Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 42 : Hitungan Mundur


__ADS_3

Rosa yang sudah berpamitan pada orang tuanya langsung pergi mencari taksi. Namun dia sampai di tempat parkiran dan belum juga sempat mendapatkan taksi, Rosa kembali berpapasan dengan si kembar.


"Babyyyyyyy!!!" Seru Aldi memanggil Rosa, karena jarak mereka yang sedikit berjauhan.


"Suara cempreng ini... Haaahhhh, siapa lagi klo bukan dia diantara mereka."


Rosa memegang kepalanya dan hanya bisa menggeleng-gelengkannya. Andi memanggilnya seperti itu sudah cukup membuatnya malu, apalagi ini tempat umum yang banyak dikunjungi orang.


Aldo memarkirkan jalannya sedangkan Aldi langsung berlari ke arah Rosa. Sesudah memarkirkan mobilnya, Aldo juga segera menyusul adik beda dua menitnya itu supaya nggak bikin nambah malu Rosa lagi.


"Baby, where do you want to go, huh? Huh...huh...huh..., capek." Tanya Aldi saat sudah berhasil menghampiri Rosa dengan nafas terengah-engahnya itu akibat berlari tadi.


"Siapa juga yang suruh kamu buat lari? Ada yang nyuruh? Nggak ada, kan?" Tandas Rosa dengan blak-blakan tanpa menyambut mereka.


Karena Rosa berpikir buat aku juga dia menyambut orang seperti mereka, waktu di rumah Rosa aja pulang pergi udah kayak rumah mereka sendiri. Bahkan masuk kamar tidur Rosa aja seenak jidat mereka. Klo ini sih siapa lagi klo bukan Aldi.


Rosa melihat klo Aldo menjingjingkan keranjang buat, dan Risa pun langsung menebak klo mereka mau menjenguk papanya sakit.


"Mau jenguk papa, ya? Masuk aja sana gih. Ruangan papa ada di lantai dua nomor kamar 22. Pigi aja berdua, aku nggak nemenin lagi, soalnya mau pulang sekalian mau ke pasar juga dulu, buat beli bahan masak untuk bekal makan siang Kak Stev." Jelas Risa kepada meraka berdua.


"Owalahhh.., kirain baby akan temenin kami dulu baru nanti kita sekalian pulang bersama." Tutur Aldi lagi.


"Udah nggak keburu nanti. Kak Stev malah kelaparan nantinya, klo nggak bisa jadi dia kagak makan." Jawab Rosa lagi.


"Klo gitu kamu tunggu disini bentar, ya?" Aldo lun membuka mulutnya untuk berbicara.


"Emang buat apa aku tunggu kalian? Bukannya mau jenguk papa, ya? Emang kagak jadi gitu?" Tanya Rosa yang penasaran akan pemikiran sepasang teman kembali prik-nya itu.


"Jadi. Pokoknya you should to wait for our in this place, ok? Don't go anyware." Perintah Aldo pada Rosa. Baru kali ini Rosa mendengar kalimat panjang dari Aldo.


"Hemmm, alan ku pertimbangan. Kalian cepetan sana! Klo nggak aku juga nggak mau nunggu lama-lama disini."


"Ok, wait for me five minutes."


"Ok ok, fine. Are you happy now, huh? Harry up!" Jawab Rosa akhirnya menyerah juga akan kekeraskepalaan Aldo. "Gila, baru kali ini aku lihat Aldo kekeh gitu orangnya. Emang parah gila. Ketimbang Aldi, tapi sama-sama parahnya mereka." Pikir Rosa lagi.


"Kamu lagi rencanain apa, sih? Kok lo main rahasiain ke gue kayak gitu, huh?"


"Udah lo ikut gue aja sini, cepat! Nanti baby keburu pergi sendiri?" Jawab Aldo yang terus menarik tangannya Aldi. Mungkin bukan hanya sekedar menarik tangannya, tapi lebih ke Aldi di seret oleh Aldo.


"Iya juga. Gue mau ikut sama baby tadi. Ayo! Kita harus menambah laju kecepatan? Bukankah tadi 5 menit? Karena kita asyik main tarikan tadi, kita sudah kehilangan 28 derik yang berharga. Ayo!" Tutur Aldi yang langsung serius akan visi dan misinya.


Begitulah keadaan keluarga Wijaya. Nggak satupun dari mereka orang yang nggak berguna. Contohnya saja adalah Aldi, dia hanya saja kurang serius. Namun jika dia sudah serius dari rangking terakhir dikelas karena suka tidur saat jam pelajaran pun langsung mendapatkan rangking tiga besar.


