Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 5 : Pesan, 'FUCK YOU'


__ADS_3

Rosalyn POV


Ketangkap? Yang benar saja. Jangan bercanda, deh. Mereka bermain licik denganku? Tentu saja aku akan menemani mereka bermain, sesuai keinginan yang mereka diharapkan. Klo mereka rubah, maka aku leluhurnya rubah, nenek moyangnya. Emang nenek moyang bisa mereka kalahkan begitu saja?


Aku tersenyum menyeringai menertawakan kebodohan mereka. Mereka pikir panduan ku akan berakhir pada poin ketiga begitu saja, jangan mimpi di siang bolong.


"Panduan ke-empat menghajar penculik mesum!!!" Teriakku kencang. Aku membenturkan kepala ku kebelakang, dan membuat penculik itu mimisan.


Rasain, emang enak? Pasti guru biologi mereka diajarkan oleh guru matematika. Apakah mereka nggak tau, klo tengkorak itu lebih keras ketimbang tulang rawan? Bukankah itu soal yang sudah biasa? Bahkan anak SD saja tau.


Sudah empat orang yang tumbang. Tinggal satu lagi, tapi tenaga ku sudah terkuras banyak. Rasanya seperti aku terus tersedot dan dehidrasi, begitulah kira-kira aku mendeskripsikan kehabisan energi. Ini bukanlah arena tinju yang bisa beristirahat sebentar sesudah melewati satu ronde, maka bisa minum-minum atau sekedar beristirahat dengan mengelap keringat atau dibasahi dengan handuk basah. Disini nggak ada istilah aku bisa melakukan itu, minum sedikit air sesudah aku berhasil menjatuhkan satu lawan ku.


Aku harus sebisa mungkin menghindar dari serangannya, karena satu serangan saja akan berakibat fatal bagiku. Aku mencondongkan tubuh ku ke belakang saat akan ditendang, menghindar kanan kiri saat akan dilayangkan tinjunya. Ini memang nggak efektif sama sekali, bisa-bisa aku kehabisan tenaga atau aku kewalahan dan pertahanan ku terbuka. Itu akan menjadi awal bagiku untuk tumbang, apalagi sekarang tenaga sedang tidak mendukung.


Bhuukkk...!


"Arrrggghhh..." Sial, aku terkena pukulannya hingga aku jatuh terjerembab ke tanah. "Ini perut nyeri banget, liat saja ku balas kau!" Pikir ku sambil melayangkan pandangan benci pada Paman beruang itu.


"Hehehe, gadis kecil. Ku kembalikan lagi kata-katamu tadi pada kami, 'sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga'."


"Hah, yang benar saja?! Kata-kata itu nggak berlaku untuk ku. Karena itu hanya akan berlaku untuk kalian para otak udang saja!!" Aku diam-diam mengambil segenggam tanah dan melempar ke matanya.


"Cara kelima panduan Taekwondo si jenius pemegang sabuk hitam, melarikan diri dari lokasi pertarungan. Tapi sayangnya aku nggak akan kabur begitu saja, aku bukanlah seorang pengecut yang akan lari dari arena pertarungan. Tak peduli itu pertarungan antara hidup atau mati, karena penghinaan ini akan ku balas langsung, perdana. Kau tau kenapa? Klo tidak itu akan melukai harga diriku." Aku memukul paman itu hingga babak belur, tapi aku nggak bakalan membuat dia pingsan sama seperti yang lainnya. " Paman, ku tambahkan bumbu untuk mu, karena aku sedang berbaik hati." Kataku sambil terus melayangkan tinju kepadanya.


Emosi ini menyulut diriku, aku kalap akan diriku sendiri, balas dendam yang ku rasakan mendidih dalam diriku, mungkin aku menganggap rasa sakit dan nyeri yang ku peroleh di perut ini sebagai penghinaan bagiku.


Aku mengangkat dagu paman itu supaya dia ingat akan wajahku, wajah gadis yang memukulnya hingga babak belur. Aku ingin dia mengingat akan penghinaan yang ku torehkan di wajahnya hari ini. Penghinaan sebagai seorang suruhan, tapi dia dikalahkan oleh seorang gadis bau kencur yang dikatainya. Ku perhatikan matanya yang sedikit membiru dan luka sobekan samping bibir yang berdarah, serta luka lainnya.


