, klo saya asisten kakak Anda, jadi saya bekerja untuk kakak Anda." Sahut Erika yang membuat Oryza terkena mental. Karena itu emang benar adanya.


"Ah, diamlah kau."


Perkataan Erik emang tak sepenuhnya salah, karena yang Oryza lakukan biasanya hanyalah mengajak Erik ke bar dan nantinya dia bakal menyuruh Erik yang membayarnya. Karena Oryza sudah tau uang Erik yang dikeluarkan untuknya juga uang kakak. Karena itu dia memanfatkannya dengan sangat baik.


Tapi akhir-akhir ini kakaknya juga nggak kehilangan akal, sekarang semua pengeluaran yang dikeluarkan Erik akan masuk ke utangnya sendiri. Karena kakaknya nggak akan membayarkannya lagi.


"Sialan. Udah nggak bener lagi ini. Bisa-bisanya bakal terkuras habis aku. Mau ke bar nggak bisa, mau shopping nggak bisa. Benar-benar hidup manusia purba. Apalagi sekarang mobil pun nggak dikasih. F*ck!" Batin Oryza terus menendang kerikil-kerikil yang ada, dan sesekali memukul tanaman bunga yang ditanam luar hotel.


Erik tetap setia menyertai Oryza buat keliling untuk mensurvei hotel. Dia hanya mengikuti Oryza dari belakangnya dan mengarahkannya jika perlu.


Dan yang lain itu terserah Oryza mau ngelakuin apa terserah. Mau tuannya itu teriak apa, tendang apa, itu terserah. Dia hanya disuruh untuk mengawal saja, dan yang lain terserah tuan mudanya mau ngapain. Namun jika emang udah melebihi batas yang sudah ditentukan, dia hanya disuruh untuk tetap menjaga image tuan mudanya saja.


"Kakak brengsek!! Si Rocky penindas. Makan kotoran aja kau. Liat aja, saat tidur nanti malam moga aja kamu mimpi kursi roda bergelantungan. Saat bangun tidur moga aja si nanny-nya lupa masukin gula dalam kopi." Merepet Oryza terus-menerus disepanjang jalan saat survei hotel.


"Tuan, kau mempunyai adik yang sangat berbakti padamu. Bahkan dia menyumpahimu makan kotora. Kursi rodamu bergelantungan. Kau sangat beruntung, tuan." Batin Erik yang udah nggak tahan lagi berdiri didekat Oryza.


Udah dari tadi sejak sampai bahkan sekarang survei hotelnya hampir selesai, terus saja merepet. Kupingnya sudah sakit karena dari tadi mendengar Oryza terus marah-marah seperti ibu-ibu komplek.


Bahkan staf yang bertugas kerja di kebun tadi aja sampai terheran-heran. Mereka berpikir klo mereka ada melakukan kesalahan dengan pekerjaan mereka, karena mereka melihat Oryza yang terus saja bergumam sesuatu yang kasar, bahkan ekspresinya itu sangat ngeri.


"Tuan, semuanya sudah di survei, dan sudah ada catatan di tangan saya. Bagian kebun dan taman yang tadi adalah yang terakhir." Beritahu Erik sesuai dengan buku catatan yang di pegangnya.


"Baguslah klo seperti itu. Tadi itu benar-benar menguras tenagaku, bahkan sampai kepala ini pun rasanya nyut-nyutan."


"Itu salah tuan sendiri, karena terus merepet disepanjang waktu. Bahkan saya pun kagum dengan bakat Anda itu."


"Ah, sudah, diamlah. Mari kita pergi ke bar sekarang dan bersenang-senang. Terakhir di bar ada penyanyi laki-laki cantik itu. Penasaran apa dia akan nyanyi juga malam ini? Sudah lama aku nggak mendengar dia nyanyi."