Begitulah sikap Aldi. Dia hanya akan terobsesi akan berada di dekat Rosa dan diakuinya, dan juga keinginan mendapatkan perhatian dari Rosa. Awal masuk sekolah semester pertama, Aldi mendapatkan rangking terakhir karena sikapnya itu yang seenak jidat, namun siapa sangka semester selanjutnya dia langsung memecahkan rekor dalam mengejar rangking juga nilai, langsung naik dan duduk di peringkat tiga.


Dan untuk Aldo, dia seorang pianis hebat yang cukup sering mendapatkan penghargaan medali, lomba apapun yang diikuti oleh sekolah. Bisa dikatakan, setengah dari pemasokan medali di sekolah SMA Wintara Negeri adalah berkat Aldo. Yang terkenal sebagai pianis muda Winter. Karena permainannya yang hebat dan menghanyutkan itu makanya dia mendapatkan julukan seperti itu. Dan untuk peringkat kelas juga bukan main-main, dia selalu mendapatkan dua besar dikelasnya.


Dan untuk peringkat pertama dikelas mereka adalah Rosalyn Saputri Vogart. Dan belum ada yang berhasil menggulingkannya dati peringkatnya itu. Begitu juga lomba yang diikuti, tak ayal Rosa selalu mendapatkan medali emas, Olimpiade apapun yang diikutinya. Namun, saat Rosa akan mengikuti tingkat Internasional, orang tuanya akan langsung ke sekolah untuk meminta cabut anaknya dari lomba itu. Dan tak ayal pula, sekolah juga kecewa akan hal itu, namun pihak sekolah nggak bisa berbuat apa-apa, karena itu adalah keputusan dari pihak orang tua siswa sendiri.


Dan untuk mencari pengganti Rosa bukanlah hal yang mudah. Guru akan mencoba untuk mendapatkan pengganti Rosa, misalnya adalah Aldo si peringkat 2 dan Aldi si peringkat 3 kelas. Namun apalah daya para guru menghadapi murid yang bucin sama Rosa ini, karena Rosa nggak mau, berarti mereka juga ikutan nggak mau. Nggak mau berarti tetap nggak mau.


Dan untuk julukan Rosa adalah Ratu Sains di sekolahnya, karena kemampuannya dalam mempelajari soal-soal Olimpiade Sains yang diikutinya. Dan untuk julukan si kembar itu adalah most wanted juga si bucin Ratu Sains. Tidak ada cewek yang bisa ataupun berani bicara kepada mereka kecuali di depan Ratu mereka sendiri.


Karena kalaupun mereka mengajak bicara, rak akan ada diantara mereka berdua yang mau menjawabnya. Makanya untuk para murid yang lain akan selalu memanfaatkan keberadaan Rosa untuk bertanya atau berbicara maupun mendapatkan kontak si kembar. Karena si kembar takkan berani menolak apapun itu didepan si Ratu Sains ini, karena mereka hanya mau terlihat baik didepan Rosa.


Selagi Rosa menunggu di tempat parkiran, Aldo dan Aldi langsung berlari menaiki tangga karena ruangan inap Raymond ada di lantai dua.


"Kerasa ikot Master Chef yang di tv itu nggak sih, Do?" Tanya Aldi sambil menaiki tangga yang membuat orang terengah-engah, namun Aldi masih aja sempat berpikir yang nggak-nggak.


"Lo aja yang ikut Master Chef, klo gue sih lebih kayak ikot Ninja Sasuke." Bantah Aldo yang menurutnya lebih mirip. "Udah, ah. Jangan ngadi-ngadi lagi lo, kita harus cepat, klo nggak si baby nanti keburu pergi lagi."


"Iya, iya. Ini juga cepat kok. Oh ya, Kak Alan kerjanya di rumah sakit ini, kan? Kok nggak kelihatan batang hidungnya, ya?" Tanya Aldi sambil melihat-lihat di sekelilingnya.


"Bodoamat, Kak Alan biasa gue liat di rumah."

__ADS_1


"Alah lo ini, kan dia beda tampilannya, biasa klo di rumah cuma pake celana sebatas lutut ma kaos aja. Nah, klo di rumah sakit kan dia beda style-nya itu lho."


"Itu yang bikin lo penasaran? Emang goblok lo."


"Anjing ya lo katain gue goblok." Cerca Aldi yang nggak terima dikatain oleh Aldo dan mencerca balik.


"Lo ya yang anjing."


"Lo lah. Gue sih ogak."


