Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 10 : Teman Baru


__ADS_3

Rosalyn melajukan motornya ditengah gelapnya malam yang di sungguhi oleh pemandangan gemerlapnya lampu jalanan serta toko-toko disepanjang jalannya. Angin malam yang menerpa wajah itu terasa nyata. Hawa dingin yang merasuki tubuh melalui kulit, inilah malam hari.


Rosalyn terus melajukan motornya dengan santai dan meluncur dengan sangat profesional, walaupun ini adalah kali pertamanya membawa motor. Ternyata dia tidak salah, membawa motor di dunia nyata sama saja dengan main game Rising Star.


"Gimana, Del. Nggak beda jauh kan dengan pembalap profesional?" Tanya Rosa ditengah perjalannya.


"Lumayan lah, setidaknya kakak nggak akan menabrak pohon yang sedang berdiri sendiri." Jawab Adelia setengah hati.


"Cih, dasar Adel si bocah ini. Apa salahnya sih memuji sedikit. Dasar bocah pelit, Klo pelit-pelit amat kayak gitu nggak akan dapat jodoh kamu nantinya." Rosa mengutuk Adel dalam hatiku.


"Oh ya, Del, btw kita akan kemana ini? Masa nggak da tujuannya sih?"


"Kakak aja yang nggak nanya kita akan kemana. Kupikir kakak sudah tau karena nggak nanya-nanya dari tadi." Jawab Adelia tetap dengan nada yang datar.


"Ahhhhhh.... Mana ku tau kita akan kemana? Kamu yang nggak bilang apa-apa dan nggak komen apa-apa dari tadi. Cuma asyik duduk nyantai dari tadi. Kamu pikir aku cenayang yang bisa baca pikiran kaya Alien? Dasar Adel si bocah tengik. Padahal dia jawabnya kayak gitu, tapi itu rasanya sangat menusuk. Itu menghancurkan image ku sebagai jiwa yang mencerminkan sebuah kejeniusan zaman ini." Rosalyn terus mengoceh dalam batinnya, dia nggak terima Adel yang dari tadi cuma duduk santai aja tanpa mengatakan tujuannya.


"Hahahaha, Adelia pacar baruku. Mana ku tau kita akan kemana. Dari rumah tadi sampai sekarang kamu cuma bilang klo kita akan bersenang-senang saja menggunakan cross dressing, tapi kamu nggak pernah bilang kemana tujuannya." Jawab Rosalyn yang terus mencoba bersabar dengan mulut menusuknya Adelia. Takut bisa-bisanya dia disuruh turun dari motornya dan ditinggalin sendiri di jalanan.


"Hemmmm, emang iya sih. Hanya saja aku males bicara klo nggak ditanya terlebih dahulu. Soalnya itu buang energi, begitulah."


"Hahaha, apa itu penting sekarang? Apakah penting aku harus bertanya dulu?"


"Hemmm, kenapa kakak terus mengoceh dari tadi? Kita ke jalan Banjartem No.2 dan tujuannya kedai nomor 2 dari awal masuk jalan."


"Nah, gitu kan enak, kan aku juga nggak akan nanya klo udah tau, nggak akan buang energi."Pikir Rosa lagi sambil mengingat jalannya. Walaupun dia jarang keluar seperti ini, tapi kakaknya sama sekali nggak pernah membuatnya menjadi anak yang buta map, Rosa pasti selalu akan diajak keliling kota Jakarta disekitarnya jika ada waktu luang.


"Ok, dimengerti. Silakan Tuan yang nggak mau buang energi duduk dengan nyaman. Dan sekali lagi, tolong berpegang yang kuat, karena saya akan melajukan motornya layaknya Pegasus yang meleset bagaikan cahaya. Saya nggak akan buang-buang kesempatan yang diberikan kepada saya seperti ini. Jarang-jarang saya bisa membawa motor warrior sehebat ini." Ucap Rosa penuh semangat.


"Terserah kakak saja, asal jangan sampe nabrak pohon nantinya. Sekedar informasi untuk kakak, aku masih belum punya SIM. Jadi kakak sebaiknya berhati-hati, jangan sampe kita berakhir di kantor polisi."