"Paman, tidakkah kau berpikir aku sangat pandai dalam menorehkan karya seni di wajahmu? Lihatlah wajah ini!" Teriakku sambil memperlihatkan wajahku. "Lihatlah wajah ini! Dan ingatlah penghinaan ini! Kau dikalahkan oleh gadis kecil yang kau sebut itu, Paman. Pergi! Cepat pergi dari sini sekarang!" Kataku melepaskan dagu paman itu. "Dan bawa teman paman yang sudah nggak sadar itu. Dan yang lain aku kira mereka masih bisa merangkak, kan? Pergi cepat!!!"


Mereka langsung bangun dan berjalan pergi meninggalkan ku sendirian. Beraninya mereka mencoba membawa gadis kecil. Di dunia ini aku sudah sangat paham, apalagi jika orang tua kita itu seorang pebisnis yang terkenal, maka banyak orang yang iri terhadapnya.


Mereka melakukan segala cara untuk menghilangkan lawan mereka di dunia bisnis, dan salah satunya adalah menculik orang yang berharga bagi mereka, dan kemudian menekankan mereka untuk mundur dari dunia bisnis dengan sendirinya sebagai tebusannya.


"Paman aku punya pesan untuk Bos mu." Teriakku kencang, hingga mereka menoleh kearah ku. "Pastikan kalian membuka mata dan telinga kalian baik-baik, dan sampaikan persis sama seperti yang kulakukan, 'FUCE YOU!' " Kataku sambil menunjukkan jari tengahku. "Ku yakin kalian paham dengan baik, bukan?" Tanyaku sambil tersenyum ramah, layaknya Sosiopat yang habis memukul orang tapi mereka masih bisa tersenyum lebar. "Oke, bye-bye. Sampai jumpa lagi, Paman. Senang bermain dengan kalian." Kataku melambaikan tangan kemudian.


Mereka langsung berbalik lagi dan pergi pulang kepada orang yang mengirim mereka. Andai saja aku seorang laki-laki dan punya seorang teman, aku pasti bakalan mengirim mereka langsung secara pribadi pada bosnya, dan menyampaikan pesanku secara langsung tanpa harus pakai perantara seperti ini. Ku harap saja mereka menyampaikan apa yang barusan ku titipkan.


" Pasti menyenangkan melihat ekspresi bos mereka itu secara langsung. Aiiissshh... Aku melewatkan pertunjukan baiknya. Ah, lupakan mari kita lihat gadis kecil itu, apa dia bersembunyi dengan baik?"


Aku menghampiri tempat gadis itu bersembunyi, dan mengajaknya pergi dari sini. Aku harus mengirimnya kembali ke rumahnya, kembali ke orang tuanya.


"Ayo bocah, kita pergi dari sini. Jika memang kamu nggak ingin ditangkap oleh mereka. Oh, maksudku kelompok satunya lagi." Kataku sambil tersenyum. Aku langsung menarik tangan gadis itu dan kembali ke pameran. Mungkin aku bisa mengirim gadis ini kembali ke orang tuanya.


Akhirnya aku melepaskan pegangan gadis itu sesudah ku rasa ini cukup aman. Dan dia juga bisa langsung pulang, ataukah baku harus mencarikannya taksi untuk mengirimnya pulang? "Kalau dipikir-pikirkan lagi, siapa yang memberinya keberanian keluar tanpa pengawasan orang dewasa jika dia tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri?"


"Nah bocah, sekarang kamu sudah aman." Aku mengambil tas ku dan langsung melanggeng pergi. Tapi apa-apaan ini? "Kamu kenapa?" Gadis itu menarik tasku.


Aku malah berakhir di bazar  dimsum. Ternyata gadis itu kelaparan. Dia memang sangat pandai dalam memanfaatkan sumber daya yang ada disekitarnya. Patut ku acungin jempol.


"Jadi sekarang, kita masuk ke intro." Kataku sambil memerhatikan gadis itu makan dimsum dengan lahapnya. Dan dia meletakkan sumpitnya, cara makannya itu seperti dari keluarga berdarah biru saja. "Jadi kamu siapa dan kenapa mereka ingin menculik kamu?"