"Tapi tuan, Anda harus pulang sekarang dan melaporkan ini semua pada Tuan Rocky. Sudah bagus saya membantu Anda dalam mencatat ini semua. Saya beritahu ya, saya nggak klo saya juga yang harus melaporkan ini semua pada Tuan Rocky. Bisa-bisanya saya juga dimarahi karena saya terlalu memanjakan Anda." Tegas Erik pada Oryza, yang bagi Oryza segala perkataan Erik itu hanyalah angin lalu saja.


"Yayaya, kamu tenang saja. Biar aku sendiri yang melaporkan ini pada kakak. Tapi tetap saja, besok. Kakak ku itu juga butuh istirahat, kan? Nggak mungkin juga dia kerja sampai malam suntuk seperti ini. Ini hanya alasan kakak saja supaya aku nggak keluyuran."


"Tapi, tuan...." Sela Erik mendengar perkataan taun mudanya itu yang membuatnya pusing tujuan keliling memikirkan sikap tidak patuhnya itu.


"Ah, diamlah kau. Kamu hanya perlu nemenin saja. Klo nggak mau, kamu tunggu di hotel aja. Aku tetap bakal ke bar, nanti aku bakal ke hotel lagi, kita pulang bareng. Supaya kakak nggak curiga."


"Baiklah, saya ikut Anda saja. Saya nggak yakin jika melepaskan pengawasan saya begitu saja pada Anda. Sudah bukan sekali dua kali lagi Anda membuat masalah jika diluar pengawasan saya." Putus Erik yang akhirnya tak punya pilihan lain selain mengikuti Oryza ke bar juga.


Namun saat akan menuju ke bar, Oryza malah berhenti begitu saja dan mengintip melihat ke arah pintu masuk restoran untuk mengakses hotel. Melihat Oryza yang berhenti memperhatikan sesuatu, Erik juga mengikuti arah pandangan tuan mudanya itu tertuju.


"Ada apa tuan? Kita nggak jadi ke bar?" Tanya Erik pada Oryza.


Oryza mengisyaratkan Erik untuk diam dengan meletakkan jarinya dimulut. Dan Erik pun mengangguk mengerti. Lalu Oryza kembali fokus pada tontonannya.


Tapi Erik tetap saja penasaran, karena yang dia tau tuannya nggak ada kebiasaan apalagi hobi untuk memperdulikan wanita yang sedang berantem. Apalagi ini yang Erik perhatikan, mereka sedang memperebutkan seorang laki-laki. Bagi Erik itu sama sekali nggak elite dan nggak menarik perhatiannya.


"Tuan, apa bagusnya mendengar pada wanita yang memperebutkan seorang laki-laki?"


"Diam." Peringat Oryza pada Erik lagi. "Wanita dengan baju seksi pakai jas itu dia nggak sedang lagi memperebutkan lelaki. Tapi wanita disebelahnya itu sepertinya yang sedang mencari masalah." Jawab Oryza meluruskan.


"Kenapa tuan bisa tau klo wanita itu tidak sedang memperebutkan laki-laki itu? Emangnya tuan kenal sama mereka." Tanya Erik lagi mode kepo.

__ADS_1


Karena selama di Indonesia Oryza selalu bersama dengannya. Dan dia belum tau klo Oryza pernah berkenalan apalagi bertemu dengan wanita yang sedang berantem itu.


"Hemmm, bisa dibilang kenal, bisa juga nggak kenal. Karena dia belum memberitahu namanya padaku. Dan soal dimana kami ketemu..., aku nggak ingin mengingatnya lagi." Tutur Oryza yang langsung disalahpahami oleh Oryza. Mengira klo itu adalah cinta bertepuk sebelah tangan.


"Kasian Tuan Oryza. Padahal klo di Amerika dia yang mainin cewek, tapi saat di Indonesia bahkan wanita itu nggak ngelirik ketampanan Tuan Oryza sama sekali. Benar-benar malang. Tapi itu juga karma bagi Tuan Oryza. Moga aja dia nggak putus harapan saja." Batin Erik yang menatap iba akan tuan mudanya itu.