"Nah, tadi kenapa marah saat gue katain lo anjing." Jawab Aldo langsung mensekakmat Aldi hingga nggak tau mau jawab apa lagi. "Udah, itu aja pake marah. Jaga sikap, udah mau nyampe ini."


"Iya, gue tau. Tapi btw, baby bilangnya tadi kamar yang ke berapa, ya?"


"22. Ini dia, ayo!" Aldo memegang knop pintu kamar dan memberi salam. "Permisi." Lalu dilihatnya dan benar klo ini adalah ruangan yang mereka tuju karena melihat orang yang dikenal sebagai mamanya Rosa didalam, Serena sedang membaca majalah di sofa.


Serena yang melihat kedatangan si kembar langsung meletakkan majalahnya kembali dan menyambut si kembar.


"Oh, Aldo dan Aldi datang, ya? Silakan, duduk dulu." Ujar Serena mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Nggak, makasih tante. Tapi, om sehat, kan?" Tanya Aldo berbasa-basi sambil menyerahkan keranjang yang berisi buah-buahan kepada Serena dan diterimanya.


"Ya, udah mendingan lah. Nanti sore-sore malam gitu udah bisa pulang." Jawab Raymond yang kemudian juga masih bangun, karena baru saja Rosa pergi. "Oh, ya. Tadi kalian ada berpapasan sama Rosa, nggak?"


"Ya, syukurlah klo emang gitu. Turut senang mendengarnya, om, tante." Jawab Aldo yang masih berpegang pada etika kesopanannya.


"Ya, ada lah om. Klo nggak kami juga bakal duduk-duduk dulu bicara ma kalian! Ini karena jumpa ma baby tadi makanya harus cepat. Klo nggak, nggak keburu nanti. Malah baby keburu pergi lagi. Ok, makasih ya tante, kami pergi lagi, soalnya tinggal semenit lagi ini." Tutur Aldi yang blak-blakan orangnya.


"Kalian...." Serena mencoba menghentikan mereka. Tapi mereka keburu pergi karena Aldi menarik Aldi di tangannya dan langsung pergi hilang lenyap di balik pintu.


"Udah, ma. Biarin aja. Tapi mama udah ngomong sama Stev soal Rosa tadi, kan?" Tanya Raymond yang menghentikan istrinya untuk mencegat si kembar kembali.


"Oh ya, hampir aja mama lupa tadi. Harus cepat beritahu ini. Kita harus buat Stev mengatur strategi ulang nanti, kita balas serang. Kita nggak bisa membiarkan Rosa kembali keingat kasihnya yang dulu." Tutur Serena dengan menggebu-gebu.


Melihat tingkah laku Serena, sang istri Raymond tertawa kecil. Karena sang istri masih saja imut seperti mereka dulu bertemu saat masih muda. "Mama ini, nggak berubah ya. Benar kata orang, klo buah nggak jauh jatuh dari pohonnya."


"Mama klo udah kayak gitu mirip kali kayak Yakuza. Klo lagi emang dendam, harus dibalas. Udah pake serang segala lagi, makin mirip putri Yakuza banget."


"Putri Yakuza adalah masa lalu, pa. Sekarang aku ini adalah masyarakat biasa, juga mama dari anak-anak." Jawab Serena yang sedikit terasa sedih di mimik wajahnya itu.


"Mama melupakan satu hal yang paling penting." Imbuh Raymond sok misterius gitu.


"Emang apa itu?" Tanya Serena mengupas kulit jeruk yang dibawakan si kembar dan diberikannya pada Raymond.


"Juga istri tercinta, tersayang, dan terkasih dari Tuan Raymond Vogart sayang cinta Serena." Kata Raymond menggombal. Dan itu berhasil membuat senyum Serena kembali terbit diwajahnya itu.


.


.


.


Rosa masih setia menunggu di sekitaran tempat parkir sesuai permintaan dari Aldo dengan patuh. Namun orang orang yang menyuruhnya belum juga kelihatan batang hidungnya.


"Ini dua bocah mana, sih? Kok nggak juga nongol-nongolnya, ya? Heran, padahal tadi cuma 5 menit. Ini hampir 5 menitan juga." Keluh Rosa pada dirinya sendiri yang pandangannya selalu saja mengarah ke pintu masuk rumah sakit.


Satu menit kemudian, Aldo dan Aldi baru berhasil sampai di tempat Rosa dimana dia duduk menunggu.


"Maaf baby, sedikit keterlambatan." Kata Aldi yang terengah-engah. Karena Aldi lari paling depan dan paling gercep.


"5 menit 43 detik. Terlambat 43 detik, kompensasi apa yang akan ku dapatkan?" Tanya Rosa dengan gaya bossy-nya itu.