"Ehem, makasih atas makanannya. Perkenalkan nama saya Adelia. Saya hanya bisa memberi tahu sebatas itu saja. Karena kita tidak cukup dekat untuk saling tau nama lengkap. Tapi karena mengingat Anda telah menyelamatkan saya, maka itu sebagai balas budi saya." Jawabnya dingin. Mungkin itu bentuk pertahanan diri.


"Tapi mana ada orang yang memberi tau namanya sebagai bentuk balas budi." Teriak batinku tak habis pikir. Apakah semua anak zaman sekarang begitu? Apakah ini trend terbaru untuk balas budi? Sangat primitif.


Aku memicingkan mata dan melihatnya lekat. Aku sih paham, kenapa dia hanya bisa memberi tahuku sebatas namanya saja. Aku tidak dapat menyalahkannya juga, jika memang tebakanku nggak melenceng dari realita.


"Baiklah klo memang kamu nggak bisa ngejawab pertanyaan yang itu. Maka aku akan change pertanyaannya. Kenapa kamu melakukan cross dressing?" Tanyaku kembali. Dia menampilkan wajah paniknya.


"Darimana kamu tau aku melakukan cross dressing?"


Aku mengambil wig dalam tasku dan memperlihatkannya. "Ini! Punya mu, kan?" Aku mengembalikan wig itu ke pemilik aslinya. "Kau tau? Orang lain mungkin akan tertipu. Tapi tidak denganku. Trik murahan seperti ini nggak akan bekerja padaku."


Gadis itu  nggak jawab apa-apa, mungkin dia merasa itu adalah sesuatu yang aneh dan memalukan bagi seorang gadis untuk melakukan cross dressing. Aku memperhatikan gelagatnya, sepertinya masa remajanya itu kurang menyenangkan. Mungkin dia sering dikekang, makanya sampai nekat melakukan sesuatu seperti ini.


Drama dari keluarga kaya memang nggak pernah beda, ya? Mereka ingin bebas, menikmati waktu sama dengan anak-anak lainnya yang seusia mereka. Namun nggak bisa, karena situasi mengharuskan mereka untuk tetap begitu. Sama seperti ku. Tapi dalam kasusnya, dia sepertinya tidak terlalu diperhatikan hingga dia melakukan hal seperti ini untuk menarik perhatian orang tuanya.

__ADS_1


"Tapi dalam kasus ku, memang akunya yang nakal dan bandel." Senyumku membuang muka darinya.


"Yah, itu sih bukan sesuatu yang memalukan. Perkenalkan, namaku Rosa. Jadi, karena sepertinya aku lebih tua darimu, panggil saja aku Kak Rosa." Kataku sambil membuat peace dan tersenyum. "Oh ya, karena aku sudah tau rahasia mu, tenang saja aku akan merahasiakannya sendiri."


"Hahaha, kakak ini ada-ada saja. Namanya saja merahasiakan, pastilah kita melakukannya sendiri." Katanya sambil tertawa lepas.


"Ternyata kamu bisa tertawa juga ya, Adel?"


"Hah?"


"Adel, aku akan manggil kamu Adel. Kagak keberatan, kan?" Adel mengangguk, berarti dia setuju. Kalaupun dia nggak mengangguk pun akan ku anggap  itu setuju. Karena pepatah berkata, diam juga berarti setuju. "Aku juga punya sebuah rahasia yang akan ku bagi dengan Adel. Sebenarnya aku juga suka melakukan cross dressing, dan diam-diam keluar untuk bersenang-senang. Dengan ini, kita impas, kan?"


"Wow... Benarkah?! Sangat mengejutkan melihat kakak yang begitu feminim seperti ini ternyata seorang cross dressing?"


"Oh ya? Aku feminim? Terima kasih karena sudah berpikir begitu. Walaupun  setelah kamu sudah melihatku menghajar orang-orang suruhan itu, kamu masih berpikir aku feminim? Sungguh suatu kehormatan kamu masih bisa berpikir positif seperti seperti ini."


"Kurasa tidak ada yang salah jika kita memang bisa Taekwondo. Malahan itu sangat keren. Kita bisa melindungi diri kita sendiri dari pria-pria mata keranjang. Bukankah itu bagus? Dan tentang kakak yang kalap dalam memukul orang suruhan tadi, bagiku itu bukan masalah. Malahan ku kira itu terlalu bagus mereka, klo aku mungkin sudah..., Ku kasih pada Bastian, harimau kakak di rumah." Jawabnya dengan akhir yang kurang jelas.