"Sialan. Sekarang malah diungkit lagi masa kelam di rumah sakit kemarin itu. Benar-benar nggak ada yang bagus hari ini. Benar-benar hati yang sial, lupa tadi aku buat ngecek keberuntunganku terlebih dahulu sebelum keluar." Pikir Oryza menyayangkannya, namun dia kemudian kembali fokus pada tontonannya.


.


.


.


"Eva? Kamu disini juga?" Tanya Rosa berbalik dan mendapati klo itu adalah sepupunya.


"Em, tentu saja ini aku? Emangnya kamu nggak kenal aku lagi hanya karena kamu akan menikah dengan Reyhandra? Tapi btw, kamu kenapa disini? Trus bersama laki-laki lain lagi, bukannya calon suami kamu sendiri. Ahhhh, iya juga, hubungan kalian kan cuma pernikahan karena perjodohan saja, kan? Mana mungkin orang sesibuk Reyhandra bakal dinner dengan kamu yang hanya pajangannya saja." Turur Eva dengan sarkas dan jelas-jelas menunjukkan permusuhannya dengan Rosa.


"Emangnya kamu kenapa klo aku mau dinner dengan Kak Alan ataupun dengan Reyhandra. Itu nggak ada urusannya dengan kamu, kan?" Tanya Rosa yang malas untuk meladeni Eva untuk beradu mulut.


Karena ini adalah tempat umum yang banyak didatangi oleh para pengunjung dan juga orang-orang besar. Bisa jadi itu akan memperngaruhi citra perusahaan papanya jika ada diantara mereka yang menyebarkan desas-desus, apalagi klo sampai ada reporter. Bisa-bisanya mereka jadi tranding.


Dunia bisnis ini juga sama dengan dunia para aktor dan aktris. Mereka harus bisa menjaga image di depan publik. Klo tidak, klo mereka ada skandal maka saham perusahaan akan berpengaruh. Dan para isnvestor juga akan menarik investasi mereka, karena mereka juga nggak mau bekerja sama dengan perusahaan yang keluarganya sendiri saja nggak bisa mengurusnya. Klo begitu, apalagi perusahaan yang mempunyai banyak cakupan.


Rosa segera berjalan lagi tanpa memperdulikan Eva, karena dia nggak mau buat masalah bagi keluarganya juga bagi Alan. Namun itu tidak dengan Eva, dia malah membuat keributan lagi.


"Hei, kamu j*l*ng. Kurang ajar ya kamu. Berani-beraninya kamu nggak memberiku muka sama sekali. Padahal kita ini sepupu." Teriak Eva menghentikan langkah Rosa.


Rosa menoleh ke belakang lagi, " Sepupu, ya? Klo begitu sepupu lebih baik nggak membuat masalah didepan umum seperti ini. Ini nggak baik buat citramu sebagai seorang pelajar yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi. Bukankah supupu sudah kuliah di luar negeri? Apakah sepupu masih saja belum paham dengan konsep pebisnis yang tidak membuat kekacauan di publik, atau sepupu emang nggak belajar tentang itu sama sekali." Jawab Rosa yang meskipun itu tak terkesan apa-apa bagi orang lain. Namun itu membuat Eva sangat marah.


"Apa kamu bilang? Jadi maksudmu aku ini nggak terpelajar sama sekali?" Teriak Eva marah dengan kilatan emosi yang begitujelas di matanya itu.


"Aku nggak bilang begitu sepupu. Kamu sendiri yang mangatakan itu, jadi jangan salahkan aku akan itu." Jawab Rosa tersenyum melepaskan dirinya tak mau disalahkan.


Kata-kata Eva itu membuat Alan jadi marah juga. Sudah dati awal dia menahan amarahnya. Untung Rosa menahannya, dan Alan juga ingat akan citranya dan Rosa bakal hancur jika mereka berantem di depan umum seperti ini. Apalagi ini didepan hotel juga restoran ternama.