Motor terus melaju menyusuri jalanan ditengah hiruk pikuk kota pada malam harinya. Pejalan kaki, para pasangan yang sedang berkencan, motor-motor dan mobil-mobil terus berlalu-lalang. Rosa menyusuri dan menyapu jalan satu per satu, hingga dia sampai di jalan yang dimaksud oleh Adel.


Rosa memarkirkan motornya ditempat parkir yang sudah disediakan. Rosa menyapu pandangannya pada setiap orang yang masuk keluar kedai yang dimasuki oleh Rosa. Belum sempat Rosa membaca nama kedainya dia terlebih dulu dikejutkan oleh Adel.


"Woi, ngapain bengong." Tegur Adel menepuk bahu Rosa.


"Alamak, terkejut aku. Del, bisa nggak klo manggil orang tu baik-baik, jangan main mengejutkan orang gitu."


"Kak, masa masih manggil aku Adel, Del sih? Kita ni udah masuk arena buat senang-senang. Disini namaku tu adalah Leon, dan akan lebih baik klo kakak bicara formal sama aku. Dan kakak, nggak mungkin kan gunain nama sendiri sekarang? Kita ini lagi cross dressing, kita nggak menggunakan identitas kita disini." Jelas Adel pada Rosa tentang makna bersenang-senang yang sering dilakukannya.


"Yang kamu katakan memang benar, klo gitu namaku..., nama..., siapa ya?" Rosa mencoba memutar otaknya dengan keras. Tapi tidak ada satupun nama yang keluar dari kepalanya, roda otaknya pasti lagi nggak sedang kerja sekarang, toh biasanya Rosa sekarang sudah terlelap dalam buaian mimpi.


"Kenapa mikir nama aja susah amat sih? Biasanya ide mengalir bagaikan air sungai yang deras, kenapa sekarang buntunya minta ampun." Teriak Rosa dalam hatinya.


"Kak, are you okay? Udah dapat namanya belum? Lama amat sih mikir namanya? Padahal cuma nama samaran aja? Kasih aja sembarangan, nggak akan mati juga." Sarkas Adel dengan tajam. Ini emang Adel, nggak ada yang namanya toleransi dikit pun.


"Sabar, lagi mikir juga. Buat apa buru amat sih?"


"Alah, kasih aja sembarang. Didi kek, Diki kek, apa kek gitu. Pokoknya jangan kelamaan lah mikirnya."


"Iya iya, sabar dikit napa sih?"


"Iya, buruan. Masa kakak mau berdiri diluar mulu sih?"


"Ini bocah, buru-buru amat. Ada apa dengan kedai ini sih?" Rosa bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Rosa memicingkan matanya, dan mencoba membaca tulisan nama kedainya dari kejauhan. "Oh my god. Bar? Ini seriusan bar? Adel bocah bawah umur ngajak aku ke bar? Pantesan dia bilang untuk memikirkan nama samaran."


Rosa membuang pandangannya kepada Rosa dengan tajam. Dia nggak percaya klo Adel anak dibawah umur yang seharusnya masih polos itu tempat mainnya itu adalah bar. Ini memang fase memberontak bagi seorang anak, tapi juga nggak seharusnya dia mengibarkan bendera rebellion dengan begitu tingginya sekarang. Bagaimana akan masa depannya? Itu merusak masa depannya gang cerah nanti.


Rosa melihat Adel dengan rasa iba. Dia menepuk bahu Adel. "Del, dunia sekarang memang kejam. Kadang keluarga kita juga kurang memperhatikan anak-anaknya. Tapi nggak seharusnya kamu menyerah begini. Mungkin ekspektasi kamu memang tidak sesuai dan gagal, itu bukan berarti masa depan kamu hancur. Jadi mari kita pulang saja, ok? Jangan menyerah pada dirimu sendiri, kamu ngerti maksud kakak, kan?"


"Kakak apa-apaan sih? Aneh, tau nggak?" Adel menampik tangan Rosa dari bahunya. "Ekspektasi, gagal, hancur, masa depan. Kakak ini aneh tau nggak. Kakak sakit ya." Ucap Adel menempelkan tangannya di kening Rosa.


"Nggak Adel, kakak nggak sakit, kakak baik-baik saja. Kamu dengerin kakak, kita pulang sekarang, ya? Nggak seharusnya kamu menghancurkan masa depan kamu karena kamu memberontak dengan keluarga mu."


