Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 37 : Langsung Unboxing Aja


__ADS_3

Reyhandra POV


Pagi-pagi sekali aku sudah dibikin bad mood oleh seseorang. Padahal baru juga mengawali hari yang baru, juga suasana yang baru, tapi malah langsung dibikin sial. Sudah nggak ada yang beres lagi, kenapa sih dia bisa menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tak masuk akal begitu? Darimana sih dia belajar?


"Makin dipikir malah bikin makin emosi aja." Aku terus memikirkannya bahkan membaca dokumen pun aku nggak bisa fokus.


"Aiiissshh, apanya yang menjawab chat cuma dalam hati. Emangnya dia pikir aku pake telepati apa? Trus, apanya yang lowbat? Lowbat bapak mu! Semuanya nggak ada yang beres. Nggak kakaknya, nggak adeknya. Kurang ajar banget, f*ck, s*it!" Aku melemparkan dokumen yang kubaca dengan arah yang sembarangan.


Aku nggak peduli itu dokumen penting atau nggak penting. Proyek milyaran atau trilyunan. Yang ku tahu sekarang adalah melampiaskan emosi.


Hans membuka pintu ruang kerjaku saat aku melempar dokumen dengan acak. Dan kebetulan dokumen yang ku lempar pas terbang ke pintu bersamaan dengan Hans yang membuka pintu, dan itu membuatnya sontak terkejut. Namun bukan Hans namanya klo rasa terkejutnya itu mengganggu profesionalnya. Hans langsung mengatur ekspresi datarnya dan langsung menuju ke mejaku.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" Tanya Hans sesudah meletakkan kotak yang dibawakannya di depanku.


"Menurut penglihatan mu itu, apakah aku baik-baik saja?" Aku balik bertanya kepada Hans, dan dia hanya diam saja tak menjawab apa-apa.


Aku tahu klo aku keterlaluan dengan Hans yang tak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi mau gimana lagi, emosi sudah menyulut jiwa. Jadi yang ku tahu sekarang hanyalah pelampiasan. Dan kebetulan saja Hans sedang sial datang ke ruangan ku saja.


Hans tetaplah Hans. Kata-kata ku tak mengusiknya sedikitpun. Hans mengambil dan membereskan dokumen yang sudah ke lempar dengan telaten dan meletakkannya kembali didekat ku.


Hans berdiri tegak di depanku, dan seperti biasa dia melaporkan jadwal ku. Setelah melaporkannya Hans kembali lagi ke mode diamnya, berdiri tegak di depanku.


Kemudian kotak yang dibawa oleh Hans barusan mengambil alih pandanganku. Sebuah paket? Nggak seperti biasa. Aku bukanlah tipe orang yang memesan barang hingga mendapatkan paket. Ataupun, aku nggak pernah ada kawan yang mengirimkan sesuatu padaku.


Boro-boro aku dapat paket dari seorang teman, malah aku yang dibuat seperti ATM berjalan oleh seorang teman. Untung itu teman yang bisa dibikin babu kadang kala, jadi aku akan menoleransinya.


Aku mengambil kotak paket itu dan membaca siapa yang mengirimnya. "Kepada Tuan Reyhandra Kedrey di Group Kedrey. Cuma ini doang? Nggak ada nama siapa pengirimannya?"


"Nggak ada tuan. Kata kurirnya, paketnya itu harus sampai ke tangan tuan. Demam kata-kata, "Jangan pernah bermimpi bisa mendapatkannya seutuhnya." Begitulah pesan yang disampaikan oleh tukang kurir. Katanya lagi, itu adalah kata-kata dari si pengirim." Jelas Hans kepadaku.


Aku terus membolak-balik kotak paket. Ini tidak terlalu berat atau ringan juga. Nama pengirimnya juga nggak dicantumkan. Benar-benar aneh. "Kapan si kurir sampai kesini?"


"Saat tadi pagi saya sampai ke kantor tuan. Dan kebetulan saya berpapasan dengan kurirnya dan mencari Anda. Lalu saya bilang klo saya adalah sekretaris tuan, saya dia bisa mempercayakannya pada saya." Jelas Hans lagi tentang asal usul paket misterius ini.


"Oh, ok. Kita akan tau klo kita udah membukanya. Daripada terus menerka-nerka, jadi lebih baik kita langsung unboxing aja."

__ADS_1


Aku membuka paketnya, namun paket ini benar-benar kekanak-kanakan, dua lapis dibalutnya. Pertama pake kertas kado, kemudian satunya lagi pakai karton. Kemudian baru benar-benar isi dari paketnya. Aku membuka penutupnya, dan aku mengintip isinya terlebih dahulu. Aku langsung marah dan bertambah marah lagi. Emosi kembali menyulut ku. Aku benar-benar sial hari ini dan merasa dipermainkan.