"Maksud kamu apaan ya ngomongin Rosa seperti itu?" Tanya Alan pada Eva yang udah nggak tahan lagi dengan makian Eva.


"Maksud? Bukannya kamu sendiri yang lebih tau? Laki-laki yang punya tunangan sendiri dan perempuan yang sudah bertunangan, dinner dengan mereka yang bukan pasangan sendiri. Emang orang bjsa berpikir apa?Bukannya kamu dulu juga sangat menjaga citra polos dan lugu mu itu? Tapi sekarang kenapa? Udah nggak tahan lagi buat menggoyangkan ekormu itu? Atau jangan-jangan emang ini ajaran orang tua kamu." Ejek Eva yang semakin memprovokasi.


"Jaga ya omongan kamu." Peringat Rosa menunjuk ke arah Eva, namun dia masih bisa menahan emosinya.


"Ooow, marah, ya? Iya sih marah, kan soalnya ekor kamu itu sudah tertangkap. Wajar sih klo marah."


Rosa menenangkan dirinya, menghirup nafas lalu menghembusnya kembali. "Maaf sepupu, tapi kami datang kesini bukan dengan maksud seperti yang sepupu pikirkan. Terima kasih karena sudah memperdulikan aku, tapi aku datang kesini karena aku sudah bilang pada orang tuaku sendiri dan aku juga ingin membalas budi seseorang padaku. Makanya aku datang kesini. Sekali lagi tetima kasih karena sudah memperdulikan aku. Ayo kak, kita masuk aja. Nggak bagus klo kita perpanjangan lagi masalah ini." Ajak Rosa pada Alan dan langsung berjalan di depan.


"Ya, mari kita masuk."


"Maaf sebelumnya karena sudah membuat kekacauan di depan hotel kalian." Ucap Rosa pada orang yang emang menjaga di depan pintu masuk.


"Ya, nggak apa-apa. Silakan masuk. Anda hanya mau dinner saja, kan? Apa ada sudah melakukan reservasinya? Jika sudah Anda bisa langsung ke meja di samping kasir itu untuk melapor." Kata petugas yang berjaga itu mengarahkan.


"Well, thank you for your information." Senyum Rosa berterima kasih dan langsung hendak masuk.


"Hemph, pake mau masuk kesini segala. Kamu mana mungkin punya banyak uang untuk melakukan reservasi di tempat yang mewah ini. Bukankah dokter ini nggak punya banyak uang untuk membawamu makan disini. Kalaupun dia mampu, dia pasti bakalan menghabiskan setengah dari uang tabungannya untuk sekali makan disini." Lagi-lagi Eva menghentikan Rosa dan Alan untuk masuk.


"Udah kak, biarin aja orang itu mau ngomong apa." Ujar Rosa pada Alan.


"Maksud Anda apaan ngomong seperti itu pada saya. Meskipun saya cuma seorang dokter saja, saya masih mampu untuk membayar makan disini. Dan kalaupun saya menghabiskan setengah dati tabungan saya, setengah dari biaya hidup saya, emangnya itu ada urusannya dengan Anda? Nggak, kan? Jadi lebih baik Anda pergi saya dari hadapan kami, jangan mengganggu kami lagi." Peringat Alan pada Eva dengan nada marah yang penuh dengan tekanan tiap kakata-katanya.


"Kak Alan marah?" Batin Rosa karena dia nggak akan menduga klo olitu bakal terjadi.


"Yo, akhirnya ngaku juga klo kamu nggak mampu bayar jika makan disini. Jadi daripada kalian mempermalukan diri kalian sendiri, lebih baik kalian pulang saja. Jangan mempermalukan diri kalian sendiri. Rkaa, aku sebagai sepupumu berbaik hati untuk memperingatkan mu, lho? Gini-gini, kita juga keluarga, kan?" Kata Eva lagi sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


Rosa menggenggam tangannya erat. Dia sudah daritadi menahan dirinya sendiri untuk tidak ribut dengan Eva. Tapi Eva malah semakin menjadi-jadi dalam mengejeknya dan juga Alan.