"Kakak udah mikir nama samarannya? Klo udah kita masuk sekarang. Dan lagi, aku lagi nggak sedang melakukan pemberontakan, ok?"

__ADS_1


"Ehhhh, nggak ya. Lhah trus apa dong?"


"Kakak mikir nama samarannya aja dulu, aku cerita didalam, ada temanku, dia nunggu didalam. So, hurry up."


"Ok, I'm understand. Jadi nama samarannya adalah Shaka." Jawab Rosa memasuki mode seriusnya. "Baiklah klo begitu, karena Adel bilang ini nggak masalah. Kita akan liat kondisinya dulu. Siap kenalan Adel itu, lagipula itu bukan masalah besar bagiku, seorang pemegang sabuk hitam Taekwondo."


"Hemm, ok Shaka. Kita masuk sekarang."


Memang seperti yang diduga oleh Rosa. Bar tetaplah bar. Hanya saja ini skalanya masih kecil dengan yang diluar negeri atau yang sia lihat-lihat di Drakor atau Dracin. Bartender yang terus membuat Cocktail, juga pelayan yang berlalu lalang dari satu meja ke meja yang lain buat mengantarkan minuman. Muda mudi yang menari-nari dengan kewarasan yang down. Mereka berbaur satu sama lain, nggak ada beda. Semuanya membiarkan kewarasan mereka menurun, dan membiarkan kepuasan mereka yang menuntut yang memuaskan.


Bagi Rosa pemandangan ini merupakan pertama kali dilihatnya. Ternyata dunia ini memang luas, juga kejam. Dunia yang diketahui Rosa ternyata hanya sebatas kekeluargaan, bisnis legal, juga masa muda yang polos. Semua ini adalah pemandangan baru bagi Rosa, dunia yang tidak diketahuinya ternyata begini.


Adel menuntun Rosa dengan menarik tangannya. Orang yang dibilang Adel tadi, dia mau memperkenalkannya pada Rosa, temannya.


Adel berdiri dan menyapu pandangan di seluruh sudut. Akhirnya dia menemukan temannya dan segera menarik Rosa menemui temannya itu. Seorang laki-laki yang duduk sambil mengotak-ngatik gitarnya. Lampu disko yang berkerlap-kerlip berwarna-warni memang sangat mengganggu pandangan. Rosa kesulitan melihat dengan cahaya beginian, itu membuatnya sepur hati-hati.


"Nah, itu Dian. Kita kesana sekarang." Kata Adel yang menarik tangan Rosa ketempat orang yang dipanggil Dian oleh Adel.


"Del, kamu yakin itu orangnya?" Tanya Rosa sangsi. Dia merasa kurang yakin, karena pandangannya tidaklah jelas. Bisa jadi mereka mengenal orang yang salah.


"Shaka, panggil gue Leon. Dan gue yakin kok, klo itu temen gue Dian." Jawab Adel dengan bahasa formal gaulnya.


Risa terhentak sebentar, dia lupa klo sekarang dia bukanlah Rosa ataupun Adelia. Sekarang mereka sedang melakukan Cross Dressing, dan sudah memutuskan nama samaran masing-masing. "Baiklah Leon. Klo kamu memang benar-benar yakin. Kita hampiri dia sekarang."


"Hai, Yan. Lo jadi manggung kan hari ni?" Sapa Adel pada laki-laki yang bernama Dian itu.


"Oh, hai Le. Duduk dulu gih." Jawab Dian mempersilahkan Adel duduk.


Adel segera menarik kursi untuk didudukinya, begitu juga dengan Rosa. Tempat duduk ini terbilang termasuk bagian pojok, tapi ini jelas untuk melihat keatas panggung dari sini.


"Tentunya jadi dong. Ini demi harapan gue, cita-cita gue. Klo mau cita-cita lo itu kesampean, lo harus siap buat mulai dari titik terendah." Ucap Dian membalas pertanyaan Adel.


"Padahal finansial lo mendukung, kenapa nggak lo pake aja dana dari bokap lo. Lagipula uang itu udah jadi milik lo, kan itu uang jajan lo." Balas Adel lagi. Mendengar itu, Rosa merasa terasingkan. Dia asing dengan dengan pembicaraan dengan kedua insan didepannya itu. Tapi klo dari cara mereka ngomong, mereka pasti berhubungan dekat, mungkin seperti sahabat.