"Haaah, aku melupakan dia tadi. What the f*ck with this packet. Benar-benar nggak ada yang benar hari ini." Aku meletakkan kotak paketnya dengan kasar. "Sialan, seharusnya aku tau klo dia itu benar-benar brengsek, benar-benar melakukan ucapannya. S*it!" Aku terus mengupat saat melihat paket itu.


"Apa isinya, tuan?" Tanya Hans yang juga penasaran dengan isi paketnya.


Aku melihat ke arah Hans dengan tajam dan mendadak juga Jans menjadi diam kembali. Hans memang tak salah, karena dia hanya bertanya saja. Namun aku sedang marah, merasa dipermainkan seperti ini.


"Apa kau merasa bebas sekarang? Pekerjaanmu sudah selesai semua? Klo udah, biar ku tambah lagi." Kataku kepada Hans dengan judes.


"Nggak tuan, terima kasih atas tawarannya, tapi pekerjaan masih sangat luas biasa banyak, apalagi sekarang sering bolos dari kantor. Ditambah beberapa hari kemudian, tuan akan sama sekali nggak ada di kantor dan otomatis semua urusan kantor akan jatuh ke tangan saya." Hans menolak ku dan tetap menanggapinya dengan positif.


Padahal klo dipikirkan lagi, selama ini nggak pernah ada orang yang bisa mempermainkan aku, cuma aku yang bisa mempermainkan orang lain. Apa ini yang namanya karma, ya? Mungkin karena nilai kebencian mereka sudah penuh padaku, makanya aku sial hingga kena karma dipermainkan seperti ini.


"Benar-benar sial. Nggak kakak, nggak adik. Sama saja semuanya." Upat ku lagi melanjutkan marah-marah ku dan dengan Hans yang melihat segala tingkah laku yang benar-benar sangat jarang ku ekspresikan.


Knop pintu tergerak, berarti satu orang pembuat masalah datang satu lagi. Karena nggak mungkin di pagi sepagi ini, nggak mungkin mereka sudah menyelesaikan satu laporan mereka. Dan benar saja, si pembuat masalah, si pembuat kepala pening, dia datang.


"Yuhuuuu, good morning everybody?" Sapa Andre dengan sangat gembira bahkan sampai loncat-loncat seperti anak kecil. Andre yang aneh dengan suasana antara aku dan Hans pun menjadi diam dan memperhatikan kami. "Are you okay, guys? Why with you both? Apakah kalian sedang bertengkar? Cih, benar-benar sangat kekanak-kanakan sekali." Andre langsung duduk di sofa dan merebahkan badannya dengan santai, bahkan didepan bosnya sendiri.


"Selamat pagi, Tuan Andre." Sapa Hans tetap dengan sopan. Memang benar-benar formalitas antara sesama teman kerja.


"Lo kenapa nggak jawab salam selamat pagi gue. Apalagi dengan lo? Pagi-pagi juga muka udah masam kayak gitu, kayak mau makan orang lo." Tutur Andre berkomentar tentang mimik wajahku.


"Iya, mau makan orang aku. Kamu mau ku makan."


"Alamak, garang kali lah lo, udah kayak singa betina, tau nggak? Emang lo kenapa sih? Coba ceritakan sama kakak ini." Tambah Andre kembali menaikkan tensi ku, bukannya diredakan kek, malah makin di tambahin.


Aku tetap nggak memperdulikan kata-kata Andre dan tetap pada kemarahan ku. Aku nggak mau menjawab apa-apa, dan ingin ku lakukan sekarang adalah diam dan diam aja. Pertama-tama aku butuh ketenangan untuk menceritakan semuanya kepada mereka.


Andre seakan paham klo ingin diam aja untuk sementara waktu, dia akhirnya menyuruh Hans untuk membawakan kotak yang ada di atas mejaku, dan membukanya.


"Undangan pernikahan? Bukannya ini bagus, ya? Kenapa lo harus marah kayak gitu. Nggak jelas amat lo, bingung gue liat sikap lo itu. Bukannya kemaren lo bilang klo lo akan melakukan akting yang sempurna bahkan dengan semangat lo yang berkoar-koar itu, sampe-sampe lo ngeganggu gue buat kencan. Gimana sih lo?" Ceramah Andre panjang lebar kepadaku.


Akhirnya aku nggak tahan juga, jadi aku akan menceritakan segalanya. Tapi pertama-tama aku menyuruh Hans untuk keluar dan melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


"Hans, kamu bisa keluar klo udah nggak ada apa-apa yang mau laporkan kepada aku. Oh ya, liat juga, apakah ada pergerakan dari mata-mata itu. Ku harap kamu bisa menghandlenya Hans. Karena itulah, aku sengaja menempatkannya di sisimu."