"Cukup ya, Eva. Udah dari tadi kamu mengejek dan mengatai kami yang bukan-bukan. Sekarang aku nggak sedang mau ribut dengan kamu, jadi kami pergi dulu. Oh, dan ya, soal reservasi. Aku nggak perlu melakukannya tuh, soalnya aku punya ini." Kata Rosa tetap tersenyum sambil memperlihatkan kartu VIP pemberian papanya itu dan kemudian menyerahkannya pada penjaga disana. "Aku nggak perlu melakukan reservasi kan klo ada ini?" Tanya Rosa pada penjaga itu.


Si penjaga mengambil kartu itu an memeriksanya dengan seksama. Dan itu memang kartu pelanggan VIP mereka yang hanya tersebar 100 lembar saja.


"Ya, Anda nggak perlu melakukan reservasi. Anda bisa langsung menuju ke lantai dua, disana juga ada lift. Ada teman kami yang akan memandu Anda saat Anda akan kesana. Silakan pelanggan terhormat."


Penjaga itu membungkuk dan mempersilahkan Rosa dan Alan masuk. Walaupun Alan tidak percaya itu, namun dia nggak menanyakannya lagi. Karena Rosa tersenyum kepadanya sambil mengedipkan sebelh matanya. Dan itu juga membuat Alan kembali tersenyum kepada Rosa dan melupakan masalah kartu itu. Karena dia masih bisa menanyainya saat pulang nanti, karena nggak mungkin dia mengganggu dinner mareka itu.


"Oh, ya. Ku kembalikan kata-kata mu tadi pada mu. Bukannya kamu sendiri yang nggak sanggup membayarnya? Bahkan reservasi aja belum." Kata Rosa membalas perkataan Eva tadi yang sudah seenak jidat mengatainya tadi.


"Kamu..."


"Hemmm, kamu apa? Bukannya itu emang benar? Entah laki-laki mana yang sedang kamu tunggu itu, kan? Klo nggak kamu pasti nggak bakalan berdiri diluar dan mencari masalah, kan? Mengingat sikap kamu itu, kamu pasti akan dengan sangat percaya diri langsung masuk begitu saja kan klo emang kamu udah reservasi."


"Kamu tau apa? Apa kamu tau klo aku sedang nunggu tuna... Emmm, sedang menunggu teman, bukankah akan tidak baik jika aku masuk duluan tanpa dia." Ralat Eva yang hampir saja keceplosan mau mengatakan tunangan kamu, yaitu Reyhandra.


"Ohhh gitu, ya. Ternyata Nona Evangelin sangat setia kawan. Klo begitu, well, kamu tunggu saja teman kamu itu dan aku akan masuk dulu. Bye bye. Sorry, lagi-lagi saya membuat kalian susah karena sudah membuat kekacauan didepan hotel kalian ini." Kata Rosa pada penjaga disana


"Nggak apa-apa tamu terhormat. Silakan menikmati dinner Anda sekalian." Kata penjaga itu dan Rosa langsung masuk kedalam dengan Alan sesuai instruktur dari penjaga.


"Sialan, dasar j*l*ng." Umpat Rosa nggak terima. "Awas aja, liat aja gimana pembalasan aku."


.


.


.


"Erik, bukankah pemandangan itu seperti drama-drama? Aku beruntung sekali bjsa melihat pertunjukan itu didunia nyata." Kata Oryza puas pada Erik.


"Tuan, apa itu yang menjadi poinnya sekarang?" Tanya Erik yang nggak percaya klo pertengkaran seperti itu juga menarik baginya. Padahal bagi Erik itu nggak lebih seperti ibu-ibu komplek yang lagi berantem.