"Apa dia barusan menggumamkan harimau? Dia berencana memberi orang-orang suruhan tadi pada harimau? Pasti nggak mungkin, mana mungkin gadis seperti hamster ini sekejam ini, kan?" Aku menepis segala akal bulus ku itu, nggak mungkin banget itu terjadi. Klo tiba-tiba aku tanya apa yang barusan dia gumamkan kan jadi canggung.


"Ahahaha... Kamu ternyata orangnya unik juga, ya? Kalau begitu, kurasa kita bisa menjadi teman akrab." Kataku yang berusaha supaya pembicaraan ini mengalir layaknya secara alami.


"Hmmm, akan aku pertimbangkan kembali"


"Eh, dasar kau bocah songong. Oh ya, bagaimana klo kita sesekali keluar diam-diam. Dan tentunya dengan cross dressing. Kita bisa bersenang-senang, jadi diri kita sendiri."


"Hemmm... Kedengarannya itu menyenangkan. Siniin handphone, kakak!"


Sepertinya gadis ini sangat sembarangan klo udah kenal. Yah, biarkan saja. Lagipula aku cukup menyukai gadis ini. Dia mengembalikan handphone ku. Lalu kulihat kontak yang baru saja dikasihnya. 'Pacar'? Yang benar saja? Dia menyimpan kontak namanya dengan nama seperti itu? Gadis yang cukup unik. Apa dia nggak berniat bertanya padaku terlebih dahulu, apakah alu keberatan atau nggak?


Kami menghabiskan waktu yang cukup menyenangkan bersama. Mulai dari menaiki wahana Bianglala, perahu Kora-kora, Rollercoaster, ombak banyu, Carausel dan wahana berhadiah. Aku berhasil memenangkan begini banyak hadiah boneka dari hasil permainan itu. Boneka yang kecil-kecil semuanya ku kasih pada anak-anak yang lewat, dan tinggal satu lagi yang besar.


"Kak, boneka Pinky ini mau diapain?" Tanya Adel padaku sesudah sekian lama dia memeluknya tadi.


"Sepertinya kamu sangat menyukai beruang yang satu ini. Bahkan kamu sudah memilih nama untuknya." Kataku menggoda Adel. Tapi kurasa dia memang cukup menyukainya.


Aku tersenyum simpel. "So cute."


"Apa?!" Teriaknya sedikit keras.


"*Apakah dia tidak bisa mengatur volume suaran*ya itu? Bisa-bisanya aku budeg klo terus dekat ini anak."


"Tidak, maksudku beruang ini cukup imut." Kata ku berkilah, supaya dia nggak teriak teriak lagi nantinya. "Tapi aku sudah punya banyak sekali boneka beruang di rumah, jadi aku tidak butuh lagi. Apa aku buang saja, ya?" Tanyaku pada diriku sendiri, dengan maksud untuk memprovokasi Adel. "Atau kamu mau, Del? Kan sayang dibuang."


"Siapa juga yang mau boneka jelek itu, warna pink lagi. Klo mau buang, buang aja."


"Ya udah, klo nggak mau. Oh ya, itu ada tong sampah, kebetulan sekali." Kataku girang, kita lihat bagaimana selanjutnya.


"Ahhhh... Siniin aja klo nggak mau." Sentak Adel merebut boneka dari tanganku. "Aku bukannya suka pada boneka ini, hanya saja aku sayang karena kamu udah capek tadi memenangkannya tadi." Kata Adel beralasan, dan langsung melanggengkan pergi terlebih dahulu. Ternyata dia malu. Dasar anak bangsawan, sangat tidak bisa jujur akan perasaannya.


Kalau dipikir-pikirkan lagi, dompet ku sekarang sudah terkuras habis untuk bersenang-senang dan membeli jajanan.  Adel tidak membawa uang sama sekali. Malam sudah semakin larut, walaupun ini bukan tengah malam. Tapi tidak baik bagi seorang gadis untuk pulang terlalu larut malam. Aku mengantar Adel ke rumahnya dengan taksi. Ku harap kakak tidak menungguku di pameran. Karena handphone ku juga sudah lowbat. Aku nggak bisa mengabarinya.


"Baiklah, Del. Cepat masuk sana!" Kataku saat kami sudah sampat didepan rumah Adel.