"Baik, tuan. Klo begitu saya permisi."


Hans langsung meninggalkan kantorku dan kembali menjalankan tugasnya. Juga sedikit tugas tambahan lainnya, yaitu mengamati apakah ada pergerakan dari Carent, yang merupakan mata-mata yang ditaruh oleh saingan perusahaan ku untuk memantau atau mencuri informasi penting yang ada di perusahaan ku.


Aku tahu, klo aku menaruhnya didekat Hans yang berarti juga bekerja sebagai seorang sekretaris, itu sangatlah beresiko. Itu akan membuatnya semakin mudah untuk beroperasi. Namun aku percaya pada Hans, klo itu nggak akan terjadi.


Ditambah lagi, ku kira aku bisa mengendalikan Carent, karena aku tau kelemahannya. Hanya saja aku belum bergerak, aku akan menuntaskan bagian keluarga Vogart dulu batu kemudian fokus lagi ke pekerjaan ku, aku akan mencuci kantor ini dengan bersih sebersih-bersihnya. Dan disaat itu terjadi, ku harap mereka akan siap.


"Jadi gimana, apa yang membuat lo marah? Padahal ini undangan pernikahan dan resepsi perkawinan kalian, langkah yang lo tuju makin dekat dengan tujuan lo."


Andre dalam mode serius pun dimulai, karena dia menganggap permasalahan ku juga termasuk dalam permasalahannya, walau dua suka main cewek, tapi dia tetap paling bisa diandalkan saat-saat seperti ini.


"Ya, aku marah kan kamu tau sendiri kemaren. Hanya saja aku nggak nyangka dia si brengsek itu benar-benar melakukan seperti apa yang dikatakannya. Dia benar-benar mengirim undangannya melalui kurir, bukannya datang sendiri atau minimal menyuruh sekretarisnya buat datang kek gitu." Jelas ku pada Andre tetap duduk di kursi kerjaku, tanpa menemani Andre di sofa.


"Apa?? Jadi ini yang buat lo marah-marah pagi gini? Bukannya lo emang udah menebak itu, ya? Hahahaha, ternyata seorang Reyhandra yang mendominasi di dunia bisnis ada kalanya diperlakukan seperti ini, ya? Maklum sih, lo mau ngambil adeknya dia, apalagi niat lo itu yang suci, tulus dan murni."


"Kamu ini kenapa sih? Sebenarnya kamu berada di pihak mana sih? Pake menertawakan aku seperti itu segala. Soal undangan itu hanyalah bumbu tambahan yang membuatku marah, ada faktor utamanya yang belum aku cerita."


"Faktor utama? Emang apa sih? Penasaran gue, faktor utama yang membuat seorang Tuan Reyhandra Kedrey yang terhormat meluapkan amarahnya itu, hal yang merupakan paling jarang dia lakukan." Tanya Andre yang meskipun dia tetap menahan tawanya itu, tapi nada bicaranya itu tetap menyindir.


"Nah dengar ini baik-baik, aku nggak akan pernah menceritakan ini balik. Ku harap setelah ini kau bisa mengangkat sebuah saran yang berguna bagiku."


"Hmmm, aman itu. Nanti akan gue atur sebuah saran pada lo. Serahkan aja pada ahlinya. Gini-gini gue, meskipun seorang karyawan yang dipaksa kerja rodi oleh atasan gue, namun gue tetap dokter cinta yang mampuni. Citra gue ini sudah terkenal tau nggak?" Imbuh Andre membanggakan diri.


"Terserah kamu dah, mau mikir aku kayak mana. Yang jelas klo aku dekat sama kamu, sarafan aku sama kamu." Jawab aku yang menyindir Andre, namun aku juga jujur klo itu memang benar. Kadang melihat tingkahnya itu, satupun nggak ada yang benar.


"What??! Gila lo klo dekat sama gue?" Terkejut Andre saat mendengar pernyataan ku itu.


"Iya, gila aku klo dekat dengan kamu. Apalagi nggak ada satupun dari hobi kamu itu yang waras tau nggak, selain dari main cewek aja yang kamu tau. Ditambah kamu nganggap aku sebagai ATM berjalannya kamu, bahkan sampe nama kontak pun begitu kan kamu tarok?"


Aku berhasil mengenai Andre tepat pada sasarannya, hingga dia nggak bisa berkata apa-apa lagi, selain untuk mengakuinya. " Ahhh, iya iya. Gue ngaku deh. Nanti gue ganti. Ok. Tapi yang gaji gue tetap aman ni, kan?"


"Bisa dipertimbangkan nantinya, sesuai mood ku."

__ADS_1


__ADS_2