"Yah, lo kan tau sendiri gue gimana. Gue mau berusaha sendiri demi cita-cita gue. Alah, pokoknya lo tau lah. Aisshh, jangan ngomongin itu lagi, nggak enak tau. Masa di rumah bahas itu, nah klo disini mau bahas itu lagi. Kagak enak, Le. Bahas yang laen aja." Potong Dian yang nggak mau membahas masalah itu lagi, karena itu terkesan berat dan nggak mengenakkan.


"Klo itu emang sudah pasti kan? Tapi btw Le, kali ini lo bawa laki-laki tulen tau notulen sih?" Tanya Dian saat memerhatikan klo Adel pergi nggak sendiri melainkan dia bawa seorang teman dengan dirinya.


"Notulen? Lo pikir dia tu seorang sekretaris penulis hasil rapat apa? Dia tu temen gue, orang yang yang nolongin gue, ada kok yang gue ceritain kemaren. Dan tentunya orang yang gue bawa tu ya kayak gue lah. Itu aja pake dibilangin sih!"


"Nggak bukan gitu maksud gue. Kan siapa tau aja lo bawa laki-laki tulen gitu." Jawab Dian berkilah menggoda Adel.


"Banyak bacot lo." Adel nggak terima klo dia dikatain kayak gitu dan langsung memukul kepala Dian.


"Aduh, aduduh, sakit tau Le. Lo emang nggak punya hati ya. Nggak kayak laki-laki sejati lo."


"Emang orang gue bukan laki-laki sejati kok." Jawab Adel cepat membalas perkataan Dian.


"Aku siapa? Dimana ini? Kenapa nggak ada yang mengajak aku bicara? Apa aku jadi tembus pandang sekarang? Ini lagi si Adel, katanya ngajak buat senang-senang, ini malah kayak gini jadinya." Rosa terus bertanya-tanya dalam hatinya. Kejadiannya menjadi seperti unit yang tak nampak klo diantar kedua teman itu.


"Hai, salam kenal. Nama gue Dian Rocher. Salam kenal, ya. Sorry ya gue tadi nggak nyapa lo langsung, soalnya udah pada berdebat dengan si Lele. Sekali lagi maaf ya, karena lo udah liat pertengkaran gue dengannya." Sapa Dian pada Rosa memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya buat salaman.


Rosa menyambut uluran tangan Dian dan membalas salamannya. "Hahaha itu bukan masalah besar kok." Jawab Rosa tersenyum canggung. "Padahal itu masalahnya, klo nggak gara-gara kalian berdua terus berdebat, aku nggak akan jadi obat nyamuk kayak gini nih."


"Jadi nama lo siapa?" Tanya Dian lagi.


"Oh ya, kenalin, namaku Shaka. Salam kenal, nice to meet you, Dian."


"Shaka ya? Nama yang bagus, untuk orang yang cantik seperti lo. Nice to meet you too, Shaka. Tapi gue harap gue bisa tau nama asli lo kedepannya dan ketemu dengan orang aslinya juga."


"Ya, semoga suatu hari kita bisa jumpa dengan wujud asli kita, bukan dengan penyamaran gini." Jawab Rosa ambigu, yang artinya itu dia juga menanyakan identitas Dian juga.


"Eh..., lo nganggap gue sedang cross dressing juga kayak kalian ya? Nggak, gue ini asli, barang ori nih, gue nih laki-laki tulen beneran." Kata Dian meluruskan kesalahpahaman Rosa. Rosa melihat kearah Adel yang sedang minum jusnya dengan santai dan meminta kebenaran darinya.


Seakan tau Adel sedang ditanyai oleh Rosa, dia langsung menjawabnya dengan gaya santainya itu. " Ya, dia emang laki-laki tulen, kok. Dia disini buat nyanyi. Alah, lo tau sendiri lah, nggak mungkinlah itu doang kagak tau."

__ADS_1


"Ya udah, lo kagak usah gitu juga, Le. Gimana hari ni, mau nemenin gue manggung, nggak?" Tanya Dian pada Adel.


"Gue hari ni lagi malas, Yan. Lo minta si Shaka aja buat manggung sama lo. Kayaknya dia punya bakat tuh." Jawab Adel yang terus memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya.