"Ya, itu emang bukan fokus utamanya. Telepon manajer restoran yang menangani para VIP, bilang klo pelanggan itu adalah tamu istimewa, jadi mereka harus memperlakukannya dengan baik."


"Tapi, tuan...."


"Lakukan saja apa yang ku perintahkan. Soal kakak nanti biar aku yang tangani. Kakak juga bukan pelit amat sama adiknya yang mau mentraktir orang yang disukanya." Jawab Erik enteng dan mereka langsung keluar dari tempat persembunyian mereka tadi dan masuk ke dalam hotel.


"Baik tuan. Saya akan langsung melaporkannya." Erik selesai menelpon dan melakukan sesuai aturan dari tuan mudanya itu, tapi Erik penasaran kenapa tuannya itu malah masuk kedalam lagi. "Tuan, kita nggak jadi ke bar?" Tanya Erik lagi.


"Rencana berubah. Aku nggak bisa melewatkan ini. Aku merasa klo aku akan mengetahui nama dewi itu malam ini." Jawab Oryza yang dengan semangat langsung masuk ke dalam. Membuntuti Rosa dan Alan.


"Tuan ini sangat aneh? Bukannya perempuan itu pergi dinner dengan laki-laki lain? Tapi kenapa dia senang dan malah berencana mentraktir mereka. Sehingga harus menelpon manajer dan memperlakukan mereka seperti tamu terhormat." Batin Erik yang tetap nggak paham akan maksud Oryza, dan hanya bisa mengikuti Oryza dari belakang.


...***...


Reyhandra dan Hans ternyata sudah dari tadi sudah sampai dan hanya berada didalam mobil di tempat parkir. Menonton semua tingkah Eva yang ceritanya baru saja akan dimulai, namun Eva sudah nggak sabar langsung membuat masalah dengan Rosa.


Reyhandra tersenyum smirk menonton itu semua dari balik jendela mobil. Meskipun Reyhandra nggak tau apa yang mereka bicarakan, namun secara garis besar Reyhandra tau apa yang terjadi. Dan dia cukup menikmatinya.


"Sayang sekali aku nggak tau dialog akting sempurna seperti apa yang mereka kataka." Kata Reyhandra pada dirinya sendiri.


"Tuan, Anda tidak turun dan langsung kesana?" Tanya Hans bertanya pada Reyhandra.


"Sebentar, Hans. Aku sedang menikmati pertunjukan indah ini. Dan kita akan menjadi yang terbelakang saja untuk malam ini. Karena dialog ku nggak ada di bagian itu Hans, kau mmengerti, kan?" Tanya Reyhandra yang senyum smirk itu tak luput dari wajahnya itu.


"Tapi itu..., tuan. Non Rosa dia sepertinya dengan kekasih lamanya itu. Bukannya tuan dulu memisahkan mereka berdua agar Anda bisa melanjutkan perjodohan itu? Bahkan Anda membuat skema kecelakaan untuk Tuan Alan dan mengatur Dinda untuk menjadi penyelamatnya?"


"Ya, Hans. Aku emang melakukan bitu semua. Tapi itu nggak ada hubungannya untuk malam ini. Dia sudah mengikhlaskan kekasihnya itu dan menerima kenyataan klo dia nggak ditakdirkan untuknya. Dia sekarang hanya akan menganggap aku sebagai mataharinya, walaupun sekarang nggak sepenuhnya. Tapi itu akan terjadi. Dan juga..., dia datang malam ini sama seperti aku." Jelas Reyhandra memainkan undangan dan juga buket mawar yang ada di tangannya itu.


Reyhandra memasukkan undangan kedalam saku jasnya, dan membuka pintu mobil keluar. Karena Rosa dan Alan pun sudah masuk, maka kini adalah bagiannya.

__ADS_1


"Klo gitu, sekarang badu giliranku, Hans." Ucap Reyhandra yang dengan cool berjalan menuju pintu masuk restoran sambil membawa buket bunga.


__ADS_2