"Ok, kakak hati-hati dijalan juga, ya!" Katanya sambil melambaikan tangan padaku.


"Ok. Good night, Adel." Kataku melambai juga. Aku segera menutup kaca taksi kembai dan menyuruh sopir untuk segera melajukan mobilnya.


"Hahhh... Hari ini menyenangkan juga. Cukup puas untuk hari ini." Aku duduk dengan tenang, seakan semua beban terangkat walaupun sedikit melelahkan, tapi itu setimpal.


Namun bagaikan disambar petir di siang bolong, ternyata aku melupakan sesuatu yang sangat penting. Bagaimana caranya aku berdalih nantinya. Fakta klo aku kabur dari pengawasan kakak dan si kembar nggak bisa ku hindari. Aku memang sengaja menjebak mereka diantara gadis-gadis mengerikan di pameran tadi.


Dan aku juga pulang terlalu larut dari biasanya. Tidak ada biasanya, ini adalah pertama kalinya. Habislah aku, sudah nggak ada lagi yang namanya privasi kedepannya.


...***...


Para suruhan yang telah kalah telak oleh Rosalyn sudah berdiri berderet seperti mereka sedang ikut wamil. Tubuh yang penuh dengan luka tonjok menghiasi tubuh mereka, dan ada seorang diantara mereka yang lebih parah dari yang lainnya.

__ADS_1


"Hans, apakah ini orang yang kamu suruh?" Tanya Reyhandra kepada sekretarisnya yang berdiri di samping mejanya. " Sangat mengecewakan. Lihat, bahkan seorang gadis aja nggak sanggup kalian bawa. Apakah ini yang kalian sebut profesional?" Reyhandra bangun dari kursinya dan menghampiri para bodyguard suruhannya untuk membawa kembali Adelia Kedrey.


"Maaf, Bos. Kami sebenarnya hampir berhasil membawanya, tapi seorang gadis menghadang kami." Jawab ketua diantara mereka.


"Kalian bilang seorang gadis? Luar biasa, mahakarya ini milik seorang gadis?" Tanya Reyhandra memperhatikan luka para bawahannya itu satu per satu dengan lekat.


"Dia bukan seorang gadis biasa, Bos." Jawab salah seorang mereka memberi keterangan.


"Bukan gadis biasa? Lalu dia anak kecil, kan?" Tanya Reyhandra kembali dengan murka.


"Jangan panggil dia anak kecil, Bos. Keturunan saya hampir punah hari ini akibat gadis itu." Jawab bodyguard yang kena tendang pemutusan dafi Rosalyn.


"Apa? Hahahhahaha... Tendangan pemusnahan? Lucu sekali." Reyhandra tertawa keras, dan Hans dibelakang pun juga hanya bisa menahan tawanya. Mungkin itu terdengar lucu bagi orang yang mendengarnya, tapi itu akan berbeda dengan orang yang langsung mengalaminya sendiri. "Kalian pikir aku akan percaya?" Bentak Reyhandra kembali.


"Iya, Bos. Bahkan mata saya pun dia colek. Sangat psikopat, kan?"


"Iya, tulang kering saya juga ditendangnya. Bagaimana saya akan bekerja dan menjadi kaya tanpa kaki ini."


"Apa aku membayar kalian untuk mengeluh padaku? Satu gadis kecil aja nggak bisa kalian kalahkan. Lalu apa gunanya kalian, buat pajangan? Aku nggak butuh orang yang kagak guna. Keluar kalian! Kalian kembali bukannya membawa kabar baik, malahan laporan nggak masuk akal yang aku terima. Hans usir mereka keluar."


"Baik." Jawab Hans patuh akan perintah tuannya. "Kalian silakan keluar dulu. Jika kalian punya kesempatan, mungkin kalian bisa menebusnya nanti. Seorang gadis kecil saja nggak bisa kalian bawa." Tutur Hans dengan wajah tersenyum, namun setiap kata-katanya penuh penekanan.


"Tunggu dulu, Bos. Gadis itu punya pesan untuk Bos. Dan katanya kami harus menyampaikannya sama dengan yang dia sampaikan. Lengkap dengan ekspresi dan tindakan yang sama dengannya." Ungkap ketua dari mereka, orang yang dipukul habis-habisan oleh Rosalyn sampai babak belur.