"Ya udah lah, lo bisa kan Shak?" Tanya Dian beralih kepada Rosa.


"Ah, gue bisa sih. Tapi nyanyi ya? Soalnya gue nggak bisa main gitar, klo piano sih gue bisa. Nah disini kan nggak da pianonya." Jawab Rosa menyetujui permintaan Dian.


"Ok, nggak papa klo gitu, nanti gue yang main gitarnya, tenang aja. Ada Mas DJ nya juga kok. Aman itu. Lo nyanyi aja, sans Bro." Ucap Dian meyakinkan Rosa lagi.


"Hem, ok. Ayo."


"Nah, klo gitu. Fighting buat kalian berdua. Tampil yang bagus ya, jangan malu-maluin gue disini." Kata Adel dengan mulut tanpa filternya itu.


"Bawel lo, Le. Lo diam aja klo emang nggak bisa ngasih support yang bener." Sarkas Dian membalas perkataan Adel. Ternyata Adel memanglah Adel. Dia masa bodo, dan malah menjulur lidahnya mengejek Dian lagi.


...***...


Reyhandra POV


Malam yang begitu sangat melelahkan, yang memakan banyak tenaga meskipun walau tanpa gerakan spesifik yang berarti. Aku harus menghadiri perjodohan yang tidak penting sama sekali bagiku juga dalam hidupku. Ini semua gara-gara kakek yang terus mendesak ku untuk segera menikah dengan anak dari sahabat Ayah dulu.


Sesudah makan malam perjodohan selesai yang begitu lama, aku mengantar kakek terlebih dahulu. Sebenarnya makan malam tidak lama, hanya saja waktu yang berjalan seiring denganku itu terasa lama, entah berapa kali aku melihat jam tanganku saat proses makan malam itu terjadi. Entah mereka melihat tindakan ku itu atau tidak, aku nggak peduli, karena aku memang nggak pernah mengharapkan perjodohan itu terjadi. Aku trauma dengan pernikahan, jadi ku putuskan untuk tidak menikah seumur hidupku ini.


Tapi segalanya tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kakek terus mendesak ku untuk segera menikah dan menimang cucu. Memikirkannya saja sudah melelahkan, apalagi klo dijalani. Pasti lebih susah dari menjadi seorang CEO di perusahaan.


Aku harus segera balik ke kantor lagi dikarenakan banyak sekali pekerjaan yang belum ku selesaikan menungguku. Itu sudah menumpuk layaknya gunung Everest. Hidup ini memang sangat melelahkan, apalagi dengan dikasih beban buat segera nikah. Belum lagi ngejar deadline, karena dalam sebulan ke depan akan menjadi hari yang sangat melelahkan. Lagipula pekerjaan itu tidak mungkin ku serahkan semuanya kepada Hans.


Suatu pekerjaan juga ada batasnya juga untuk dikerjakan oleh seorang sekretaris, walau itu orang terpercaya sekalipun. Bukan berarti aku meragukan kesetiaan Hans, hanya saja aku sedikit kurang nyaman klo bukan diriku sendiri yang mengerjakannya, apalagi itu untuk proyek yang super penting.


"Tuan, kita akan kemana dulu?" Tanya Hans, sekretaris pribadiku, mengendarai mobil.


"Kantor."


"Tapi, Tuan.... Tuan besar bilangĀ Anda harus menyiapkan cincin pertunangannya terlebih dahulu. Apakah perlu saya putar mobilnya ke toko perhiasan? Anda mau toko yang mana?"


Itu membuatku sakit kepala, kenapa harus tunangan segala, sih? Kenapa nggak langsung ke pernikahan aja? Ribet amat urusannya. Belum lagi banyak meeting yang harus ditunda gara-gara acara acara ini.


Untung aku punya ambisi dalam pernikahan ini, klo tidak lebih baik aku hidup membujang selamanya ketimbang harus menikah yang urusannya belibet plus ribet. Bebas mau ngonta-nganti cewek. Lagipula aku nggak perlu menyuruh mereka datang ke pelukanku, mereka sendiri yang akan dengan sukarela menghamburkan dirinya padaku.


"Itu kamu urus saja. Lagipula, Rosalyn itu hanyalah alat bagiku untuk membalas dendam pada keluarga Vogart."