"Maaf, terlambat." Ujar Aldo juga yang lebih terlambat dari Aldi.


"5 menit 56 detik. Terlambat 56 detik, 4 detik lagi pas 1 menit. Benar-benar nggak bisa dijadikan mitra bisnis." Kritik Rosa lagi yang membuat si kembar hanya bisa diam ditempat.

__ADS_1


"Hemmm, diam, ya? Salah sendiri juga, siapa suruh janji hanya 5 menit." Batin Rosa yang berjalan didepan menuju mobil Aldo diparkirkan. Namun si empu pemilik mobil tetap setia dibelakang masih merenung keterlambatannya itu. "Kenapa mereka nggak cepat, sih? Mereka ini bodoh apa begok, sih? Aku kan udah kerasa kayak merampok mobil mereka klo kayak gini?" Batin Rosa lagi.


"Kok pada diam sih, cepat dong. Kita harus ke pasar dulu ini!" Seru Rosa pada si kembar. Dan itu membuat Aldo langsung gercep membawa mobilnya.


Saat akan naik mobil pun terjadi perselisihan lagi, karena Rosa hendak duduk dibelakang, dan Aldi lun juga ikut duduk dibelakang. Dan itu membuat Aldo naik tensi juga. Karena dia yang bawa mobil, Aldo juga mau Rosa berada di dekatnya, dan duduk di sampingnya. Namun Aldi tetap ngotot pada pendiriannya, begitu juga dengan Aldo. Masing-masing tetap pada pendirian masing-masing.


Akhirnya Rosa yang mengambil tindakan. Aldo tetap menyetir dan Aldi yang duduk di samping Aldo. Dengan begitu Rosa akan memonopoli bagian belakang sendirian, dengan begitu dunia Rosa baru kerasa aman.


Rosa sampai di pasar dan langsung memilih bahan yang digunakan untuk membawa bekal kepada kakaknya sebagai rasa terima kasihnya. Lalu segera pulang sesudah semuanya beres.


Aldo langsung memutar balik mobil dan kembar, dan saat akan sampai di lorong rumah mereka, Aldo berhenti di depan indomaret. Dan itu membuat Aldi dan Rosa terheran-heran juga.


Aldo pergi selama beberapa menit, dan pulang dengan membawa sekantong plastik besar berisi makanan ringan.


"Banyak amat lo beli." Kata Aldi yang langsung memonopoli kantong plastiknya.


"Itu bukan untuk lo makan sendiri, punya bagian baby juga ada. Kasih susu coklat sama coklat itu sama baby. Itu kan Rosa, kesukaanmu, kan?" Tanya Aldo memberikannya kepada Rosa.


Rosa menerimanya dengan baik dan berterima kasih kepada Aldo. Aldo kembali melanjutkan kembali perjalanan mereka dan akhirnya mereka sampai di rumah. Rosa langsung menuju ke dapur untuk memasak, dan itu membuat Bibi Salma menghentikan Rosa. Karena itu merupakan tugasnya. Namun Rosa tetap menolaknya, karena dia ingin memasak khusus untuk kakaknya hari ini.


Rosa memasak dengan dibantu oleh si kembar. Aldi di suruh untuk mencincang bawang yang membuat Aldi seakan menangis. Dan Aldo di suruh untuk mencuci sayuran yang akan di tumisnya.


"Mau buat apa, baby?" Tanya Aldi sambil mengiris bawangnyabawangnya dan sesekali menghirup ingusnya itu, yang membuat Rosa dan Aldo jijik akan kelakuan Aldi seperti bocah kelas 1 SD.


"Lap dulu ingusmu itu, jangan sampe itu pada kena bawang, ya? Awas aja, ntar klo kena." Ancam Rosa menunjuk Aldi dengan pisau, karena Rosa lagi membersihkan daging ayam. "Rencananya sih mau buat sup kaldu ayam, sama goreng ayam."


"Lhah trus, ini sayur ma udangnya mau diapain?" Tanya Aldo lagi.


"Mau dibuat capcay aja. Kan itu ada brokoli, kacang panjang, bunga kolnya juga. Kita kasih tarok udang sama baksonya juga. Kebetulan masih ada bakso dalam kulkas, nanti tambah itu aja." Jelas Rosa dengan akurat dan hanya bisa diangguki paham oleh si kembar yang nggak pernah nyentuh dapur sama sekali.


"Klo siap, kasih rasa juga, ya baby?" Pinta Aldi pada Rosa.