"Apa pesannya." Tanya Reyhandra penasaran.


Orang yang disuruh untuk menyampaikan pesan oleh Rosalyn langsung mengubah raut wajahnya kemudian mengangkat jari tengahnya ke arah Reyhandra. "FAKE YOU!" Lalu orang itu langsung kembali seperti semua. " Itu pesannya Bos, saya sudah menyampaikannya. Kami semua permisi."


"Apa? Hei, tunggu! Apa maksudnya ini?" Teriak Reyhandra memanggil mereka, tapi mereka langsung keluar. "Hei, apa kalian takut dengan gadis itu?"


"Mungkin gadis itu menghina Anda, Tuan." Jas Hans seadanya.


"Kurang ajar banget. Saya belum pernah di hina oleh siapa pun. Ini gadis kecil, beraninya dia. Besar juga nyalinya." Geram Reyhandra marah besar


"Bos belum bertemu dengan gadis itu. Mungkin jika ketemu, mungkin dia akan memahaminya. Katanya yang mengatakan supaya jangan memanggilnya anak kecil masih membekas di pikiranku." Jawab mereka dari balik pintu ruangan Reyhandra. Mereka langsung menggosip kembali kecuali ketua mereka yang langsung pergi begitu saja, dan mereka mengikutinya.


"Iya, apalagi gue. Ada liat nggak saat dia mengantukkan kepalanya, kerasnya minta ampun."


"Itu belum seberapa, aku yang lebih parah. Takutnya nanti aku nggak akan punya penerus lagi. Mana ibu di rumah sangat galak lagi. Ditanya kapan bisa punya cucu."


"Husssss... Kalian diam dulu. Nggak liat itu bos pada babak belur. Apapun yang terjadi, kita jangan sampai dapat misi atau bertemu dengan gadis itu. Ada liat nggak, saat kita dibiarkan pergi. Katanya dia cukup bersenang-senang."


"Ihhhh, gue sih ogah."


...***...


Rosalyn POV


Aku sampai di rumah dengan selamat. Aku meminta sopir taksi untuk berdiri diluar pagar dan menurunkan ku. Aku mengeluarkan uang dan membayar ongkosnya.


"Ini Pak, ongkosnya." Kataku menyerahkan dua lembar uang ratusan dan segera keluar dari mobil.


"Neng, kembaliannya." Tegur sopir taksi itu untuk mengambil kembaliannya.


"Nggak apa, Pak. Kembaliannya untuk bapak aja. Doain saja saya nggak apa-apa, itu sudah lebih dari cukup bagi saya, Pak." Jawabku sayu. Aku nggak tau akan diapakan aku nantinya, yang pasti sedikit ceramah nggak bakalan bisa dihindarkan.


"Oh, ya udah, Neng. Semoga si Neng baik-baik saja, ya."


"Ya, makasih Pak. Saya sangat menghargainya." Jawabku pasrah dan langsung memasuki pagar rumahku.


Berbeda dengan rumah orang lain, pagar rumahku dijaga oleh tukang kebun. Dia hanya akan bekerja saat pagi membuka pagar dan menutupnya saat Papa sudah pulang dari kantor. Dan untuk orang biasa yang masuk, dibiarkan tidak terkunci. Karena kakak denganku terbiasa keluar keluar dengan motor untuk jalan-jalan buat beli cemilan malam.


Aku masuk tanpa ada kendala apa-apa. Sejauh ini masih baik-baik saja. Untungnya aku selalu membawa kunci cadangan, jadi aku bisa masuk dalam rumah. Klo nggak, pasti bakalan tidur diluar.


Aku masuk dengan dengan hati-hati. Lampu ruang tamu sudah dimatikan, berarti semua penghuni sudah tertidur, kan? Tapi mustahil kan mereka tidur seawal ini. Dini hari masih jam sepuluan kebawah, yang dimana biasanya kami masih duduk-duduk mengobrol dan menonton televisi diruang keluarga. Tiba-tiba saja lampu ruang tamunya menyala. Dan sontak itu membuatku berdiri ditempat. Bencana yang sudah diprediksi namun tidak diharapkan.


"Sangat bagus Rosalyn Saputri Vogart! Darimana saja kamu?" Suara itu, mampus lah aku. Siapapun tolong aku!!!

__ADS_1


__ADS_2