"Baik, Tuan. Lalu Tuan, bagaimana dengan fitting baju pengantinnya? Pernikahannya akan dilakukan seminggu kemudian setelah pertunangan dilangsungkan." Tanya Hans lagi.


Lagi-lagi membuatku tambah sakit kepala. Pekerjaan harus selesai, pertunangan serta pesta pernikahan juga harus jalan. Apakah aku tidak bisa mewakilkan pada orang lain. Andai ada hal seperti itu, pasti lebih mudah. Klo tidak seperti sistem belanja sekarang, pakai COD. Cih, klo dipikirkan sih enak, namun sayangnya hal itu nggak akan terwujud dan nggak akan pernah terlaksana.


"Kalau begitu, kosongkan jadwalku hari itu. Kakek akan marah besar jika tau aku nggak pergi." Jawabku sambil memijit pelipis ku. Dikarenakan rasa lelah yang sudah menjalar ke seluruh sendiku.


"Rosalyn..., sangat disayangkan kamu harus bertemu denganku dalam kehidupan ini. Aku sudah merancang berbagai cara balas dendam padamu. Jika memang kamu mau menyalahkan, salahkah saja orang tuamu."


Drrrrttt... Drrrrttt... Drrrrttt...


Ponselku bergetar dadi balik saku jas ku. Aku sengaja menghidupkan mode getar supaya nggak mengganggu acara jamuan makan malam tadi. Hampir saja aku lupa mengaktifkan kembali nada suara normal, klo tidak mungkin jika ada telepon penting dengan klien aku tidak mengetahuinya. Untung ada teman 'buaya darat' yang menelpon ku.


"Bro, nongkrong yuk. Tempat biasa." Sapa suara dari balik telepon itu.


Aku hanya diam mendengar ajakan dari temanku itu. Aku memang butuh tempat untuk merilekskan badan dan pikiranku sekarang, tapi kondisi tidak memungkinkan ku melakukannya. Banyak pekerjaan yang menungguku, bisa-bisanya aku tidak bisa pulang malam ini dan harus menginap di kantor.


Walau itu memang sering ku lakukan, karena rumah hanya sekedar sarana bagiku, nggak ada yang berarti dari rumah. Nggak ada yang berarti. Nggak ada yang menyambut ku saat aku pulang, nggak ada makanan hangat yang tersajikan di meja makan, nggak ada yang mengkhawatirkan dan nggak ada yang peduli klo pulang ke rumah atau nggak. Karena memang nggak ada orang lain di rumah selain ART dan juga beberapa pekerja lainnya.


"Bro, kok diem aja sih. Dimana kamu? Nggak lagi di kantor kantor kan? Kuyy lah sini buat main-main."


"Kau saja yang main, aku lagi nggak mood buat main-main. Aku ini berbeda, kau taulah sendiri, buat apa ku kasih tau lagi. Lagipula aku harus ke kantor lagi buat nyelesain pekerjaan besok."


"Dasar buaya darat, kau telepon cuma mau ngajak main? Giliran aku yang bicara kamu malah asyik sama cewek di sana. Ku kutuk kau moga kopi mu dikasih garam nanti. Dasar buaya." Aku bersumpah serapah kepada temanku itu, dia memang laki-laki bejat, sangat suka main perempuan. Walaupun aku sedikit nggak ada bedanya, setidaknya aku masih memikirkan kewajaran dan keuntungannya juga bagiku. Sedangkan dia ganti cewek seperti ganti pakaian saja.

__ADS_1


"Oh, nggak sempat ya Bro. Ya udah lah, semangat sana kerjanya. Besok-besok kita keluarnya sekalian gue denger cerita lo itu. Sekarang gue lagi sibuk." Katanya dari balik telepon dan langsung mematikan telepon begitu saja.


Aku menghela nafas berat, rasanya hari ini begitu melelahkan. Mulai dari tragedi dan adegan kakek tadi sampai sekarang, nggak ada yang menyenangkan sedikit pun. Apakah hari yang ku lalui ini harus begitu hampa? Aku butuh sesuatu untuk melampiaskannya, sesuatu yang membuatku terhibur. Apakah benar ada sesuatu yang seperti itu dalam hidupku ini? Dalam hidupku yang terkutuk ini? Selain dari balas dendam.


__ADS_2