"Hemm, bisa dipertimbangkan." Jawab Rosa yang tertawa lepas karena dia merasa seperti mempermainkan Aldi.


Tapi hal itu sudah biasa antara dirinya dengan Aldi, karena Aldi adalah tipe orang yang suka becanda. Makanya Rosa juga mengikuti alur yang sama dengan Aldi. Tapi itu akan berbeda dengan Aldo, karena Aldo adalah tipe orang yang lugas dan seriusan.


Sesudah selesai memasak dan memasukkannya dalam kotak bekal, Rosa langsung membawanya kepada Stev di kantor. Tentunya sesudah memberi makan si kembar yang kelaparan.


Aldo mengantar Rosa ke kantor Vogart Group, perusahaan papanya Rosa. Dan disitu pula Stev bekerja sebagai CEO yang membantu papanya sebagai Direktur.


Meskipun perusahaan mereka masihlah kecil dan tidak memiliki cabang, itu sudah cukup besar untuk dikatakan hanya sekedar sebuah group. Vogart Group bergerak dalam bidang perhotelan, jadi ada yang memang hotel yang dibangun oleh Vogart Group di kota Jakarta ini, namun ada juga yang merupakan kerja sama dengan perusahaan lain. Namun lebih banyak yang memang berada dalam naungan Vogart Group.


Rosa sampai didepan perusahaan mereka dengan selamat Dan si kembar kekeh untuk masuk ke dalam, namun Rosa dengan kuat menolaknya. Karena jika tau begitu kakaknya pasti akan meledak-ledak nanti seperti bom aja klo ada si kembar, apalagi Aldi yang emang sangat mau meladeninya.


Karena si kembar yang ngotot mau masuk, akhirnya Rosa bilang klo Rosa akan memberikan hadiah ekslusif kepada mereka. Dan mereka langsung menurut kepada Rosa.


Rosa memberikan undangan pernikahannya dengan Reyhandra kepada si kembar. Karena kata mamanya dia bisa memberikannya kepada orang yang Rosa anggap istimewa, dan si kembar adalah juga termasuk orang istimewa dalam dunia Rosa.


"Nah, undangan pernikahan aku untuk kalian. Kalian termasuk orang pertama yang menerima undangan pernikahan ini lho. Ekslusif lagi, karena ini dikasih langsung oleh aku, yang berarti kalian adalah orang istimewa bagiku, juga orang berharga yang selalu ada untuk aku. Jangan lupa datang, ya." Kata Rosa kepada si kembar dengan senyum cerahnya.


Menerima undangan pernikahan dari Rosa, wajah si kembar langsung nggak enak namun mereka tetap tersenyum didepan Rosa dan mengangguki menyanggupi apa yang dibilang oleh Rosa. Sama seperti Stev yang cinta dan kasih sayang yang berlimpah kepada Rosa. Itu juga berlaku untuk si kembar yang bagi mereka Rosa adalah orang paling istimewa.


Rosa menuruni mobil dan langsung masuk ke dalam untuk menemui kakaknya. Memberi bekal makan siang terima kasih dan juga penuh cinta darinya untuk kakaknya. Dan dibawah, Aldo masih saja melihat undangan yang diterimanya itu dengan wajah yang datar.


"Do, apakah hari itu akan datang?" Tanya Aldi yang membolak-balikan undangan dari Rosa juga.


"Ya, hari itu akan datang. Itu akan datang dalam hitungan mundur 108 jam mulai dari sekarang." Jawab Aldo datar seperti biasa sambil melihat jam tangannya yang pas menunjuk jam 12:00 siang.


Namun tiba-tiba saja ada yang mengetok kaca jendela mobil mereka, Aldo lalu membukanya dan itu adalah tukang parkir sekaligus satpam yang bekerja di depan Vogart Group.


"Maaf, mas. Bisa mobilnya dimajuin dikit mas, soalnya mobil yang di sana tu mau keluar. Yang dibelakang mas tu, karena kehalang sama si masnya jadi kagak bisa keluar." Kata bapak satpam itu meminta kepada Aldo.


"Ah iya, pak. Maaf." Jawab Aldo meminta maaf.


"Nggak apa, mas."

__ADS_1


"Iya, sekali lagi saya minta maaf, pak. Maaf, ya." Kata Aldo kembali meminta maaf sama satpamnya. Lalu menyembulkan kepalanya melalui jendela dan meminta maaf sambil memperaga tangannya pada orang, mobil yang dibelakangnya.


Lalu Aldo langsung memutar balikkan mobilnya, dan langsung meluncur di jalan raya kembali kemana hati menuju dan membimbing mereka.


__ADS_2